Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Jangan Pergi Dari Sisi Mila


__ADS_3

Arya yang berada di puncak bukit tempat ia biasa menenangkan pikiran di buat bingung oleh seseorang yang menelfonnya, bahkan laki-laki itu langsung menutup telfonnya tanpa memberi Arya kesempatan untuk bicara. ‘siapa sih?, dasar orang aneh?' batinnya menahan kesal,


Arya kemudian melanjutkan kegiatannya untuk tidur dihamparan rumput sembari menatap langit penuh bintang, yang ia lihat di langit itu hanyalah wajah Mila yang sedang bermesraan dengan Arnes dan juga ketika Mila berbicara kepadanya bahwa Mila mencintai Arnes dan ia tidak usah berharap banyak pada pernikahan yang telah mereka lalui,


‘dia bahkan mengatakan bahwa ia mencintai orang lain di depan Ari dan Abel tanpa memikirkan betapa hancurnya perasaanku, ini benar-benar tidak adil Tuhan, apa dosaku hingga Kau berikan aku takdir seperti ini, aku menjaga diriku selama ini, tapi kenapa malah perempuan seperti dia yang harus ku nikahi, dan kenapa aku harus bisa merasakan perasaan sayang seperti ini kepadanya, bahkan ketika aku tahu dia memiliki hubungan dengan pria lain dibelakangku, aku masih ingin memaafkannya, dan berharap ia dapat mencintaiku dan mau berkomitmen denganku untuk dapat menjalani pernikahan ini sampai kami mati, tapi hari ini aku benar-benar hancur, dia bahkan tidak bisa menjaga kehormatanku sebagai suaminya’ air mata Arya menitik, ia tak kuasa lagi membendung kesedihan hatinya.


‘bahkan ia mencintai orang yang seharusnya menjadi musuhku, anak orang yang telah merenggut kehidupanku, sungguh ini benar-benar terasa membunuhku’


Arya bahkan baru menyadari bahwa laki-laki yang bermesraan dengan Mila dan dicintai Mila adalah Arnes si pewaris Adinata group dari percakapan Ari dan Mila tadi siang,


Selama ini ia tidak peduli dengan latar belakang laki-laki yang dicintai Mila tersebut, ia hanya ingin Mila melupakan laki-laki itu dan mencintainya, tapi semuanya sekarang hanya akan menjadi sebatas harapan.


ponsel Arya kembali berdering dan Arya segera melihatnya,


‘bang Irman ingin berbicara denganmu, cepat pulang’ Vanessa.


Arya yang membacanya kemudian memejamkan mata dengan menahan perasaan sakit, ia merasa belum siap jika harus bertemu dengan Mila saat itu, tapi Vanessa dan Irman adalah iparnya yang masih harus ia hormati dan ia hargai.


‘kenapa semua ini seperti pisau yang membunuhku, istriku sendiri mencintai laki-laki lain yang merupakan bagian keluarga yang telah menghancurkan keluargaku’


Arya kemudian mengeluarkan 2 buah foto yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi, ia kemudian melihatnya,


‘ayah, ibu, paman, bibi, dunia ini benar-benar tidak adil untukku, ayah, ibu, aku ingin bersama kalian di surga’ batin Arya menahan pilu, ia kemudian menyimpan foto itu di dalam buku birunya dan menyimpannya di saku celana gunungnya tanpa mengancinginya lagi.


*


“kenapa dia belum datang juga?” kesal Irman yang masih menunggu Arya, ia bahkan tidak menyentuh makanan yang telah disajikan oleh Vanessa di hadapannya,

__ADS_1


“kenapa abang mencari Arya?” tanya Vanessa dengan suara ragu, ia berpikir Irman telah tahu dengan posisi Arya yang merupakan lawan bisnis Irman.


“Karena adikku ini membuatku khawatir” ucap Irman dingin dengan terus menatap tajam ke arah Mila sejak ia datang tadi. Mila yang sadar dengan maksud Irman kemudian mencoba menenangkan dirinya,


“apa benar abang telah menjualku pada bang Arnes?” tanya Mila setegar mungkin, karena ia sebenarnya sangat sakit mengatakan bahwa ia adalah perempuan yang dijual untuk kepentingan bisnis abangnya. Irman yang mendengar itu dibuat tak percaya, ia mulai gugup, tingkahnya gelagapan,


‘darimana Mila tahu itu semua, apa Arnes menceritakannya pada Mila?’


“jawab bang” Mila berteriak penuh emosi


“kamu tahu darimana?”


“jadi itu semua benar” ucap Mila lagi dengan mata yang berkaca-kaca melihat ke arah Irman, Irman hanya bisa dibuat gelagapan tak tahu harus bicara apa lagi.


“bohong, bang Arnes tidak mungkin seperti itu” teriak Mila lagi yang mulai menangis, cinta sucinya untuk Arnes sekarang telah dikhianati,


“bohong, aku tahu dia mencintaiku” teriak Mila lagi penuh emosional bersamaan deraian air mata di pipinya.


“Arnes tidak akan pernah menjadi pewaris Adinata group, dia sekarang sedang mengincar posisi CEO Adinata group untuk menggantikan posisi ayahnya, dan untuk itu ia harus menikah dengan perempuan yang bisa memperkuat posisinya sebagai calon CEO, dan perempuan itu jelas bukan kamu Mil, dia hanya ingin tubuhmu tidak lebih”


“bohong,” ucap Mila lagi, ia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan yang disampaikan Irman.


“aku sudah peringatkan kamu untuk tidak dekat-dekat lagi dengannya, jika kamu sampai melanggarnya, tidak ada lagi tempat untukmu di rumah ini” ancam Irman dengan penuh penekanan,


Irman benar-benar takut jika Arnes sampai menyentuh Mila, ia bahkan langsung pulang ke rumah untuk menemui Arya setelah Arnes menghubunginya dan menagih apa yang telah mereka bicarakan.


“dia tidak seperti itu” ucap Mila lagi dengan pikiran dan perasaan yang tak karuan. "bang Arnes nggak mungkin seperti itu, abang bohong"

__ADS_1


“aku tidak main-main dengan kata-kataku” ancam Irman dengan wajah dan suara penuh penekanan pada Mila, sementara Vanessa yang memperhatikan kakak adik itu hanya bisa dibuat diam tak tahu harus berbuat apa.


Mila kemudian bangkit, dan berlari menuju kamarnya, ia menahan rasa sesak di dadanya, orang yang selama ini ia cintai, selalu ia bela di depan keluarganya, ternyata hanya menginginkan tubuhnya saja, bahkan ia telah berkali-kali menyakiti perasaan laki-laki sebaik Arya hanya untuk laki-laki seperti Arnes,


‘ya Tuhan, apakah ini memang kenyataannya, tidak mungkin bang Arnes seperti itu, tidak mungkin’ lirih Mila yang telah tersungkur ke lantai dengan bersandar di pintu kamarnya,


Irman hanya melirik tajam ke arah pintu kamar Mila, sementara Vanessa masih diam membatu setelah melihat perdebatan Irman dan Mila, dan disaat bersamaan Arya telah masuk ke dalam rumah melalui pintu teras samping.


Wajah Arya yang tampak kacau ketika di bukit, sekarang tampak telah lebih tenang.


“ada apa?” ucap Arya dingin tanpa basa basi pada Irman,


Irman yang melihat kedatangan Arya kemudian berdiri dari kursinya, ia menatap tajam ke arah Arya,


“dari mana kau?” ucapnya penuh emosi.


Mendengar suara abangnya, Mila lalu membuka sedikit pintu kamarnya untuk memastikan apakah Arya sudah datang atau belum, dan benar saja, ia dapat melihat Arya berdiri di dekat meja makan dari pintu kamar yang ia buka itu.


“Bukan urusanmu” ucap Arya masih dengan nada dingin,


Irman lalu bangkit dan langsung menghadiahi Arya dengan sebuah pukulan telak di wajah yang membuat Arya langsung tersungkur ke lantai.


Vanessa langsung kaget melihat itu semua, ia langsung berlari ke arah Irman dan menahan suaminya untuk tidak memukul Arya lagi, sementara Mila langsung menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara ketika melihat Arya dipukul dan tersungkur ke lantai.


“apa mau mu?” Arya masih bicara dengan nada dinginnya, ia berusaha untuk tidak terpancing emosi dengan kelakuan Irman, Ia benar-benar harus bertarung dengan hatinya sendiri yang masih sakit atas kelakuan Mila kepadanya.


Irman menghirup nafas panjang dan menatap tajam ke arah Arya yang telah tersungkur di depannya, ia tahu ia harus bersikap tenang agar apa tujuannya berbicara dengan Arya dapat tercapai, jika ia hanya mengikuti emosinya saja, mungkin pertemuan itu hanya akan berakhir dengan pukulannya di tubuh Arya.

__ADS_1


“Mulai detik ini, jangan pernah pergi dari sisi Mila walau hanya sedetik saja”


__ADS_2