Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Ambisi


__ADS_3

"Aku sudah memperingatkan mu, tapi kamu tidak memperdulikan apa yang sudah aku katakan. Sekarang kamu rasakan sendiri apa yang harus kamu rasakan."


Brukkk ....


Dua pukulan mendarat mulus di pipi Alek dengan sadisnya. Sudut bibir bawahnya secara perlahan-lahan mengeluarkan darah segar, darah yang membuktikan kalau dia telah mendapat pukulan keras dari Varrel.


Untuk sesaat Alek tersenyum kecil lalu tangannya yang kekar menyapunkan darah seger itu. Mengelapnya.


"Kau salah tuan muda Varrel," ucapnya sembari bangkit dari lantai diiringi gumpalan tangan. "Anda terlalu percaya diri. Kejadian seperti ini bukankah sudah hal yang lumrah di dunia bisnis, ckkkk. Seharusnya anda tidak melakukan ini semua," tukasnya lalu menjertikkan jarinya.


Secara hampir bersamaan sepuluh bodyguard bertubuh tinggi dan besar keluar dari sela-sela dinding, mereka berjalan dengan serentak mendekati Varrel yang sudah menatap mereka dengan tatapan keterkejutan.


"Bagaimana bisa," guma Varrel terkejut, karena setahunya semua para bodyguard sudah dia basmi.


"Jangan terkejut seperti itu tuan Varrel," ketus Alek.


"Hari ini juga saya akan membuat anda pergi dengan mudah tuan muda Varrel, meninggalkan dunia ini hahahaha." tawa Alek.


Brukkk .....


Perkelahian pun terjadi, Varrel terpaksa harus meladeni para bodyguard itu dengan tangannya sendiri karena peluru simpanan yang dia bawa tertinggal di dalam mobil. Pertarunganpun terjadi sangat sengit, untuk sesaat Varrel berhasil mengelak dan membalas setiap pukulan yang mengenai dirinya.


Hingga tanpa disadari Varrel salah satu bodyguard memukul dirinya dari arah belakang. Yang menyebabkan Varrel saat itu juga tergeletak dilantai.


Aaagggrrr .....


Varrel merapatkan kedua giginya, rasanya punggungnya retak akibat pukulan tadi.


Alek yang melihat itu tersenyum puas tanpa sabar dia menyuruh anak buahnya memegangi kedua tangan dan kaki Varrel lalu secara brutal dia memukul Varrel tanpa ampun.


Brukkk .... Brukkk .... Entah berapa puluh kali sudah dia memukul wajah dan perut sixpack Varrel tanpa balas kasihan. Seluruh badan Varrel kini babak belur tak berdaya bercak-bercak darah keluar memenuhi sudut bibirnya.


"Akkkhhhh ...." Varrel terbatuk seluruh tenaganya sudah terkuras tak tersisa sedikit pun, namun bukannya merintis kesakitan Varrel malah tertawa renyah melihat ketidak mampuannya.


"Kau tertawa?"


"Ckkkk, apa aku tidak boleh tertawa? hahhhhh .... Kau mengatakan kalau perkelahian hal lumrah di dunia bisnis tapi sayangnya itu tidak berlaku bagi orang yang cerdik," sahut Varrel.


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Kau lihat." tunjuk Varrel kearah rekaman cctv yang berada di sudut ruangan, cctv yang masih menyala merekam semua kejadian yang terjadi.


"Kamu mencoba menakuti ku?"


"Tidak, hanya orang bodoh yang tidak tau apa yang aku maksudkan."


"Lepaskan dia," perintah Alek kepada anak buahnya.


"Tapi Boss,"


"Hahaha apa kalian merasa takut. percuma semua itu sudah terlambat."


Dorrrrr ..... Suara tembakan terdengar sangat keras dari arah pintu utama masuk kantor.


"Po-Polisi," guma Alek gugup kedua matanya membulat tak percaya bagaimana bisa perusahaannya kini si penuhi banyaknya polisi.


"Letakkan senjata kalian semua, kami sudah mengepung tempat ini kalian tidak bisa bergerak," seru salah satu polisi yang bertubuh kekar memberanikan diri melangkah maju mendekati Varrel. Diiringi Justin dari belakang, laki-laki bermata biru itu segera menyambar Varrel masih tergeletak tak berdaya di lantai.


Untuk kesekian kalinya Alek menelan ludahnya kasar kali ini sudah tidak ada jalan lain selain segera kabur dari tempat ini.


"Mau kemana Anda tuan Alex," ucap Viki secara bersamaan saat Alek membalikkan badan hendak kabur.


"Semuanya sudah terlambat," tutur Viki tersenyum licik.


"Tangkap mereka, jangan biarkan mereka lolos." Teriak polisi yang bertubuh kekar tadi.


Para polisi yang mengepung kantor pun bertindak setelah mendapat instruksi, dengan sigap mereka membungkus para bodyguard dan juga Alek. Masing-masing dari mereka mendapatkan borgol besi kedua tangan diikat dari belakang.


"Aku bersumpah akan membalas kalian semua, kalian tidak bisa menghancurkan ku begitu saja aku pasti pasti akan membuat kalian semua membayarnya." teriak Alek.


"Cepat bawa mereka ke kantor." perintah ketua polisi.


"Baik."


"Kak Varrel? kak Varrel enggak apa-apa?" tanya Justin sudah sangat panik apalagi melihat darah masih mengalir memenuhi sudut bibir Varrel.


"Apa kau tidak bisa melihat, aku hampir mati." ketus Varrel.


"Hehehe .... Maaf, habisnya kita harus mempunyai bukti yang kuat dulu supaya bisa memanggil polisi."

__ADS_1


"Kau sangat lambat, lain kali jangan bekerja lagi denganku."


"Lah, kak ...."


"Pak Varrel, apa kami perlu mengantar anda ke rumah sakit?" tanya ketua polisi.


"Tidak perlu, ini tidak terlalu sakit hanya memar sedikit saja." tolak Varrel dia mencoba berdiri yang di bantu oleh Viki di samping.


"Kalau begitu saya ucapkan terimakasih, saya berjanji akan membuatmu mereka membusuk di penjara." pamit ketua polisi.


"Terimakasih atas bantuannya."


"Sama-sama, kami pamit."


*****


Di apartemen Justin. Tepat pukul empat pagi mereka tiba di apartemen ketiganya disambut ramah oleh Olif. Ya teryata wanita itu tidak bisa tidur semalaman memikirkan apa yang terjadi. dia bahkan berangkat ke apartemennya Justin tengah-tengah malam buta karena sangking khawatirnya.


"Mas ...." Olif sontak terkejut menutupi mulutnya dengan telapak tangan.


"Aku tidak apa-apa,"


"Tidak apa-apa bagaimana bibir kamu berdarah."


"Ini hanya luka kecil, sudah jangan terlalu khawatir. Hem'em ... bagaimana kamu bisa ada di sini?"


"Aku sudah dari tadi disini menunggu kalian."


"Kak Olif menungguku." potong Justin.


"Tidak, aku menunggu suamiku."


"Makanya cepat menikah biar ada orang yang menunggu, ayo kita bersihkan diri saja jangan jadi nyamuk di sini." ucap Viki sembari menarik tangan Justin dan membawanya paksa masuk kedalam kamar.


Bersambung.....


Maaf, author demam masuk rumah sakit. 🤧


telat update tolong mengertilah 🙏

__ADS_1


__ADS_2