
“jika kamu mau menolak keinginan kakek, aku sudah siap mendebat kakek tadi, apapun resiko yang harus aku tanggung, bahkan aku siap menjamin Arnes dengan diriku di depan kakek, kamu dari dulu selalu gegabah mengambil keputusan, seolah-olah aku tidak peduli denganmu” marah Irman tak bisa ia tahan, ia merasa telah gagal menyelamatkan Mila dari kehidupan yang tidak Mila inginkan.
Sementara itu Vanessa melihat amarah suaminya yang mulai naik segera mendekat, ia tahu betul Mila tidak mau disalahkan atas semua keputusan yang Mila ambil. ‘diam Mil, jangan jawab lagi kata-kata abangmu, atau ia akan lepas kontrol’ batin Vanessa, ia setengah berlari menuju arah Irman.
Sedangkan Mila yang mulai merasa terpojok oleh kata Irman telah siap menjawab, “jangan sok peduli denganku bang, pikirkan saja pekerjaanmu yang banyak itu, bahkan kamu lebih mau meluangkan waktu untuk tidur diluar setiap harikarena pekerjaanmu itu” ucap Mila dengan suara yang tak kalah keras dari Irman.
Vanessa mulai memucat, tangan suaminya sudah terangkat ke atas dan siap menggampar Mila, sebelum tangan itu benar-benar menggampar Mila, Vanessa telah terlebih dulu meraihnya. “udah bang,, udah, lebih baik kamu ke kamar menenangkan diri
dulu” ucap Vanessa pelan.
Irman menatap tajam Mila dengan wajah penuh amarah, “sudah bang,, aku mohon , jangan bertengkar lagi” ucap Vanessa dengan suara gemetar penuh ketakutan. Irman terdiam, ia menurunkan tangannya dan berjalan ke kamarnya di lantai dua, dan Vanessa mengiringinya dibelakang sembari menatap Mila ‘udah Mil, jangan perpanjang lagi, kakak mohon’ batin Vanessa pada Mila tanpa bersuara.
‘Kenapa dia selalu merasa dapat menyelamatkan semua, seolah-olah ia bisa menolong siapapun yang ingin dia tolong’ gumam Mila kesal.
Jam baru saja menunjukkan pukul delapan pagi, namun Arya sudah hampir 4 jam berada
di ketinggian 3.428 mdpl, tepatnya ia berada di puncak gunung Slamet. Wajahnya menatap panjang ke angkasa luas, ia merasa puas dengan apa yang telah ia dapati sejak subuh tadi. Cuaca begitu cerah bersahabat tanpa kabut yang menyelimuti.
Cuaca yang ingin didapatkan oleh semua pendaki di gunung manapun mendaki. Terkadang sebagai pendaki tidak selalu mendapatkan apa yang ingin dilihat karena cuaca yang terkadang berkabut, hujan atau bahkan badai. Tapi itulah resiko setiap pendakian dan Arya sudah terbiasa dengan itu semua.
“tidak menyesal gue kesini rya, benar-benar manusia paling beruntung kita” ucap Ari dengan dengan wajah penuh kebahagiaan. Ia sedang melihat-lihat foto-foto yang telah banyak diambilnya melalui kamera dslrnya.
Sementara Arya tidak peduli sama sekali dengan ucapan Ari, matanya tidak henti-hentinya memandang langit biru yang beralaskan awan putih yang terlihat sejauh mata memandang, Seolah-olah langit biru hanya beralaskan awan putih yang bergumpal seperti kapas lembut.
‘Alhamdulilah, aku masih dapat melihat kebesaran-Mu seperti ini lagi’ ucap Arya yang tidak ada henti-hentinya bersyukur sejak ia dan Ari berjalan menuju puncak sebelum azan shubuh berkumandang. Arya kemudian duduk sembari menikmati semilir angin dengan pemandangan indah yang tak bisa digambarkannya melalui kata-kata.
‘bagaimana mungkin aku bisa berhenti mendaki, aku selalu saja merindukan pemandangan ini’ batin Arya.
__ADS_1
Matahari sudah mulai meninggi, panas mulai menyengat di puncak gunung Slamet itu. Arya dan Ari telah berjalan turun menuju lokasi camp mereka.
“Kita turun jam berapa nanti?” tanya Ari pada Arya.
“Habis isya aja Ri, gue mau istirahat dulu di tenda” jawab Arya ketus.
“Yakin lo?, kita turun malam?” tanya Ari,
“iya, kenapa? biasanya kita naik dan turun juga malam kan?” ucap Arya santai.
“ya nggak masalah, terserah lo lah, kan Cuma lo yang bisa mutusin segala sesuatu” ucap
Ari kesal. Ia tahu betul seperti seorang Arya, sekalipun ia minta turun sore, Arya tak kan mau memenuhinya, bahkan Arya akan menyuruhnya pergi duluan dan ia akan turun sendiri. Dan tentu saja Ari tidak akan membiarkan itu terjadi, karena akan sangat bahaya jika pendaki hanya seorang diri di gunung.
Arya dan Ari telah berjalan lebih kurang 2 jam dari puncak gunung menuju tempat mereka mendirikan camp. Ponsel Arya tiba-tiba langsung berbunyi ketika sudah mendapatkan sinyal di area camp tersebut.
Setelah mendirikan tenda sekitar pukul 3 malam, ia ingin segera tidur karena capek. Namun Arya malah ingin segera ke puncak karena fajar akan segera tiba. Jadilah ia menemani Arya ke puncak, karena Ia tahu, jika ia tidak mau, maka Arya akan ke puncak sendirian. Walaupun lelah, ia telah puas dengan pemandangan yang mereka dapati tadi di puncak.
Arya menatap layar ponselnya yang masih berdering, karena tidak ada nama siapa yang
menelfonnya,, ia kemudian melempar ponsel tersebut, dan ingin segera beristirahat. Sementara Ari telah terlelap tidur di sampingnya.
“nggak diangkat Rya?” tanya Tomy, Saudara Arya yang juga ikut mendaki, tapi ia tidak ikut dengan Ari dan Arya ke puncak.
“nggak, nomor baru” jawab Arya ketus.
“kan nggak ada salahnya diangkat?, mana tahu penting” ucap Tomy yang sedang mencoba menghidupkan kompor gas kecilnya untuk masak makan siang.
__ADS_1
“belakangan ini banyak sekali nomor baru yang menghubungiku, tawaran pinjamanlah, menang hadiahlah, salah sambunglah mungkin ini juga sama” Arya mengumpat kesal dengan beberapa orang yang menghubunginya untuk hal-hal yang tidak penting sama sekali.
Arya baru saja setengah sadar untuk segera masuk ke alam bawah sadarnya, namun dering ponselnya kembali terdengar yang segera membawanya untuk kembali ke dunia nyata.
“astaga,, siapa sih?” umpat Arya kesal,
Sementara Ari yang tidur di sebelahnya tidak
terbangun sama sekali.
“Angkat saja rya, mana tahu penting” ucap Tomy yang tengah asik dengan telur goreng
yang tengah di masaknya.
Arya kemudian meraih ponselnya dengan kesal. "assalamualaikum” ucapnya malas.
“walaikumussalam, akhirnya kamu angkat rya, dari pagi saya menelfonmu, tapi baru bisa terhubung sekarang” ucap pak Sarman di seberang telfon Arya.
“iya pak, anda siapa, kenapa anda menelfon saya” ucap Arya sebal dengan suara orang tua di ponselnya itu.
“hahaha, lagi dimana kamu?” ucap pak Sarman yang menahan tawa karena mendengar suara Arya yang kesal.
“saya lagi di gunung pak, sepertinya saya harus beritahu anda bahwa anda telah mengganggu waktu istirahat saya” ucap Arya yang bertambah kesal karena tawa pak Sarman.
“hahaha, kapan kamu bisa ke Jakarta?, saya ingin menagih janjimu pada saya dulu” ucap
pak Sarman santai, suaranya yang biasanya sesak telah mulai kembali normal. Mata Arya membelalak, ‘janji,,, ada janji apa saya dengan orang tua ini’ batin Arya
__ADS_1