Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Bingung


__ADS_3

"Varrel kau baik-baik saja." tanya Viki melirik seluruh anggota tubuh sahabatnya itu secara detail takut telah terjadi sesuatu diluar kendali.


"Vik, suuuttt.... Jangan berisik. Istriku sedang bernyanyi. Jangan menganggu nya, nanti dia bisa marah." ucap Varrel sembari menutup mulut Viki dengan tangannya. Membungkam sahabatnya itu.


Olif, disini. Dimana dia?? kenapa aku tidak melihatnya.


Viki dengan sedikit kasar menjauhkan tangan Varrel dari mulutnya. Kening Viki berkerut dalam saat daun telinganya tidak menangkap suara nyanyian apapu kecuali hembusan nafas yang memburu dari rongga hidungnya sendiri.


"Tuan, Inilah yang Bi Jumi maksud minta tolong. Tuan muda sepertinya sedang berhalusinasi, dia seolah-olah seperti melihat dan mendengar suara Non Olif. Saya takut ini akan berdampak buruk bagi kesehatan Tuan muda." jelas Bi Jumi dengan mata berkilat.


"Apa...??"


"Rel, sadar Rel. Kamu ini sedang berhalusinasi nasi. Istrimu belum pulang kita masih mencarinya." Viki dengan segera mengonyang-goyangkan bahu Varrel. berusaha membuat sahabatnya sadar dari lamunannya.


"Bi Jumi cepat telepon dokter." perintah Viki.


"B-Baik Tuan."


"Rel, Lo kenapa jadi gini sih. Jangan bikin gue panik cepat sadar." Viki masih mengonyang-goyangkan bahu Varrel namun kali ini sedikit lebih kasar dari pada yang tadi.


"Kamu ini kenapa sih, kan udah aku bilang untuk diam. Kamu menganggu istriku bernyanyi tau enggak." teriak Varrel mendorong Viki agar menjauh darinya hingga hampir nyaris membuat sahabatnya itu terbentur dengan dinding.


"Istri, mana istri Lo. Sadar Rel. Istri Lo itu sudah pergi meninggalkan rumah ini. Dia marah kepada Lo karena Lo tidak mempercayainya." ucap Viki tak kalah tinggi dengan Varrel sembari menunjuk ke-sembarang arah memperlihatkan kalau memang tidak ada Olif di ruangan ini.


"Olif, sayang aku minta maaf atas kelancangan Viki dia--- Sayang, kamu dimana...??" Olif..." panggil Varrel tak kala mengalihkan pandangannya dari Viki hendak menatap kearah Istrinya namun sudah tidak ada lagi. Bayangan Olivia langsung buyar seketika.

__ADS_1


"Sadar Rel. Istri Lo itu pergi meninggalkan rumah ini." Viki dengan segera memeluk sahabatnya itu. Dia semakin mempererat pelukannya tak kala Varrel memberontak mencari Olif.


"Viki, dimana istriku Vik...??" Aku ingin bertemu dengannya? Aku sangat merindukannya hik."


"Gue enggak tau. Tapi Lo tenang aja, Gue udah meminta bantuan pada Bokap Gue untuk menemukan istri Lo. Gue yakin tidak lama lagi istri Lo pasti ketemu. Gue pastikan itu. Tapi Lo harus kuat Rel jangan seperti ini bikin Gue dan Bi Jumi khawatir."


"Aku hanya ingin bertemu dengan istriku Vik. Hanya itu." Varrel menumpahkan kesedihan dalam pelukan Viki, hatinya semakin rapuh tanpa melihat istrinya apalagi dia tidak tau tentang keadaan Olif sekarang apakah baik-baik saja atau tidak.


****


"Bagaimana Dok..?? Apa sahabat saya baik-baik saja...??" Viki dengan tidak sabar melontarkan pertanyaannya rasa kekhawatirannya semakin meningkat apalagi melihat Varrel tak kunjung membukakan matanya. Ya, Varrel pingsan beberapa saat yang lalu.


"Tubuh pasien sangatlah lemah sepertinya dia belum makan. Apa kemaren dia berpuasa...??" tanya dokter menatap dua orang yang berada disampingnya secara bergiliran.


"Hemmm, inilah yang juga saya takutkan. Pasien harus segera dikasi makan makanan yang bergizi kalau tidak kondisinya semakin memburuk. Tubuhnya semakin lemah. Itu bisa membuat dia berhalusinasi kapan saja." Jelas sang dokter lagi.


"Benar Dok. Tadi dia berhalusinasi tentang istrinya, untung saja saya cepat menyadarkannya." sambung Viki.


"Kalau begitu ini adalah obat yang harus diberikan kepada pasien tiga kali sehari. Setelah pasien bangun kasi vitamin ini dulu setelah itu baru memintanya untuk meminum obat. Supaya badannya bertenaga." ujar dokter itu lagi sembari menyerahkan beberapa macam obat dan vitamin kepada Viki. lalu setelah itu dokter itupun pamit mohon diri, yang di ikuti Bi Jumi dibelakangnya.


Dring... Dring... Suara bunyi ponsel Viki membuat laki-laki itu sedikit terkesima lalu mengerakkan tangannya mengambil ponselnya dari dalam saku celana.


"Halo.." ucap Viki tak kala dia sudah menekan tombol hijau yang bergerak di dalam ponselnya lalu melekatkan ponsel bermerek iPhone ke arah daun telinganya.


"Tuan muda. Kami sudah menemukan wanita yang anda cari." ucap seseorang dari sebrang sana, ternyata yang menghubungi Viki adalah orang kepercayaan Papanya.

__ADS_1


"Apa?. Kalian sudah menemukan Olif." Viki sedikit terkejut sekaligus senang mendengar kabar baik itu.


"Iya, Wanita yang anda cari adalah seorang model papan atas berasal dari Australia." jelas orang suruhan Viki.


"Model, Australia." kening Viki seketika berkerut bahkan kerutan itu semakin terlihat jelas tak kala orang kepercayaan keluarganya memberikan informasi sedetail mungkin.


"Benar, Tuan, wanita itu bernama Olivia Wilde. Model baru-baru ini tenar dan menjadi sorotan publik. Dia merupakan salah satu model Grammy award dunia, yang acaranya tiga hari yang lalu."


"Kamu dapatkan fotonya, cepat kirimkan kepadaku."


"Baik Tuan, akan segera saya kirim."


Tuttttt...


"Seorang model. Olif menjadi model ternama di Australia bahkan masuk nominasi Grammy award. Bukankah itu acara yang megah. Dan hanya model profesional yang masuk nominasi. Bagaimana mungkin Olif bisa masuk acara megah itu dalam waktu singkat. Setau ku butuh waktu lima tahun bisa masuk nominasi acara besar tersebut." guma Viki dirinya sudah dilema penasaran.


Ting...


Pesan masuk Viki dengan sangat cepat membukakan isi pesan tersebut dia tidak bisa menunggu lagi, rasa penasaran semakin meningkat tak kala dirinya melihat fota yang di kirim oleh orang kepercayaannya.


"Olif..."


Bersambung...


Jangan lupa rate kasi bintang biar author semangat buat update 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2