Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Ketegasan Ibu Ratna


__ADS_3

Di rumah Varrel dan Olif.


Ibu Ratna dan pak Edy baru saja sampai, mereka dipersilahkan masuk dengan segala hormat oleh Bi Jumi. Walaupun Bi Jumi belum mengenal kedua orang tersebut tapi Bi Jumi bisa menebak kalau kedua orang itu adalah orang tuan majikannya. Apalagi dilihat dari wajahnya sangat hampir mirip dengan wajah Varrel.


Keheningan melanda Bi Jumi tidak tau harus bertanya apa ataupun berbicara sepatah kata. Dia hanya berdiri mematung melihat Ibu Ratna nampak sangat marah sedang menatap kearahnya.


"Apa kamu orang baru yang bekerja di sini...??" akhirnya Bu Ratna mulai berbicara memecahkan keheningan. Sorot mata Ibu Ratna tak lepas memperhantinkan Bu Jumi dari kaki hingga kepala. Diikuti dengan keningnya yang berkerut karena belum pernah melihat Bi Jumi sebelumnya.


"Iya, nyonya." jawab Bi Jumi seraya sedikit menunduk memberikan tanda penghormatannya.


"Siapa yang memperkejakan mu dan sudah berapa lama kamu bekerja di sini...??"


"Saya diperkerjakan oleh Non Olif dan saya sudah seminggu bekerja di sini nyonya."


"Seminggu, itu berarti kamu tau apa saja yang telah terjadi di rumah ini bukan...??"


"Iya nyonya."


"Kalau begitu jawablah semua pertanyaanku dengan cepat dan benar. Kamu tidak boleh berbohong sedikit pun. Kami adalah orang tua majikan mu. Jadi kamu harus mematuhi apa yang kami perintahkan, kamu mengerti." tegas Ibu Ratna.


"Iya, nyonya. Saya akan melayani anda sebaik mungkin."


"Kalau begitu jawablah pertanyaanku. Apa selama kamu bekerja disini kamu sering melihat Varrel dan Olivia bertengkar...??"


"Tidak, nyonya. Hubungan Non Olif dan tuan Varrel sebelumnya sangatlah baik. Tidak ada kendala apapun hingga tiba-tiba datang seorang wanita yang ingin merusak hubungan Non Olif dan tuan Varrel." jelas Bi Jumi, ini adalah kesempatan bagi Jumi menceritakan semuanya pada orang tua majikannya. Agar Olif tidak dipersalahkan dalam kepergiannya meninggal sang suami.


"Apa, seorang wanita...??" Ibu Ratna langsung saja menaikkan alisnya. Sementara pak Edy hanya bisa diam melihat dua Ibu-ibu sedang berbicara serius.


"Iya. Beberapa hari yang lalu tuan muda di antar pulang oleh seorang wanita nyonya." Bi Jumi pun mulai menceritakan semuanya, semua apa yang di ketahui tentang Seli yang ingin merebut Varrel dari Olif dan pertengkaran Olif dan Seli dimalam pertama Bi Jumi tinggal disini. Namun dalam cerita Bi Jumi, dia tidak menyebutkan nama Seli. Dia hanya menyebutkan seorang wanita.


Darah tinggi Ibu Ratna sontak naik ke ubun-ubun tanpa pikir panjang. Sorot matanya langsung memerah menahan amarah. Pak Edy yang berada di sampingnya pun sudah berusaha menenangkan tapi tetap saja tidak bisa. Ibu Ratna malah marahi pak Edy.


"Jangan menghalangi Mama Pah, anak mu itu rupanya dia sangat ingin melihat Mama segera mati. Kali ini aku harus bertindak tegas terhadapnya kalau tidak hubungannya dan istrinya pasti akan hancur." Ucap Ibu Ratna.


"Iya Mah, tapi Mama jangan emosi seperti ini. Ingat kesehatan Mama, kalau Mama sakit bagaimana, siapa nantinya yang akan memasak buat Papa." tutur pak Edy masih berusaha menenangkan istrinya.

__ADS_1


"Pah, disaat seperti ini Papa masih sempat-sempatnya bercanda. Papa harus diam dan lihat bagaimana Mama mendidik anak keras kepalamu itu." tanpa menunggu lagi Ibu Ratna meraih tasnya dan mengambilnya ponsel, melekatkan benda tipis itu di telinganya sebelum sesaat ia mencari nama Varrel yang berada di daftar kontak.


Satu dua panggilan sudah dilakukan Ibu Ratna tapi sambungan telepon masih saja belum terhubung, Varrel tidak mengangkat panggilan dari Mamanya. Hingga di panggilan ketiga akhirnya sambungan telepon terhubung.


"Halo Mah, ada apa..." Suara Varrel dari sebrang sana.


"Cepat pulang ke rumahmu sekarang juga. Mama dan dan Papa ada disini kami ingin berbicara denganmu." suara Ibu Ratna terdengar sangat lantang dari sambil telepon.


"Tidak bisa Mah, Varrel harus ke apartemennya Seli. Dia tadi menghubungi Varrel meminta tolong Mah." Tolak Varrel.


"Kamu lebih mementingkan orang lain dari pada Mamamu sendiri." Suara Ibu Ratna semakin lantang.


"Bu-bukan begitu Mah."


"Kamu lagi ada dimana sekarang...??"


"Didalam perjalanan."


"Kalau begitu putar arah dan segera pulang ke rumah. Mama tidak mengijinkan kamu pergi ataupun bekerja hari ini. Pengalihan saham sudah Mama hentikan sampai waktunya tiba. Jadi sekarang kamu tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting, yang terpenting hubunganmu dan Olif."


"Mah, ---"


"Mama----" Tut... Panggilan langsung diakhiri oleh Ibu Ratna.


Varrel berdecak kesal atas hal itu, dia berpikir kalau Olif sedang mengadu sekarang pada orang tuanya.


"Ckkkk... Licik, dia memanfaatkan Ibuku dalam urusan ini. Benar-benar wanita licik." Varrel memukul stir mobil kasar. Dengan terpaksa dia memutar arah mobil, berbalik berjalan pulang ke rumahnya. Ke rumah yang sangat ia hindari.


"Pokoknya Papa harus diam jangan bicara sepatah katapun. Biar Mama saja yang akan berbicara pada anakmu itu. Kali ini Mama tidak akan mengampuninya." tutur Ibu Ratna semakin emosi.


"Iya, Mah. Tapi Mama harus menenangkan diri Mama dulu, jangan emosi seperti ini."


"Bagaimana tidak emosi anakmu itu sudah membuat aku hampir mati karena memikirkannya. Dia sangat ingin melihat Ibunya ditertawakan oleh orang lain."


**

__ADS_1


Beberapa saat kemudian suara mabil masuk kepakaran rumah pun terdengar, Bi Jumi yang mendengar itupun langsung saja menghampiri, membukakan pintu untuk Varrel yang berjalan tergesa-gesa masuk hendak kedalam rumah.


"Mah." Panggil Varrel dirinya berjalan cepat menuju ruangan keluarga.


Hingga berselang beberapa saat Varrel memelankan langkah kakinya secara berangsur-angsur. Kedua manik matanya menatap kearah Ibu Ratna dan Pak Edy secara bersamaan. Keningnya berkerut saat dirinya tidak melihat keberadaan Olif disitu.


"Kemari." Ibu Ratna menunjuk sofa kosong berada tepat didepannya.


Varrel hanya mengangguk dia pun langsung duduk di sofa yang ditunjukkan Mamanya tadi.


"Dimana istrimu...??" tanya Ibu Ratna to the point.


Mendengar itu Varrel semakin mengerutkan keningnya. Bagaimana tidak dia berpikir kalau Olif berada di rumah ini dan dia juga yang memanggil orang tuanya kesini. Tapi kenapa tiba-tiba Ibu Ratna bertanya dimana istrinya. Varrel semakin mengerutkan keningnya hingga terlihat goresan hitam di pelipis keningnya. Dia benar-benar tidak tau dimana keberadaan Olif sekarang.


"Varrel tidak tau Mah." jawab Varrel singkat.


"Tidak tau, istri siapa dia. Apa dia istri orang lain sehingga kamu tidak tau dimana istrimu sendiri heh." suara Ibu Ratna kian meninggi, menajamkan matanya.


Varrel tidak menjawab, dia diam membisu tanpa berkata apa-apa, sorot matanya langsung teralih pada Bik Jumi yang berdiri tepat di samping Mamanya. Mengisyaratkan pada wanita tua itu untuk mengatakan dimana istrinya sekarang.


Bu Jumi yang tau akan maksud dari lirikan itupun segera menundukkan kepalanya sembari berkata.


"Maaf tuan, saya tidak tau dimana keberadaan Non Olif. Sudah dari semalam Non Olif tidak pulang tuan. Bibik sangat khawatir." ucap Bi Jumi terpaksa berbohong.


Maafkan saya tuan muda, saya terpaksa berbohong. Ini semua demi kebaikan Non Olif. Anda sudah sangat menyakiti perasaannya. Bibi harap tuan segera sadar dan mencari Non Olif. Membawa kembali ke rumah.


"Kamu dengarkan apa yang baru saja dikatakan. Kalau sudah dari semalam istrimu tidak pulang ke rumah dan kamu tidak mencarinya."


Cihhhh... Dia pasti kelayapan mencari mangsa selanjutnya. Dasar perempuan pelac**


"Kalau dia tidak pulang itu berarti dia sedang melayani para lelaki hidung belang." sahut Varrel.


"Varrel..." teriak Ibu Ratna sontak berdiri dari sofa.


"Itu kenyataannya Mah. Dia mengkhianati Varrel, dia lebih memilih memberikan kesuciannya kepada laki-laki lain ketimbang suaminya sendiri. Dia wanita pelac** dan murahan Mah. Varrel sangat menyesal karena telah menikahinya."

__ADS_1


Plakkk.... Sebuah tamparan keras berhasil mengenai pipi Varrel dengan sangat kuat.


Maaf telat update 🙏. soalnya hari ini Mr queen episode terakhir 😭


__ADS_2