Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Kenapa Harus Membenci


__ADS_3

“Jangan menunduk, lihat wajahku,” ucap Ari dengan menarik kasar dagu Vanessa agar melihat ke wajahnya.


“Ingat wajahku, agar kamu tahu pada siapa kamu harus membalas dendam nanti ketika suamimu hancur dan perusahaannya bangkrut dan hilang menjadi debu," ucap Ari dengan tatapan tajam ke arah wajah Vanessa.


Ari menarik kembali tangan Vanessa dengan kasar setelah pintu lift terbuka, ia langsung menarik Vanessa yang hanya tertunduk, ia kemudian berdiri di depan meja Rita yang ada di depan ruangan Arya,


“Apa Arya ada di dalam?” tanya Ari datar pada Rita.


Rita tersenyum sinis pada Vanessa, ada rasa senang dihatinya melihat kondisi Vanessa yang begitu memprihatinkan. Namun disisi lain ia juga merasa kesal, karena ia sangat tidak ingin melihat wajah Vanessa lagi,


“Ada di dalam,” jawab Rita datar, mendengar suara Rita semakin membuat hati Vanessa hancur.


‘Dia pasti bahagia melihat keadaanku seperti ini,’ batin Vanessa sedih dengan dirinya sendiri,


Arya yang sedang asyik merancang konsep bangunan sebuah hotel dibuat kaget ketika pintunya terbuka, tanpa ada yang mengetuk,


‘Dia lagi, kebiasaan sekali dia.’ Kesalnya yang telah menduga Ari akan masuk.


Wajah Arya yang semula datar langsung berubah memerah karena marah karena melihat Ari menarik tangan Vanessa dengan kasar, Ari lalu mendorong Vanessa hingga tersungkur ke lantai.


“Dia ingin bertemu dengan Lo,” ucap Ari datar dengan melirik tajam ke arah Arya.


Arya langsung bangkit, rahangnya mengeras karena marah, tanpa basa basi ia langsung menghampri Ari dan menarik kerah baju Ari dengan kasar, lalu mendorongnya hingga Ari jatuh ke lantai. Arya kemudian mengepalkan tangannya dan siap meninju Ari.


“Apa sekarang Lo ingin memukul sahabat Lo karena istri pria ******** ini?” ucap Ari dengan dingin melihat ekspresi Arya.


Arya kemudian mengurungkan niatnya, ia menghampiri Vanessa dan membantu Vanessa duduk di sofa,


“Ayo, kak! duduk di sofa,” ucap Arya, dan Ari melihat aneh ke arah Arya yang memperlakukan Vanessa dengan lembut.


“Apa salah dia? sampai Lo memperlakukannya sekasar ini,” tanya Arya sembari menahan emosi, ia benar-benar tidak terima Vanessa diperlakukan seperti itu di kantornya.

__ADS_1


“Bukankah Lo sudah tahu kenapa? Dia istri ******** itu,” ucap Ari santai.


“Kita bermasalah dengan suaminya, bukan dengan dia, apa Lo selalu memperlakukan perempuan dengan kasar seperti ini?” tanya Arya yang masih menahan emosi.


“Apa Lo sekarang lebih milih dia daripada gue? Lo seharusnya sadar siapa dia dan keluarganya” jawab Ari yang tidak terima dengan kelakuan Arya,


“Lo sebaik berpikir lagi jika menginginkan dokter Karina, dokter Karina orangnya sebaik kakak ipar gue ini. Jika lo tetap bersamanya, yang ada lo hanya akan nyakitin dia seperti lo nyakitin kakak ipar gue sekarang,” jawab Arya yang masih menahan emosi. Ia lebih memilih membawa nama dokter Karina karena yang ada di pikirannya hanya itu yang bisa membuat Ari sadar dengan kelakukan kasarnya.


“Jangan bawa Karina disini, kalau bukan rasa sakit gue karena suami dia, gue juga nggak akan sekasar ini,” jawab Ari terbawa emosi,


“Lo tahu nggak seperti apa dia menjalani kehidupannya? Lo tahu nggak beban apa yang harus ia tanggung? Lo seenaknya berbuat kasar padanya. Bisnis ya bisnis Ri! Lo nggak bisa seenaknya melepaskan sakit hati Lo pada dia," ucap Arya yang masih mencoba menahan emosinya, Hatinya terasa disayat melihat perlakuaan Ari pada Vanessa.


Ari sejenak terdiam, ia teringat akan laporan orang suruhannya yang mengatakan Irman jarang pulang ke rumah dan lebih sering membawa perempuan-perempuan ke apartemennya. Ia mengusap wajahnya kasar, menyesali emosinya yang tidak bisa ia kontrol ketika tahu Vanessa adalah istrinya Irman saat di lobi tadi.


“Sekarang Lo keluar, atau gue benar-benar nggak bisa menahan emosi gue lagi,” ucap Arya masih mencoba menahan emosi.


Ari mengalah, ia kemudian pergi tanpa pamit.


Arya melihat Vanessa yang masih tertunduk sedih dengan pahitnya kehidupan yang ia lalui selama ini. Perasaan bersalah muncul di hati Arya, karena sahabatnya sendiri yang membuat Vanessa seperti itu,


“Nggak Arya, ini salah kakak, kakak yang buat kamu bertengkar dengan sahabatmu," ucap Vanessa sendu.


Arya kemudian segera menghubungi pantry melalui intekom kantor untuk membawakan air bagi Vanessa.


“Kak, apa kakak mau istirahat dulu? disini ada ruang istirahatku.” Tawar Arya pada Vanessa, ia benar-benar tidak tega melihat kondisi Vanessa, hatinya benar-benar sakit saat itu.


“Nhgak usah, Arya!” jawab Vanessa pelan ia kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, Arya hanya diam menahan rasa sakit hatinya, ia dapat mendengar nafas Vanessa yang terisak-isak menahan sedih.


Vanessa memejamkan matanya untuk melepas rasa lelah dan rasa sakit hatinya, hingga akhirnya ia terlelap dalam rasa sakitnya itu.


Cukup lama Vanessa terlelap dalam tidurnya, setidaknya ia dapat melepas rasa lelah karena beban di hatinya. Saat ia terbangun ia mendapati dirinya tengah berada di sebuah kamar, ia kemudian segera bangkit untuk segera memulihkan kesadarannya,

__ADS_1


'Ini dimana? astaga kenapa aku bisa tertidur tadi,' sesal Vanessa dengan dirinya sendiri.


Vanessa segera bangkit dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, kemudian ia segera keluar di kamar itu. Dan ketika ia keluar kamar itu, ia mendapati Arya tengah sibuk di meja kerjanya, ia kemudian segera mendekat ke arah Arya.


“Kamu sibuk?” tanya Vanessa basa basi, walaupun ia melihat Arya tengah serius dengan kerjaannya.


“Nggak kak, kakak sudah baikan?” jawab Arya dengan nada pedulinya.


“Udah, dek!" jawab Vanessa singkat, Arya kemudian bangkit dari kursinya dan mengajak Vanessa duduk di sofanya.


“Minum dulu kak, biar lebih mendingan," ucap Arya sembari memberikan segelas teh pada Vanessa,


“Udah dingin sih, kalau kakak nggak mau, nanti aku pesanin lagi," lanjut Arya.


“Nggak usah Arya, ini aja!” jawab Vanessa sembari meminum teh tersebut.


“Ada perlu apa kakak kesini?”


Vanessa kemudian melepas nafas panjang, ia mencoba mengembalikan dirinya pada tujuannya untuk datang ke kantor Arya,


“kamu benar-benar mau pisah dengan Mila?”


Mendengar pertanyaan Vanessa membuat Arya yang kali ini melepas nafas panjang, ia kemudian mengusap wajahnya dengan kasar,


“Mila masih mencintai laki-laki itu kak, aku tidak bisa memaksakan hubungan ini,” jawab Arya sedih.


“Kamu kan tahu sendiri rya, Mila butuh waktu untuk menerimamu."


“Aku sudah tahu seperti hati Mila kak, aku sudah bicara dengannya, dan dari kata-katanya aku tahu jika perasaanya sangat dalam untuk laki-laki itu. Lebih baik mengakhirinya sekarang, daripada nanti kak, mungkin nanti rasa sakitnya akan jauh lebih dalam dari ini”


“Kami semua menyanyangimu Arya, kakek, ibu, aku, dan Mila hanya butuh waktu untuk menerima dirimu dihatinya, dan juga bang Irman sepertinya juga akan menerima di keluarga ini."

__ADS_1


“Ini semua hanya menunggu waktu kak, dan kalian semua akan membenci ku seumur hidup kalian,” jawab Arya singkat dengan nada datar.


“Kenapa? kenapa kami harus membenci orang sebaikmu?” tanya Vanessa dengan nada bingung karena ucapan Arya


__ADS_2