
“Mulai detik ini, jangan pernah pergi dari sisi Mila walau hanya sedetik saja” ucap Irman penuh penekanan kepada Arya
Arya kemudian bangkit dan berdiri, ia membalas tatapan tajam Irman,
“aku dan dia akan segera bercerai, suruh saja pacarnya itu untuk menjaganya”
Mila yang mendengar ucapan Arya benar-benar dibuat hancur, ia sama sekali tidak menginginkan hubungan itu berakhir, karena hatinya masih mengharapkan Arya mau memaafkannya, sebuah harapan yang selalu tersimpan sejak Arya pergi meninggalkannya, namun sekarang karena kesalahannya sendiri, harapan itu menjadi pupus.
Arya kemudian berbalik badan dan kembali sebuah pukulan melayang di punggungnya, yang membuatnya kembali terjatuh ke lantai, Vanessa langsung memeluk suaminya agar tidak memukul Arya lagi, sementara Mila hanya bisa menangis sembari mendekap mulutnya agar tidak bersuara, hidupnya hancur, harapannya hancur, dan sekarang karenanya, Arya juga ikut hancur, tidak hanya hancur perasaan, tetapi juga sakit secara fisik.
“kehormatan adikku sedang diintai laki-laki lain, dan kau seenaknnya berbicara seperti ini”
“kehormatan adikmu?, kamu menyuruhku menjaga kehormatan adikmu, sementara adikmu tanpa ada perasaan sedikit pun menginjak-injak kehormatanku” ucap Arya yang membuat Vanessa dan Arnes kebingungan dengan ucapan Arya, sementara Mila hanya bisa terisak menahan pilu atas kesalahannya pada Arya.
Arya kemudian berdiri dan menatap tajam ke arah Irman, ia kemudian berbalik badan dan berlari keluar rumah dengan tubuh sempoyongan karena pukulan Irman, ia bahkan terjatuh di tangga ketika turun dari teras rumah itu, ia kemudian bangkit dan berlari menuju motornya untuk pergi, tanpa ia sadari buku birunya telah terjatuh dari saku celana gunung yang tidak ia kancingi tadi.
Sementara Mila telah berpindah ke kasurnya dan meringkuk sedih menahan pilu, dunianya terasa runtuh, ia baru saja mendengar pengkhianatan Arnes dari abangnya, dan sekarang ia juga harus siap ditinggalkan oleh Arya.
*
Mila baru saja keluar dari kamarnya, ia langsung berjalan ke pintu keluar tanpa memperdulikan Vanessa dan Irman yang sudah menunggunya di meja makan, ia lebih memilih langsung pergi ke sekolah karena tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pada Vanessa dan Irman tentang masalahnya dengan Arya,
Irman dan Vanessa beberapa kali memanggilnya dan menyuruhnya sarapan, namun Mila hanya diam tak menjawab dan tetap berjalan ke arah pintu, ketika ia menuruni teras ia melihat sebuah buku berwarna biru ada di salah satu anak tangga teras tersebut.
Mila kemudian mengambil buku itu, dan ia dapat mengingat buku itu sama dengan buku biru milik Arya,
‘apa ini milik Arya?’ Mila lalu membukanya karena penasaran, dan baru saja buku itu terbuka 2 buah foto yang selalu dibawa Arya kemana pun ia pergi terjatuh dari sela buku tersebut.
Mila lalu mengambilnya, dan kemudian melihat foto tersebut, foto pertama menampilkan Arya dan Tomy bersama seorang pria tua berkaca mata dengan rambut yang memutih bersama seorang perempuan tua dengan memakai jilbab dengan raut wajah yang telah berkeriput, melihat foto itu Mila tersenyum,
‘aku benarkan, mereka benar-benar orang baik, raut wajah mereka telah menggambarkan keramahan hati mereka.’
Mila kemudian melihat foto kedua, dan matanya membelalak kaget pada sosok anak kecil yang tengah dipeluk oleh laki-laki dan perempuan dewasa, sosok yang dulu selalu dinantikan kedatangannya oleh Mila, namun akhirnya Mila menyerah untuk menunggunya setelah membaca banyak artikel di dunia maya yang menceritakan kekejaman sosok laki-laki dewasa di foto itu dan sosok yang ia tunggu tidak pernah ditemukan jasadnya “indra” gumam Mila tak percaya, dan untuk sesaat pikirannya menerawang jauh ke masa lalu.
FB
__ADS_1
“kamu mau kemana?” ucap Mila kecil yang berumur 4 tahun saat itu,
“aku harus pergi, pergi jauh” jawab Indra yang masih berumur 6 tahun
“pergi jauh? apa kau mau meninggalkanku dan tidak akan kembali lagi?” tanya Mila dengan wajahnya yang membuat gemes siapa pun yang melihatnya,
“Aku akan kembali untukmu, kau kan princess nya” jawab Indra sembari mencubit pipi tembem gadis kecil itu.
“pangeran harus kembali pada princessnya, aku tunggu kamu kembali, jangan pergi lama-lama ya” ucap Mila dengan polos.
FB end
‘Apa Arya adalah Indra?, apa dia telah menepati janjinya padaku’ batin Mila dengan mata yang berkaca-kaca, ia bahkan tidak dapat mengerti seperti apa jalan takdir mengatur hidupnya,
‘tapi bagaimana bisa?, berita-berita itu?, tunggu, lalu Tomy siapanya Arya?, bukankah mereka bersaudara?, atau Arya dan Indra adalah orang yang berbeda?’ batin Mila dipenuhi kebingungan,
Mila kemudian membandingkan foto Arya dengan foto Indra, dan ia dapat melihat banyak persamaan antara dua orang di kedua foto tersebut, Arya sangat mirip dengan Indra, pangeran masa kecilnya yang selalu ia nanti kepulangannya.
“iyakan, Indra adalah Arya, pangeranku” gumam Mila dengan penuh harap, ia kemudian membuka buku biru Arya untuk mencari sesuatu, ia berharap bisa menemukan kebenaran dari dugaannya, namun isi buku itu hanyalah jadwal kegiatan rapat dan target kerja Arya.
Pada foto pertama Arya menulis ‘paman, bibi, aku mencintai kalian, terima kasih telah mau menjadi orang tuaku, aku selalu merindukan kalian’
dan di foto kedua Arya menulis ‘ayah, dunia menilaimu sebagai manusia kejam, tapi aku tahu kau adalah laki-laki terbaik yang selalu ada disisi kami, ayah ibu, aku mencintai kalian, tunggu aku di surga ya, aku akan segera menyusul setelah tugasku di dunia ini selesai’
“Arya,” lirih Mila, ia kemudian segera berjalan mencari kendaraan umum, tujuannya kali ini bukanlah menuju ke sekolah, melainkan menuju kantor Arya.
Setelah masuk ke loby kantor, Mila langsung bertanya pada resepsionis tentang keberadaan Arya, “maaf bu, Tuan Aryanya belum datang”
Mila kemudian melihat ke arah jam tangannya, ‘bukankah seharusnya Arya sudah datang, dia bahkan pergi ke kantor lebih dulu dari ku ke sekolah setiap pagi, mana mungkin dia belum datang’
“kalau gitu, boleh saya menunggunya mbak?”
“boleh bu, silahkan tunggu disana” jawab resepsionis itu sembari menunjuk sofa yang ada di sudut loby tersebut. Mila lalu mengangguk, dan ia berjalan ke arah sofa yang pernah ia duduki itu dengan lemah,
Jam sudah hampir menunjukkan jam makan siang, namun orang yang ditunggu Mila tak kunjung menampakkan batang hidungnya di kantor itu, Mila berusaha menyemangati dirinya sendiri, dia sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan besar, dan untuk itu ia memang harus berjuang untuk membayar kesalahannya itu.
__ADS_1
Rita yang baru saja keluar dari lift dan ingin menuju ke kantin perusahaan yang berada di samping gedung perusahaan dan terpisah dari gedung utama. Ketika di Loby ia melihat Mila yang duduk diam di sofa, matanya melirik Mila dengan dingin,
‘apa Arya ada masalah lagi?, apa ini alasan Arya tidak masuk kantor?,’
Rita kemudian berjalan melangkah ke arah Mila, melihat Rita berjalan ke arahnya, Mila langsung berdiri, setidaknya ia dapat bertemu dengan sekretaris Arya untuk menanyai keberadaan Arya,
Beberapa langkah lagi Rita menghampiri Mila, suara Ari terlebih dahulu membuat langkah Rita terhenti, Ari melangkah ke arah Rita bersama seorang perempuan cantik yang berjalan di sampingnya.
“ada apa pak?”
“Arya mana ta?”
“pak Arya tidak masuk hari ini pak?”
“kenapa? apa dia ada masalah?” tanya Ari sembari melirik tajam ke arah Mila, ia sudah sadar dengan keberadaan Mila dari pagi di sofa itu, tapi ia lebih memilih tidak peduli karena dia masih merasa sakit hati dengan gadis yang telah menginjak-injak harga diri sahabatnya itu.
“ponselnya tidak aktif pak, saya sudah coba menghubunginya dari pagi”
“benarkah?, sepertinya dia memang lagi ada masalah besar” ucap Ari lagi yang membuat Mila merasa semakin terpojok dengan perasaan bersalahnya.
“gini ta, ini ada klien kita, namanya nona Anjani dari Hardi corp. dia yang mau membangun hotel di Sumatera, dia ingin bertemu dengan Arya, bisa kamu atur jadwal pertemuan mereka,”
Rita tersenyum kepada Anjani dan kemudian mengangkat tangannya untuk bersalaman
“Hai Rita, aku Anjani” sapa Anjani dengan penuh senyuman manis kepada Rita, dan menyambut salaman Rita dengan hangat.
Wajahnya putih dan cantik, rambutnya panjang dan hitam, bibirnya tipis dan sorot matanya lembut yang membuat semua orang nyaman menatapnya.
“Rita, jadi ibu mau bertemu dengan pak Arya”
“iya, aku dengar dia yang membuat desain untuk hotelku, aku ingin mendiskusikan beberapa hal dengan dia”
“baik buk, nanti saya akan sesuaikan jadwal ibu dengan jadwal pak Arya untuk bertemu”
Rita dan Anjani saling senyum atas sapaan hangat diantara mereka, sebelum Ari dan Anjani meninggalkan Rita, Ari kemudian menatap sinis ke arah Mila.
__ADS_1
“Rita, usir dia"