Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Sah


__ADS_3

krek, bunyi pintu terbuka, Seorang dokter masuk ke dalam ruangan untuk menemui pak Sarman,


“apa saya boleh masuk? “ tanya dokter tersebut kepada pak Sarman dari balik pintu yang hanya dibuka sedikit.


Dokter tersebut adalah dokter yang merawat pak Sarman, Ia diminta untuk menjadi saksi Arya di pernikahan tersebut karena pak Sarman merasa Arya tidak akan membawa siapa-siapa untuk menjadi saksi pernikahannya.


“masuklah lah dok” ucap pak Sarman yang sedikit kecewa, ia berharap Aryalah yang datang, sekarang pak Sarman mulai geram, jam sudah menunjukkan pukul 09.59 namun Arya belum datang juga.


‘jadi kau mau main-main dengan ku Arya’ kesal pak Sarman dalam hatinya.


Sementara nafas Mila yang sejenak terhenti karena pintu terbuka merasa lega karena yang masuk adalah dokter bukan Arya. Mila benar-benar takut jika Arya benar-benar datang dan menikahinya.


Dokter tersebut membuka pintu lebar, terlihatlah Arya yang sudah berdiri disamping dokter tersebut dengan keringat yang terlihat mengucur di wajahnya.


Melihat pemandangan tersebut, sontak saja Mila terasa dihempas jatuh ke jurang paling dalam setelah merasa terbang karena Arya yang tak kunjung datang. Sementara pak Sarman merasa lega melihat kedatangan Arya


“ayo masuk” ucap dokter itu pada Arya, Arya berjalan dengan nafas tersengal-sengal ke arah pak Sarman tanpa mempedulikan pandangan siapa pun di ruangan itu, karena ia sadar, semua orang yang ada di ruangan itu pasti tengah menatapnya dengan mata penuh kebencian dan membunuh.


“kenapa baru datang?” tanya pak Sarman dengan suara sedikit menekan Arya.


“kan bapak bilang tadi jam 10” ucap Arya yang coba menenangkan dirinya. Pak Sarman kemudian kembali melirik ponselnya dan terlihat jam sudah menunjukkan pukul 10.00, pak Sarman kembali mendengus nafas kesal.


Mila menatap panjang ke arah Arya, rasa kaget dan takut bercampur di dalam hatinya.


Untuk sesaat matanya terpana melihat Arya yang tampak lebih menarik dari pertemuan pertama mereka 2 hari lalu. Kulit kuning langsat Arya terlihat bersih di wajahnya, raut wajahnya sangat tampan dengan perpaduan bola mata coklat dan Alis yang melengkung sempurna. Hidungnya mancung dan bibirnya tipis serta sisir rambut yang rapi ke arah kanan seakan membawa Mila melihat seorang pangeran di hadapannya.


Namun yang paling membuat Mila sesaat merasa senang adalah karena jas yang dipakai oleh Arya, setelan Jas biru dengan kemeja putih dan dasi merah, hampir sama dengan pakaian pengantin yang ia beli kemarin, bahkan sesaat Arya seperti pangeran yang ia khayalkan kemarin sore, walaupun sebenarnya ia berharap laki-laki yang akan menikahinya adalah Arnes.

__ADS_1


‘tunggu, dari mana dia dapat jas itu kenapa persis sama dengan yang kubeli kemarin? apa ia mengambilnya dari lemariku?’ batin Mila bingung.


Arya terus berjalan melangkah ke arah pak Sarman, ketika posisi Arya hampir mendekati pak Sarman, Mila yang masih duduk di ranjang pak Sarman lalu menunduk. Posisi Mila dan Arya sangat dekat, sehingga membuat jantung dua insan itu benar-benar berdetak hebat.


Sejenak Arya menatap Mila dengan takjub, gadis didepannya terlihat benar-benar cantik dengan balutan gaun putih dengan jilbab lebar dan cadar warna senada, ia merasa beruntung dapat menikahi wanita cantik itu, tapi disisi lain, hatinya merintih, karena gadis yang akan ia nikahi itu adalah gadis yang menerimanya dengan tangisan. Tangisan tak rela dengan pernikahan itu.


“apa yang kau bawa Arya? apa itu mahar?” tanya pak Sarman melihat apa yang ada di tangan Arya, Arya mengangguk pelan,


“berikan pada penghulu” pinta pak Sarman, Arya kemudian memberikan apa yang ia bawa kepada penghulu yang memakai setelan jas abu-abu.


“ini perhiasan apa?” tanya penghulu itu pada Arya.


“emas pak” jawab Arya simpel


“saya tahu ini emas, tapi ini emas apa?, kadarnya berapa?, truss hiasan ini apa?” tanya pria itu kesal.


“itu emas putih dengan hiasan berlian pak” jawab Arya lagi,


“kamu mau menjadikan ini mahar, kamu sendiri tidak tahu ini barang apa” ucap penghulu itu yang sudah benar-benar geram.


“apa saya perlu ke toko itu lagi untuk menanyakannya pak?” jawab Arya yang ikut kesal dengan ucapan penghulu itu.


Wajah Arya tampak bingung ‘seharusnya aku dengarkan penjelasan penjaga toko tadi tentang perhiasan itu’ sesalnya.


“Sudahlah pak, ini maharnya” ucap pak Sarman mengeluar sebuah gelang dari kotak yang ada di atas lemari kecil di samping ranjangnya.


“itu gelang siapa pak?” tanya Arya ragu,

__ADS_1


“ini gelang hadiah untuk istriku dulu, tapi belum sempat aku memberikannya pada istriku, karena istriku meninggal sehari sebelum aku ingin memberikannya sebagai kado hadiah pernikahan kami” mendengar itu semua, sejenak semua orang yang berada dalam suasana kesedihan melihat pak Sarman, termasuk Mila yang membelai lembut wajah kakeknya karena merasakan betul kesedihan kakeknya ketika neneknya meninggal.


“sekarang gelang ini aku berikan kepadamu, jadikanlah itu mahar untuk menikahi cucuku” ujar pak Sarman yang memberikan gelang itu pada Arya. Arya menyeka keringat yang masih mengalir di wajahnya, ia kemudian menerima gelang itu dari pak Sarman dan memegangnya.


Akad pernikahan segera dimulai, Mila kemudian duduk disamping Vanessa dengan mata berkaca-kaca, sementara Arya telah berhadap-hadapan dengan pak Tito, Arya mengontrol detak jantungnya yang memompa darah di tubuhnya berkali-kali lebih cepat dari biasanya. Bulir-bulir keringat kembali membasahi dahinya, rasa takut bercampur rasa gugup membuat wajah Arya memucat.


Arya telah menyambut tangan pak Tito dan akad akan segera dimulai, “Arya” panggil pak Sarman,


Semua orang menoleh pada pak Sarman dengan wajah heran.


“aku menyerahkan cucuku padamu untuk kamu jaga lahir dan batinnya, untuk kamu lindungi dan kamu bahagiakan lahir dan batinnya seumur hidup kalian” ucap pak Sarman dengan tatapan tegasnya pada Arya.


Mila yang mendengar itu menatap wajah kakeknya penuh rasa senang, karena kakeknya begitu perhatian padanya, bahkan ucapan itu sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan seberapa besar rasa sayang sang kakek pada cucunya itu, walaupun demikian, rasa takut dan getir belum bisa hilang dari hatinya. Namun beda dengan Arya yang seperti ditimpakan beban berat oleh pak Sarman.


“berjanjilah untuk itu Arya” ucap pak Sarman dengan Nada tegas. Arya mengangguk pelan, ‘dia benar-benar mengungkungku dengan janji-janjiku sendiri’ batin Arya,


Akad pun dilangsungkan, Sah, ucap saksi pernikahan tersebut. Air mata yang sedari tadi Mila tahan, akhir lolos keluar dari matanya, ia telah sah menjadi istri Arya dan ia harus melayani Arya layaknya seorang istri melayani suaminya.


Mila harus melayani laki-laki yang tidak ia cintai selama hidupnya, ya, mungkin saja tidak, jika rencana yang ia siapkan berjalan lancar. Sementara pak Sarman menghembuskan nafas lega dengan selesainya akad tersebut.


Sejenak Mila melihat ke arah Vanessa dan Ibunya dengan tatapan sedih, kedua perempuan itu mengangguk pelan pada Mila untuk memberinya kekuatan.


Mila mulai berjalan dengan menunduk ke arah Arya yang berdiri tegak menantinya. mereka saling berhadapan di sisi kanan ranjang pak Sarman, pak Sarman kemudian mengambil kotak kedua yang ada di atas lemari kecil di samping ranjangnya.


“Ini cincin pernikahan kalian” ucap pak Sarman yang memberikan kotak tersebut pada arya.


‘cincin pernikahan?, kenapa aku tidak kepikiran membelinya di toko perhiasan tadi’ gerutu Arya dalam hatinya karena melupakan salah satu hal penting dalam pernikahan.

__ADS_1


“ini cincin pernikahanku dengan istriku dulu Arya, jagalah cincin ini dengan pernikahan kalian, agar nanti kalian bisa memberikannya pada cicit-cicitku nanti” ucap pak Sarman dengan nada sendu,


‘segitu percayanya kakek pada laki-laki ini, bahkan ia memberikan gelang untuk nenek dan cincin pernikahannya dengan nenek pada laki-laki ini.’ batin Mila yang masih menunduk di hadapan Arya.


__ADS_2