
PERINGATAN INI BAB 21+
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
INI BANYAK 21+ dan panjang. Tolong berikan like, Rite, komen dan Berhadiah tanda terima kasih 🤗. Bagi yang dibawah umur untuk menghindari yang bukan-bukan lebih baik jangan di baca 🥰🤭🤗
Malam hari, masih di apartemen Justin. Laki-laki yang berstatus sebagai adik dari pada Kakak iparnya Olif, Kristian. Suasana telah menjadi hening beberapa saat tidak bersuara lagi karena memang mereka sudah berada dalam kamar mereka masing-masing.
Tiupan angin kencang dan hujan yang begitu deras membuat Olif, Varrel dan juga Viki terpaksa menginap di apartemen Justin.
Awalnya mereka ingin menginap di hotel terdekat tapi karena cuaca buruk membuat mereka mengurungkan niatnya. Olif tidur bersama Varrel dikamar tamu walaupun sedikit kecil tapi cukup leluasa bagi dua orang.
Sedangkan Viki dan Justin, tidur dikamar yang biasa Justin tidur ataupun bisa disebut kamar utama. Karena memang apartemen Justin hanya memiliki dua kamar dan kamar Justin-lah sedikit lebih luas daripada kamar yang ditempati Olif dan juga Varrel.
Viki seketika terkesiap ketika langkah kakinya memasuki kamar pria bule itu, walaupun dia terlihat menyebalkan dan sembrono tapi kamarnya terbilang sangat rapi dan bersih, bahkan lebih rapi daripada kamar Viki.
Manik-manik mata Viki menatap seisi kamar, lirikan matanya sontak terkesima saat mata coklatnya menatap Foto yang dibaluti bingkai terletak rapi di atas headboard.
"Justin?? Apa itu keluarga mu...??" tanya Viki sekilas melirik kearah Justin yang hendak ke kamar mandi.
"Iya." jawab Justin santai.
"Oh, tapi kenapa kamu tidak tinggal di bersama orang tuamu saja. Kenapa kamu lebih memilih tinggal di apartemen seorang diri??" tanya Viki lagi.
"Bagaimana Om tau kalau aku tinggal sendirian, secara ini kan baru pertamakali Om berada di apartemen Justin??" tanya balik Justin diikuti dengan keningnya yang berkerut. Merasa heran karena hampir nyaris perkataan ya dikatakan Viki benar.
"Aku hanya menebak soalnya aku melihat semua barang-barangmu berada disini."
"Itu karena aku lebih suka sendiri dari pada rame-rame. Apa masih ada pertanyaan lagi?? kalau tidak Justin mau mandi, badan Justin gerah." tutur Justin.
"Oh iya-iya. Silahkan, aku rasa tidak ada pertanyaan lagi yang ingin aku tanyakan." sahut Viki sedikit merasa tidak enak.
"Ok, kalau begitu Justin mandi dulu. Kalau ada apa-apa panggil Justin."
"Hem'em."
__ADS_1
***
Di kamar tamu.
Olif menutup panggilan telepon setelah sesaat ia berbincang dengan Yuni. memberi kabar kalau dia dan Varrel baik-baik saja, sekaligus meminta izin kalau ia dan Varrel menginap di apartemen Justin.
Hati Olif meresa lega sekarang ia seperti hidup kembali ceria seperti dulu. Kebahagiaan apa lagi yang lebih dari pada ini hubungannya dengan Varrel sudah seperti sedia kala bahkan sekarang ia lebih akrab dengan suaminya itu.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi terbuka dan terlihat Varrel sedang mengayunkan langkah kakinya keluar. Tangannya yang sebelah kiri mengacak-acak rambutnya yang masih basah, sedangkan tangannya sebelah kanan menutup pintu kembali.
Kini kedua tangannya sudah sepenuhnya mengacak-acak rambutnya. Sementara Olif yang melihat itu langsung saja ia menelan ludahnya dengan sangat kasar.
Manik-manik matanya sangat jelas melihat bagaimana bentuk roti sobek Varrel. Bahkan goyangan otot lengan Varrel bergoyang mengikuti arah tangannya yang seketika membuat Olif cegukan.
Padahal ini bukan pertama kalinya bagi dirinya melihat Varrel bertelanjang dada didepannya, tapi entah kenapa kali ini berbeda daripada yang sebelumnya yang pernah ia lihat.
Ini jauh lebih menggoda menggoyang jantungnya sudah berdetak sangat kencang. Rintikan air yang masih berada di dada sixpack Varrel bertambah membuat jantung Olif seakan ingin berhenti.
Rasanya nafasnya begitu sesak seolah olah ia begitu susah menarik dan menghembuskan nafasnya. Hingga beberapa saat kemudian mata Varrel berhasil menangkap mata Olif yang sudah dari tadi memperhatikannya. Seulas senyuman langsung tersungging di bibirnya.
"Sayang kamu kenapa?? Kok ngiler gitu?? goda Varrel tersenyum kecil.
"Ah-ahhhhh.... A-apa, apa?? Mas bilang apa barusan??." tanya Olif sontak tersadar.
"Apa? apa?. Kamu tadi terpesona dengan ketampanan ku buka??" terka Varrel sembari melangkah dua langkah kedepan berhadapan tepat didepan Olif.
"Si-Siapa bilang aku aku terus pesona. Enggak kok, A-Aku B aja." sahut Olif sembari sedikit mengusurkan tubuhnya kebelakang. Wajahnya seketika mera merona ketahuan.
"Kalau B aja lalu kenapa kamu jadi gugup seperti itu, Hem." ucap Varrel secara perlahan-lahan ia menurutkan badannya mengenai Olif. Membuat istrinya berada dibawah belah dadanya. kedua tangannya menopang di atas ranjang.
Jantung Olif seakan meledak bagaikan di bom, matanya kini dengan sangat jelas memperhatikan bidang dada sixpack Varrel yang hanya berjarak kisaran 5 cm saja.
Nafasnya seakan memburu naik turun tidak beraturan. Tanpa berkedip Olif menelan ludahnya kesekian kalinya. Hormon nafsunya sontak naik drastis. Bau aroma maskulin yang tercium semakin membuat Olif terbuai.
Kini lirikan matanya berpindah menatap kearah roti sobek yang kembang kempis itu, Pikiran kotornya langsung terbayang begitu saja. Sebagai penggemar cogan Olif tidak bisa melihat yang satu ini. Rasanya ia begitu ingin menyentuhnya namun dengan cepat Olif mengendalikan dirinya.
"Mas Varrel." Olif yang sudah tidak bisa menahan nafsu hormonnya dengan gerak cepat mendorong tubuh Varrel agar menjauh darinya, serasa oksigennya sudah habis dan sangat butuh udara segar.
Varrel yang melihat Olif seperti itupun malah tersenyum senang, rasanya ia belum puas menggoda istrinya.
Dengan penuh hati-hati Varrel mengayunkan ke-dua tangannya memegang handuk yang membaluti sebagai tubuhnya itu.
"Mas k-kamu mau ngapain." seketika mata Olif membulat, ludahnya kembali tertelan.
"Brammm..." teriak Varrel sembari melepaskan handuk yang membaluti area pinggangnya.
"Aaaaaaa." sontak Olif berteriak tanpa pikir panjang menutup matanya rapat-rapat, Varrel yang melihat itu tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha...." Varrel tidak henti-hentinya tertawa.
"Mas apa yang kamu lakukan...??" gerutu Olif dengan tangan masih menutupi wajahnya.
"Emangnya kamu pikir aku sedang ngapain...??"
"Massss.... Cepat pakaikan celana mu."
"Makannya lihat sayang apa aku udah memakaikan celana apa belum jangan menutup matamu seperti itu. Lagipula kamu sudah melihat semuanya bukan." tutur Varrel masih tertawa.
Olif yang mendengar itu secara perlahan-lahan ia menurunkan tangannya mencoba melihat bagaimana keadaan suaminya sekarang. Wajahnya sudah merah seperti tomat sudah siap dipanen kan.
"Lihat Aku sudah memakaikan celana, kenapa kamu menutupi wajahmu seperti itu sampai merah hem." Goda Varrel lagi.
"Auuuuu aaahhh." Olif mengerucutkan bibirnya, teryata benar kalau Varrel memang sudah memakai celana pendek. Dengan penuh kesal Olif pun beranjak bangkit dari pinggir ranjang dengan tergesah-gesah ia memasuki kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Olif menatap dirinya dari pantulan cermin, dia berdiri tepat didepan wastafel melihat wajahnya yang merah merona. Dia seakan malu ke ubun-ubun sekarang. Teryata Varrel hanya menggoda dirinya.
"Dasar pria tidak tau malu beraninya kamu menggodaku. Awas aja mas aku akan membalasmu." guma Olif lalu langsung mengguyurkan tubuh dengan air hangat dibawah shower.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, setelah menghabiskan waktu kurang lebih 10 menit dalam kamar mandi akhirnya Olif keluar.
Namun sebelum itu Olif terlebih dahulu mengintip Varrel, ia ingin melihat apakah suaminya sudah tertidur apa belum.
Dan ternyata belum, Varrel terlihat duduk atas ranjang bersandar di headboard. Pandangan matanya tertuju pada layar ponsel yang ia pegang.
Olif tersenyum licik, ia sedikit berdehem seolah olah mengabarkan kalau dia sudah selesai dalam kamar mandi. Langkah kakinya yang kecil secara berangsur-angsur ia layangkang.
Dengan tangannya yang mengibak rampung basahnya ke arah samping. Memperlihatkan kemulusan leher jenjangnya itu.
Sedangkan bibir bawahnya sudah digigit dengan kasar. klik, tepat saat Varrel menatap kearahnya Olif mengedipkan sebelah matanya.
"Kamu menggodaku...??" tanya Varrel.
"Tidak. Aku tidak sedang menggoda mu, tapi kalau kamu merasa tergoda itu wajar karena aku memang perempuan penggoda." sahut Olif dengan nada sangat seksi.
Tangannya yang sebelah kiri mengelus ngelus lembu pahanya yang putih bersih itu. "Mas, aku bisa memuaskan mu jikalau kau mau. Aku juga bisa membuat kamu jauh lebih merasakan kenikmatan surga dunia." bisik Olif dengan nada centil, berusaha menggoda harimau buas.
"Benarkah, kau akan memuaskan ku??" tanya Varrel tersenyum kecil.
"Iya, apa kamu pikir aku tidak bisa bermain di atas ranjang, Hem. Aku ini jauh lebih hebat dari pada wanita pelacur manapun." tukas Olif yang sudah tidak menyadari kalau dirinya sekarang sudah benar-benar berada dalam kerangkeng harimau.
Rasakan mas sekarang kamu menerima akibatnya bukan hahahaha, siapa suruh mengerjai ku. Emang kamu pikir aku tidak mengerjaimu.
"Tapi aku masih belum percaya sayang. Kamu pasti akan menangis nantinya memohon ampun." ujar Varrel memancing mancing Olif agar lebih lagi masuk kedalam perangkatnya.
Apa kamu piki aku tidak tau, kamu sedang ingin membalas ku bukan. hehehe, tapi aku akan mewujudkan apa yang kamu katakan barusan sayang.
"Kamu masih belum percaya, Baiklah akan aku buktikan." secara perlahan-lahan dengan gaya seksi Olif menurunkan handuk kimono yang membaluti tubuhnya itu.
Tunggu, tunggu. Kalau aku melepaskannya itu berarti sama saja aku menyerahkan diriku sendiri tidak, tidak.
"Hem'em, aku rasa sudah cukup sampai disini." Olif menarik handuknya kembali.
"Tidak bisa..." Varrel yang melihat itu dengan gerak cepat menarik Olif dan menindihnya. Setelah itu tanpa sabar ia melepaskan kain pengikat handuk kimono yang membaluti tubuh istrinya.
"Mas...." Mata Olif membulat sempurna.
"Suuttttt... Jangan berbisik, nanti suaramu didengar oleh mereka." jari telunjuk Varrel mengatupkan belahan bibir seksi Olif.
"Hahhhhh...." Varrel menelan ludahnya begitu kasar, kedua gunung kembar berwarna putih sangat jelas berada di depan matanya.
Secara bergiliran Varrel menamkan tanda kepemilikan sampai ia merasa puas lalu setelah itu baru berpaling dileher jenjang mulus Olif.
Sedangkan kedua tangannya memainkan kedua gunung itu. Olif yang ingin menolak tapi sudah tidak kuat lagi, hormon nafsunya kini sudah menjelajah keseluruh tubuhnya.
"Ahhhhh...." Akhirnya Olif mengeluarkan desahan, permainan Varrel benar-benar membuat ia lupa diri.
Kedua tangan Olif dengan bergelayut manja dileher Varrel, sesekali ia menjambak rambut suaminya itu.
Kini kedua bibir mereka menyatu begitu dalam. Saling melum**.
"Hahhhh Hahhhh Hahhhh." suara nafas Olif begitu terengah-engah setelah Varrel mengentikan ciuman panasnya.
Varrel beranjak bangkit, melepas kasar baju yang ia kenakan dan membuatnya sembarang arah, begitu juga dengan kain yang membaluti area pinggangnya. Kini dirinya bertelanjang bulat-bulat di depan Olif.
Glukkk...
Untuk kesekian kalinya Olif menelan ludahnya lagi. Manik-manik matanya dengan sangat jelas melihat sesuatu yang bulat, besar nam panjang sedang mengarah kearahnya.
Varrel dengan penuh lembut kembali menindih Olif, mengangkat kan kedua paha putih mulus Olif lalu meletakkan kedua paha putih itu di atas pundaknya.
Setelah itu secara perlahan-lahan ia mencoba membukakan pintu nikmatnya surgawi yang tiada tara itu. Satu dua sampai tiga kali sudah Varrel mencoba tapi masih tetap tidak bisa. Hal itu membuat ia berdecak kesal.
"Sayang mungkin ini agak sedikit sakit tapi tahanlah, nanti sakitnya akan menjadi nikmat." ucap Varrel yang mendapat anggukan dari Olif.
"Aaahhhkkk..." Olif menjerit bukan main saat benda tumpul itu berhasil masuk kedalam surga dunia. Kedua tangannya meremas kasar sprei bewarna putih cerah itu, diikuti kepalanya yang terperangah ke atas karena menahan rasa nyeri.
Darah segera seketika mengalir begitu saja. Varrel tersenyum puas lalu secara perlahan-lahan ia mengayunkan pinggulnya.
__ADS_1
Stop udah ok, ini udah cukup. Jangan sampai mendalam lagi, nanti takutnya bisa menjadi bahaya.
Jangan lupa kasi bintang, vote dan beri hadiah 😁