
Vanessa tengah asyik menghidangkan makan malam di meja makan ketika Mila keluar dari kamarnya. Mila lalu menuju meja makan dan memperhatikan kakak iparnya yang begitu semangat menghidangkan makanan.
“semangat sekali, lagi ada apa nih?”
“nggak ada apa-apa kok Mil, kakak lagi mencoba resep baru, jadi kakak penasaran aja gimana nanti lidah kalian mencobanya”
“ooh, pantesaan, koki kita lagi coba menu baru rupanya” ucap Mila dan kemudian mereka berdua tertawa kecil karena ucapan mereka sendiri.
“kamu tunggu sebentar ya, kakak panggil Arya dulu” Vanessa kemudian berjalan ke arah pintu kamar Arya,
Ia mengetuk pintu itu beberapa kali, namun tidak ada yang menjawab. Karena penasaran ia kemudian membuka pintu kamar Arya dan tidak mendapati Arya di kamarnya.
'apa dia pergi keluar?, tapi tadi dia tidak pamit, dia kan selalu pamit jika mau keluar’ batin Vanessa.
Vanessa lalu menutup pintu dan melangkah munuju ruang tamu, dari balik jendela ia melihat bayangan orang sedang duduk di kursi teras depan. Ia kemudian menghampiri orang tersebut yang tidak lain adalah Arya.
Disanalah Arya sedang duduk menunggu Tomy, ia berdiam diri dalam kesunyiannya, namun diamnya hanya pada badannya saja, otaknya bekerja keras memikirkan setiap masalah yang menghampirinya.
'aku harus gimana sekarang, orang-orang Ari pasti telah mengintai keluarga ini, huh, cepat atau lambat mereka pasti akan tahu aku disini, oh ya Allah, kenapa posisiku sulit sekali’
Arya merasa beban hidupnya semakin berat, jika saja Arbi dan Ari tahu ia telah menikah tanpa mengatakan apa pun pada mereka, tentu kondisi di perusahaan akan jauh berubah, ia merasa takut persahabatan yang telah lama mereka jaga akan hancur.
Disisi lain ia juga tidak bisa berbuat banyak, karena kesepakatan pernikahan dengan Mila benar-benar telah mengungkung kebebasannya untuk berbicara jujur.
“eeh Arya, kok malah melamun disini” suara Vanessa mengagetkan Arya.
“astaga kakak, ngagetin aja, ini aku lagi menunggu Tomy kak, bentar lagi dia sampai sini”
“Tomy? saudaramu waktu itu,?”
“iya kak,”
“ooh ya udah, masakan kakak sudah siap, sekalian nanti ajak Tomy makan juga ya” senyum Vanessa yang kemudian meninggalkan Arya di teras itu.
‘kak Vanessa yang sebaik ini kok bisa nikah sama orang sekotor bang Irman sih, kasihan dia, pasti dia sudah banyak menderita karena bang Irman, apa lagi bang Irman jarang tidur di rumah’ batin Arya merasa iba pada Vanessa.
Sementara Vanessa telah kembali ke ruang makan, ia mendapati Mila yang sedang asyik bermain dengan ponselnya.
“kok belum makan Mil, malah asyik main ponsel”
__ADS_1
“aku nunggu kakak, ayo makan kak” jawab Mila sembari meletakkan ponselnya di meja dan mengambil piring kemudian mengisinya dengan nasi.
“kamu duluan aja Mil, kakak nunggu Arya dulu”
“ngapain ditunggu kak, dia kan bisa makan sendiri”
“nggak apa pa, kakak mau nungguin dia dulu, saudaranya yang dulu kesini akan datang lagi, jadi kakak ajak sekalian makan dengan kita”
Mendengar ucapan Vanessa membuat Mila merasa tidak nyaman, ia merasa takut akan berada pada posisi sulit jika bertemu dengan orang-orang yang mengenal suaminya. Sejenak pikirannya kembali melayang pada apa yang ia dengar antara percakapan Arua dan Tomy dimalam sebelumnya, dan perasaan bersalah itu kembali merasuki batinnya.
“ngapain sih kak ngajak makan saudaranya itu?"
Vanessa hanya diam tak menjawab, ia hanya melempar senyum ke arah Mila.
Selang tak berapa lama, datanglah Tomy dan Arya ke meja makan, Vanessa pun menyambut hangat kehadiran mereka, sementara Mila seperti biasa, ia bersikap datar seolah tidak ada apa-apa.
Kegiatan makan malam itu dimulai, mereka menikmati makanan mereka dengan ceria, karena memang masakan Vanessa sangatlah enak.
“gimana rasanya Rya, Tom?” tanya Vanessa yang penasaran dengan penilaian mereka tentang resep barunya.
“enak kak, kakak memang hebat masak” puji Arya,
Mendengar ucapan Arya, Mila merasakan sesuatu menyelinap dihatinya, rasa sakit dan iri, ya begitulah yang ia rasakan setiap kali Arya memuji Vanessa.
‘aki tidak peduli’ batin Mila.
“ini masakan kakak, waduh enak kali kak, bisa nih kita join buat restoran” timpal Tomy yang benar-benar mengagumi masakan Vanessa.
“masakan kak Vanessa memang enak Tom, koki restoran mah, kalah sama kak Vanessa,” puji Arya lagi untuk Vanessa.
deg, perasaan Mila kembali memanas, ia tak masalah ketika Tomy memuji masakan Vanessa, namun hatinya begitu gerah jika yang memuji adalah Arya.
“bisa saja kalian ini, mujinya jangan berlebihan gitu, memang kamu ada niat bisnis restoran Tom?”
“ya gitu kak, calon istriku juga hobi masak, jadi aku ada planning bisnis restoran gitu”
“boleh juga Tom, tapi nanti kakak pikir-pikir dulu buat join,”
“emang lu bisa bisnis?” tanya Arya pada Tomy dengan nada mengejek.
__ADS_1
“bisalah”,
Di tengah asyiknya pembicaraan mereka bertiga, Mila tetap memasang wajah datar seolah tak peduli dengan apa yang terjadi.
“eeh, Mil, malam besok sibuk nggak?” tanya Tomy pada Mila, ia memasang wajah lembut dengan nada suara yang juga lembut.
Tomy sudah mempelajari seperti apa karakter Mila, bersikap dingin dan selalu memasang wajah datar, dan ia dapat merasakan bahwa hubungan Mila dan Arya tidaklah bagus.
“nggak sih, ada apa memangnya?” jawab Mila dengan wajahnya yang tetap datar.
Arya yang mendengar pertanyaan Tomy lalu memegang bahu saudaranya itu yang duduk di sampingnya.
“panggil dia kak, bersikaplah sopan pada kakak iparmu” ketus Arya.
“kakak ipar gimana? dia adik iparku”
“kakak iparmu, aku lebih tua darimu” suara Arya mulai terdengar kesal.
“aku yang lebih tua darimu, kamu sebagai adik harusnya bersikap sopan” kesal Tomy
“apaan kamu, jelas aku yang lebih tua dari kamu kok,”
Pertengkaran kecil Arya dan Tomy membuat Mila dan Vanessa mengernyitkan dahi mereka.
‘mereka ini kenapa?, apa mereka ini kembar? jadi tidak tahu mana yang lahir duluan, tapi mana mungkin kembar, mirip pun tidak,’
“e,eh, kalian ini kenapa sih?, katanya saudara, masa yang tua dan yang muda tidak tahu” lerai Vanessa.
Arya dan Tomy pun terdiam mendengar ucapan Vanessa, mereka tidak saling melihat sama sekali persis seperti anak-anak yang sedang merajuk.
‘astaga, apa mereka kalau udah berdua akan ke kanak-kanakan kayak gini?' batin Vanessa heran, ia bahkan tidak mengira ada sisi seperti itu dalam kepribadian Arya.
Selama ini ia mengenal Arya bersikap dewasa dan tenang dalam semua situasi. Namun begitu ia tersenyum tipis melihat kelucuan dua saudara itu.
Sementara Mila melihat semua itu dengan pikiran yang sama, merasa aneh dengan sikap kekanak-kanakan mereka,
‘bukankah dulu mereka juga mempermasalahkan siapa yang tua diantara mereka?’
“Gini, ooo,, besok aku mau pergi lamaran, orang tuaku tidak bisa datang karena ada banyak hal di kampung yang tidak bisa ditinggalkan, jadi mereka berpesan agar Arya dan istrinya untuk menemaniku” ucap Tomy yang mulai mengatakan apa tujuannya datang malam itu.
__ADS_1
Mila sejenak berpikir panjang, ia bingung harus menjawab apa, Ia benar-benar tak ingin ikut pada acara tersebut, tapi disisi lain ia juga tidak bisa menolak Tomy. Mila terlihat berpikir panjang, yang membuat Arya dan Tomy sama-sama deg-degan mendengar jawaban Mila.
“ikutlah Mil, aku tak ingin mengecewakan orang tua ku lagi” ucap Arya yang semakin menekan Mila untuk ikut pada kegiatan itu.