
‘kenapa kamu masih bela Mila Arya?, aku tahu, Mila pasti mau menjalankan rencana Arnes terhadapmu, jika seperti ini kamu hanya akan jadi korban dari keegoisan keluarga ini Arya, keegoisan kakek dan Mila, bahkan Mila sampai hati menyuruhmu tidur di kamar pembantu’ batin Vanessa yang merasa iba dengan Arya.
Di rumah itu memang ada sebuah kamar khusus pembantu di belakang, namun kamar tersebut sudah lama kosong dan tidak terurus. Itu karena Vanessa menolak pada kakek dan Irman untuk mempekerjakan pembantu. Vanessa merasa ia masih mampu membereskan semua pekerjaan rumah tanpa harus ada pembantu di rumah itu.
“Di depan masih ada kamar tamu yang tidak terpakai, lebih baik kamu disana daripada kamar belakang” tawar Vanessa pada Arya.
“terserah aja kak, yang penting aku bisa tidur sendiri”
Vanessa membuang nafas panjang mendengar jawaban Arya.
“ayo ikut aku” Vanessa lalu berjalan menuju kamar tamu yang diikuti Arya dibelakangnya.
Arya kemudian masuk ke kamar tersebut, ia menguncinya dari dalam, kemudian melepas dasi, jas, dan kemejanya, ia juga melepas celana panjang dan merebahkan diri di atas kasur. dengan pakaian baju kaos dan celana pendek. Arya menatap langit-langit rumah tersebut dengan rasa getir di hatinya.
Perlakuan Mila padanya benar-benar membuatnya hancur, ia merasa tidak dihargai sebagai seorang suami sahnya Mila, dan bahkan ia merasa direndahkan sebagai seorang laki-laki.
Arya sendiri tidak menyangka Mila akan memperlakukannya seperti itu. Dibalik wajah cantik Mila yang tersimpan di balik cadarnya, ternyata dia memiliki sikap keras dan tidak peduli dengan perasaan orang lain. Mungkin memang demikian penilaian Arya terhadap Mila sekarang.
‘terimakasih pak Sarman, kau benar-benar telah menghancurkan hidupku’ gumam Arya sebelum ia terbang ke alam mimpi membawa rasa getir di hatinya.
*
Mila keluar dari kamarnya karena mulai merasa lapar. Ia berjalan ke arah meja makan dan melihat beberapa makanan kesukaannya telah dihidangkan oleh Vanessa.
“makasih kak, kamu memasak makanan kesukaan ku lagi” Mila memperhatikan Vanessa yang masih asik memindahkan makanan dari kuali masak ke piring.
__ADS_1
"sama-sama dek”
Mila duduk di meja makan, ia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi, ia mengambil sepotong ayam goreng serta kepiting merah kesukaannya.
“kamu kenapa menyuruh Arya ke kamar belakang?” tanya Vanessa yang disambut ekspresi datar oleh Mila. Ruang makan rumah tersebut memang menyatu dengan dapur, sehingga Mila dan Vanessa dapat berbicara santai.
“dia tidak mau sekamar denganku, jadi aku suruh dia ke kamar belakang” Mila dengan santai menjawab pertanyaan Vanessa.
“dia atau kamu yang tidak mau kalian sekamar?” Suara Vanessa terdengar mulai mendekat ke arah Mila. Vanessa membawa sepiring sayur lodeh yang baru saja selesai dimasaknya. Namun Mila diam tak mau menjawab dan wajahnya masih menunjukkan ekspresi datar.
“kakak tahu, kamu masih ingin menjalankan rencana Arnes kan?” selidik Vanessa yang sebenarnya sudah tahu cara berpikir Mila.
“maaf kak, aku harap kakak mendukungku sekarang” ucap Mila pelan dengan nada berharap, Mila berharap Vanessa akan selalu mendukungnya seperti apa yang Vanessa lakukan sebelumnya.
“kakak akan selalu mendukungmu dek, kakak hanya takut kamu kecewa nantinya, lagi pula Arya sepertinya orang baik dan sikapnya juga bersahabat, kamu nanti bisa kecewa jika menyia-nyiakannya” Vanessa kemudian mengambil piring dan nasi untuk segera ikut makan dengan Mila.
“iya, lakukan yang ingin kamu lakukan, kakak akan mendukungmu, kamu nggak melepas cadarmu?” Vanessa melirik heran ke arah Mila yang masih mengenakan cadarnya. Karena memang biasanya Mila akan melepas cadarnya jika hendak makan.
“aku nggak mau dia melihat wajahku” jawab Mila ketus.
Vanessa menarik nafas panjang, ia kemudian ikut makan bersama Mila. Vanessa memang tidak memanggil Arya untuk makan bersama, karena memang Arya barus saja masuk ke kamar untuk istirahat jadi dia tidak ingin mengganggu waktu istirahatnya Arya.
*
Sore telah menjelang, cuaca panas ibukota jelas terasa bagi setiap orang yang beraktifitas. Tapi tidak bagi orang-orang yang berada di dalam perlindungan pendingin ruangan. Begitu pun dengan Arya yang terlelap tidur karena suhu ruangan yang dingin dan sejuk karena bantuan pendingin ruangan.
__ADS_1
Arya mengusap matanya, dan kemudian bangkit, ia perlahan membuka matanya dan melihat suasana baru yang berbeda dari biasanya. Ia kemudian tersadar bahwa ia memang berada di tempat yang baru, di rumah barunya, di rumah istrinya.
Arya kemudian meraih ponsel dan melihat jam. ‘astaga, udah mau ashar, aku belum zuhur lagi’ Arya segera bangkit, ia keluar dan mencari kamar mandi untuk segera berwudhu.
Selesai sholat, Arya langsung keluar dari rumah, ia berjalan menuju motornya dan mendapati Vanessa tengah asik merawat bunga di halaman.
“suka berkebun juga kak?” tanya Arya pada Vanessa. Ia kemudian berjalan langsung menuju motor bebek kesayangannya. “iya Arya, kamu mau kemana?”
“keluar kak, aku mau ke kontrakan, sekalian ada sedikit kerjaan juga” Arya telah berhasil menyalakan motornya, “hati-hati, jangan pulang larut ya” ucap Vanessa setengah berteriak agar terdengar oleh Arya.
Sejenak Arya terdiam, ia benar-benar tak yakin bisa betah tinggal di rumah itu. Hatinya sekali lagi merasa getir dengan nasib yang harus ia jalani.
Arya tersenyum pada Vanessa dan kemudian pamit pergi.
Tujuan motor bebek Arya adalah kontrakan kecilnya, ia segera merebahkan tubuhnya di ranjang kecilnya dan menikmati kasurnya dengan memejamkan mata. Ia ingin merasakan sentuhan hangat kasur yang telah lama menemaninya itu. ‘kasur ini jauh lebih nyaman daripada kasur mewah tadi’ ucapnya merutuki rumah Mila.
Arya kemudian membuka ponselnya yang telah diabaikannya sejak di toko perhiasan tadi, Matanya yang sebelumnya santai langsung terbelalak melihat notifikasi mulai menumpuk. Ada 26 panggilan tak terjawab dari Ari, Tomy dan satu kontak yang membuatnya merasa khawatir, yaitu panggilan dari orang tuanya.
Arya langsung kembali menelfon orang tuanya, hatinya kembali kalut, ia tak tahu apa harus mengabari orang tuanya tentang pernikahannya dengan Mila atau tidak.
‘aku telah bersepakat dengan Mila untuk tidak memberitahu orang tentang pernikahan ini, tapi mana mungkin aku tidak memberitahu orang tua ku sendiri’ batin Arya bingung dengan situasi yang harus dia hadapi.
“assalamualaikum, Arya” suara serak seorang wanita paruh baya terdengar dari telfonnya
“walaikumussalam bibi, gimana kabar bibi? kok tadi tiba-tiba nelfon?” tanya Arya langsung pada orang tuanya
__ADS_1
“tadi bibi tiba-tiba ada firasat aneh tentang kamu, makanya bibi langsung telfon” mendengar ucapan itu Arya langsung terdiam, hatinya terasa kelu, bahkan orang tuanya pun sudah punya firasat tentang dirinya.
“hallo Arya,, eh ini masih nyambungkan?” ucap orang di seberang telfon itu yang merasa aneh karena Arya tidak menyahut suaranya. ‘apa aku harus bilang pada orang tuaku tentang pernikahan ini?’