Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Pertemuan (1)


__ADS_3

“hahaha, kapan kamu bisa ke Jakarta?, saya ingin menagih janjimu pada saya dulu” ucap pak Sarman santai, suaranya yang biasanya sesak kembali telah normal.


Namun beda dengan Arya yang matanya terbelalak mendengar ucapan Pak Sarman, ‘janji,,, ada janji apa saya dengan orang tua ini’ batin Arya


“janji apa pak? apa saya punya janji dengan anda?" ucap Arya yang mulai gusar dan segera duduk dari posisi telungkupnya.


“aku harap kamu tidak lupa kalau kamu pernah berjanji denganku beberapa bulan lalu di rumah sakit” ucap pak Sarman yang berharap agar Arya tidak melupakan janjinya sama sekali.


“benarkah?” wajah Arya menunjukkan kegusaran,,“nanti malam saya akan turun dan mungkin pagi saya akan kembali ke Jakarta, kirim saja alamat bapak,” lanjut Arya,


“ok,, nanti saya kirim alamatnya rya, jadi jam berapa esok kamu akan mengunjungi saya?” tanya pak Sarman lugas.


Arya sejenak menghirup nafas panjang. “sore esok saya akan ke tempat bapak” jawab Arya dengan suara bimbang.,


“saya harap kamu akan menepati janjimu itu” ucap pak Sarman penuh harap karena bisa merasakan kebimbangan Arya dari suaranya..


“saya laki-laki pak, pantang sekali bagi saya untuk ingkar janji” ucap Arya mantap.


*


Telfon telah terputus dan Arya kembali berbaring dengan posisi terlentang, ia mengacak-ngacak rambutnya kesal, ‘apa lagi ini, apa aku pernah janji dengan orang tua itu, apa ia mau menjebakku? astaga, kenapa masalahku banyak sekali, baru saja aku melepas semua beban tadi di puncak, sekarang orang tua ini malah menambahnya lagi’ batin Arya kesal yang kembali mengacak-ngacak rambutnya.


*


Arya, Ari dan Tomy telah menempuh setengah perjalanan turun dari puncak gunung Slamet, mereka sejenak duduk di tengah perjalanan di bawah sebuah pohon besar. Sesekali mereka menyapa setiap pendaki yang mereka lihat melewati mereka.


Ketika Tomy dan Ari sedang mencoba menormalkan kembali nafas mereka yang terengah-engah, Arya malah menunjukkan wajah gusarnya saat itu.


Ia teringat dengan seorang anak perempuan dimana ia pernah berjanji untuk kembali padanya, namun kenyataannya ia tidak bisa menepati janji tersebut, dan sejak saat itu juga ia mulai takut untuk mengikat janji dengan siapa pun. Ia memejamkan mata dalam dan membuang jauh ingatan tentang perempuan tersebut.


Ari yang melihat tingkah Arya melirik ke arah Tomy dan menunjukkan wajah penuh tanya. Tomy yang juga memperhatikan Arya mengangkat kedua bahunya ke arah Ari yang menandakan ia tak tahu apa-apa.


Pikiran Arya kembali melayang pada kejadian dimana beberapa bulan lalu ia juga pernah berjanji pada seorang kakek tua di rumah sakit, kala itu ia menolong kakek tua tersebut dan ia malah terjebak untuk membuat janji dengan orang tua itu.

__ADS_1


Arya memang tidak ingat dengan orang tua itu, tapi ia masih ingat memberi orang tua itu nomor telfonnya dan berjanji akan memenuhi permintaan orang tua itu.


‘dia orangnya’ sontak batin Arya mengingat pak Sarman.


‘apa dia orangnya, apa dia sedang menjebakku sekarang, kenapa aku berjanji dengan dia waktu itu’ batin Arya yang menyesali dirinya sendiri.


“yok Rya, kita lanjut” ucap Tomy pada Arya yang membuat  Arya tersadar dari lamunannya.


“mikirin apo lo?” tanya Ari ketus pada Arya, Arya kemudian bangkit dan menatap tajam ke arah Ari.


“gue lagi mikirin berapa utang lo sama gue” ucap Arya ketus. Ari melirik curiga sekaligus sedikit kesal sama Arya,


“sejak kapan gue ngutang sama lo, nggak kebalik?, lo yang hobi ngutang sama gue” jawab Ari kesal.


“mana mungkin gue yang ngutang sama lo, mimpi lo”, ledek Arya yang mulai berjalan kembali untuk menuruni gunung Slamet.


Sementara Tomy mengikuti langkah Arya dan Ari dengan tersenyum menahan tawa melihat kelakuan dua orang laki-laki dewasa yang bertingkah seperti anak-anak sedang bertengkar di depannya.


*


Arya sampai di Jakarta ketika jam sudah menunjukkan pukul 16.00, ia memutuskan untuk istirahat sejenak hingga ashar berkumandang, ia ingin beristirahat sejenak sebelum menemui pak Sarman.


Arya kemudian membuka ponselnya dan melihat pesan yang dikirimkan oleh pak Sarman,


‘rumah sakit? apa orang tua ini hobi masuk rumah sakit, baru kemarin masuk rumah sakit sekarang masuk lagi’ batin Arya yang mengingat saat ia berjanji pada pak Sarman.


‘benarkan dia orangnya?’ batin Arya lagi.


Arya memaksakan tubuhnya yang terasa lelah untuk segera memenuhi janjinya menemui pak Sarman. ‘jangan sampai dia minta macam-macam, dia tidak ingin menghancurkan hidupku kan?’ batin Arya lagi.


Arya kembali menatap ponselnya, ‘Sarman nama orang tua-tua memang banyak sesimpel ini ya’ batin Arya melihat nama pak Sarman di layar ponselnya. Ia kemudian langsung menaiki motornya dan menuju ke alamat yang dikirimkan pak Sarman.


Setelah menempuh perjalanan hampir 45 menit karena kemacetan ibukota, Arya sampai juga di rumah sakit tempat pak Sarman di rawat. Ia kemudian masuk dan bertanya ke meja resepsionis dengan menunjukkan alamat yang diberikan pak Sarman.

__ADS_1


Setelah mendapat penjelasan di meja resepsionis tersebut, Arya segera menuju lift menuju lantai 2.


Arya menghirup nafas panjang, jantungnya tiba-tiba saja berdetak kencang, ‘ada apa ini, kenapa jantungku berdetak cepat gini?’ batinnya yang mulai merasa gelisah.


Arya telah sampai di lantai 2, ia kembali mencoba mengingat arahan suster di meja resepsionis sembari melihat-lihat alamat yang diberikan pak Sarman dengan menyamakannya dengan ruangan yang ada di lantai tersebut.


Hingga ia menemukan alamat yang dimaksud pak Sarman telah berada di hadapannya, Ia kemudian mencoba melihat ke dalam melalui jendela kamar yang tidak terlalu besar, jantungnya berdetak cepat, ia tidak dapat melihat jelas ke dalam kamar karena jendela itu tertutup gorden.


‘apa aku harus menemui orang itu sekarang, apa ia sedang menjebakku dengan janji yang


pernah kuucapkan, dia mau apa sebenarnya sampai memintaku kesini’ batin Arya yang benar-benar bimbang saat itu.


Arya menghirup nafas panjang, ‘masuk apa nggak nih’ batin Arya lagi.


*


Mila tersenyum senang di dalam kamar kakeknya, senyumannya memang tidak dapat dilihat siapapun karena tersembunyi dengan rapat di balik cadarnya. ‘sepertinya pria itu tidak akan datang, aku tahu dia memang tidak akan datang, mana ada orang yang mau dijodohkan dengan cara seperti ini’ batin Mila merasa puas dengan keadaan.


Sementara pak Sarman telah gusar di atas ranjangnya ‘mana mungkin anak itu mengingkari janjinya’


Vanessa yang duduk di samping Mila mengusap bahu adik iparnya sembari berbisik,


“apa ini sesuai rencana mu?” ucap Vanessa pelan.


Mila menggeleng, ‘rencanaku dan bang Arnes adalah laki-laki itu menolakku karena cadarku, tapi sekarang ia malah tidak akan datang sepertinya, ini bahkan lebih bagus dari rencanaku’ batin Mila puas,


Mila kemudian membuka ponselnya untuk segera men-chat seseorang,


‘sepertinya dia tidak datang bang’ Mila


‘benarkah, syukurlah kalau begitu’ Arnes


‘ini bahkan jauh lebih baik dari rencana kita, aku benar-benar bersyukur bang’ Mila

__ADS_1


‘iya Mil, semoga semuanya dilancarkan ya’ Arnes


Mila tersenyum lebar dibalik cadarnya, ia benar-benar merasa puas, namun ia tidak sadar bahwa sore belumlah berakhir.


__ADS_2