Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Terkejut bukan main


__ADS_3

Ke-lelahan dan letih seluruh anggota tubuh membuat wanita cantik yang rambutnya sedikit pirang dengan sedikit kasar menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Sesaat tangannya yang lentik dan putih memijit pelipisnya yang terasa pusing. Hembusan nafas yang dikeluarkan olehnya menandai kalau dia benar-benar sangat letih. Seakan seluruh anggota tubuhnya ingin rontok satu persatu. Hingga beberapa saat kemudian terdengar suara seorang wanita yang memanggilnya dengan setengah berteriak, sontak membuat pandangannya teralih.


"Nona Olivia." suara Leah sembari berjalan mendekati Olif yang kala itu masih memijit kepalanya. Tangannya yang beku memegang erat-erat beberapa berkas yang sudah ditutupi oleh map berwarna merah muda.


"Nona, anda harus segera pergi bersiap-siap sebentar lagi Anda harus foto shoot. Perias sudah menunggu anda diruang ganti." tutur Leah


Seketika mata Olif melengot membulat sempurna ia merasa seperti tidak percaya apa yang baru saja didengar. Foto shoot lagi, Oh now. Padalah baru beberapa saat ia keluar dari penatnya wartawan dan para pengambil gambar yang terus menerus memaksanya berdiri dan bertanya dengan pertanyaan yang tidak jelas. dia bahkan baru istirahat sejenak mengobati rasa lelahnya yang sudah dua jam lebih berdiri diam diri membiarkan semua orang memfotonya dan sekarang di suruh Foto shoot lagi.


Rasanya sekarang juga Olif ingin memutuskan untuk berhenti saja jadi model pengantin. Bekerja di kantor sepuluh kali lipat jauh lebih baik dari pada menjadi seorang model yang begitu melelahkan seperti ini. Walaupun di kantor harus mengurusi otak dan pikirannya tapi setidaknya tidak sampai lelah seperti ini.


Teryata menjadi model papa atas tidak semudah yang ia lihat di tv. Kalau bisa mengulang waktu, Olif memilih untuk berputar kebelakang beberapa hari yang lalu. Yang mana dia menawarkan dirinya untuk membantu Justin. Kalau sampai itu terjadi Olif akan menutup rapat-rapat mulutnya agar tidak berbicara sembarang asal menerima tawaran.


"Nona Olivia." ucap Leah yang sadari tadi menatap Olif hanya diam saja menatap dengan tatapan kosong. Leah sedikit menyenggol lengan Olif agar membuat wanita model itu terjaga dari lamunannya.


"Ahhh iya, Aku akan segera keruangan ganti." ucap Olif yang sontak bangkit dari ranjang dengan senyuman yang di paksa lalu tanpa menunggunya lagi ia segera melangkah pergi keruangan ganti.


*****


"Apa tidak ada gaun lain, aku tidak mau memainkan gaun ini, gaun ini terlihat sangatlah seksi." protes Olif merasa kurang suka dengan gaun yang sudah di siapkan untuknya. Gaun yang memperlihatkan seluruh punggungnya jika saja ia memakaikan gaun itu.


"Tapi Nona anda harus tetap mengunakan gaun ini. Ini sudah perintahkan dari pak--- selaku direktur utama perusahaan internasional Grammy.

__ADS_1


Perusahaan internasional adalah salah satu cabang terbesar perusahaan Modeling Grup. Perusahaan yang baru saja di resmikan sebagai perusahaan model sekaligus pemasaran produk terbaik di kota ini, sangat membutuhkan model ternama seperti Olif. Ketua direktur pak---- sudan membayar mahal untuk itu supaya Olif bisa menjadi model bintang utama di perusahaannya.


"Aku tidak mau." Olif masih tetap pada pendiriannya.


"Nona kalau anda memakaikan gaun lain saya bisa dimarahi. Tolong pakaikan saja gaun ini menurut saya ini tidak terlalu seksi." bujuk Leah.


"Apa kamu bilang tidak seksi? matamu. Ini apa ini, kenapa bolong-bolong seperti ini." tunjuk oleh ke bagian belakang gaun.


"Nona."


"Tidak, jangan terus-menerus memaksaku memakainya, kalau tidak aku akan pulang saja." desis Olif dengan nada mengancam sembari meletakkan gaun yang sadari ia pegang ketempat semula.


*****


"Hey mau kemana...??" salah satu laki-laki bertubuh atletis nam tinggi menghadang Varrel dan Viki tak kala mereka hendak melewati lingkaran merah yang sudah di tetapkan agar tidak siapapun masuk atau sekedar melewatinya.


Sontak Varrel mengangkat sedikit kepalanya karena memang laki-laki itu lebih tinggi daripadanya. "Aku ingin masuk." Varrel menekankan kata-katanya.


"Tidak bisa, tidak satu orang pun bisa masuk ke sini tanpa seizin dari bos kami." tegas laki-laki bertubuh tinggi tersebut.


"Nona Olivia.... Nona Olivia...." suara panggilan yang bergemuruh nam keras membuat semua pasangan mata langsung teralih, begitupun juga dengan Viki dan juga Varrel ke dua manik-manik mata laki-laki berwajah asia itu sekilas melirik kearah orang yang bergumuru, namu beberapa detik kemudian pandangan mereka sontak teralih kepada seorang yang sangat ia kenali sedang berlari sekuat tenaganya untuk keluar dari dalam gedung.

__ADS_1


"Olif." kedua mata laki-laki itu tidak berkedip sangking terkejutnya.


"Tangkap dia" teriak Leah dari arah belakang dengan beberapa pelayan lainnya mengejar Olif.


Sontak saja apa yang terjadi membuat para wartawan dan pengambil foto tidak akan melewatkan kejadian langka itu, mereka langsung menyiapkan ponsel mereka untuk merekam aksi kejar-kejaran itu.


"Minggir-minggir..." ucap Olif dengan nada keras sembari mengisyaratkan dengan kedua tangannya kepada semua orang yang berkerumun untuk menyingkir. Namun bukannya menyingkir mereka malah menghadang Olif mengehentikan langkah wanita itu, setelah itu dengan sigap mereka memegang tangan Olif agar tidak kabur.


"Hey, apa yang kalian lakukan cepat lepaskan aku. Aku tidak mau memakaikannya baju seksi itu. Cepat lepaskan." disis Olif berusaha sekuat tenaga melepas tangannya sudah di kunci namun usahanya sia-sia kekuatannya tidak sebanding dengan pria yang sudah mengunci tangannya.


Mata Varrel membulat sempurna seketika, di sepersekian detik memerah menahan amarah yang memucat, aliran darahnya seketika mendidih bagaikan lahar panas.


"Beraninya kau menyentuh wanita ku." Varrel beranjak bergegas menarik rambut pria yang telah berani menyentuh istrinya dan memukul rahang wajahnya dengan sangat kuat, hingga di sekali pukulan saja membuat pria itu tergusur ke lantai dan mengeluarkan darah di mulutnya.


"Aku tidak akan mengampunimu." Varrel dengan sangat membabi buta tidak memberikan ampunan terus menuju pria yang telah berani menyentuh istrinya.


Viki yang melihat seketika tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia tidak punya pilihan lain selain membantu sahabatnya itu apalagi kini Varrel sedang dihadang oleh banyaknya bodyguard yang memang sengaja di persiapkan untuk menjaga keamanan.


Duppp... Tanpa Varrel sadari wajahnya mendapatkan pukulan yang sangat keras dari salah satu bodyguard hingga membuat ia tergusur kebelakang terjatuh tepat berada tepat di kaki Olif.


Hidupnya yang langsung saja mengalir darah segar dan mata berbinar menatap kearah wanita yang selama ini sangat ia rindukan. "Olif..."

__ADS_1


"Mas Varrel." Olif seakan terkejut bukan main lidahnya saja begitu kaku menyebutkan nama suaminya sendiri.


Bersambung...


__ADS_2