
“jadi gimana dok” tanya Syifa dengan perasaan was-was kepada dokter yang memeriksanya,
“dari hasil pemeriksaan saya, sepertinya ini positif bu” jawab dokter tersebut yang disambut senyuman oleh Syifa, Mila dan Vanessa.
“wah, selamat ya Syifa” ucap Vanessa yang turut berbahagia dengan kabar tersebut.
“tapi ini masih harus di cek lagi dengan dokter kandungan ya bu, saya bukan spesialis ini, apalagi usia kandungan ibu masih sangat muda, bisa saja saya salah diagnosis” ucap dokter itu, ia tidak ingin memberi harapan kosong pada Syifa jika ia sampai salah mengira kehamilan Syifa.
“ok dok, saya memilih kesini, karena saya tahu dokter adalah dokter terbaik di rumah sakit besar ini”
Dokter tersebut tersenyum mendengar pujian Syifa kepadanya, “jangan terlalu memuji bu, saya juga masih belajar disini” jawab dokter tersebut.
Mila yang sedari tadi melihat-lihat ruangan dokter tersebut melihat sebuah dokumen bertuliskan 3A Sahabat di dalam lemari kaca dokter tersebut yang berada tepat di belakang kursi dokter tersebut duduk.
“maaf dok, dokter punya hubungan apa dengan perusahaan 3A Sahabat?” tanya Mila yang membuat Syifa, Vanessa dan dokter tersebut kebingungan kenapa tiba-tiba Mila bertanya tentang hal tersebut.
“maksudnya apa ya?” Mila lalu menunjuk dokumen yang ia lihat tersebut,
“ohh itu, apa saya boleh bertanya juga, apa ibu punya hubungan juga dengan 3A Sahabat?” tanya balik dokter tersebut yang membuat Mila dan Vanessa heran mendengarnya,
Namun belum sempat Mila menjawab, suara seorang perempuan yang panik langsung mengagetkan mereka,
“dok, dokter Karina, Tomy dok, Tomy” suara perempuan itu terdengar gemetar, Semua orang yang ada di ruangan tersebut langsung menatap ke arah sumber suara,
deg,,,deg,, Mila dan Vanessa tidak percaya melihat Abel ada disana dengan keringat mengucur deras, wajahnya memucat karena panik serta pipinya yang penuh dengan deraian air mata.
“kenapa Tomy Bel?” tanya dokter Karina pada Abel,
“dok,, tolong Tomy, tolooong” lirih Abel penuh ketakutan, Dokter Karina segera bangkit dari kursinya, ia mengambil stetoskopnya dan pamit meninggalkan ruangan pada Syifa, Vanessa dan Mila,
Untuk sejenak Abel sempat melihat wajah Mila, namun kemudian ia memilih untuk mengabaikannya. Mila pun juga ikut bangkit dan mengikuti langkah dokter Karina dan Abel, begitu pun dengan Vanessa, sementara Syifa hanya bisa mengikuti mereka karena melihat mereka berdua pergi.
Dokter Karina sedang bekerja di dalam ruangan, sementara Abel hanya bisa menangis sedih di balik pintu sembari melihat dokter Karina bekerja dari sela-sela kaca jendela pintu yang telah ditutupi gorden.
__ADS_1
“Kenapa dengan Tomy Bel?” tanya Mila yang berusaha berbicara dengan Abel, Ia sadar Abel masih marah padanya karena kejadian di mall dan kantor Arya, namun ia juga dibuat penasaran atas apa yang terjadi dengan saudara iparnya itu.
Abel hanya diam tidak bicara, ia hanya bisa terisak dengan keadaan Tomy saat itu.
“Bel, ada apa dengan Tomy?” kali ini Vanessa yang bertanya dengan nada khawatirnya,
“semua karena kamu Mil,” jawab Abel dengan nada serak dan gemetar yang membuat Vanessa, Mila dan Syifa yang kaget dengan jawaban tersebut,
“aku?, apa salahku Bel?, Aku tidak tahu apa-apa sama apa yang terjadi dengan Tomy” Bela Mila pada dirinya sendiri.
“Kalau saja hari itu aku tidak mengajak kamu berbelanja, semuanya tidak akan seperti ini, aku tidak akan bertemu dengan laki-laki brengsek itu, dan Tomy ku akan sehat-sehat saja sekarang” jawab Abel dengan penuh emosional kepada Mila,
“aku tidak mengerti maksudmu Bel” ucap Mila lagi,
Abel yang mendengar itu langsung menatap tajam ke arah Mila,
“Dimana Arya?, dia sama sekali belum pernah menjenguk Tomy” ucap Abel lagi yang membuat Mila hanya bisa menggeleng, karena pada kenyataannya, ia masih menunggu kepulangan Arya kepadanya.
“Semua karena kamu Mil” jucap Abel lagi terisak sedih, Vanessa langsung mendekat ke arah Abel dan langsung memeluknya untuk memberi ketenangan kepada Abel, dan Abel mulai menceritakan apa yang telah terjadi pada Tomy,
FB
“iya bang, bosen disini” jawab adik Abel yang juga ikut bersama mereka.
Abel kemudian menatap ke arah Tomy, ada keraguan dihatinya untuk menceritakan tentang apa yang terjadi dengan Arya kepada Tomy, namun disisi lain ia juga ingin menceritakannya kepada Tomy, karena ia merasa tidak terima jika Mila memperlakukan Arya seperti itu.
Bahkan sampai detik itu pun ia tak menyangka orang seperti Mila akan melakukan perbuatan kotor tersebut,
“jadi kita ke butik dulu atau ke toko cincin dulu?”, tanya Tomy pada Abel dengan memberikan tatapan penuh kasih sayangnya, tatapan yang selalu membuat Abel nyaman dan terus jatuh cinta kepada Tomy,
“terserah kamu, kan calon imamnya kamu” jawab Abel dengan tersenyum manis, membuat adiknya merasa gerah pada pasangan yang sedang di mabuk cinta itu.
“ok, ayo jalan” ucap Tomy sembari sejenak membuka ponselnya,
__ADS_1
“Arya kemana ya, sudah seminggu ini aku coba hubungi, tapi nggak di balas sama sekali” ucap Tomy sembari menyimpan ponselnya lagi dengan perasaan tak nyaman.
Abel yang mendengar itu dibuat pias, ‘apa ini semua karena kejadian hari itu ya?, lalu kenapa Arya sampai tidak bisa dihubungi oleh Tomy?’
“apa kamu belum ke rumahnya?”
“Belum Bel, kan dari Bandung aku langsung ke rumah mu, kamu tunggu disini dulu ya, aku jemput mobilmu dulu ke parkir belakang”
Tomy kemudian berjalan ke arah parkir belakang resto tersebut, sementara Abel dan adiknya menunggu di halaman resto sembari memainkan ponsel mereka masing-masing,
“hai cantik” ucap seorang laki-laki yang membuat Abel dan adiknya kaget, Abel kemudian melihat asal suara tersebut, wajahnya langsung pias karena takut,
“kamu mau apa?” tanya Abel dengan suara panik, ia langsung menarik tangan adiknya untuk melindungi adik perempuannya itu,
“kalau aku mau kamu gimana?” tanya Arnes dengan nada mesumnya,
“jangan macam-macam” ucap Abel mengancam,
“tapi sekarang aku mau macam-macam” ucap Arnes lagi sembari mengelus lembut lengan Abel yang ditutupi Kaos panjang berwarna merah,
“atau aku akan teriak”
“coba aja teriak, kamu pikir ada yang berani sama aku disini, ini tempat milik keluargaku” ucap Arnes lagi, ia kemudian mencoba merangkul bahu Abel, namun sebelum itu sempat ia lakukan, Tomy sudah lebih dulu menarik tangan Arnes dan memukulnya hingga terjatuh.
Arnes yang merasa tidak terima kemudian bangkit dan mencoba melawan, namun sayangnya Tomy bukanlah lawannya, Tomy dan Arya dari kecil sudah dilatih bela diri silat di desa mereka, sehingga mereka sudah cukup jago untuk sekedar adu pukul dengan orang.
Melihat keadaan Arnes yang terdesak oleh Tomy, 2 orang bodyguard sewaan Arnes datang, setelah kejadian di mall saat dia di pukul oleh orang suruhan Ari, Arnes memilih untuk menyewa bodyguard untuk keselamatan dirinya,
Tomy pun bergumul dengan 2 orang body guard itu, walaupun sudah berdua, namun beladiri Tomy bukanlah lawan bagi 2 orang bertubuh besar itu, Arnes yang sebelumnya tersenyum sinis melihat Tomy, akhirnya dibuat tak percaya ketika Tomy berhasil membuat 2 orang itu tersungkur.
Ketika Tomy berjalan ke arah Abel untuk segera membawa mereka lari dari tempat itu, salah seorang body guard Arnes mengeluarkan pisau dan menikam Tomy dari belakang, Abel dan adiknya berteriak histeris melihat Tomy yang telah tersungkur bersimbah darah.
FB end.
__ADS_1
“gara-gara dia kak, Tomy ku seperti ini, gara-gara pacar dia yang ******** itu kak, seharusnya Arya tidak usah mengenal dia, dia hanya bisa membuat semua orang tersakiti” ucap Abel penuh emosional yang membuat Mila tersungkur ke lantai setelah mendengar cerita Abel, ia seakan tak tak percaya jika Arnes melakukan hal seperti itu.
Begitu pun dengan Syifa yang masih berdiri disana, ia tak percaya jika orang yang ia ketahui menjadi pacar Mila itu adalah laki-laki bejat yang tidak bisa menghormati perempuan. Padahal ia masih ingat dulu Mila selalu bercerita Arnes adalah orang yang baik serta soleh.