Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Antara Arya dan Arnes


__ADS_3

Arya tidak melajukan motornya ke rumah sakit, ia melintasi sejumlah jalanan untuk mencari toko perhiasan. Beberapa toko perhiasan yang ia lihat belum buka sama sekali. ‘ini orang kok belum buka jam segini, udah pada kaya ya’ gumamnya kesal.


Hingga hampir satu jam Arya keliling jalanan mencari toko perhiasan, akhirnya Arya melihat satu toko perhiasan yang buka, ia langsung saja singgah ke toko tersebut.


Ketika ia masuk pintu toko itu, ia malah terlihat kebingungan ‘aku mau beli apa disini’ batinnya dengan kebingungan.


“misi pak, ada yang bisa kami bantu” ujar seorang pegawai perempuan toko yang mengagetkan Arya.


“ohh, iya mbak, saya mau beli,,, beli,,,,” ucap Arya terhenti sejenak, ia benar-benar bingung dengan apa yang hendak dibelinya ‘apa maharnya cincin aja ya’ batinnya yang benar-benar kebingungan.


“beli apa pak, cincin, kalung, gelang, em…” ucap pelayanan itu langsung dipotong Arya.


“iya mbak, cincin, kalung sama gelang” ucap Arya karena tak mau membuang waktu lama dengan menambah kebingungannya untuk harus memilih. ‘beli aja semuanya, daripada salah’ batinnya,


“mari pak, ikut saya, kita lihat model-modelnya” ucap Pelayan itu dengan mengangkat tangan mempersilahkan Arya berjalan ke arah lemari kaca tempat berbagai perhiasan di pajang. Arya melangkah dan matanya membelalak kaget karena kebingungan lagi ‘astaga, ini model banyak bangat, gue harus pilih yang mana’.


Arya hampir sama dengan laki-laki kebanyakan yang sering kebingungan jika dihadapkan pada banyak pilihan barang. Apa lagi ia tidak mengetahui barang mana yang bagus dan model apa yang disukai oleh calon istrinya.


“silahkan dipilih pak” ucap pelayanan toko tersebut. ‘gue pilih yang mana nih’


“bungkus aja yang bagus mbak” ucap Arya tak mau ambil pusing.


“semuanya bagus pak, ini kualitas terbaik, cuma beda model dan motifnya saja” ucap pelayanan toko tersebut


Arya menggaruk kepalanya karena kebingungan, ia melihat beberapa perhiasan dengan berbagai macam motif dan model yang ada di lemari kaca tersebut. Kemudian matanya tertuju pada gelang, cincin dan kalung yang memiliki motif serupa dengan hiasan berlian putih.


“itu aja mbak,” ucap Arya sembari menunjuk perhiasan yang membuatnya cukup tertarik.


“oh itu, itu perhiasan emas putih berhiaskan berlian rancangan desainer dari,,,”

__ADS_1


“udah mbak, bungkus aja, saya langsung bayar, saya nggak ngerti masalah perhiasan” ucap Arya ketus yang membuat pelayanan tersebut mendengus kesal.


“baik pak, tunggu sebentar” ucap pelayan tersebut.


Arya mendengar dering telfon di saku jasnya, ia kemudian membuka ponselnya, terlihat nama Ari disana. Arya kemudian mensilentkan dering ponselnya tanpa mengangkat atau menolak panggilan dari Ari.


Ari yang sudah ada di depan kontrakan Arya mendengus kesal, “sialan nih anak, seenak jidatnya doang, kalau bukan teman gue, udah gue rujak dia” dengusnya. Ia kemudian berbalik badan menatap pintu kontrakan Arya, rasa kesalnya ia tumpahkan dengan memukul dan menendang pintu kontrakan tersebut hingga puas ‘awas lo Arya, besok gue balas lo’.


*


Ketika shubuh menjelang hari itu, Mila telah mandi dengan merendamkan tubuhnya dengan air hangat. Ia mengusap seluruh badannya dengan menahan rasa getir di hatinya serta mencoba membuat matanya agar tidak basah lagi karena sedih. Adzan subuh berkumandang, Mila segera menyelesaikan aktivitasnya dan berwudhu untuk segera sholat.


Ketika jam menunjukkan pukul 7, Vanessa mengetuk kamar Mila, ia masuk dan melihat Mila yang telah siap dengan gaun pengantin yang ia beli kemarin. Dengan sedikit polesan make up di area matanya ia terlihat sangat cantik.


“wah,,wah,,, cantik sekali adik ipar ku ini,” ucap Vanessa menggoda Mila.


Mila tersenyum manis dengan pujian Vanessa. “kamu sangat cantik dengan gaun ini” ucap Vanessa sembari mengelus lembut bahu Mila.


“eeh, kamu jelas mau menikah, masa menangis, ntar luntur make up nya” goda Vanessa pada Mila.


“kak, menurut kakak apa yang dibilang bang Arnes semalam akan berhasil?”  tanya Mila pada Vanessa.


“Mil, kamu akan segera menikah, ketika kamu menjadi istri dari seorang laki-laki, kamu harus siap melayani laki-laki yang menjadi suamimu itu, cobalah membuka hatimu untuk laki-laki itu sayang, istri yang tidak bisa melayani suaminya dengan baik akan mendapat dosa sayang,” jelas Vanessa pada Mila.


Hati Vanessa seakan memudar untuk Arnes, ia masih tidak terima pada laki-laki yang dikatakan soleh dan baik oleh Mila itu, tapi malah bersikap lancang untuk menyentuh dan membuka cadar perempuan yang bukan mahromnya.


“kak, apa itu juga alasan yang membuat kakak tetap bertahan dengan bang Irman?” tanya Mila dengan nada ragu pada Vanessa. Vanessa sejenak terdiam, ada sesuatu yang terasa memukul keras hatinya.


“kan kamu sering bilang ke kakak, kadang apa yang kita anggap buruk, adalah yang terbaik bagi kita, dan apa yang kita anggap baik adalah yang buruk bagi kita, percayalah sayang, kakek tidak mungkin memilih laki-laki yang akan membuat cucu cantiknya ini kecewa” ucap Vanessa tak ingin membahas masalah Irman di hari pernikahan Mila.

__ADS_1


“tapi hatiku saat ini,,,”


“sayang, semua keputusan ada di tanganmu, kakak akan mendukung kamu apapun yang kamu putuskan, kakak hanya berharap ketika kamu menerima permintaan kakek, jalankanlah itu sepenuh hati, agar kamu tidak tersakiti" Vanessa memotong ucapan Mila


“apa kakak kecewa karena aku memenuhi permintaan kakek karena bang Arnes?” tanya Mila pada Vanessa, ia merasa Vanessa sedikit berbeda paham dengannya.


“kakak bukan kecewa, kakak takut dek, kamu mengambil keputusan bukan dengan hatimu, kakak takut rencanamu itu gagal dan kamu merasa hancur, berbeda jika kamu menerima dengan pilihan hatimu sendiri, kamu akan ikhlas menjalaninya. Bukan semata karena rencana yang tidak berjalan sesuai keinginan, yang pada akhirnya akan membuatmu kecewa seperti kemarin, Laki-laki itu bahkan sama sekali tak bergeming dengan rencanamu memakai cadar itu” ujar Vanessa.


Mila terdiam, ada kebimbangan di hatinya untuk menerima Arya dengan ikhlas dengan apa yang diucapkan Arnes semalam.


*


Persiapan di ruang rawat pak Sarman sudah selesai, bu Saniah, pak Tito, Irman, dan Vanessa sudah ada disana. Juga ada beberapa orang mulai dari penghulu hingga saksi yang siap untuk melangsungkan akad pernikahan.


Mila duduk di tepi ranjang pak Sarman. Ia melihat wajah kakeknya untuk menahan getir di hati yang masih terasa.


Melihat Mila tampak gugup, pak Sarman meraih tengkuk Mila, ia kemudian mengecup dalam kening cucunya dengan rasa sayang. Rasa sayang yang menjalar dan terasa hingga ke hati Mila. Rasa sayang yang mampu memberi Mila kekuatan untuk menghadapi apa yang akan terjadi.


“kamu cantik sekali dengan gaun ini, apa kamu sudah siap sayang?” tanya pak Sarman pada Mila, Mila menatap dalam wajah kakeknya dan mengangguk pelan.


“gimana pak?, apa calon pengantin laki-laki sudah siap?” tanya penghulu pada pak Sarman, pak Sarman melihat ponselnya, jam menunjukkan pukul 09.48,


“tunggu sebentar ya pak” ucap pak Sarman sembari, mencari kontak Arya dan menghubungi Arya.


Berkali-kali pak Sarman menelfon Arya, panggilannya masuk namun tidak diangkat Arya sama sekali.


Pak Sarman terus mencoba menghubungi Arya dan ia mulai kesal ketika Arya tidak mengangkat telfonnya sama sekali, padahal panggilannya jelas-jelas masuk ke ponsel Arya.


‘apa anak ini mau main-main denganku?, ia mau mengkhianatiku, jika sampai dia tidak datang, aku akan membunuhnya’ gumam pak Sarman yang sedikit terdengar oleh Mila yang duduk di dekat ranjangnya.

__ADS_1


‘apa dia tidak datang,?,,ya mudah-mudahan dia tidak datang,’ ucap Mila sedikit menghirup nafas laga,


krek, bunyi pintu terbuka.


__ADS_2