
"Apa yang akan kamu lakukan Rel, kau sungguh akan menghancurkan perusahaannya?" tanya Viki sembari terus mengimbangi langkah Varrel kian cepat.
"Kita tunggu sampai besok pagi. Kalau dia tetap bersikeras pada pendiriannya apa boleh buat, dia sendiri yang memaksaku untuk melakukannya."
"Tapi Rel, aku dengar keluarganya juga cukup berbahaya untuk--" ucapan Viki lagi namun terjeda karena sudah lebih dulu di potong oleh Varrel, laki-laki berwajah Asia itu berhenti seketika. Pandangannya langsung tertuju pada Viki dengan sorot mengintimidasi.
"Kau meragukan kemampuan ku ...?"
"Bukan begitu maksudku --"
"Lalu?"
"Aku tau kamu bisa menghancurkan perusahaannya hanya dengan mengunakan otakmu saja, tapi kalau kamu melakukan itu, itu akan membuat suasana semakin keruh. Aku bukan apa-apa tapi takutnya nanti perusahaan Papa mu akan menerima imbasnya." jelas Viki.
"Aku tidak peduli, yang aku pedulikan adalah kebebasan istriku. Aku tidak mau dia harus menjadi tontonan banyak orang lagi. Sudah cukup dia berkerja salam ini aku tidak akan membiarkannya lagi. Lagian Papa sepenuhnya mendukung ku dalam masalah ini" tukas Varrel.
"Baiklah, kalau begitu lakukan saja sesuka hatimu,"
*
Sore hari, di mana matahari sudah hampir mau tenggelam dan menampakkan sinar rembulan malam.
Cahaya kuning dari pantulan matahari pun terlihat sangat jelas di langit berwarna biru yang sebentar lagi akan gelap. Menjadi malam sepenuhnya.
Olif terduduk diam di balkon kamarnya. Matanya terus saja tak berpaling menatap kearah matahari yang hampir nyaris tenggelam sempurna.
Hingga tanpa dia sadari seseorang telah memeluknya dari belakang, menyandarkan kepalanya di bahu Olif.
"Kamu ngapain di sini, sayang?" suara itu terdengar mengalun merdu bagaikan irama biola. Begitu seksi hingga membuat bulu roma Olif bangun dalam sekejap.
Sebuah senyuman pun seketika tersungging di bibirnya. Suara ini lah yang sangat Olif tunggu-tunggu sadari tadi.
Hingga tanpa menunggu lagi Olif bergegas membalikkan badannya menatap kearah sosok orang yang telah memeluknya itu.
"Mas ..." ucapnya, matanya langsung berbinar, bibirnya mengerucut merasa sangat kesal terhadap suaminya yang baru datang.
__ADS_1
Rasanya ingin sekali ia memukul suaminya itu tapi rasa kerinduan terasa lebih berat dari pada rasa kesal. Hingga membuat Olif segera memeluk Varrel sekuat-kuatnya tidak membiarkan laki-laki itu perlu lagi walaupun hanya selangkah.
"Hikkk... Kenapa lama sekali." tutur Olif mulai terisak, air matanya pun tumpah begitu saja membasahi kemeja merah bermerek Gucci yang di pakaikan oleh Varrel.
Entah kenapa dia seperti merasa kalau Varrel akan meninggalkan untuk selamanya, pikiran itu terlihat begitu saja.
Sementara Varrel, bukannya menenangkan Olif, Varrel malah tertawa renyah melihat Olif malah menagis. Varrel merasa lucu saja melihat Olif bersikap seperti ini, seperti anak kecil saja yang di tinggal sebentar oleh ibunya.
"Hahaha." tawa Varrel untuk kesekian kalinya.
"Huaaaaa.... Mas jangan ketawa." rengek Olif semakin menagis sejadi-jadinya tangannya semakin erat memeluk Varrel diikuti kaki sudah menghantam lantai.
"Habisnya kamu sangat menggemaskan sayang. Masak aku tinggal kamu baru dua hari kamu malah nangis seperti ini. Padahal dulu kamu meninggalkan ku hampir seminggu enggak seperti ini." tukas Varrel mulutnya tak berhenti tertawa.
"Aaaaaaa, mas."
"Hahaha, Oke-oke. Aku enggak akan ketawa lagi. Tapi kamu senyum dong, masak nangis sih lihat suaminya pulang." goda Varrel.
"Biar." ketus Olif.
"Hahaha.... Jadi kamu ngambek ini. Hem, Kamu kalau lagi ngambek tambah cantik tau enggak gemesin gimana gitu."
"Lah buktinya ini ada didepan mataku sekarang."
"Mas pasti bohong."
"Beneran, sekarang coba kamu tatapan Mas." tangan Varrel secara perlahan-lahan mengangkat dagu Olif. Menatap istrinya dengan tatapan penuh kasih sayang.
Secara lembut ia menghirup semua air mata yang membasahi pipi putih istrinya itu. Menciumi sekujur wajah Olif tanpa tertinggal sedikit pun.
Olif yang di perlakukan seperti itu jantungnya seketika langsung lari meraton, berdetak dengan sangat cepat.
Birahi nafsunya pun melonjak naik seratus delapan puluh derajat Celcius. Tangannya sudah tidak bisa di kondisikan lagi. Tanpa aba-aba Olif menempelkannya telapak tangannya di benda tumpul yang masih bersembunyi di sana.
Menekankan dan meremasnya dengan sedikit kasar hingga tanpa di perintah benda tumpul itu mengeras secepat kilat. Tangisannya mereda sedikit demi sedikit.
__ADS_1
"Sayang kamu sudah mulai nakal ya," bisik Varrel yang begitu seksi terdengar mengalun ditelinga Olif, membuat dia bertambah semangat memegang benda tumpul di sana, hingga tangannya kini sudah sepenuhnya menggenggamnya. Memajukan mundur.
Secara berangsur-angsur kaki Olif menuntun Varrel memasuki kamar, berjalan mendekati ranjang. Tangannya masih memeluk erat tubuh Varrel.
Tanpa aba-aba Olif mendorong kasar tubuh Varrel keatas ranjang. Sebuah senyuman licik pun tersenyum begitu saja di bibirnya, Senyuman itu begitu menggoda iman.
Bibir bawahnya sudah digigit kasar. Sorot matanya tak berkedip menatap kearah Varrel yang seperti menikmati apa yang akan dilakukan istri nanti.
Kedua tangan Olif ia gerakkan, membukakan baju yang membaluti tubuhnya itu. Setelah itu ia membuang baju itu ke-sembarang arah. Tidak peduli kemana sudah bergeletakan.
Hingga kini tidak ada kain apapun yang membaluti tubuh Olif kecuali bra dan CD yang masih menutupi gunung kembarnya.
Glukkk.... Varrel menelan salivanya kasar. matanya tak berkedip menatap gunung kembar sedang bergoyang disana.
Secara penuh lembut Olif menaiki ranjang, menduduki lutut suaminya itu. Membuka resleting tempat menyatunya celana.
Menurunkannya tanpa sabar.
(Oh iklan dulu, sensor)
Ahhhhh... Ahhhhh,
suara desahan Olif terdengar begitu manja saat benda tumpul yang panjang dan besar itu telah masuk kedalam surga duniawi. Menggoyang agar masuk lebih dalam.
Ahhhhh....
Tangan Olif sudah menggenggam erat pergelangan tangan Varrel, semakin kuat dan semakin kuat.
Ahhhhh... Desahan Olif meningkat tak beraturan ketika benda itu telah berjalan mencapai 40 kecepatan.
Oohhh, Olif memejamkan kedua matanya. Bibir bawahnya sudah merah bagaikan darah karena gigitannya sendiri.
Ahhhhh... Varrel semakin mempererat kecepatannya. hingga kini telah berada di tujuh puluh lima.
Udah enggak usah di lanjutkan lagi, yakin pikiran kalian traveling nanti, bahanya soalnya.
__ADS_1
Ini aja udah aku potong-potong wkwkw
Maaf telat update 😓.