Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Itu Hadiah Dariku


__ADS_3

“aku, aku Mila, Mila dewi rakarsa, istrinya Arya” ucap Mila yang membuat Tomy setengah kaget dengan apa yang dia dengar.


“istri Arya, kamu sudah menikah Arya?, kenapa tidak bilang-bilang?” nada Tomy terdengar kesal.


Arya diam, dia kemudian kembali melirik Mila dan memintanya untuk menjawab.


“aku yang minta suamiku untuk merahasiakannya dari siapa pun, nanti kalau waktunya sudah tepat, kami tidak akan menutupinya lagi” jawab Mila lagi,


Tomy pun menyadari dari jawaban Mila seperti ada masalah diantara Mila dan Arya.


“kenapa kamu juga tidak memberi tahu orang tuaku?” kesal Tomy pada Arya.


“mereka juga orang tuaku, nanti aku akan mengajak istriku ini untuk menemui mereka” Jawab Arya sembari merangkul bahu Mila dengan tangan kanannya dan merapatkan tubuh mereka hingga bersentuhan, ia ingin memperlihatkan kepada Tomy bahwa tidak ada masalah antara dia dengan Mila.


Arya dan Tomy sudah saling mengenal satu sama lain, dari wajahnya Tomy, Arya sudah tahu kalau Tomy merasakan ada yang aneh antara ia dan Mila.


Mila melirik tangan Arya dengan kesal, ‘sial, dia mencari-cari kesempatan untuk menyentuhku’ kesalnya.


“suamiku, aku sudah capek, aku mau tidur duluan, kamu temani dulu saudaramu ini untuk ngobrol ya” ucap Mila dengan nada dibuat sememelas mungkin kepada Arya.


Mila sendiri juga tidak mau jika ada orang lain tahu tentang masalah dirinya dan Arya. Untuk itu ia berbicara kepada Arya dengan nada seakrab mungkin di depan Tomy.


“baik istriku, kamu tidurlah dulu, aku tahu kamu kecapek an dari semalam” ucap Arya dengan senyum penuh kemenangan atas sikap Mila.


'dia istriku, aku akan bersabar dengannya sampai dia membuka hatinya untukku' batin Arya, karena ia hanya ingin menikah sekali dalam hidupnya, dan sekarang pernikahan yang sekali telah ia jalin dengan Mila, sehingga ia lebih memilih bersabar dan memperlakukan Mila dengan baik sampai Mila membuka hati untuknya.


Mila kemudian masuk ke kamarnya, ia naik ke ranjang dan memukul-mukul bantalnya untuk melepaskan kekesalan hatinya.


‘dia benar-benar kurang ajar, pasti ia sengaja mencari-cari kesempatan untuk menyentuhku’


*


Arya dan Tomy tengah duduk di teras rumah, mereka tengah menikmati teh hangat yang disajikan oleh Vanessa sebelumnya.


“ceritakan antara kamu dan Mila, aku akan mendengarkan” ucap Tomy datar tanpa menatap Arya. Arya menghembus nafas panjang.


'sepertinya memang tidak bisa merahasiakan apapun dari Tomy’


Arya kemudian menceritakan semuanya pada Tomy tanpa ketinggalan sedikitpun mulai dari pak Sarman yang menelponnya ketika sedang mendaki gunung Slamet hingga rencana ke Semeru yang akhirnya cancel, dan hanya tentang kesepakatannya dengan Mila yang tidak ia ceritakan. Karena memang salah satu poin kesepakatan itu adalah hanya mereka yang tahu tentang kesepakatan itu.


Tomy menatap Arya dengan mata prihatin, Ia merasa tidak senang dengan perjodohan yang dijalani Arya.


Mungkin begitulah sahabat sesungguhnya, dapat merasakan apa yang dirasakan sahabatnya, tanpa perlu berada pada posisi yang sama.


“aku kesini ingin mengabarkan kepadamu bahwa aku akan menikah,” ucap Tomy setelah menyelesaikan pembicaraan tentang Mila.

__ADS_1


“oh ya, sama siapa?”


“kamu tidak tahu orangnya, nanti waktu lamaran aku akan mengajakmu, setelah menikah aku akan pindah ke Jakarta sesuai permintaanmu dulu”


Arya memang meminta Tomy untuk pindah ke Jakarta agar dekat dengannya, ia merasa tidak tenang jika harus berjauhan dengan Tomy, sementara Tomy belum bisa memenuhi permintaan Arya tersebut karena ia ditempatkan kerja di Bandung.


“Jika aku sudah menikah, nanti aku bisa ajukan pindah tugas ke sini”


“kamu sudah aku ajak ikut ke perusahaan, tapi malah nolak, kalau tidakkan kamu dari lama sudah di Jakarta”


Tomy tersenyum mendengar ucapan Arya, ia kemudian bangkit dan mengusap bahu Arya.


“aku harus pulang, aku tidur di kontrakanmu malam ini, telfonlah ibu dan ayah, dan beritahu kamu sudah menikah, seminggu lagi aku akan menelfon mereka, jika kamu belum memberi tahu mereka, aku yang akan ngasih tahu mereka” ucap Tomy yang kemudian pergi meningalkan Arya.


Arya mendengus kesal melihat punggung Tomy yang telah melangkah pergi, ‘kenapa dia harus datang hari ini sih, nambah masalah aja’


*


Vanessa baru saja bangun dari tidurnya, ia segera membersihkan dirinya di kamar mandi yang terletak di sudut kamarnya. Setelah selesai dari kamar mandi, ia kemudian duduk di meja riasnya untuk mempersiapkan diri menjalani hari.


Dari cermin meja rias itu ia dapat melihat Irman yang akhirnya setelah 3 hari pulang juga ke rumah. Irman pulang setelah larut malam. Vanessa sebenarnya ingin sekali bertanya kemana saja suaminya setelah 3 hari tidak pernah tidur di rumah, namun niat itu ia urungkan karena takut akan menyulut amarah suaminya itu di tengah malam, apa lagi sebelumnya Irman memang jarang tidur di rumah, ia seolah sudah terbiasa dengan kesendiriannya di kamar itu.


Vanessa menghembuskan nafas panjang ketika ia telah selesai ritual di meja riasnya, ia kemudian bangkit dan turun ke bawah bersiap untuk segera masak.


Baru saja Vanessa turun dari tangga, ia mendengar suara gemericik air dari kamar mandi utama.


Pintu kamar mandi utama itu terbuka, Arya melangkah keluar dengan masih mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Ketika ia melewati dapur, ia melihat Vanessa yang tengah sibuk membersihkan tempat favoritnya itu, karena memang Vanessa memiliki hobi memasak, sehingga ia selalu semangat di tempat itu, setiap hari ia selalu menyajikan menu berbeda di meja makan.


“pagi-pagi udah masak kak?” suara Arya mengagetkan Vanessa.


“eh Arya, iya, kakak udah biasa masak pagi-pagi kayak gini, kamu baru siap mandi,?”


“iya kak, aku sudah biasa mandi jam segini”


“pagi sekali mandinya, kenapa?”


“siap-siap aja untuk subuh kak, apa Mila nggak pernah masak kak?” entah mengapa Arya begitu ingin sekali mengenal Mila lebih dalam.


“pernah kok, tapi karena dia ngajar, jadi urusan dapur tanggung jawab kakak, kan kakak nggak ada kerja di luar” Vanessa dengan cekatan memotong wortel yang disiapkan sebagai tambahan nasi goreng yang hendak Ia masak.


“masakan Mila seenak masakan kakak?” Arya sebenarnya masih penasaran dengan Mila, ia ingin sekali berbagi cerita dengan Mila yang sebenarnya telah membuatnya jatuh hati sejak mengucapkan doa ketika ia mencium ubun-ubun Mila di hari pernikahan mereka.


Namun ia harus menerima kenyataan dimana Mila mengatakan tidak menginginkan kehadirannya. Bahkan semalam pun ia menahan kegetiran hatinya setelah Tomy pulang.

__ADS_1


“tergantung, selera orang kan beda-beda, bisa jadi menurut kakak enak tapi menurut kamu nggak enak”


“berarti masakan dia nggak seenak masakan kakak kan?"


Arya kemudian berlalu menuju kamarnya sementara Vanessa tersenyum melihat pungung Arya yang berjalan menuju kamarnya,


‘kamu akan menyesal Mil jika kehilangan laki-laki seperti Arya’ batin Vanessa.


*


Jam telah menunjukkan pukul 06.30


Vanessa telah usai menghidangkan masakannya di meja makan, terdapat nasi goreng dengan beberapa minuman berbeda.


Kopi dibuatkan untuk suaminya Irman, teh hangat untuk dirinya dan susu putih untuk Mila, ia sebenarnya juga ingin membuatkan minuman untuk Arya, namun tidak dilakukannya karena tidak mengetahui minuman apa yang diinginkan Arya.


Mila baru saja keluar dari kamarnya hendak menuju meja makan, ia sudah siap untuk pergi mengajar ke sekolah dimana ia menjadi guru. Disaat yang bersamaan Irman juga baru saja turun dari tangga yang juga sudah bersiap-siap ke kantor.


Pandangan mata Irman bertemu dengan pandangan mata Mila, namun Irman hanya menghirup nafas panjang melihat adeknya yang tampak cantik walaupun tertutup cadar merah yang ia pakai.


“kayaknya udah nyaman tidur di luar, udah bosan di rumah ini bang?” ucap Mila dengan nada menyindir abangnya itu.


Namun Irman hanya diam tidak meladeni ucapan Mila, ia lebih memilih untuk langsung duduk dan menikmati minumannya yang membuat Mila mendesis kesal karena sikap abangnya itu.


Sementara Vanessa melihat Irman dengan wajah yang tidak bisa diterka, ia seperti menahan sesuatu di hatinya yang membuat wajahnya tampak pias.


Irman telah menikmati kopi dan nasi goreng yang ia makan, begitu pun Mila sarapan dengan susu dan nasi goreng serta Vanessa yang hanya meminum teh, karena memang biasanya Vanessa akan sarapan setelah mengantar Mila ke sekolah.


Sarapan pagi itu hening tanpa suara, situasi yang sama dengan hari-hari sebelumnya, setiap hari sarapan disana terasa tegang, terutama setelah Irman sering tidur di luar.


Ketika suasana hening itulah seorang pria datang menuju meja makan dengan tampilan sederhananya, ia kemudian menuju meja makan untuk pamit pergi bekerja.


Arya melihat suasana sarapan yang hening itu dengan tatapan heran. ‘apa mereka sedang perang dingin?, kenapa mencekam seperti ini?’ batinnya.


Arya juga melihat wajah Irman yang memang sudah ia lihat di rumah sakit, jadi ia sudah langsung menyangka itulah suami Vanessa.


Namun itu adalah kali pertama Arya berjumpa dengan Irman di rumah itu, sehingga ada sedikit kecemasan di hati Arya melihat wajah dingin Irman.


“apa sedang ada masalah disini?, kenapa kalian pada tegang gini?” ucap Arya santai untuk memecah keheningan. Ia bahkan tidak peduli dengan tatapan tajam Mila yang melihat kedatangannya dan juga wajah dingin Irman seperti orang siap meledak kemarahannya. Berbeda dengan Vanessa yang menyambut kehadirannya dengan senyuman hangat.


“eeh Arya, ayo ikut sarapan, kamu mau minum apa?, biar kakak bikinin"


“nggak usah kak, aku harus langsung pergi, ada keperluan pagi ini, aku kesini cuma mau pamit” ucap Arya santai, kemudian ia melangkah ke arah pintu teras samping setelah pamit pada ketiga orang yang sarapan itu.


“hei, tunggu” ucap Irman yang kemudian bangkit dan melangkah ke arah Arya, refleks Arya memutar badannya ke arah sumber suara itu. dan satu pukulan mendarat mulus di pipinya.

__ADS_1


bugh,, “itu hadiah dariku”


__ADS_2