
‘Tidak, aku sudah membuat kesepakatan dengan istriku, biarlah mereka tahu sendiri nantinya’
“bibi, aku kangen, aku pengen meluk bibi lagi” Arya mencoba mengalihkan pembicaraan mereka dari pernikahan yang menyelimuti pikirannya.
“oohh, kangen toh, pulang lah Arya, ajak Tomy sekalian, biar melepas rindu sama ibu dan bapak di rumah ini” ujar suara itu yang membuat hati Arya selalu merasa hangat.
“hehehe, iya bi, nanti aku coba hubungi Tomy, mana tahu ia mau pulangkan”
Arya telah selesai menelfon orang tuanya, matanya mengantuk 'seharusnya ini malam pertamaku, tapi,, ya sudahlah, nasibku memang nggak baik kayaknya'.
Arya mulai melelapkan dirinya ke alam mimpi. Jadilah malam pertama sepasang suami istri yang baru menikah itu dihabiskan dengan cara yang berbeda dari pasangan lainnya.
Sementara itu, ketika makan malam di rumah Mila, hanya menghadirkan Mila dan Vanessa di meja makan, Irman masih belum kembali, sementara Arya telah berada di alam mimpi di atas kasur kontrakannya.
“bang Irman udah 3 hari ini tidak ikut makan malam kak, dia juga tidak tidur di rumahkan?”
“ntah lah Mil, mungkin ia masih harus menenangkan diri dulu, ia mungkin merasa gagal memperjuangkanmu dari perjodohan ini”
Mila menyuap sesuap nasi ke mulutnya, ia melihat dalam wajah Vanessa yang tampak lesu.
“kakak harus lebih berani lagi pada bang Irman kak, dia sudah keterlaluan meninggalkan istrinya di rumah tanpa memberi kabar”
“Mil, kamu tahukan kondisi kakak, kakak nggak bisa banyak menuntut, mungkin ini sudah takdir kakak Mil, seharusnya dulu kakak menuruti keinginan kakekmu, mungkin kehidupan kakak akan jauh lebih baik dari ini” Suara Vanessa benar-benar pasrah, ia bahkan tidak nafsu lagi meneruskan makannya.
“kenapa kakak berpikir penyebab semua ini karena kalian menentang kakek dulu?”
“kakak dan ibumu adalah contoh menentang keinginan kakekmu Mila, jika kakak dulu mengalah dan membiarkan abangmu menikahi wanita pilihan kakek, mungkin sekarang abangmu akan duduk disini, makan bersamamu, dan juga bersama anak-anaknya” setetes air mata lepas dari pelupuk mata Vanessa, hatinya terasa getir mengucapkan kalimat tersebut.
“kaakk” nada Mila prihatin pada Vanessa.
“Mil, karena itulah kakak minta kamu tidak menuruti rencana Arnes, bukalah hatimu untuk Arya Mil, kakak takut kamu akan menyesal nantinya seperti kakak dan ibumu” Mata Vanessa yang berkaca-kaca kembali meloloskan setitik air mata.
__ADS_1
Mila kemudian terdiam, ia masih belum mau membuka hatinya untuk Arya, baginya Arya hanyalah jalan kegelapan yang menghancurkan masa depannya, dan Arnes adalah jalan terang menuju kebahagiaannya.
*
Arya sedang asik mencari informasi di laptopnya. ia harus segera mencari konsep yang tepat untuk sayembara yang akan diikuti perusahaannya. Sesekali Arya membolak-balik dokumen rule sayembara yang diberikan Arbi, jelas tertulis di depan dokumen tersebut Bian Corporation.
Arya mencari beberapa contoh pembangunan kawasan industri terpadu yang banyak digunakan di berbagai Negara. Ia harus mempelajari semuanya untuk merumuskan sendiri konsep kawasan industry yang akan ia buat.
Di tengah asyiknya Arya dengan kegiatannya, seorang pria membuka pintu ruanganya tanpa meminta izin dan langsung masuk keruangannya.
Ari lalu duduk di sofa tersebut dengan menghisap rokoknya, ia kemudian mendengus kesal pada Arya yang masih asyik mengetik di laptop tanpa memperhatikan kehadirannya.
“enak lo ya, main cancel aja, nggak tahu lo gue capek-capek packing dari malam buat berangkat, lo main cancel aja” ketusnya mendengus nafas kesal.
“matiin rokok lo” ketus Arya.
Ari kemudian melirik Arya dengan perasaan bertambah kesal, ia kemudian mematikan puntung rokoknya dan menyimpan sisa rokoknya ke dalam saku jas kerjanya.
“kemana lo kemarin? gue ke kontrakan lo, tapi lo malah nggak ada, di telfon berkali-kali malah nggak diangkat, chat juga nggak di balas, sesibuk apa lo hingga tak bisa menghubungi gue?”
“gue akan seharian ini di kantor, besok sampai jumat gue bakalan ke luar kota buat tinjau projek kita di beberapa daerah, jadi lo bisa puas-puasin waktu lo buat gue sekarang”
Arya melirik Ari dengan wajah geram ‘dasar menyebalkan’ ia lalu berpikir untuk mencari topik lain, untuk dibicarakan. Pembicaraan hari kemarin hanya akan membuatnya merasakan kegetiran di hatinya.
“Siapa menurutmu pesaing terberat kita di sayembara nanti?” tanya Arya dengan wajah datar.
“apa lo sedang mengalihkan pembicaraan kita dari kejadian kemarin?” Ari melirik tajam ke arah Arya.
‘menyebalkan sekali anak ini’ batin Arya.
“jawab aja, apa susahnya sih” nada kesal Arya pun akhirnya muncul.
__ADS_1
“Cipta Rakarsa, mereka salah satu pesaing berat kita, dan yang pasti mereka adalah musuh utama kita”
“musuh utama?, apa lo punya dendam dengan mereka?”
“dendam?”
“iya, karena gue merasa tidak punya musuh dalam bisnis kita ini” selidik Arya atas jawab Ari yang menurutnya penuh dendam pribadi.
“lo ingat projek hotel investor kita dari Austraslia di Bali beberapa bulan lalu, kita rugi besar karena permainan kotor mereka, mereka yang membakar gudang kita di lapangan, projek akhirnya mangkrak beberapa bulan dan kita harus menanggung kerugian besar” ucap Ari penuh emosional.
“jadi lo berpikir mereka akan bermain kotor lagi jika kita menang di sayembara ini?”
“bisa jadi kan?, saham mereka lagi turun beberapa waktu ini, jadi mereka akan mati-matian menang di projek ini agar sahamnya naik lagi, kabarnya salah satu anak perusahaan Adinata group juga akan menyuntikkan dana bagi mereka, lo harus tahu Arya, dibalik projek ini, ada perang yang tak kasat mata yang harus kita hadapi, karena itu Arbi ingin kita menang di projek ini, selain perusahaan kita bisa naik, Cipta Rakarsa juga akan hancur walau sebanyak apapun group Adinata mengasih mereka dana.”
Arya mendengar nama group Adinata menunjukkan raut muka sedih, seperti luka lama seolah bangkit kembali untuk minta segera diobati.
“rancangan hotel lo kemarin di puji habis-habisan sama investor itu, lo benar-benar arsitektur handal Rya” ucap Ari yang mengalihkan topik pembicaraan. Arya hanya diam tak mau menanggapi.
“tapi mereka belum mau bayar full, minta projek selesai dulu” lanjut Ari.
“kita harus memenangkan sayembara itu” ucap Arya yang membuat Ari tersenyum senang mendengarnya.
Keinginan Arya bukan semata muncul karena ingin menghancurkan Cipta rakarsa yang bermain kotor dalam bisnis mereka, tetapi juga karena nama Adinata group yang membuat luka lamanya kembali terkoyak.
*
Motor bebek Arya memasuki pekarangan Rumah Mila. Hari baru menunjukkan pukul 2 siang, tapi Arya lebih memilih pulang lebih cepat dari kantor karena tidak mau meladeni Ari lebih lama. Ketika ia memasuki pekarangan rumah itu, ia mendapati mobil Vanessa yang masih terpakir dengan setia di tempatnya.
‘kalau bukan karena rasa tanggung jawabku yang menjadi suaminya, aku takkan mau melangkahkan kakiku ke rumah ini lagi' batin Arya.
Arya memasuki rumah itu dari pintu teras samping. Ia mendapati Vanessa yang sedang membersihkan dapur dan Mila yang sedang makan di meja makan.
__ADS_1
Arya mengucapkan salam dan masuk yang membuat Vanessa dan Mila melihat serentak ke arahnya. Mata Arya dan Mila kemudian saling bertatap panjang ketika pandangan mereka bertemu.
Mila lalu mengalihkan pandangannya dengan raut wajah datar seolah tidak mempedulikan Arya, padahal jantungnya berdetak kencang ketika Arya muncul di depan pintu teras samping itu.