Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Tak Ingin Berpisah


__ADS_3

Arya mengusap wajahnya penuh frustasi, ia memarkir mobil Ari yang ia pinjam untuk mengunjungi pak Sarman nanti, ia tidak ingin membawa Mila dengan motor bebeknya, ia juga merasa enggan untuk meminjam mobil Vanessa, sehingga ia lebih memilih meminjam mobil Ari.


'berarti Mila sudah tahu tentang pekerjaan dan perusahaanku sekarang, aku benar-benar di ujung tanduk, sebelum ia paham dengan masalah perusahaanku dengan perusahaan keluarganya, aku memang harus mengakhiri semuanya, atau jika tidak, masalahnya bisa membesar dan rumit, ini tidak hanya masalah Mila saja yang akan membenciku, tapi semuanya, Kak Vanessa, bu Saniah dan juga kakek, mereka semua pasti akan menganggapku musuh dalam selimut' batin Arya frustasi dengan posisinya sekarang, Mila yang tahu tentang pekerjaannya seolah menjadi sinyal bahaya bagi dirinya yang saat ini menjadi bagian dari keluarga Rakarsa.


Arya memasuki rumah dengan wajah kusut, ia segera menuju kamar tamu, namun sayangnya kamar itu masih terkunci, ia kemudian menuju kamar Mila dan mengetuk pintunya,


Pintu terbuka dan Arya kembali mendapati wajah cantik Mila tanpa mengenakan cadar, saat itu ia sangat ingin sekali memeluk Mila dan melepaskan semua beban di pundaknya yang terasa berat, mulai dari masalah Ari yang ingin menghancurkan perusahaan keluarga Mila, hingga keadaan Rita yang membuatnya takut kehilangan orang yang sangat diandalkannya untuk menyelesaikan semua pekerjaan.


“kamu sudah pulang, masuklah” ucap Mila datar, ia berusaha menyembunyikan hatinya yang masih kalut karena keadaan, seperti apapun ia mencoba mengelak, tetap saja ia tidak bisa mendustai hatinya yang takut kehilangan Arya.


Arya kemudian masuk dan duduk di kursi meja rias Mila, sementara Mila duduk diatas ranjang dengan memeluk kedua kakinya, ia melihat ke arah wajah Arya yang tampak lelah.


“wajahmu kusut, apa banyak kerjaan di kantor?” tanya Mila memecah kesunyian,


“nggak Mil, cuma ada beberapa hal yang cukup membuatku lelah saja tadi," jawab Arya santai,


"Mil, kenapa kamu datang ke kantorku? darimana kamu tahu aku kerja disana?” tanya Arya dengan menatap wajah Mila dengan tatapan sendu,


“Tomy, aku menanyakannya pada Tomy, aku kesana untuk mencarimu, aku khawatir karena kamu tidak pulang kesini,” jawab Mila sembari menatap jendela dengan tatapan kosong,


‘khawatir?, dia khawatir?, astaga, kalimat itu membuatku semakin berat melepasmu Mil, andai saja keadaan lebih adil untukku, tapi kenyataannya kamu mencintai laki-laki lain’ batin Arya.


“Mil, kamu sudah melihat kontak ponselku? aku harap kamu tidak salah paham dengan dengan nama kontakmu disana” ucap Arya yang tidak ingin membuat Mila berpikir macam-macam padanya,


deg,,deg,,, hancur, itulah yang dirasakan Mila, ia selalu merasa menjadi gadis yang dicintai Arya karena nama kontak itu, karena nama kontak itu juga ia merasa harus memberikan Arya kesempatan untuk mengisi hatinya, nama kontak itu juga yang membuatnya merasa tenang ketika merasa takut akan kehilangan Arya, dan karena nama kontak itu juga ia dapat bersikap datar sekalipun Arya mengisyaratkan perpisahan tadi pagi, tapi ucapan Arya barusan telah mematahkan semua pandangannya karena nama kontak itu,


“kamu tenang saja, aku tidak akan berpikir macam-macam karena itu” jawab Mila datar, namun dadanya benar-benar sesak tak tertahankan,


“apa ada kamar lain Mil?, aku ingin istirahat sebentar sebelum kita ke rumah sakit”


“kamu tidur disini saja, biar aku yang keluar” ucap Mila yang kemudian berdiri dan kemudian menuju pintu,


“nggak Mil, ini kamarmu, biar aku yang cari tempat lain untuk istirahat” jawab Arya,

__ADS_1


“istirahatlah, ini kamarmu juga, kamu berhak untuk ada disini” ucap Mila, ia kemudian membuka pintu dan pergi ke lantai 2, ia kemudian duduk di teras lantai 2 rumahnya, disanalah ia melepas semua sesak dadanya dengan tangisan.


“Arya, aku mohon, jangan tinggalkan aku, aku takut kehilanganmu”


*


“kenapa harus pinjam mobil orang sih Arya, kan mobil kakak ada” ucap Vanessa yang duduk di kursi tengah mobil Ari yang dipinjam Arya,


“nggak apa-apa kak, temanku tadi mau make motor aku, jadi aku bawa mobil dia” jawab Arya berbohong, ia merasa tak enak jika harus jujur pada Vanessa bahwa ia merasa segan meminjam mobil Vanessa,


Suasana di mobil itu terasa tidak nyaman, Mila yang duduk di samping Arya yang membawa mobil, hanya diam memandang kosong ke jalan di sisinya, sementara Arya hanya fokus dengan stir mobilnya,


Ketika mereka masuk ke ruangan Pak Sarman, mereka bertiga disambut senyuman hangat pak Sarman dan bu Saniah, Vanessa yang membawa rantang untuk makanan bu Saniah dan kakeknya langsung menaruh rantangnya di lemari kecil di samping ranjang pak Sarman.


Ia kemudian duduk di kursi yang ada di dekat ranjang pak Sarman,


“kakek gimana? udah ada kemajuan?” tanya Vanessa sembari mengelus lembut pipi pak Sarman,


“udah ada sedikit kemajuan sayang, apa lagi melihat Mila dan Arya kayak gini, tambah senang hati kakek, bisa cepat sehat kakek kalo kayak gini terus kan” ucap pak Sarman yang melirik Mila dan Arya yang berdiri berdampingan di depannya,


Sementara Mila merasa sendu mendengar ucapan pak Sarman, ‘jika saja kakek tahu seperti apa selama ini aku memperlakukan Arya , kakek pasti marah besar, atau bahkan mungkin ia tak ingin lagi melihat wajahku’ batin Mila,


“Kek, kami kesini mau membicarakan sesuatu dengan kakek” ucap Arya dengan ragu, namun ia harus tetap mengatakan apa yang harus ia katakan,


“katakanlah Arya, jangan pernah sungkan kepadaku” jawab pak Sarman dengan antusias,


‘ya Allah, aku tak ingin melukai hati orang tua ini, tapi mau gimana lagi, aku juga tidak bisa membiarkan diriku sebagai penghalang kebahagiaan orang lain, aku nggak mau karena kehadiranku menjadikan Mila melakukan perbuatan dosa dengan laki-laki itu, lebih baik aku mundur dan Mila bisa berbahagia dengan laki-laki itu’ batin Arya menegarkan dirinya,


Wajah Mila mulai memucat takut, tangannya gemetar, lidahnya terasa kelu, dadanya terasa sesak, perasaan takut itu kembali datang.


'aku tak ingin kehilangan Arya, aku tak ingin kehilangan Arya'


“jadi kek, saya dan Mila ingin” ucapan Arya terhenti karena tiba-tiba Mila mengenggam tangan kanannya dengan erat, yang membuat tubuhnya kaku tak percaya, itulah kali pertama kulitnya dan kulit Mila bersentuhan setelah terakhir kali terjadi ketika hari pernikahan mereka,

__ADS_1


“kami mau berterima kasih kek, mungkin kalau kakek tidak menjodohkan kami dulu, kami tidak akan merasakan kebahagian ini” ucap Mila tanpa ragu,


Mila mengeluarkan seluruh keberaniannya untuk memotong ucapan Arya, yang ada di pikirannya cuma satu, 'aku harus mempertahankan apa yang ingin ku miliki, maaf Arya, sekali lagi aku mempermainkan perasaanmu'


Sementara Arya, Vanessa dan bu Saniah kaget tak percaya mendengar ucapan Mila. Wajah Arya berubah bingung, ia menatap dalam wajah Mila dengan wajah heran,


'jujur, aku tidak mengerti cara pikir dia, ketika aku membuka jalan untuknya, ia malah menutup jalan itu lagi, cukup Mil, jangan mempermainkan aku lagi’


“kakek tahu sayang, kamu pasti akan bahagia bersama Arya, kakek tidak akan pernah salah pilih untukmu” jawab pak Sarman dengan wajah bahagianya,


Mila lalu menarik tangan Arya dan mendekat ke sebelah Vanessa yang masih duduk di sisi ranjang,


“kakek bisa lihat sendirikan, Mila bahagia bersama Arya,” ucap Mila dengan menampilkan senyum lebarnya pada pak Sarman,


“iya,, iya,,, kakek tahu kamu bahagia, sepertinya sebentar lagi kakek bisa menggendong cucu ibumu” senyum pak Sarman pada Arya dan Mila, namun ucapan itu malah membuat Arya dan Mila sama-sama berwajah pias,


*


Arya, Mila dan Vanessa menyempatkan diri terlebih dahulu untuk sholat maghrib di musholla rumah sakit sebelum pulang.


Arya tidak lagi berbicara apapun kepada Vanessa maupun Mila, hal tersebut membuat kedua wanita itu dilanda perasaan takut akan apa yang akan terjadi setelah itu.


Suasana di mobil terasa begitu tegang, tak ada yang bersuara, hanya sunyi dan sunyi,


Mila menatap kosong jalanan di sisinya,


'aku pasrah, aku akan terima semua perlakuan Arya padaku, dia mau marah, mau maki-maki aku, mau pukul aku, aku pasrah, dari dulu kenyataannya aku selalu mempermainkannya, dan sekarang aku benar-benar keterlaluan mempermainkan perasaannya’


Sementara Arya yang duduk menyetir tampak frustasi dengan keadaan, wajahnya kusut dan rambutnya tampak tak beraturan karena berulang kali ia remas-remas karena frustasi dengan keadaannya sekarang, ia ingin marah dengan keadaan, tapi dia juga tidak sampai hati jika harus melampiaskannya pada Mila, walaupun sejatinya Milalah yang membuatnya frustasi dengan keadaan.


Vanessa yang duduk di belakang hanya diam, ia tidak mau bicara apapun karena takut akan menyulut emosi Arya, Ia dapat melihat wajah Arya yang berubah seperti menahan emosi sejak dari keluar dari ruangan pak Sarman tadi, bahkan Arya tidak bersuara sedikitpun hingga saat itu. Ia memperhatikan jalanan yang dilewati mobil itu dan ia menyadari bahwa jalan yang mereka lalui bukanlah jalan menuju rumah mereka,


Rasa khawatir menyeruak ke dalam batin Vanessa, ia kemudian membuka suaranya karena takut Arya akan berbuat yang tidak-tidak, sekalipun ia mengenal Arya orang baik, tapi kenyataannya masih banyak hal tentang diri Arya yang tidak ia ketahui,

__ADS_1


“Arya, kita mau kemana?” tanya Vanessa dengan nada khawatir


__ADS_2