Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Menghancurkan perusahaan Modeling Grup


__ADS_3

Kemarahan Varrel semakin memucat tak terampuni saat melihat aksi unjuk rasa masih terjadi tak mundur sedikitpun. Sampai-sampai kejadian ini membuat menteri kedutaan besar Australia turun tangan. Memohon untuk menolak resign-nya model pengantin Grammy award tersebut.


Mereka berharap supaya model pengantin terus berkarir untuk mencapai cita-citanya, dan mereka juga menjanjikan tentang keselamatan bagi sang Model dalam menjalankan tugasnya.


tidak hanya satu dua panggilan saja, lebih dari lima puluh panggilan sudah masuk ke ponsel Olif, namun tidak satupun dari panggilan itu di angkat olehnya kecuali panggilan dari sang suaminya.


Olif semakin takut tak kala bunyi ponsel pertanda panggilan masuk terus saja berdering. Hingga membuat ia terpaksa mematikan ponselnya dalam mode Off.


Nama asisten Leah sangat jelas tertera dilayar ponselnya, entah berapa puluh kali sudah wanita itu menghubunginya.


Di lain sisi, tepatnya di apartemen Justin tiga laki-laki yang bertubuh tinggi dan kakinya yang jenjang merapat saling diskusi satu sama lain. Ketiganya terlihat serius membincangkan rencana mereka untuk menyerang perusahaan Modeling Grup.


"Kalian siap?" tanya Varrel menatap dua laki-laki yang berada didepannya secara bergiliran.


"Siap!" jawab mereka secara bersamaan. Sudah tekat berjalan sesuai apa yang sudah direncanakan.


"Bagus, kalah begitu kita bersiap-siap sekarang juga," tukas Varrel lagi sembari bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati barang-barang yang sudah mereka belikan tadi sebelum sesaat mereka tiba di apartemen.


Senter, pisau, tali, korek dan barang-barang lainnya. Tak lupa Varrel juga memasukkan pistol kedalam saku celananya guna untuk berjaga-jaga kalau terjadi hal yang tidak diinginkan.


Tepat pukul 12 malam secara bersamaan mereka bertiga keluar dari apartemen Justin sembari menenteng perlengkapan masing-masing.


Dengan penuh percaya diri Varrel mengemudi mobil sport Justin, mobil yang di khususkan untuk dua orang kini menjadi tiga orang. Walaupun harus berdesak-desakan tapi mereka harus tetap bersabar.


Tak berlangsung lama mereka akhirnya tiba di apartemen Justin, karena memang jalan sudah terlihat sepi. Hanya beberapa mobil saja yang berlalu lalang.


Varrel memarkirkan mobil sport tersebut di samping taman sedikit mengenai semak-semak, kedua manik-manik matanya menatap kearah gedung pencakar langit itu. Terlihat sepi, hanya beberapa bodyguard saja yang berjaga di luar.


Sepertinya mereka sibuk sampai-sampai mereka tidak menyadari mobil sport Justin telah masuk ke area gedung Modeling Grup.


"Justin, aku serahkan semua ini kepadamu. Ingat jikalau terjadi apa-apa segera kabarin kami!" tutur Varrel.


"Iya, kak. Kalian tenang saja. Aku akan mengendalikan cctv dari sini dan melacak instruktur lainnya. kalau ada bahaya Justin akan segera melaporkannya," sahut Justin sembari mengeluarkan laptopnya.

__ADS_1


"Bagus."


"Viki, Lo siap?"


"Siap!"


*


Varrel dan Viki secara perlahan-lahan penuh kehati-hatian berjalan mendekati pintu utama masuk kantor. Keduanya bergerak setelah mendapat persetujuan dari Justin selaku pengontrol dari jarak jauh.


"Aman!"


Perkataan Justin barusan membuat Viki dan Varrel dengan gerak cepat berlari menghajar tiga bodyguard yang menjaga pintu masuk kantor tanpa ampun. Hingga membuat ketiganya tergelak di lantai tak sadarkan diri.


"Ini balasan buat kalian yang ingin coba-coba bermain denganku," ucap Varrel sembari menghapus percikan darah segar yang mengenai di sudut bibirnya.


"Rel pintunya tidak bisa dibuka, ini otomatis," ucap Viki menghentikan aksi Varrel yang hendak memukul para bodyguard lagi.


"Justin, apa kau tidak bisa membukanya!" tutur Varrel sembari menekan tombol kecil di sambunggan bluetooth yang sudah terpasang diarea daun telinganya.


"Katakan!" seru Varrel.


"Ada dua puluh bodyguard lagi kak yang sepertinya harus kakak hadapi. mereka sedang berjalan keluar, bersamaan dengan bos mereka Tuan Alex," tutur Justin mulai merasa khawatir.


"Bajingan, aku harus memberikannya pelajaran sekarang juga."


"Kak hati-hati."


"Vik, kita akan kedatangan tamu besar," ucap Varrel kepada Viki, laki-laki itu sudah berhasil membukakan pintu utama masuk.


"Itu sudah jadi makanan kita," sahut Viki tersenyum kecil.


"Siapa itu!" ucap salah satu bodyguard paling depan matanya seketika membulat saat melihat pintu utama masuk sudah terbuka lebar-lebar.

__ADS_1


"Bos, sepertinya ada penyusup." sambung bodyguard tersebut.


"Siapa yang berani masuk ke perusahaan ku,kurang hajar. Aku akan membunuhnya. Cepat cari siapa dia!" perintah tuan Alex yang di angguk cepat oleh para bodyguard. Mereka berpencar mencari penyusup.


Namun tanpa tuan Alek sadari Varrel dan Viki sudah menghabisi satu-persatu bodyguard itu dengan sadisnya.


"Viki, biar gua saja yang akan memberi pelajaran kepada mereka sedangkan kau, cepat blokir semua situs dan data perusahaan ini tanpa terkecuali. Jangan biarkan perusahaan ini bangkit lagi walau hanya sesaat sekalipun!" tegas Varrel merapatkan ke-dua giginya.


"Ok, Lo hati-hati," sahut Viki secara sembunyi-sembunyi pergi menaiki lift.


Sementara Varrel tersenyum licik, tersisa empat bodynya lagi yang masih menemani tuan Alek. Kedua manik-manik mata tajam Varrel menatap membunuh karena Alek yang sepertinya terlihat bingung karena anak buahnya tak kunjung kembali.


Dorrrrr ....


Empat suara tembakan berhasil mengenai kaki para bodyguard terkecuali tuan Alek yang memang tidak di tembak oleh Varrel.


"Siapa di sana." teriak Tuan Alek sudah gemetar hebat apalagi melihat anak buahnya sudah tergeletak dilantai tak berdaya diiringi dengan darah segar mengalir hebat.


Dengan tangan gemetar tuan Alex mengeluarkan pistolnya.


"Tunjukkan dirimu, jangan beraninya menyerang di belakang." teriak tuan Alek sedikit demi sedikit mengusurkan kakinya kearah belakang.


Tak ada sahutan yang terdengar kecuali suara beberapa bodyguard masih sadar merintis kesakitan.


Entah berapa puluh kali sudah tuan Alex menelan ludahnya. kedua bola matanya tak berhenti melirik ke seluruh arah dengan pistol yang sudah di sodorkan kedepan. Namun tanpa dia sadari ternyata Varrel sudah berdiri tepat dibelakangnya.


Brukkk


Varrel dengan kasarnya menghantam tubuh tuan Alek, lalu mengambil pistol itu dan membuangnya ke-sembarang arah.


"Aaagggrrr ...." pekik tuan Alek sudah tergeletak dilantai.


"Kau." kedua bola mata tuan Alex membulat sempurna.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2