
“jika sudah saatnya nanti, aku juga pasti akan cerita, tapi aku tak tahu itu kapan, aku hanya ingin menyimpan ini sendiri, untuk selamanya seperti ini, biarlah diriku yang dulu terkubur bersama mereka, dan mereka juga pasti bahagia melihat diriku yang sekarang” ucap Arya yang matanya berkaca-kaca melihat dua makam yang ada di depannya.
“terkadang masa depan memaksa kita harus melibatkan masa lalu, bisa jadi paman dan bibi juga menginginkanmu membuka semuanya pada dunia Rya, aku hanya ingin tak ada lagi fitnah keji kepada paman, memperingati hari kematian mereka seperti ini pun tidak cukup Rya untuk membalas fitnah keji itu”.
"ntahlah Tom, yang jelas aku hanya akan berjalan mengikuti alur waktu".
Arya dan Tomy telah pergi meninggalkan area pemakaman tersebut, namun tanpa mereka sadari, keberadaan mereka telah dilihat oleh seorang wanita paruh baya yang juga hendak pergi ke makam tersebut, memperingati hari yang sama dengan Tomy dan Arya.
Wanita itu kemudian mendekat ke makam itu setelah Arya dan Tomy telah meninggalkan area pemakaman itu dengan motornya.
Wanita itu kemudian melihat nama di makam itu. Ia menghirup nafas panjang, ‘bang Gibran, aku kesini menggantikan ayah yang tidak bisa memperingati hari kematianmu dengan datang kesini, ayah sedang sakit bang, ia terbaring di rumah sakit, tapi kamu harus tahu bang, dari dulu ayah selalu merindukan kehadiranmu, dan ayah juga sering menyesali kegagalannya yang tidak bisa mengungkap peristiwa dibalik kematianmu, hingga berita buruk itu menyalahkanmu atas sesuatu yang kami yakin itu bukan salahmu”,
Wanita paruh baya itu kemudian menghirup nafas panjang, matanya berkaca-kaca dan dadanya serasa sesak.
“maaf bang, sampai sekarang aku masih menyesali keputusanku yang menolak dijodohkan denganmu dulu, aku terlalu egois, aku tidak bisa melihat betapa baiknya dirimu dulu, aku malah memilih laki-laki lain yang pada akhirnya hanya menghancurkan hidupku, kamu ingat aku pernah ingin menjodohkan putriku dengan putramu, tapi kamu menolaknya karena tidak ingin memaksa anakmu dengan pilihanmu, dan sekarang putriku sudah menikah bang, sedangkan putramu masih tidak diketahui nasib seperti apa bang, jasadnya tidak pernah ditemukan, mungkin Allah memang tidak menginginkan keluarga kita untuk bersatu, maafkan aku bang, aku benar-benar bodoh menolak orang sebaik dirimu”
*
Bu Saniah baru saja membuka pintu kamar pak Sarman, sudah hampir 5 bulan pak Sarman terbaring lemah di rumah sakit, ia sebenarnya kesal dengan keadaan yang memaksanya hanya berdiam diri di ranjang itu, namun sayangnya ia tak berdaya melawan sakit yang dideritanya.
“apa kamu sudah kembali dari makam Gibran Saniah?” tanya pak Sarman yang melihat kedatangan bu Saniah.
“iya yah, ini aku baru dari makam bang Gibran dan mbak Naina” setelah bu Saniah menjawab pertanyaan pak Sarman suasana pun menjadi hening, hingga bu Saniah kembali bersuara menceritakan apa yang ia lihat ketika di makam tadi.
“aku ingat ayah pernah cerita, beberapa tahun belakangan ini ada orang lain yang datang memperingati kematian bang Gibran, ayah selalu bilang ada dua bunga di makam bang Gibran dan dua bunga di makam mbak Naina, tadi pun juga seperti itu yah” ucap bu Saniah yang ingin menjelaskan apa yang ia lihat.
__ADS_1
“aku benar-benar penasaran dengan orang itu, dulu orang-orang datang memperingati kematian Gibran hanya 3 tahun, setelah itu hampir 15 tahun hanya aku seorang diri yang datang memperingati kematian Gibran, dan tiba-tiba saja 4 tahun lalu selalu ada 2 bunga di makam Gibran dan 2 bunga di makam Naina, huh, aku benar-benar penasaran siapa orang itu” ucap pak Sarman sembari mengusap wajahnya dengan tangan kanannya.
Bu Saniah hanya mendengarkan apa yang dikatakan pak Sarman, ia tidak berani menceritakan tentang Arya di tempat pemakaman tadi, ia takut pak Sarman akan melakukan sesuatu yang akan semakin membuat kesehatannya memburuk.
‘mungkin ayah lebih baik tidak tahu dulu soal Arya tadi’
“Saniah, pergilah ke rumah, aku benar-benar khawatir dengan pernikahan Mila, aku tak percaya dengan kata-kata Mila yang setiap aku bertanya selalu mengatakan semuanya baik-baik saja”
“Ayah memintaku untuk mengawasi hubungan mereka?”
“aku minta kamu untuk memastikan hubungan mereka baik-baik saja, aku berharap masih bisa menimbang seorang bayi sebelum aku mati”
Sementara itu, di tempat lain, Arya, Tomy, Mila dan Vanessa telah berada di dalam mobil yang bergerak menuju rumah calon istri Tomy, mereka berangkat setelah Maghrib dan Isya di jalan.
Arya tengah menyetir mobil yang ia pinjam dari Ari, ia sama sekali tidak memiliki mobil, jadi setiap ia membutuhkan mobil, ia akan meminjam mobil Ari, karena memang Ari mengoleksi beberapa jenis mobil di rumahnya.
“ini mobil siapa Arya? kenapa kita tak bawa mobil kakak saja?” tanya Vanessa,
“mobil teman kak, ini kan untuk acaranya Ari, aku tidak mau menyusahkan kakak juga”
“pinjam mobil kok dibilang menyusahkan sih Arya?” Arya hanya diam tak menjawab.
Sebenarnya ada satu hal yang masih membuat Mila dan Vanessa begitu penasaran dengan Tomy dan Arya, itu tentang 4 bunga tadi pagi yang dibawa Tomy, dan kemudian mereka berdua pergi entah kemana.
Mila sebenarnya benar-benar penasaran untuk apa bunga yang dibawa oleh Arya dan Tomy tadi, namun karena sikap dingin yang telah ia pasang sejak awal hubungannya dengan Arya membuatnya seperti memiliki batas yang tidak bisa ia lewati untuk sekedar mengenal Arya lebih jauh.
__ADS_1
sementara itu Vanessa meremas kedua tangannya, ada perasaan ragu untuknya bertanya akan hal itu, namun akhirnya ia keluarkan keberanian untuk bertanya sembari berharap Arya dan Tomy akan bercerita dengan lepas kepadanya.
“oh ya, tadi pagi kalian bawa bunga-bunga itu untuk siapa” Tanya Vanessa yang tidak dijawab oleh Arya ataupun Tomy,
'sepertinya mereka tidak mau menceritakannya’ batin Mila yang melirik tajam kepada 2 orang bersaudara di depannya.
“ohh itu, bunga untuk paman dan bibi kak” jawab Tomy yang tidak ingin membuat suasana di mobil menjadi tidak nyaman karena wajah Arya yang sebelumnya ceria berubah menjadi masam,
Sebenarnya ia berharap Arya yang akan menjawab, namun ternyata Arya hanya diam dan tidak memperdulikan pertanyaan itu sedikit pun.
“aku turut berduka, seharusnya kalian bisa ajak aku juga tadi, aku akan senang hati untuk ikut” jawab Vanessa yang sudah paham dengan jawaban Tomy,
“Nggak apa-apa kok kak, lagi pula Arya sepertinya tidak senang jika ada orang lain yang ikut”
“kenapa?, aku rasa ikut menemani kalian adalah bentuk simpatiku sebagai kakak kalian”
Tomy melirik Arya yang wajahnya mulai berubah lagi, ia juga dapat melihat ada rasa takut di dalam wajah Arya yang terpendam di dalam hatinya,
“aku rasa setiap kita punya cerita di masa lalu yang tidak akan dibuka lagi di masa depan kak, jadi ini hanya cerita kami di masa lalu, dan tidak akan kami buka lagi untuk ke depannya, apa yang kami lakukan hanyalah wujud kasih sayang kami pada mereka yang tak akan pupus sampai kapanpun” jelas Tomy, ia berharap Vanessa dapat paham maksudnya dan tidak bertanya lagi soal bunga itu.
‘sepertinya aku sendiri yang harus bertanya pada Arya’ batin Vanessa.
Sementara Mila mendengar percakapan itu semakin dibuat penasaran,
'apa yang mereka sembunyikan di masa lalu? kenapa mereka tidak mau cerita? aah, kalau aku tidak bersikap seperti ini dari awal, mungkin aku akan mengenalnya lebih baik’
__ADS_1
Tomy pun segera memutar otaknya mencari topik pembicaraan yang lain. Hingga akhirnya ia berbicara lagi,
“Mil, jika kamu punya waktu luang, pergilah dengan Arya untuk menemui orang tuaku, jangan sampai mereka yang datang kesini hanya untuk melihatmu,”