Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Di mana kau 3


__ADS_3

Varrel POV.


Aku terbangun dari tidurku setelah beberapa kali aku menggeliat di atas tempat tidur, pandanganku langsung tertuju pada jam dinding yang berwarna silver bergantung indah disana. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan.


Aku pun mulai beranjak bangkit dari ranjang. Namun tiba-tiba saja entah kenapa kepalaku berdenyut sangat hebat. Rasanya seperti tertimpa batu besar yang menghantam.


"Aaagggrrr.... Sakit sekali." Aku pun kembali menjatuhkan tubuhku di atas ranjang. Seluruh tubuhku terasa sangat lemah tak bertenaga.


Aku pun teringat, kalau sudah tiga hari ini tubuh ku belum mendapatkan asumsi makanan apapun.


"Chahahhh...." seluruh badanku terasa ingin tertawa melihat kondisiku seperti ini lemah tak bertenaga.


Kesalahan bodoh yang aku lakukan membuat semua orang secara perlahan-lahan membenci diriku. Sampai Ibuku saja tidak ingin bertemu denganku sebelum aku menemukan istriku. Bagaimana tidak, aku sudah menyia-nyiakan seorang istri yang sangat baik dan penuh kasih sayang. Aku sangat bodoh-bodoh dan bodoh. Kenapa aku tidak mempercayainya yang sudah jelas dia tidak pernah berbohong kepadaku sama sekali.


Aku sungguh laki-laki yang tidak berperasaan, biadab, tidak berguna, bagaimana bisa aku memaki istriku sendiri dihadapan semua orang dan membela orang lain. ckkkk. Tidak berguna, brensekkkk.


Air mataku mengalir di ujung pelipis mata ku. Keluar tanpa di perintah dan mengalir begitu saja.


Aku sungguh sangat menyesal. Olif, bisakah kamu memberikanku kesempatan sekali saja, aku mohon. Aku sangat ingin memperbaiki hubungan kita, aku tidak bisa kehilangan dirimu sayang. Hatiku bagaikan ruangan kosong saat melewati hari-hari tanpamu.


Dimana kamu Olif, aku sangat merindukanmu. Aku tau aku salah, karena tidak mempercayaimu tapi please. aku mohon jangan menghilang seperti ini. Aku tidak tau harus mencarimu kemana hik...


Tangisan ku pun akhirnya pecah bergumuru keseluruhan penjuru kamar. Aku tidak bisa lagi menahan bendungan air mataku kian menumpuk di pelipis mataku. Aku berteriak memanggil nama istriku...


"Olif..." entah berapa kali sudah aku memanggil namanya dalam Isak tangis.

__ADS_1


****


Setelah selesai mengeluarkan seluruh kerinduanku terhadap istriku Olivia Wilde.


Aku pun menguatkan seluruh tenaga untuk bangkit dari ranjang dan turun kelantai satu. Bau aroma makanan yang sangat menyengat membuat hidungku menghirupnya dengan sangat dalam tak kala langkah kakiku berada di tengah-tengah anak tangga.


Hawa lapar pun meningkat, semua cacing di perutku seakan berdemo meminta jatah sarapan mereka. Sudah tiga hari ini mereka belum menyentuh makanan apapun.


Aku pun melanjutkan langkahku selebar mungkin supaya segera sampai di meja makan, rasanya aku ingin menghabiskan semua makanan yang di masak Bi Jumi.


Entah langkah yang keberapa tiba-tiba saja telingaku mendengar suara nyanyian seseorang yang begitu keras. Langkahku pun berhenti seketika, telingaku semakin terbuka lebar saat suara tawa itu terdengar semakin keras.


Secara perlahan-lahan kaki ku memutar arah berjalan mencari sumber suara nyanyian itu.


Leri gooo... Leri gooo...


Wajahku langsung tersenyum lebar tak kala manik-manik mata kecoklatan ku melihat seseorang yang sangat aku rindukan sedang menari-nari sambil memegang sapu lantai.


Sesekali aku tertawa kecil saat mendengar lirikan lagu seakan salah dinyanyikan. Sepertinya dia tidak pandai menyanyikan lagu Inggris.


Hingga tanpa aku sadari teryata Bi Jumi sudah berdiri di sampingku sembari berkata.


"Tuan..."


"Suuuttt jangan berisik. Bibi lihatlah dia sangat lucu kan. hahaha..." sahutku tanpa berpaling sedikit pun, sorot mataku tidak bergeming menatap wanita yang sangat aku cintai terlihat semakin semangat bernyanyi.

__ADS_1


Bi Jumi melihat kearah yang dilihat Varrel. Manik-manik matanya menatap sekeliling ruangan namun tidak menemukan apapun kecuali sofa dan beberapa bunga hias plastik yang terletak di samping sudut ruangan.


"Tuan muda. Bi Jumi sudah memasak masakan kesukaan Tuan. Ayo Tuan, sarapan dulu nanti Tuan bisa sakit kalau enggak sarapan. Kalau Non Olif tau, beliau pasti akan sangat marah kepada Bibi Tuan." ucap Bi Jumi sembari memegang pergelangan tanganku berusaha menarik diriku.


Namun aku menghantamnya kasa. Aku tidak bisa makan sarapan sekarang, aku harus mengajari istriku dulu bagaimana caranya bernyanyi dengan benar.


"Bibi sarapan saja duluan, aku mau mengajari Olif dulu. Sayang... Bukan seperti itu liriknya, kemari aku kan menunjukkan lirik yang sebenarnya kepadamu." ucap ku.


"Ya Tuhan. Apa yang terjadi denganmu Tuan muda." Bi Jumi sudah mulai khawatir. Dia dengan segera berlari mengambil telepon genggam yang kala itu tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Ting... Tong... Ting... Tong...


Suara bel berbunyi yang hampir secara bersamaan membuat Bi Jumi mengurungkan niatnya, dia lebih memilih membuka pintu terlebih dahulu ketimbang menelpon dokter.


Ceklekkkk.... Bi Jumi dengan tergesa-gesa membukakan pintu utama.


"Selamat pagi Bi." ucap seseorang laki-laki berparas blesteran bule menyapa Bu Jumi diiringi dengan senyumannya yang mengembang.


"Tua, untuk saja Tuan cepat datang. Tolongin Bibi Tuan, tolong." ucap Bi Jumi gugup, terlihat dari ekspresi yang di tunjukkan Bi Jumi sangat khawatir membuat laki blesteran bule itu segera bertanya.


"Apa yang terjadi Bi. Bibi kenapa...??" Viki mulai panik.


"Tuan muda. Dia---" Viki tidak bisa mendengar kelanjutan dari ucapan Bi Jumi lebih baik dia lihat sendiri apa yang sudah terjadi. Dengan terburu-buru Viki menerobos masuk kedalam.


"Varrel...."

__ADS_1


Bersambung...


Ini bab kedua 🥰. Jangan lupa tinggalkan like dan vote atau beri hadiah 😁😘😘


__ADS_2