
Di Indonesia, tepatnya di apartemen Seli.
Seli membuang ponselnya kasar tepat di atas ranjang, sesaat setelah ia membaca pesan masuk dari Varrel. Ya, Varrel mengirimkan pesan pada Seli mengatakan kalau dia tidak bisa datang karena ada sesuatu yang sangat mendesak.
"Tidak bisa, sudah sejauh ini aku bertindak tapi aku masih belum bisa mendapatkan mu. Cihhh itu sangat tidak mungkin. Bagaimana pun Varrel akan tetap menjadi milikku selamanya, selamanya."
"Ya, kamu mungkin bisa mengelak saat ini Varrel tapi lihat saja aku yakin tidak lama lagi kamu akan berlutut dan tunduk kepadaku Varrel, hahaha..." tawa Seli.
"Itu sangat tidak mungkin Seli." tutur seorang laki-laki dengan setelan jas hitam dilapisi kemeja putih didalamnya berjalan dengan penuh elegan mendekati Seli.
"Viki... Kau. Bagaimana bisa kamu masuk ke apartemenku tanpa seizin dariku." ucap Seli sedikit terkejut melihat kedatangan Viki.
"Ya, ini aku. Mantan sahabat mu." Viki sedikit menekankan kata-katanya. "Bagaimana aku bisa masuk ke apartemenmu? Hem, itu sepertinya pertanyaan menarik. Bukankah kamu sendiri yang memberikanku kode pin masuk, aaahhhiiiii... Sepertinya kamu lupa. Baiklah akan aku ingatkan. Dulu kita adalah teman sangat baik dan sangat dekat, bahkan kita berbagi suka cita bersama-sama, tawa, sedih, lapar, senang. Semua itu kita lakukan bersama-sama. Tapi semenjak ke egoisan masuk ke tubuhmu semua itu lenyap bagaikan dimanakah api yang memburu." Sahut Viki kini dua berada tepat di depan Seli, diiringi dengan seulas senyuman tipis.
"Apa, yang kamu inginkan...??" tanya Seli sedikit memundurkan tubuhnya kebelakang.
"Apa yang aku inginkan?. Menurutmu apa kira-kira yang aku inginkan...??" tanya balik Viki.
"Viki percayalah setelah aku menikah dengan Varrel nantinya, kamu akan segera mendapatkan wanita itu aku berjanji kepadamu." Seli tidak bisa memundurkan tubuhnya lagi karena kakinya sudah menghantam tempat tidur.
"Cihhh... Aku tidak sepertimu menjilat air liur anji**. Kamu rela mengorbankan persahabatan mu hanya gara-gara keegoisan yang tidak jelas. ckkkk sahabat macam apa kamu. Aku sudah tidak menganggap kamu lagi sebagai sahabatku. Saat kau memfitnah ku dan Olif hari itu. Hari itu juga aku memutuskan persahabatan kita." Viki mendorong kasar tubuh Seli kearah ranjang. Menindih tubuh sahabatnya itu dengan cepat sembari menguncinya sehingga membuat Seli tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Viki apa yang kamu lakukan, jangan kurang ajar." teriak Seli berusaha melepaskan diri namun tidak bisa karena tentunya kekuatan Viki jauh lebih kuat ketimbang dirinya.
"Aku ingin kau mengakhiri semua ini, aku ingin kamu mengatakan yang sebenarnya apa yang telah terjadi. Kalau tidak---"
"Kalau tidak apa?? kamu akan memperkosa ku, hem. Itu yang kamu inginkan, lakukan saja. Tapi yang jelas aku tidak akan mengatakan apapun kepada Varrel." sahut Seli cepat memotong perkataan Viki.
"Jadi kamu menantang' ku...??"
"Iya, apa perkataan ku masih kurang jelas."
__ADS_1
"Dasar licik." Viki sontak beranjak bangkit dari ranjang. Apa kamu pikir aku akan benar-benar memperkosa mu? Cihhh... Aku bahkan mengharamkan tubuhku melakukan itu terhadap mu. Kamu sama sekali tidak layak untuk di setubuhi." Gerutu Viki.
"Cahhh... Kamu tidak perlu sok-sok naif Vik, Kamu juga tidak lebih dari seekor Anji** yang menggonggong." sahut Seli juga ikut bangkit dari ranjang.
"Ingat aku akan mencarikan semua bukti tentang rencana busukmu itu. Setelah aku mendapatkan bukti itu jangan harap aku dan Varrel akan memaafkan mu. Kau ingat itu." tegas Viki setelah itu langsung melangkah pergi meninggalkan apartemen Seli.
"Cihhh... Carilah, sampai matipun kami tidak akan mendapatkannya. Hahaha karena aku sudah lebih dulu membereskannya."
Dring.... suara bunyi ponsel Seli berbunyi secara tiba-tiba pertanda ada panggilan masuk. Ia segera meraih ponselnya dan mengangkat kan panggilan itu tanpa menunggu lagi, saat kedua bola matanya berhasil membaca nama siapa yang tertera di layar ponsel.
"Halo..." ucap Seli.
"Halo Bu. Bu gawat Bu." ucap seseorang di sebrang sana.
"Gawat kenapa...??" tanya Seli cepat dirinya mulai terlihat panik.
"Cctv dan obat yang Ibu berikan kepada saya telah hilang Bu." jawab orang itu.
"Maafkan saya Bu, saya telah lalai menjaga cctv dan obat yang Ibu berikan kepada saya."
"Dasar tidak berguna. Bisa-bisanya kamu menghilangkan barang yang sangat penting. Cepat cari tau siapa yang mencurinya." teriak Seli.
"B-Baik Bu."
"Aaagggrrr..... Sialan, siapa yang telah berani ikut campur dalam masalahku."
*****
Di Australia, tepatnya di salah satu mall terbesar kota Canberra. Olif dan Justin baru saja memasuki gedung itu. Gedung yang hampir semuanya dilapisi oleh kaca transparan dan pencakar langit itu adalah gedung terbesar di kota Canberra.
Pertama-tama Justin mengarahkan Olif menuju butik termewah di gedung itu. Dia langsung memimpin jalan mengarahkan Olif. Dia ingin Olif berpenampilan sempurna nanti malam agar dirinya tidak dituntut oleh empunya Grammy award.
__ADS_1
Satu dua baju sudah Olif pakai tapi rasanya semua baju yang dipakai Olif tidak cocok di mata Justin. Hingga di baju yang entah ke berapa kali akhirnya Justin menjertikkan jarinya merasa kagum dengan penampilan Olif yang sangat memukau dan pas dengan baju yang ia pakai.
"Sempurna." tutur Justin dengan seulas senyum mengembang.
"Iya, sempurna. Tapi aku sudah kesalahan berpuluh puluh kali gota ganti baju." kelus Olif merasa sangat letih.
"Hehehe.... Maaf kak Olivia. Habisnya semua baju yang kakak pakai kurang pas, hanya ini yang benar-benar pas ditubuh kakak." jelas Justin.
"Hehhhh..." Olif hanya bisa menarik nafas panjang.
Setelah menghabiskan banyak waktu di butik kini Justin kembali mengarahkan Olif, dia membawa adik ipar kakaknya itu ke salon ternama di mall yang ia pijak saat ini.
"Kenapa kita kesini...??" tanya Olif sedikit menaikan alisnya saat Justin sedikit memaksanya masuk kedalam salon.
"Sudah, kakak tidak perlu banyak tanya masuk saja. Cepat... Nanti keburu telat." sahut Justin.
Dua jam pun telah berlalu di mall pencakar langit itu. Kini penampilan Olif benar-benar sangat sempurna, Olif sempat menatap tak percaya saat ia melihat dirinya sendiri dari pantulan cermin. Rasanya ini benar-benar bukan dirinya, ia seperti orang lain.
Justin senantiasa menunggu Olif hingga selesai di ruangan tunggu. Ia dengan penuh kesabaran menunggu Olif selesai di make up.
"Justin bagaimana penampilanku...??" tanya Olif berjalan secara perlahan-lahan menuju kearah Justin.
Kedua mata Justin langsung teralih melirik kearah sumber suara yang memanggil namanya.
Justin pun yang tau siapa yang telah memanggilnya pun sontak saja menatap Olif dari ujung kaki sampai ujung rambut. Kedua biji bola matanya langsung saja tidak berhenti melotot menatap penuh kagum. Dia mengasikan kepalanya secara berangsur-angsur merasa tak percaya.
"Bagaimana...??" Olif kembali bertanya dengan sedikit memutarkan tubuhnya dihadapan Justin.
"S-sempurna k-kak Olivia." Justin mengajukan jempol.
Bersambung....
__ADS_1