Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Psikopat?


__ADS_3

Tepat pukul 4 pagi, mata Arya yang terpejam dari semalam kembali terbuka, ia mengusap kedua matanya dengan tangan dan segera memulihkan kesadarannya. Wajahnya yang khas orang bangun tidur kemudian berubah heran karena mendapati ada bantal di kepalanya dan ada selimut di tubuhnya.


Sejenak ia melihat ke arah selimut itu untuk kemudian mengalihkan pandangannya kepada Mila yang sedang terlelap tidur dengan tubuh miring ke arahnya.


Arya memperhatikan Mila dengan dalam dan akhirnya menyadari bahwa Mila tidur tanpa selimut sama sekali.


‘dia memberiku selimut?, kenapa dia begini sih?, dia kan bisa sakit kalau nggak pakai selimut’ gerutu Arya yang kemudian menarik selimut itu untuk menyelimuti Mila yang masih tertidur.


Setelah menyelimuti Mila dan meletakkan kembali bantal di ranjang, Arya kemudian bangkit untuk membuka lemari Mila,


‘astaga, bajuku kan sudah ku bawa semua, gimana mandinya nih?’ kesal Arya,


Mata Arya kemudian tertuju ke jas biru yang masih tersimpan di lemari Mila, perasaan sakit itu kembali menyeruak ke dalam hatinya, perasaan dikhianati karena Mila masih mencintai laki-laki lain, pikirannya kembali di bawa pada saat ia melihat Mila sedang bermesraan dengan Arnes di teras depan rumah.


‘bahkan aku melihat wajahnya pertama kali ketika ia berduaan dengan laki-laki itu’ batin Arya menahan rasa sesak di dadanya.


Arya kemudian berjalan ke kamar mandi, ia kemudian mandi dan mencoba menghilangkan semua beban perasaannya melalui dinginnya air yang meresap ke dalam kulitnya.


Setelah selesai mandi, Arya kembali memakai pakaiannya yang telah ia gunakan dari sore kemarin setelah pulang kerja.


Arya kemudian keluar dan melanjutkan kegiatan rutinnya untuk berkeluh kesah dan memohon kepada Tuhan-nya.


Setelahnya, ia kemudian membangunkan Mila dan menyuruhnya untuk segera mandi,


Mila membuka matanya setelah bahunya digoyangkan Arya beberapa kali, baru sejenak ia membuka mata, terdengar suara Arya yang lembut menyapa telinganya,


“bangunlah, ini sudah mau shubuh” ucap Arya.


Mila kemudian bangkit dan duduk di ranjangnya, ia kemudian sejenak mengusap matanya, ketika membuka mata, ia kemudian terpaku pada sosok Arya yang sedang duduk di kursi meja riasnya sembari menulis di buku biru yang kemarin dilihat Mila,


Pikiran Mila melayang pada perkataan Syifa kemarin yang bertanya apakah Arya sesuai dengan kriteria suami yang diinginkannya,


'dia bahkan melebihi ekspetasi akan kriteria suami yang aku inginkan, tapi kenapa ia begitu egois memaksa perasaanku seperti ini?'


Mila kemudian melepas nafas panjang dan bangkit menuju kamar mandi, untuk kemudian ia juga melakukan ibadah yang sama yang dilakukan Arya sebelumnya.


Arya mengeluarkan 2 buah foto yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi, ia kemudian mengusap kedua foto itu,


‘ayah, apa aku harus kembali dan memperbaiki nama baikmu yang telah tercoreng di mata dunia?’ batin Arya menahan pilu mengingat peristiwa 22 tahun silam.


Arya kemudian mencium kedua foto itu, ‘ayah, ibu, bibi, paman, aku mencintai kalian’


Mila yang baru saja selesai mengucapkan salam kemudian melihat Arya yang tengah mencium foto tersebut,


‘itu foto siapa sih?, kenapa ia menciumnya?, foto pacarnya? nggak,, nggak mungkin, dia kan pernah bilang bahwa dia tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain selain denganku, tapi jika ia itu foto pacarnya, apa itu berarti ia berbohong kepadaku?’ batin Mila yang mulai tak karuan dengan pemandangan di depannya.

__ADS_1


Mila langsung berdiri tanpa membuka mukenanya, perasaannya benar-benar dibuat tak karuan oleh Arya saat itu, antara perasaan penasaran dan cemburu yang merasuki hati dan pikirannya.


“itu foto siapa?” tanya Mila dengan nada sedikit meninggi,


Arya yang mendengar suara Mila langsung kaget dan segera menyimpan foto itu di sela buku birunya.


“bukan,,,bukan foto siapa-siapa” jawab Arya,


Mila yang merasa curiga dengan sikap Arya kemudian mulai mendekat ke arah Arya, dan ia kemudian dbuat bingung karena mata Arya terlihat basah.


“kamu menangis Arya?” tanya Mila


“tidak, mataku hanya perih karena debu” jawab Arya, ia kemudian bangkit dan menyimpan buku birunya ke dalam saku celana gunungnya, lalu ia berjalan ke arah pintu kamar.


“kalau bukan foto siapa-siapa, kenapa harus disembunyikan dariku?” tanya Mila yang mulai sedikit emosi karena sikap Arya.


Arya yang hendak menarik gagang pintu kemudian langsung berbalik badan ke arah Mila, dan tampaklah dengan jelas oleh Mila mata Arya yang telah basah,


“ini foto orang tuaku, aku hanya sedang merindukan mereka” jawab Arya dengan nada dan wajah sendunya menahan sedih, Ia kemudian keluar dari kamar Mila,


Mila yang mendengar jawaban Arya hanya bisa dibuat bingung kembali, ‘kalau dia rindu, kenapa ia tidak pulang saja menemui orang tuanya, kenapa harus sedih-sedihan kayak gitu’ batinnya.


Arya yang baru keluar kamar langsung menuju meja makan dan meneguk segelas air untuk menenangkan perasaannya, disana ia mendapati Vanessa yang seperti biasa tengah sibuk di dapur,


Mila tengah asyik memasak di dapur dan ia sedang berdiri di samping Mila dan ia membantu Mila memasak sembari bercanda bersama, mata Arya kembali berkaca-kaca ketika menyadari khayalan itu hanya akan menjadi sebatas khayalan di dalam hidupnya.


‘hidup memang tak pernah seindah khayalan’ batinnya dan ia kemudian mengalihkan pandangannya dari arah Vanessa.


*


Matahari pagi itu cukup terik menyinari bumi, cahayanya menembus pintu kaca teras samping rumah yang saat itu diisi oleh empat orang yang sedang menikmati sarapan di meja makan.


Vanessa yang tidak biasa sarapan pagi, pagi itu ikut menikmati masakannya sendiri karena ingin menghormati mertuanya, berbeda dengan Arya yang hanya menikmati teh hangat karena ia memang tidak biasa untuk memakan sesuatu di pagi hari.


“kamu tidak ikut makan Arya?” tanya bu Saniah,


“nggak bu, saya nggak biasa makan pagi” jawab Arya dan bu Saniah mengangguk mendengarnya,


“apa dia tidak pulang lagi Vanessa?” tanya bu Saniah yang suaranya berubah menjadi dingin.


Vanessa yang mendengarnya kemudian melihat ke arah bu Saniah lalu ia menggeleng lemah menahan sedih karena melihat tatapan bu Saniah,


“kamu lihat sendirikan, bahkan cinta buta abangmu itu hanya membuat perempuan sebaik Vanessa menderita seperti ini” ucap bu Saniah yang menatap Mila dengan tajam,


Mila yang mendengar itu dibuat kesal oleh ibunya, ia tidak bisa menerima jika ibunya terus membandingkan Arnes dengan abang dan ayahnya, apa lagi disana ada Arya yang ikut sarapan bersama mereka, ia seolah merasa kalah dari Arya karena ucapan ibunya itu.

__ADS_1


“ini salahku bu, aku yang tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuknya” batin Vanessa menahan sedih.


‘bukankah hasil pemeriksaan dokter Karina yang mandul itu bang Irman, kenapa malah kak Vanessa yang seolah-olah tidak bisa memiliki anak?' batin Arya bingung ketika teringat laporan dokter Karina di dokumen Ari ketika di ruangannya.


“tidak Vanessa, ini salah dia, jika dia telah memilihmu, ia harus siap dengan segala kondisimu, apalagi kamu juga telah memberinya izin untuk menikah lagi, tapi dia nggak mau kan, dan sekarang dia malah membuatmu seperti ini” ucap bu Saniah penuh emosi, sarapan yang baru ia makan beberapa suap terasa hambar sekarang, begitupun dengan Mila dan Vanessa yang mendengarnya, juga mulai merada hambar dengan makanan di piring mereka.


Arya mendengar itu seolah menemukan titik temu dimana masalah yang terjadi di dalam hidup Vanessa, ‘apa dia benar-benar melakukan hal itu?, dasar laki-laki bajingan’


Bu Saniah kemudian menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya, ia kemudian menatap ke arah Arya untuk mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


“kamu lagi kerja apa sekarang Arya?, Mila bilang beberapa waktu lalu kamu ada kerja di luar kota”


Wajah Arya berubah bingung dengan ucapan bu Saniah, ‘kerja diluar kota?, kapan aku kerja di luar kota?’


Arya sejenak melirik ke arah Mila dengan wajah groginya, namun orang yang ia lihat seolah tidak peduli dengan keadaan tersebut.


“anu bu, kemarin ikut teman aja buat cek projek di luar kota” jawab Arya dengan nadanya yang terdengar gugup.


“apa kamu tidak bisa ngurus perusahaan Arya?, kondisi perusahaan keluarga ini sekarang lagi tidak bagus, abangnya Mila sama sekali tidak becus ngurus perusahaan” lanjut bu Saniah,


deg,,,deg,, batin Arya dibuat kaku oleh bu Saniah, wajahnya pias, dan ia semakin gugup duduk di kursi itu,


“ibu rasa kamu punya bakat untuk ngurus perusahaan” lanjut bu Saniah,


“itu bu, aku nggak ada pengalaman di perusahaan bu” jawab Arya dengan nada gugupnya, sementara Mila yang mendengarnya dibuat bingung, ia kemudian melihat ke arah Arya,


‘kenapa dia berbohong pada ibu?, dia bahkan memiliki perusahaan yang cukup besar’


“tapi ibu rasa kamu punya bakat berbisnis seperti Gibran adinata”


Bu Saniah berusaha kembali memancing Arya untuk memastikan dugaannya, sementara Arya yang mendengarnya dibuat semakin pias seolah tidak mengerti dengan arah percakapan bu Saniah,


‘apa ibu tahu tentang diriku?, tidak,, hanya Tomy yang tahu, itu pun ia juga tidak tahu kejadian malam itu’


“Ibu bisa tahu dari mana Arya punya bakat bisnis?” tanya Mila pada bu Saniah,


“ibu rasa Arya mirip dengan bang Gibran” bu Saniah semakin menekankan tujuan pembicaraannya pada Arya.


Arya semakin dibuat kelu oleh bu Saniah, perasaan takut mulai menghampiri dirinya,


‘nggak ada orang lain yang boleh tahu tentang diriku, kalau ada yang tahu, hidupku benar-benar habis’


“apa kamu psikopat juga?” tanya Mila dengan nada polosnya sembari menatap Arya.


“ha?”

__ADS_1


__ADS_2