
Melihat Mila yang keluar kamar, Vanessa pun tersenyum. “buka dulu cadarmu Mil, ayo makan dulu” ucap Vanessa lembut pada Mila, Mila mengangguk “baik kak,”
Suara notifikasi terdengar dari ponsel Mila, ia refleks mengangkat ponselnya dan melihat telah ada beberapa pesan masuk dari Arnes.
Mila kemudian memasukkan kembali ponselnya tanpa membuka pesan dari Arnes.
'ayo Mila, kamu harus kuat menghadapi ini’ ya, Mila lebih memilih tak membaca pesan Arnes, karena takut jika membaca pesan Arnes hanya akan melukai perasaannya sendiri. Mila kemudian melangkah ke meja makan dan duduk sembari membuka cadarnya.
“wah, enak ini kak” ucap Mila melihat makanan kesukaannya telah terhidang di meja makan. Namun dibalik itu semua, ucapan tersebut tak lebih hanya untuk mengalihkan pikiran sesaat dari perjodohan yang menyakitkan hati Mila.
“Mil, kamu makan dulu ya, kakak siap-siap dulu ke kamar” ucap Vanessa yang melangkah ke lantai dua dimana kamarnya berada.
“loh, kakak nggak makan?” tanya Mila, “udah, kakak siap-siap dulu, nanti kita Zuhur di luar aja ya, selesai kamu makan kita langsung pergi”.
Mila kemudian mengangguk dan mulai menyuap nasi ke mulutnya. Ia kemudian melepas nafas kasar. Bahkan makanan kesukaannya pun terasa hambar karena hatinya yang masih terasa getir dengan keadaan.
*
Mila dan Vanessa memasuki sebuah butik, mereka dilayani oleh seorang pelayan butik tersebut untuk mencari pakaian pengantin.
“yang gamis ada nggak mbak?” tanya Mila pada pelayan tersebut sembari melihat-lihat beberapa pakaian yang terpajang di toko.
“ada mbak, ini buat mbak? kalau mau, nanti kami bisa buatkan cadarnya juga sekalian” ucap pelayan tersebut yang melihat Mila mengenakan cadar. Mila mengangguk pelan mengiyakan ucapan pelayan toko tersebut.
“mari ikut saya ke belakang mbak” lanjut pelayanan tersebut. Vanessa dan Mila lalu mengikuti langkah pelayan toko itu.
Ketika melewati jalan kebelakang, Mila melihat sebuah pakaian pengantin yang terpajang di lemari kaca,, sebuah gaun berwarna putih terang, yang dipajang serangkai dengan sebuah jas biru dan kemeja putih dengan dasi berwarna merah.
Untuk sesaat Mila berhenti berjalan di hadapan pakaian pengantin tersebut. Pikirannya melayang, dunia khayalnya pun datang.
__ADS_1
Mila dan Arnes sedang berjalan di hadapan semua orang menuju pelaminan indah yang telah di terpasang di panggung, raut wajah cantiknya dibalut jilbab putih dengan gaun pengantin yang indah. Ia bergandeng tangan dengan Arnes yang membawa raut wajah tampannya dengan kulit putih bersih, menggunakan jas biru, kemeja putih dan dasi merah yang semakin menambah kharismanya.
Mereka melangkah pasti menuju pelaminan sembari disambut riuh tepuk tangan tamu undangan yang menatap mereka dengan wajah iri.
Mila tersentak kaget ketika tangan Vanessa mengelus bahunya. Khayalannya yang telah jauh terbang menerawang pun hilang.
Pikirannya yang sudah sampai di dunia khayal tersebut kini kembali ke raganya, di tempat dimana ia berdiri.
“kamu ingin pakaian ini Mil” tanya Vanessa yang melihat ke arah Mila.
“nggak kak” jawab Mila, namun matanya malah menunjukkan hal yang berbeda, Mila menahan air matanya agar tidak menetes karena matanya sudah mulai berkaca-kaca. Ia sadar, Ia tidak dapat bergandengan tangan dengan Arnes menuju pelaminan.
“kita beli ini aja ya, pernikahan itu hanya sekali dalam hidup lo Mil, kamu harus menggunakan pakaian terbaik yang kamu inginkan,” ucap Vanessa yang sudah mengerti dengan keadaan Mila, dari sorot mata Mila, Vanessa paham bahwa adik iparnya itu sangat menginginkan gaun tersebut.
Namun ucapan Vanessa disambut berbeda oleh Mila, hati getirnya kembali datang seolah tak ingin pernikahan itu ada.
“tapi ini couple kak, siapa nanti yang memakai jas ini” tanya Mila yang masih menatap gaun tersebut.
Mila diam tak menjawab, dan Vanessa paham betul bahwa sikap Mila itu menunjukkan bahwa ia setuju dengan sarannya. Vanessa kemudian memanggil pelayan toko yang bersama mereka tadi yang kini tengah berdiri tak jauh dari mereka.
“mbak, gaun ini bisa ditambah sedikit nggak mbak?” tanya Vanessa pada pelayan itu
“maksudnya ditambah mbak?” ucap pelayan itu tidak mengerti. Vanessa lalu menunjuk bagian dada gaun itu yang terbuka. “tambah bagian dada dan lengan panjang mbak dengan warna putih, kalau bisa di longgarin dikit gaun juga bagus” jawab Vanessa.
Pelayan itu sejenak terdiam dan mencoba memahami permintaan Vanessa,
“gimana mbak?, bisa nggak?” tanya Mila pada pelayan itu.
Bisa mbak, tapi mungkin selesai 2 hari. mendengar hal itu Mila melepas nafas panjang.
__ADS_1
Melihat raut wajah Mila yang kecewa, Vanessa lalu mencoba bernegosiasi dengan pelayan butik tersebut. Pelayanan butik tersebut juga sempat beberapa kali menghubungi seseorang ketika bernegosiasi dengan Vanessa.
Sekitar hampir 15 menit Vanessa bernegosiasi dengan pelayanan butik tersebut, ia kemudian melirik ke arah Mila yang masih melihat gaun pengantin tersebut. Vanessa kemudian mendekat dan mengelus lembut bahu Mila, “udah sayang, nanti sore kita jemput gaunnya kesini” ucap Vanessa
“bisa kak?” tanya Mila dengan raut wajah yang senang. Vanessa mengangguk. “iya bisa, ayo kita beli kebutuhan yang lain dulu, nanti sore kita kembali lagi ke sini” ucap Vanessa tersenyum pada Mila. Mereka pun kemudian meninggalkan butik tersebut.
Malam sudah menjelang, Vanessa dan Mila sampai di rumah mereka ketika sholat isya telah selesai. Mereka dapat meluangkan lebih banyak waktu karena Irman juga berkabar bahwa ia tidak akan pulang, karena sedang mempersiapkan sebuah proyek besar.
Ketika mereka baru saja sampai di rumah, Mila melihat mobil yang dikenalnya sedang terparkir di depan pintu pagar rumahnya ‘bang Arnes’ batin Mila. Vanessa pun langsung memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumah karena pintu pagar telah terbuka.
Vanessa dan Mila melihat seorang laki-laki tengah duduk di teras depan rumah mereka. Betul saja dugaan Mila, Mobil yang terparkir di depan rumahnya adalah mobil Arnes, dan sekarang Arnes tengah duduk menantinya di depan teras rumahnya.
Arnes kemudian berdiri dan berjalan ke arah mobil yang sedang diparkirkan Vanessa, ia langsung melangkah ke arah pintu dimana Mila duduk.
Mila mencoba menahan getir dihatinya yang kembali melanda, ia menahan air mata agar tidak tumpah dari matanya yang sudah berkaca-kaca. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, ia menundukkan kepala, hatinya sungguh tak mau melihat ke arah wajah Arnes yang menyambutnya dengan senyuman hangat.
Mila kemudian turun, ia menuju pintu teras samping rumah untuk segera masuk tanpa menghiraukan Arnes, ia tidak ingin menambah sakit di hatinya jika harus bertemu dengan Arnes.
“Mil, mau kemana?” tanya Arnes yang melihat Mila masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukannya.
“Mil, aku chat kamu dari tadi, kok nggak kamu balas?, aku telfon juga tidak kamu angkat, aku mau bicara sayang” ucap Arnes mengikuti langkah Mila. Sementara Vanessa melihat Mila dan Arnes dengan menghirup nafas panjang.
Arnes kemudian menarik tangan Mila karena Mila tak menghiraukannya. Tarikan itu membuat Mila membalikkan badannya dan wajahnya hampir bersentuhan dengan wajah Arnes.
“aku merindukanmu sayang” ucap Arnes sembari melepas cadar Mila. Mila pun hanya diam, ia membiarkan Arnes membuka cadarnya tanpa melawan.
Vanessa melihat itu dengan perasaan kaget, ia seakan tidak terima melihat Arnes dengan lancang menarik melepas cadar Mila, 'apa seperti ini kelakuan pria baik dan soleh yang di bilang Mila' batinnya tidak percaya dengan perbuatan Arnes. Walaupun ia pernah bertemu Arnes sebelumnya, namun ia tidak mengenal betul seperti apa karakter Arnes sebenarnya.
“aku lebih suka kamu tanpa cadar ini, wajah cantikmu indah terlihat” ucap Arnes dengan tulus dengan mata yang melihat wajah putih mulus Mila dengan penuh gairah.
__ADS_1
“aku besok akan menikah bang” ucap Mila dengan gemetar dengan melepaskan tangan Arnes dari tangannya.
“aku tahu Mil, tapi tenang saja, aku punya satu rencana untuk ini semua, kita akan sama-sama memperjuangkan cinta kita”