
Rita yang tengah duduk di kursi meja kerjanya meneteskan air mata mengenang kisah kelamnya ketika mengenal keluarga Rakarsa, namun disisi lain ia juga mensyukurinya, karena setelah itu ia mengenal Arya, orang baik yang memperlakukannya dengan baik, ia juga bersyukur setelah kejadian itu ia bisa bangkit dan menata lagi hidupnya, Ia juga sudah menikah dan memiliki seorang anak, Namun hingga saat ini, perasaan dendam kepada Irman dan juga Adinata group masih mendalam dihatinya.
Ada perasaan sedih di hatinya ketika mengingat ucapan Mila yang mengatakan bahwa Mila adalah isterinya Arya, ia merasakan sakit dihatinya karena merasa dikhianati oleh Arya, ia bahkan merasa tidak rela mengabdikan hidupnya pada Arya jika benar Arya telah menjadi bagian dari keluarga Rakarsa,
'tenang Rita, kamu harus menanyakannya langsung pada Arya, jangan khianati orang sebaik Arya, jangan pernah’ batin Rita.
Rita kemudian mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Arya, ketika ia hendak menghubunginya, ia segera mengurungkan niatnya,
‘kata Arbi, Arya dan Ari lagi pergi mendaki, dia paling tidak suka kalau diganggu ketika mendaki, lebih baik aku tunggu saja sampai dia kembali’ batinnya,
ia kembali menyimpan ponselnya dan melepas nafas panjang, ia kemudian mengusap wajahnya kasar karena perasaan dihatinya yang tidak menentu,
*
Mila hanya bisa menundukkan kepalanya memainkan makanan di piringnya, ia sama sekali tidak bernafsu untuk makan, nama Arya terus berlari dalam pikirannya,
‘kenapa aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang suamiku sendiri’ batinnya kesal,
“makanlah Mil, apa kamu tidak suka masakan kakak?” tanya Vanessa yang heran dengan tingkah adik iparnya itu,
“kak, apa aku harus membuka hatiku untuk Arya, dan melupakan bang Arnes?” tanya Mila dengan nada lemah,
“Menurutmu, apakah bisa dibenarkan seorang perempuan yang telah menikah mencintai laki-laki lain yang jelas bukan suaminya?” tanya Vanessa dingin,
“tapi kan kakak tahu sendiri, pernikahan ini tanpa ada rasa cinta”
“kakak menikah dengan abangmu karena rasa cinta, dan kamu bisa lihat sendiri bagaimana pernikahan kami sekarang” suara Vanessa terdengar menahan rasa getir di hatinya,
Deg, deg, jantung Mila berdetak sedikit lebih cepat dari sebelumnya,
“tapi kakak tidak bisa membandingkan hidupku dengan hidup kakak”
__ADS_1
“Arya orang baik Mil, dan dia telah membuktikannya sejak kalian menikah, ” jawab Vanessa dengan nada datar,
“Dia baik hanya dimata kakak," jawab Mila pelan, hatinya berusaha menutupi semua sikap baik Arya, ia kemudian menjeda kalimatnya sesaat untuk kemudian ia teruskan.
"kakak hanya belum mengenal bang Arnes, dia baik kak, dia memperlakukanku dengan baik”
“Jika Arnes adalah laki-laki baik, dia tidak akan pernah mendekati perempuan yang telah menikah dengan laki-laki lain"
"kami seperti ini karena kami saling mencintai kak dan dia juga tahu aku tidak mencintai Arya, tentu saja dia ingin merebutku dari Arya dan dia ingin membuatku bahagia", jawab Mila percaya diri
"Mil, selama bertahun-tahun kalian pacaran, apa Arnes tidak pernah memintamu melakukan apa yang seharusnya kalian lakukan setelah menikah?” tanya Vanessa dengan penuh penekanan, pertanyaan itu seolah menjadi pertanyaan pamungkasnya untuk menunjukkan kepada Mila bahwa Arnes bukanlah orang baik. Karena ia sudah dapat menilai seperti apa Arnes dari kelakuan Arnes setelah Mila menikah.
"kenapa kakak menuduh bang Arnes seburuk itu padaku?" Mila melirik kesal ke arah Vanessa
"karena kakak merasa dia laki-laki seperti itu"
deg, jantung Mila berdetak lebih cepat, Ia terdiam seolah tak percaya Vanessa tahu jika Arnes memiliki sifat buruk seperti itu, ingatannya kembali melayang kepada masa-masa pacarannya di bangku kuliah dulu, ketika itu Arnes memang sering memintanya untuk melakukan hal-hal terlarang itu, namun ia beruntung masih bisa mengendalikan dirinya dan tidak melakukan dosa-dosa yang mungkin akan membuatnya menyesal di kemudian hari,
“kakak tidak mau menuduh, tapi kebanyakan laki-laki tidak bisa melawan hasratnya untuk tidak menyentuh wanitanya, kalau dia pernah memintamu untuk melakukan perbuatan dosa itu, maka dia bukan orang baik Mil, jangan pernah memberikan apapun yang seharusnya kamu berikan pada suamimu” lanjut Vanessa dengan suara penuh penekanan, ia tahu dalam diam Mila sebenarnya telah membenarkan sikap buruk Arnes,
“lalu kenapa kakak menganggap Arya adalah orang baik? padahal kakak baru mengenalnya 3 bulan ini”
“apa kamu tidak bisa melihatnya sendiri, dia bersabar dengan sikap dinginmu, kakak tidak pernah melihatnya memakimu, memarahimu, memaksamu memenuhi keinginannya, berbuat kasar padamu, padahal sikapmu sungguh keterlaluan padanya selama ini, kurang baik apa lagi dia Mil, dia bahkan ikhlas dan bersabar tanpa menuntut apa pun darimu, bahkan ketika banyak haknya sebagai suami kamu abaikan, dia tidak pernah bersikap buruk padamu dan kakak yakin, kakek tidak akan pernah memilih laki-laki yang tidak baik untukmu” jelas Vanessa,
Mila yang mendengarnya langsung berubah pias, kata-kata Vanessa menusuk dalam ke dalam hatinya, selama ini ia tidak pernah menyadari betapa baiknya Arya kepada dirinya, Hatinya telah buta dengan cintanya kepada Arnes, dan hatinya terasa begitu kalut ketika menyadari semuanya setelah mendengarkan ucapan Vanessa.
Di balik sikap buruknya pada Arya, Arya masih saja menyimpan nomornya dengan nama istri tercinta, mengingat itu semua, Mila merasa seolah tidak ada kekurangan sedikit pun pada diri Arya
"kakak tidak memintamu meninggalkan Arnes, kakak hanya memintamu memberi Arya kesempatan untuk mengisi hatimu, dan selanjutnya kamu bisa memutuskan sendiri siapa yang akan kamu pilih diantara mereka"
*
__ADS_1
Seorang perempuan paruh baya memasuki Rumah Mila, ia segera berjalan menuju pintu teras samping, pintu yang lebih sering digunakan untuk keluar masuk dari pada pintu utama, perempuan itu melihat Vanessa yang tengah mencuci piring dari balik pintu kaca itu, ia langsung masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam, Vanessa yang kaget mendengar suara salam itu langsung memutar badannya ke arah sumber suara, matanya membulat kaget,
“ibu,” ucapnya dengan suara pelan,
“kenapa kamu sendiri Vanessa, mana yang lain?” tanya bu Saniah heran karena rumah itu terasa sepi.
“la,,lagi dikamar bu” jawab Vanessa terbata,
Bu Saniah kemudian langsung melangkah ke kamar tamu tanpa bersuara, kamar yang biasa ia tempati ketika menginap di rumah itu,
Wajah Vanessa langsung pias melihat hal tersebut, ia segera melangkah ke kamar Mila dan menggedor pintu Mila dengan keras, Mila yang sedang memeriksa tugas siswanya langsung membuka pintu kamarnya karena gedoran Vanessa yang tidak biasanya.
“kenapa kak? kenapa wajah kakak panik sekali?”
“ibu, ibu di kamar Arya”
Mata Mila langsung membulat kaget tidak percaya, ia langsung berjalan ke arah kamar tamu yang biasa di tempati Arya.
Bu Saniah memasuki kamar tamu dan langsung menyalakan lampunya, ia kemudian melihat ada sesuatu berbeda di kamar itu,
kamar itu terlihat seperti kamar seorang laki-laki dengan sprei yang bergambar klub salah satu sepak bola eropa, Arya memang membersihkan kamarnya seorang diri selama ini, ia yang mengganti spreinya secara rutin, dan dia juga yang menyapu kamar setiap hari, sehingga kebersihan kamar itu benar-benar dijaganya,
Bu Saniah lalu duduk di tepi ranjang kamar itu, matanya kembali dibuat kaget ketika melihat sebuah laptop dan beberapa dokumen di atas meja,
‘apa ada orang yang menempati kamar ini?’,
Bu Saniah kemudian membuka lemari untuk memasukkan barangnya disana, dan kembali ia dibuat kaget karena mendapati beberapa pakaian laki-laki ada di dalam lemari itu,
Ia kemudian memegang pinggangnya dengan tangan kirinya, matanya menyorot kesal dengan apa yang ia lihat,
‘Siapa yang tidur disini?, Arya?’ batinnya langsung memikirkan Arya karena memang Mila tak pernah terlihat bersama Arya ketika mengunjungi pak Sarman di rumah sakit, sehingga membuat Ia dan pak Sarman berpikir bahwa pernikahan itu tidak berjalan dengan baik.
__ADS_1
“Ibu” panggil Mila ketika memasuki kamar itu, ia melihat ibunya tengah membuka lemari dengan mata menunjukkan kekesalan,
“kamu bisa jelaskan ini semua Mila” ucap Ibunya dingin,