
“Ini cincin pernikahan kalian” ucap pak Sarman yang memberikan kotak tersebut pada arya.
‘cincin pernikahan?, kenapa aku tidak kepikiran membelinya di toko perhiasan tadi’ gerutu Arya dalam hatinya karena melupakan salah satu hal penting dalam pernikahan.
“ini cincin pernikahanku dengan istriku dulu Arya, jagalah cincin ini dengan pernikahan kalian, agar nanti kalian bisa memberikannya pada cicit-cicitku nanti” ucap pak Sarman dengan nada sendu,
‘segitu percayanya kakek pada laki-laki ini, bahkan ia memberikan gelang untuk nenek dan cincin pernikahannya dengan nenek pada laki-laki ini.’ batin Mila yang masih menunduk di hadapan Arya.
Arya mengambil kotak tersebut, ia membukanya dan mengambil salah satu cincin, ia lalu dengan gugup meraih tangan Mila, tangan Arya terlihat sedikit gemetar ketika meraih tangan Mila yang terjulur ke bawah. Mila dengan jelas menatap tangan gemetar Arya yang meraih tangannya, Arya lalu memasangkan cincin itu ke jari manis Mila. Satu tetes air mata lagi lolos dari pelupuk mata Mila.
Mila masih diam berdiri yang membuat pak Sarman melepas nafas kasar. “Mil, pasangkan cincin suami mu” ucap pak Sarman dengan nada lembutnya agar Mila tidak tertekan.
Mila lalu mengambil cincin satu lagi, ia kemudian dengan tangan gemetarnya meraih tangan kiri Arya, saat tangan Arya ia genggam, ia merasakan betul seperti apa gemetar tangan Arya yang hampir sama dengan gemetar tangannya.
Mila kemudian memasangkan cincin itu ke jari manis Arya dengan masih menunduk, setelah cincin itu terpasang, Mila kemudian meraih tangan kanan Arya dengan kedua tangannya, Mila kemudian mencium tangan Arya yang telah menjadi suaminya, melihat Mila mencium tangannya, Arya kemudian langsung mencium ubun-ubun Mila dengan lembut, “semoga Allah meridhoi dan memberkahi pernikahan kita” lirih Arya yang kemudian terdengar jelas oleh Mila, Arya kemudian melantunkan doa dalam ciumannya di ubun-ubun Mila.
Pak Sarman, Vanessa, dan bu Saniah menatap haru apa yang mereka lihat di hadapan mata mereka, berbeda dengan Irman dan pak Tito yang melihat itu semua dengan pandangan penuh kebencian.
Sementara Mila memejamkan matanya mendengar lirih dan doa Arya hingga satu tetes air mata lagi lolos dari pelupuk matanya yang membasahi punggung tangan Arya. Saat air mata itu mengenai tangan Arya, Arya merasakan seperti ada sesuatu yang menusuk jauh ke dalam hatinya.
‘aku baru saja menjadi suaminya, dan sekarang ia telah meneteskan air mata karenaku, bukan senyum bahagia dihari pernikahanku, tetapi air mata kesedihan’ rintih hati Arya yang seakan menangis.
__ADS_1
Pak Sarman kemudian memberikan kotak perhiasan yang tadi dibeli oleh Arya sebagai mahar yang gagal. “Mil, ini hadiah pernikahan dari suami mu, kamu pasti bertambah cantik jika memakai ini nak” ucap pak Sarman.
Mila hanya diam tak mengambilnya, ia masih mencoba berusaha mengontrol perasaannya yang tidak karuan, sedih dan takut karena pernikahan yang telah terjadi, serta perasaan gugup ketika berada pada posisi yang sangat dekat dengan Arya.
Arya yang melihat Mila diam kemudian meraih kotak itu, Ia lalu mengambil gelang dan memasangkannya di tangan Mila, kemudian mengambil cincin dan memasangkannya di jari tengah tangan kiri Mila di samping cincin pernikahannya, kemudian mengambil kalung dan mengalungkannya di leher Mila, Mila lalu mengangkat kepalanya dan sejenak melihat Arya, tatapan mereka bertemu, Arya benar-benar terpesona dengan Mila, wajahnya begitu cantik berbalut cadar putih, ditambah kalung yang ia pasangkan tadi, semakin menambah aura kecantikan Mila. Namun sayangnya kecantikan itu ternoda oleh air mata kesedihan Mila.
Pak Sarman menghirup nafas lega dengan apa yang ia lihat.
Sementara Mila ketika melihat bola mata coklat Arya dalam jarak yang cukup dekat, jantungnya berdetak jauh lebih kencang dari sebelumnya, seakan jantung itu ingin meloncat dari posisinya untuk keluar dari tubuh Mila. Mata coklat Arya seakan memberikan ketenangan yang berbeda di hatinya.
Memberikan Mila rasa aman di tengah kegetiran yang menyelimuti hatinya. Mila segera melepaskan pandangannya dari Mata Arya dan melangkah ke arah kakeknya dan mencium tangan kakeknya itu.
“Vanessa, antar Arya dan Mila pulang, biarkan mereka istirahat dulu” perintah pak Sarman kepada Vanessa.
Mobil Vanessa telah terparkir di halaman rumahnya, diikuti oleh Arya yang membawa motor bebeknya. Arya turun dan membuka helmnya, ketika ia sudah turun dari motornya, ia melihat Mila yang langsung berjalan ke dalam rumah dengan cepat. Arya melepas nafas kasar melihat itu. ‘ntah apa yang akan terjadi nanti’ gerutunya kesal.
Vanessa yang baru keluar dari mobilnya melirik Mila yang langsung masuk rumah dengan pandangan datar, ia kemudian melirik ke arah Arya, “ayo masuk” ucap Vanessa yang dijawab Arya dengan anggukan. Arya masuk ke dalam rumah dengan membaca salam dari pintu teras samping rumahnya Mila.
Arya melihat Vanessa yang tengah duduk di ruang makan dengan segelas air di tangan kanannya. Vanessa melihat ke arah Arya yang tampak canggung untuk masuk ke dalam rumah itu. ‘ini rumah besar sekali, buat apa bangun rumah sebesar ini, buang-buang uang saja’ batinnya sembari memperhatikan beberapa sudut rumah yang bisa ia lihat.
“nama kamu Arya ya?” tanya Vanessa yang di jawab Arya dengan anggukan. “panggilan kamu”
__ADS_1
“panggil Arya aja kak” jawab Arya, “ok, panggil aku Vanessa, aku kakak iparnya Mila” Vanessa lalu berdiri dan berjalan ke ke arah pintu kamar Mila,
“ini kamar Mila dan kamarmu di rumah ini”ucap Vanessa yang telah berdiri di depan pintu kamar Mila.
Kamar Mila memang berada di dekat ruang makan yang bersebelahan dengan tangga menuju lantai 2. Vanessa kemudian mengetuk pintu kamar Mila, dan terdengar jawaban untuk masuk dari dalam. “ayo masuk” ajak Vanessa pada Arya. Arya kemudian mengikuti dengan perasaan khawatir.
Vanessa dan Arya telah masuk ke kamar Arya, mereka mendapati Mila yang tengah duduk di ranjangnya dengan bersandar. Vanessa mendekat ke arah Mila dan kemudian berbisik “kakak harap kamu bisa memutuskan yang terbaik untuk ini semua Mil, tolong pertimbangkan lagi saran kakak tadi pagi”
Mila tak merespon bisikan kakak iparnya, dan Vanessa hanya menghirup nafas panjang atas sikap Mila tersebut.
“duduklah Arya, kakak tinggal keluar ya” ucap Vanessa sembari melangkah keluar pintu. Arya mengangguk dan memberi ruang Vanessa untuk jalan keluar.
Pintu kamar Mila telah tertutup, tinggallah dua insan yang baru saja mengikat janji suci pernikahan di dalam kamar yang cukup luas itu. Arya lalu melangkah dan duduk di kursi meja rias Mila. Arya menatap Mila yang hanya memandang datar ke arah depan tanpa memperdulikan kehadirannya.
‘ini mulai bicaranya kayak gimana sih?’ batin Arya yang kebingungan. Arya memang tidak terlalu dekat dengan makhluk yang bernama perempuan, sehingga ia menjadi kaku jika harus dihadapan pada perempuan dengan kondisi seperti ini.
Hampir 10 menit mereka hanya diam-diaman di kamar itu, Arya masih bingung memulai pembicaraan dari mana, sedangkan Mila hanya menatap datar ke depan mencoba mengendalikan rasa getir di hatinya.
“katakan apa yang ingin kamu katakan” ucap Mila datar memecahkan kesunyian di antara mereka, namun kalimat itu seperti membunuh hati Arya karena merasa kehadirannya memang tidak inginkan.
“maaf, aku tahu kamu tidak menginginkan kehadiranku dalam hidupmu” ucap Arya singkat dengan penuh kegetiran dalam hatinya.
__ADS_1
'Arya, lo harus kuat, lo udah tahu dari awalkan bahwa kejadiannya pasti kayak gini’ batin Arya yang menahan rasa getir di hatinya, ia memendam kegetiran hatinya hingga membuat hatinya begitu kalut saat ini.
“baguslah kalau kamu sudah sadar, kita buat kesepakatan sekarang” ucap Mila dengan nada yang mulai menekan. ‘maaf kak, aku akan tetap melaksanakan rencana ku dan bang Arnes, hatiku hanya untuk bang Arnes, bukan untuk siapa pun’ batin Mila.