
Ok, sebelum baca like dulu ya teman-teman.
Please cuma like doang masak kalian enggak mau, like dulu kakak-kakak ku yang Budiman.
Dan jangan lupa bagi yang ingin tau tentang novel selanjutnya silahkan lihat di Ig author.
@edy.official silahkan berkunjung 🤗
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
..
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
Tiga hari telah berlalu, berita publik mengenai Olif mengundurkan diri pun telah di umumkan oleh pihak perusahaan Modeling Grup. Model Grammy award yang baru saja naik daun melambung tinggi terpaksa resign.
Tentu saja hal itu membuat para pengemar dan masyarakat terkejut setengah mati, bagaimana tidak, seorang model berhenti berkarir saat namanya lagi terkenal. Tentunya saja peryataan itu membuat mereka bertanya-tanya.
Artikel berbagai artikel pun mulai memenuhi sosial media. Foto Olif mulai jadi trending topik di berbagai aku social media.
Banyak para fans yang kecewa sekaligus sedih dengan pertanyaan yang baru saja di umumkan oleh pihak perusahaan Modeling. Sebahagia dari mereka berdemo meminta unjuk rasa agar Olif tetap menjadi model Grammy.
"Bagaimana, apa semuanya berjalan sesuai rencana?" tanya seseorang dengan senyuman licik terukir indah di sudut bibir seksinya. Wajahnya yang memicing terlihat kalau dia merasa sangat puas dengan anggukan kepala para bodyguard yang bertubuh tinggi dan atletis.
"Semuanya sesuai dengan apa yang sudah bos katakan, saya sudah mengumpulkan semua orang dan kini mereka telah berada di depan kantor." salah satu dari bodyguard memberanikan diri untuk berbicara.
"Bagus-bagus, kerja yang bagus. Hahahaha .... Kita lihat sekarang apa yang akan mereka lakukan. Varrel, kau harus membiarkan istrimu yang menggoda itu kembali berkerja sebagai model. Dia adalah pion-ku untuk mencapai kesuksesan, kau tidak berhak mengambilnya dari ku," guma orang itu sembari tersenyum licik.
*
Di salah satu cafe ternama kota Canberra. Cafe yang bernama Arora Frisian yang terletak bersebelahan dengan mall yang paling besar di kota itu.
Terlihat tiga orang laki-laki dan satu orang wanita sedang menonton sesuatu dari layar laptop berada tepat di depan mereka.
Sesuatu yang membuat mereka serasa ingin membanting laptop tersebut menghancurkannya berkeping-keping.
"Sial, dia ingin menentang ku rupanya," dengus Varrel dengan rahang mengeras dan sorot mata menajam.
"Mas, tenang." Olif yang berada di samping Varrel menggenggam erat tangan suaminya, mencoba menurunkan emosi Varrel.
__ADS_1
"Iya, benar kata Olif. Kamu haru tenangkan dirimu dulu agar kita bisa memikirkan jalan keluar dari semua ini. Tidak mudah keluar dari masalah publik kalau kita tidak bisa menahan diri kita Rel," tukas Viki.
"Aku bersumpah tidak akan memaafkannya, dia pikir dia bisa memanfaatkan masyarakat untuk mengembalikan istriku. Chahhh dia telah melakukan kesalahan besar dengan melakukan ini." sinis Varrel mengepalkan tangannya.
"Malam ini juga aku akan membuatnya menanggung apa yang telah ia lakukan. Walaupun di memohon bersujud di kakiku memohon ampun, aku tidak akan mengampuninya," sambung Varrel.
"Apa yang akan kakak lakukan?" tanya kini Justin, laki-laki bule ini tidak terlalu tau dalam dunia bisnis.
"Kau sungguh tidak tau apa yang akan dia lakukan?" tanya balik Viki sembari melirik kearah Viki dengan tatapan mengintimidasi.
Viki menggeleng cepat, dia benar-benar tidak soalnya dunia bisnis. Jangankan mengikuti mendengarnya saja membuat kepala Viki pusing setelah mati. Jurusan ini lah yang paling ia benci di kampus.
"Dia akan membunuh tuan Alek," bisik Viki berada tepat di daun telinga Justin hingga membuat laki-laki bermata biru itu merinding dalam sekejap.
"A-Apa, kak Varrel akan membunuh tuan Alek?" kedua mata Viki serasa ingin kabur dari tempat perkataan Viki sungguh terdengar menyerahkan.
"Suuttttt .... Jangan keras-keras, takutnya nanti Varrel juga akan membunuhmu," bisik Viki lagi.
"Tidak ...." Justin sontak berteriak sembari berdiri dari kursi duduknya. Nafasnya terdengar memburu menatap tajam kearah Varrel.
"Justin," ucap Olif sembari melirik ke seluruh pasang mata yang sedang menatap kearah mereka. Semua orang yang berada cafe sontak saja menatap kearah mereka, apalagi mendengar suara teriakan Justin barusan.
"Hahahaha ...." Viki cekikikan menahan tawanya, teryata Justin benar-benar laki-laki yang sangat mudah di bohongi.
"Tidak kak, kak Varrel akan membunuhku," tutur Justin.
"Justin, pelan kan suaramu. Kamu tidak lihat semua orang menatap kearah kita sekarang," tukas Justin.
"Tapi kak-"
"Tidak ada yang mau membunuh mu, aku hanya bercanda tadi," potong Viki masih cekikikan menahan tawanya.
"Apa."
"Dasar bocil," ledek Viki membuat semua orang tertawa kecuali Varrel, dia masih memanas dengan apa yang ia lihat tadi di laptop.
*****
Di depan gedung Modeling Grup, lebih dari lima puluh orang sedang berkerumunan melakukan aksi unjuk rasa atas resign-nya model Grammy award, Model yang membuat nama negara mereka terkenal.
Mereka terus saja berteriak berdemo dengan suara yang begitu lantang. Tak lupa para wartawan dan reporter TV menyiarkan aksi ini secara langsung. Bahkan mereka juga menayangkan saksi-saksi mata dari pihak perusahaan Modeling Grup terkait kejadian waktu itu.
__ADS_1
Bersambung.....
Bab selanjutnya akan segera keluar