
"Ternyata dunia ini sangatlah sempit ya Nona Olivia, Kita bisa bertemu lagi dalam waktu secepat ini." tutur Tuan Alex.
"Ahhh iya... Kalau boleh saya tau bagaimana anda bisa ada di sini tuan Alex?? Maaf bila saya belum menyapa anda." Ucap Olif dengan sedikit senyuman. Dia merasa sangat tidak enak dengan laki-laki yang berada didepannya sekarang, apalagi laki-laki itu adalah salah satu penanaman saham di perusahaan suaminya.
"Tidak perlu sungkan begitu Nona Olivia." balas Tuan Alex.
"Tunggu-tunggu. Kak Olivia sama Tuan Alex saling kenal...??" tanya Justin sadari tadi dirinya sudah tidak mengerti apa yang sudah terjadi. Tatapannya teralih melirik ke-dua orang yang berada di depannya secara bergiliran. Alisnya kian meninggi tak kala Justin merasa kalau mereka sudah saling kenal sejak lama.
"Iya, dia adalah karyawan di perusahaan temanku, Awalnya aku sempat ragu ketika melihat Nona Olivia. Tapi setelah aku perhatikan teryata sama. Dia adalah orang yang sama yang telah merancang investor dalam perusahaan kaka saya. Saya sangat salut dengan keahlian anda Nona." sahut tuan Alex.
"Ooooo...." Justin manggut-manggut pertanda sudah mengerti sekarang.
"Hem'em... Ngomong-ngomong apa yang sedang anda lakukan di sini. Bukankah perusahaan tempat anda bekerja ada di Indonesia...??" imbuh Tuan Alex.
"S-saya ---"
"Dimana Tuan Varrel?? Saya tidak melihatnya sadari tadi. Apa Tuan Varrel tidak menghadiri acara ini. Aaahhhh.... Sayang sekali. Padahal saya sebenarnya sangat ingin menawarkan beberapa model yang kami punya untuk perusahaan Global Grup. Tapi apa boleh buat beliau tidak datang." ucap Tuan Alek memotong perkataan Olif.
"Hem'em." Olif hanya bisa tersenyum tipis dirinya tidak tau harus menjawab apa pertanyaan laki-laki bertubuh atletis itu.
"Maaf Tuan Alex. Sepertinya saya harus harus segera pulang. Ini sudah sangat larut malam, saya khawatir kakak saya pasti sudah menunggu kepulangan saya di rumah." pamit Olif rasanya sangat canggung jika dirinya terlalu lama disini apalagi bersama rekan bisnis suaminya.
"Apa anda tidak ingin meminum kopi dulu. Saya akan menyuruh Leah untuk menyiapkannya." tawar Tuan Alex.
"Tidak perlu Tuan Alex, sungguh tidak perlu. Saya akan pulang saja. Lagian tidak enak jika dilihat orang nantinya." sahut Olif.
"Memang kenapa. Biarkan semua orang melihat, anda kan model saya."
"Model bapak. Maksudnya...??" kening Olif berkerut.
"Iya, kamu adalah model pengganti di perusahaan saya. Selama model aslinya masih belum sembuh total, anda akan tetap menjadi model pengganti di perusahaan saya."
"Apa...??" Olif dengan cepat melirik kearah laki-laki berdiri disampingnya. Menunggu jawaban dari laki-laki bule yang bermata biru itu.
"Hehehe. Iya, Tuan Alex adalah pemilik acara Grammy award. Sebelum model itu sembuh total kakak akan tetap menjadi model pengantin." Justin hanya bisa menampakkan gigi putihnya sebagai tanda meminta maaf karena tidak memberitahu Olif sebelumnya.
__ADS_1
"Astaga."
*****
Di Rumah.
Olif dan Justin disambut dengan penuh kelembutan oleh Yuni dan juga Nabila saat mereka baru saja menginjakkan kaki mereka di rumah minimalis modern itu.
Keduanya dibuat terkejut dengan kelakuan dua wanita cantik itu, Mereka sepertinya sangat bahagia saat mendengar berita di salah satu siaran TV kalau Olif memenangkan acara Grammy award malam ini.
Yuni dan Nabila meniupkan trompet kecil menyambut calon bintang model tersebut. Keduanya melayani Olif bak seorang ratu Mesir.
"Kak apa yang kamu lakukan...??" ucap Olif mulai merasa risih dengan apa yang dilakukan kakaknya, menurut Olif itu sedikit berlebihan. Apalagi sampai Yuni dan Nabila memijit kakinya.
"Hey. Jangan bicara apa-apa. Kaka dan Nabila sangat bangga kepadamu." tutur Yuni.
"Aunty the best." Anak kecil yang umurnya baru tiga tahun itu seolah-olah tau apa yang telah terjadi. Dia mengajukan ibu jarinya imutnya kepada Olif.
"Anak pintar." puji Yuni kepada anaknya sendiri.
"Endak." sahut Nabila yang diikuti dengan gelengan kepala.
"Anak blesteran enggak boleh memijat bule. Apalagi bule setegas matang sepertimu." ketus Yuni.
"Siapa bilang."
"Kakak."
"Hahaha..." gelak tawa pun pecah, semua orang tertawa riang melihat ekspresi Justin seperti anak kecil.
*****
Sementara Di Indonesia.
Dua hari telah berlalu pasca kejahatan yang dilakukan Seli terbongkar. Semua orang di kantor mulai saling membincangkan akan hal itu. Walaupun mereka belum tau pasti akan apa sebenarnya yang telah terjadi tapi mereka bisa menebak kalau telah terjadi sesuatu yang sangat hebat. Hingga beberapa karyawan terpaksa mengundurkan diri dan di pecat dengan sangat tidak hormat.
__ADS_1
Pak Edy selaku masih sebagai direktur utama Global Grup hanya bisa meluruskan apa yang telah salah dalam penanganan perusahaan. Sudah dua hari juga pak Edy berkerja kembali di perusahaan yang sudah diserahkan kepada anak semata wayangnya. Dirinya tidak punya pilihan lain karena anak semata wayangnya kini tengah mengalami depresi.
Olif dan Seli menjadi gosip trending di kantor.
Semua orang tidak habis pikir dengan kedua wanita tersebut. Yang satu hilang entah kemana tidak ada kabar sedangkan yang satu lagi dipecat dengan sangat tidak hormat.
Kedua wanita itu tidak henti-hentinya menjadi pembicara para karyawan ketika mereka memiliki waktu kosong.
Disisi lain Varrel dan Viki masih terus berusaha mencari dimana keberadaan Olif. Kedua laki-laki tampan itu berdecak kesal tak kala mereka masih belum menemukan jejak apapun tentang keberadaan Olif.
Bertanya kepada Cinta, hah. Mereka sudah mencobanya tapi bukan mendapatkan informasi melainkan mendapat amuka dan kemarah dari sahabat istri Varrel tersebut. Kedua laki-laki itu dimarahi habis-habisan oleh Cinta. Cinta sudah tidak peduli lagi tentang pekerjaan kalaupun sampai dia pecat, karena dia sudah memarahi Varrel dengan sangat kasar. Cinta sudah pasrah akan hal itu tapi dia tidak bisa melihat sahabat terbaiknya di permainkan seperti itu.
Sore itu, sore dimana Varrel dan Viki sudah kewalahan mencari Olif. Mereka berdua langsung masuk kedalam rumah Varrel dan mendaratkan tubuhnya di tas sofa ruangan tamu.
Bi Jumi yang melihat itu dengan siaga menyiapkan secangkir kopi. Meletakkan dua cangkir kopi yang sudah larut dengan gula putih di atas meja.
"Ini Tuan, Bi Jumi buatkan Kopi hangat." tutur Bi Jumi.
"Terimakasih." ucap Viki tersenyum kecil lalu mengambil cangkir itu, melekatkan gelas putih polos itu ke-dua belahan bibirnya. Menghirupnya secara perlahan-lahan.
Hingga beberapa saat kemudian terdengar suara bel berbunyi secara berangsur-angsur. Membuat Bi Jumi yang kala itu hendak kembali ke dapur terpaksa memutarkan tubuhnya kembali, bergegas membukakan pintu karena mendengar suara bel kian menajam tidak berhenti-henti.
"Iya, sebentar." teriak Bi Jumi berharap siapapun yang menekankan bel bisa berhenti.
Ceklekkkk...
"Kau..." kedua biji bola Bi Jumi membulat sempurna. Sorot matanya langsung berubah menajam menatap tidak suka terhadap seseorang yang berdiri didepan saat ini.
Bersambung...
Maaf telat 🙏🙏. Ada kabar baik. Ok, kemaren author kan udah bilang mau crezy update 🤭. Insya Allah besok dan beberapa hari kedepan author akan usahakan untuk update tiga atau empat bab dalam satu hari. Berdoa saja agar author sehat selalu dan tidak diliputi banyak pekerjaan 🤲🥰.
Mungkin kalau enggak ada halangan selama seminggu penuh author akan update tiga atau empat bab per-hari 😊.
Yanga terpenting jangan lupa like dan komen rate dan Beri hadiah 😁🤭.
__ADS_1
Anggap saja simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan 🤗