Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Untuk Menyelesaikan Semuanya


__ADS_3

“Mil, pakailah cadarmu” ucap Arya datar dengan kembali membaca dokumen di tangannya,


Mila yang sedang merapikan tempat tidurnya kemudian melirik ke arah Arya,


“kenapa?, disinikan cuma kita berdua, emang salah kalau aku tidak memakai cadarku?”


“Aku tidak tahan melihat wajahmu, aku tidak ingin karena wajahmu itu membuatku malah berhasrat melakukannya padamu, aku tidak mau menyentuhmu”


deg, deg, ucapan Arya seakan seperti sambaran petir bagi Mila, baru sesaat ia merasa bahagia karena kehadiran Arya sekarang ia harus mendengar ucapan yang menggambarkan seolah Arya tidak memiliki keinginan untuk menyentuhnya,


‘apa? kenapa?, kenapa dia tidak ingin menyentuhku?, bukankah aku istrinya, apa aku sama sekali tidak menarik di matanya?’ batinnya menahan rasa getir di dadanya.


“dan juga, jagalah wajahmu untuk orang yang kamu cintai itu, dia pasti kecewa jika melihatmu membukakan wajahmu pada laki-laki lain selain dirinya” lanjut Arya yang masih asyik dengan pekerjaannya.


Mila lalu memalingkan wajahnya dari arah Arya, ia takut jika Arya melihatnya yang kini mulai meneteskan air mata,


‘apa dia tidak menginginkan diriku sama sekali?, apa dia ingin menceraikanku?, tapi bukankah aku istri tercintanya?’ batin Mila tak karuan, perasaan takut kehilangan itu kembali menyeruak ke dalam hatinya.


“darimana kamu tahu dia kecewa jika aku membuka cadarku padamu?” ucap Mila berusaha tenang, ia bersuara sedatar mungkin agar Arya tidak tahu bahwa saat ini air matanya sudah mulai menetes.


“hmmm, aku tidak ingin jika orang yang aku cintai membuka cadarnya untuk orang lain, jadi aku pikir dia pasti juga seperti itu.”


dan kembali sambaran petir itu menerpa perasaan Mila, perasaan bersalah itu kembali datang dan membuat hatinya merasa sakit,


‘aku yang salah, aku yang membuat dia membenciku, aku bahkan membuka wajahku di depan bang Arnes dan menutupinya di depan suamiku sendiri’


Sementara Arya masih bersikap datar, namun jauh di dalam hatinya, rasa sakit itu terasa, ia begitu sakit ketika mengucapkan kalimat tersebut, namun ia bersikap sedatar mungkin karena tak ingin tampak sedih di depan Mila,


Ada kehormatannya sebagai laki-laki yang harus ia jaga, apalagi selama ini Mila bersikap acuh dan berkali-kali menyakiti hatinya, terutama ketika Mila terang-terangan mengakui mencintai laki-laki lain dan berkata padanya untuk tidak berharap lebih pada pernikahan mereka, tentu ia akan merasa seperti laki-laki yang tidak memiliki harga diri jika masih mengharapkan Mila membuka hati untuknya,


‘aku harus ikhlas, aku tidak boleh merenggut kebahagiaannya, sekalipun aku sangat menginginkannya’


*


Ketika jam telah menunjukkan pukul 6 pagi, Arya keluar dari kamar Mila, ia melangkah ke meja makan dan meyakini jika Vanessa telah sibuk dari pagi seperti biasanya, dan benar saja, ia mendapati Vanessa sedang asyik mengaduk susu yang ia siapkan untuk Mila,

__ADS_1


“kak” panggil Arya pelan,


Vanessa yang mendengar suara laki-laki memanggilnya segera memutar badannya yang menghadap ke meja dapur,


deg,, deg,, jantungnya berdetak cepat melihat sosok Arya, ia kemudian tersenyum senang melihat sosok laki-laki yang telah hilang 3 hari itu,


“Arya, kamu sudah pulang?, ayo duduk sarapan”


“eeh, iya kak, aku mau nanya, kakak ada pegang kunci kamarku nggak?"


Vanessa melirik bingung pada Arya,


'siapa yang menyimpan kunci kamarnya? Milakah? atau ibu?’


karena memang bu Saniaah lah yang terakhir tidur di kamar Arya,


“kakak nggak tahu dek, kakak nggak ada megang kunci kamar kamu”


“kamu kapan pulang?” lanjut Vanessa menanyai Arya


“semalam kak, sepertinya kakak sudah tidur sewaktu aku pulang”


“sofa kak”, jawab Arya lemah,


Vanessa kemudian menampakan wajah kecewanya, ia sangat berharap jika Arya tidur di kamar Mila semalam,


Arya kemudian duduk di kursinya biasa, mereka berdua akhirnya bicara ngalur ngidul sepeti biasanya, Vanessa ingin sekali menanyakan banyak hal pada Arya, mulai dari masalah kakak adiknya dengan Tomy, sampai masalah pekerjaan Arya, dan tentu juga siapa sosok Rita sebenarnya, kenapa dulu pak Sarman menjodohkan Rita dengan Irman, apa kelebihan yang dilihat pak Sarman dari Rita sehingga ia ingin menjadikan Rita jodohnya Irman,


Niatnya menanyakan itu semua ia urungkan, setidaknya sampai Arya kembali merasa nyaman tinggal di rumah itu,


Selang beberapa lama, Mila keluar dari kamarnya, ia kemudian duduk di depan Arya, kursi yang biasa ia tempati, Vanessa kemudian menghidangkan susu dan bubur ayam bikinannya untuk Mila,


Ia kemudian juga menghidang segelas teh hangat untuk Arya dan segelas teh hangat untuknya. Jadilah pagi itu kembali seperti yang diinginkan Mila dan Vanessa, Mila sarapan seperti biasanya dan Arya dan Vanessa minum teh hangat karena memang mereka tidak biasa memakan apapun ketika sarapan.


“kamu nggak mau coba bubur ayam bikinan kakak Arya, enak lo” tawar Vanessa pada Arya,

__ADS_1


“nggak kak, kakak kan tahu sendiri, aku tidak biasa makan apapun kalau sarapan” jawab Arya, ia kemudian melirik ke arah Mila yang makan dengan tetap menggunakan cadarnya, ia melihat dalam manik mata Mila, ada yang berbeda dari manik mata itu dengan semalam,


“Mil, kamu koq murung gitu?, padahal semalam aku lihat kamu ceria” tanya Arya lembut, ia berharap agar Mila tidak mengabaikannya lagi seperti biasanya,


“nggak kok, aku biasa aja, sama seperti semalam” jawab Mila datar, ia mencoba menyembunyikan kesedihan hatinya karena ucapan Arya tadi pagi masih menggema di telinganya,


‘aku baru mau mencoba membuka hatiku untukmu, tapi kenapa sekarang kamu seperti ingin meninggalkanku’ batin Mila pilu,


Arya sejenak menghembuskan nafas lega karena Mila tak mengabaikannya lagi, ia takut sikap Mila yang tidak mengabaikannya hanya berlaku ketika di dalam kamar saja.


“Mil, kamu nggak ada megang kunci kamarku?, ponselku ketinggalan di dalam kamar” Arya masih bingung dengan kamarnya yang terkunci itu, ia ingin segera mengambil simcardnya yang terakhir kali ia ingat ia melempar ponselnya ke sudut kamar hingga hancur,


Mendengar ucapan Arya, Mila sejenak berpikir,


'apa dia tidak akan marah jika tahu aku mengambil simcardnya?” batinnya ragu.


“Sepertinya kunci kamar itu dibawa ibuku, ibuku kemarin tidur di kamarmu” jawab Mila pelan,


Mata Arya membelalak kaget, ada perasaan kecewa yang muncul dihatinya secara tiba-tiba,


‘ternyata dia berubah seperti ini karena ibunya yang tahu kami pisah ranjang, dia memintaku tidur di kamarnya hanya karena permintaan ibunya,, huh,, sudahlah Arya, kamu sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya, jangan mengharapkan apapun lagi darinya’ batin Arya menahan sesak di dadanya karena kecewa,


“Mil, kenapa kamu semalam tidur di sofa?” tanya Arya yang ingin mengalihkan perasaannya, namun entah mengapa ia bertanya hal itu,


deg,,deg,,, Mila kelabakan, wajahnya berubah menjadi pias, ‘aku harus jawab apa?’


“itu, aku,,, semalam aku mencarimu kenapa tidak kembali ke kamar, tapi aku malah ketiduran di sofa saat melihatmu tidur disana” jawab Mila pelan, ia lebih memilih jujur daripada mencari alasan lain yang tidak logis, karena itu hanya akan membuatnya malu di hadapan Arya,


“ooh, lain kali jangan tidur diluar, nanti kamu sakit, dan maaf juga karena aku harus menggendongmu ke kamar semalam, aku nggak tega bangunin kamu” jawab Arya santai, ia menepis semua bentuk perhatian Mila kepadanya, karena ia merasa Mila melakukannya karena diminta ibunya dan itu pasti karena kakeknya. lebih kurang seperti itulah pikiran Arya menilai perubahan sikap Mila kepadanya.


Vanessa hanya diam mendengarkan pembicaraan Mila dan Arya, ia ingin memberi ruang bagi mereka untuk bisa saling berbicara, sebenarnya ia ingin meninggalkan Mila dan Arya berdua, namun ia merasa jika ia pergi itu akan membuat Arya dan Mila menjadi canggung. Ia juga sedikit merasa senang karena Mila menepati janjinya untuk mencoba membuka hati bagi Arya.


“Mil, kamu ada kegiatan nanti sore?, aku mau mengajakmu menemui kakek”


Mila melihat heran kepada Arya, ‘kenapa dia tiba-tiba mengajakku menemui kakek?’

__ADS_1


“nggak, aku nggak ada kegiatan nanti sore, emang ada apa kamu ingin mengajakku menemui kakek?”


“untuk menyelesaikan semuanya, kita memulainya dengan cara yang baik, jadi kita juga harus mengakhirinya dengan cara yang baik pula” ucap Arya yang membuat Mila dan Vanessa sama-sama membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang mereka dengar dari mulut Arya.


__ADS_2