
“ayah,, ibu,,,” Arya keluar dari dalam lemari tempat ia bersembunyi, ia kemudian berlari ke arah ibunya yang telah bersimbah darah ia mengusap wajah ibunya yang memucat, tangisannya tidak mampu lagi dibendungnya, tidak jauh dari sana ia melihat sang ayah yang juga bersimbah darah dengan pistol di tangan kanan ayahnya itu,
“ayah,, ibu” ucap Arya berkali-kali sembari menggeliat dari tidurnya,
Arya akhirnya terbangun, keringat mengucur deras di badannya, bahkan bajunya pun telah basah, ia kemudian bangkit dan duduk di sofa tempat ia tidur, ia kemudian menenangkan nafasnya yang masih tersenggal-senggal akibat mimpi buruk yang sebenarnya tidak ia inginkan untuk hadir lagi.
Ia lalu memejamkan matanya dan mengusap wajahnya dengan kasar, setelah ia membuka mata, ia melihat Mila tengah tertidur pulas di sofa tepat diseberang sofanya tidur,
‘kenapa dia tidur disini?’ batin Arya bingung, Arya kemudian menatap dalam wajah cantik Mila, memperhatikan setiap lekuk wajah Mila yang benar-benar terlihat sempurna,
‘ya Tuhan, kalau begini bagaimana bisa aku ikhlas melepasnya, melihatnya seperti ini saja aku tidak tahan untuk segera menyentuhnya’
Arya kemudian bangkit, berjalan ke arah Mila dan ia kemudian menggendong Mila ke dalam kamar, ia membaringkan Mila dengan lembut di salah satu sisi ranjang, kemudian Arya menarik selimut dan menutupi tubuh Mila hingga dadanya, untuk sesaat Arya kembali menatap wajah Mila yang benar-benar sempurna kecantikkannya di mata Arya,
Tanpa ia sadari perlahan wajahnya mendekat ke wajah Mila, wajah Arya hampir menyentuh wajah Mila, jantungnya berdetak kencang. untuk sesaat bibir Arya mendekat pada bibir Mila, bibir Arya hanya berjarak beberapa senti saja dari bibir Mila, hampir saja Arya mencium bibir Mila, namun ia segera sadar, Arya lalu menarik dirinya, ia kemudian segera keluar dari kamar itu dengan dada yang serasa sesak, Ia kemudian ke meja makan lalu mengambil segelas air dan meneguknya,
‘tidak, aku tidak boleh menyentuhnya, dia tidak mencintaiku sama sekali’ ucap Arya mencoba menahan syahwat yang sedang menguasai dirinya, ia kemudian berjalan ke ruang tamu dan melirik jam yang ada disana,
‘baru jam satu, aku masih bisa istirahat 3 jam lagi’ Arya kemudian berbaring lagi di sofa tempatnya tidur tadi, Ia cukup lama ia terlelap kembali, karena hatinya berkecamuk antara syahwat pada istrinya sendiri, dan juga mimpi buruk yang tadi ia alami, hingga akhirnya ia terlelap karena lelah sehabis menempuh perjalan jauh setelah mendaki gunung.
Sementara Mila sempat terbangun sebentar ketika mendengar suara pintu kamarnya di tutup Arya, ia sejenak membuka mata,
“siapa?” tanyanya sembari melihat ke arah pintu,
“tidak ada-ada siapa-siapa” gumamnya yang melihat pintu kamarnya tertutup Mila kembali menutup matanya dan terlelap bersama lelahnya.
*
__ADS_1
Mila yang tengah lelap tertidur tiba-tiba terbangun karena mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Ia segera bangkit dan wajahnya menunjukkan keheranan, Ia melirik jam di kamarnya, jam tersebut menunujukkan pukul 03. 48
‘siapa di dalam kamar mandiku?’
Ia kemudian mengingat kembali peristiwa semalam yang ia alami,
‘Arya, dia sedang mandi?,’
Mila lalu mengingat bahwa semalam ia tertidur di sofa bersama Arya, kemudian ia juga ingat semalam ia terbangun di ranjangnya karena mendengar suara gesekan pintu kamarnya, kemudian ia sejenak berpikir tentang apa yang terjadi ketika ia tidur,
‘apa dia menggendongku semalam, nggak , nggak mungkin' ia kemudian menggelengkan kepalanya, merasa malu dengan dirinya sendiri,
‘dia mikirin apa waktu lihat aku tidur sofa, aduhhh malu sekali aku’
Selang beberapa lama Arya keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya, ia mendapati Mila yang sudah bangun dam tengah terduduk diam di sisi ranjang,
“mandi sana” pinta Arya dengan suara datar,
“aku sudah biasa mandi jam segini, ayo cepat mandi” Arya melempar handuk yang ia pakai untuk mengeringkan rambutnya ke arah Mila, Mila lalu menepisnya dan membuangnya ke lantai dengan perasaan kesal.
‘berani sekali dia melemparku dengan handuk’
“aku masih mau tidur” jawab Mila yang kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang kembali,
“kamu mau aku mandikan?” tanya Arya dengan nada sedikit emosi,
“coba saja kalau kamu berani” tantang Mila, ia kemudian menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya,
__ADS_1
“Mil, mandilah, aku tidak tahan dengan tubuhmu itu, nanti jangan salahkan aku jika terjadi yang tidak-tidak” ucap Arya sembari mengambil beberapa dokumen dan membuka laptopnya,
Mata Mila membelalak kaget mendengar ucapan Arya, ia kemudian bangkit dan mengambil handuk yang tadi dilempar Arya di lantai, lalu Mila membuka lemari dan mengambil beberapa baju dan segera masuk ke kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi, Mila kembali duduk di ranjangnya, ia kemudian menarik selimut untuk kembali melanjutkan istirahatnya, Arya yang sedang membaca dokumen kerjanya kemudian melirik Mila dari cermin meja hias yang sedang ia duduki,
“kamu nggak mau sholat dulu, mumpung shubuh masih lama” sahut Arya,
Mila yang baru saja memejamkan matanya langsung kembali membuka matanya yang masih lelah,
‘dia menyuruhku sholat malam, ya Allah, suami seperti ini yang dari dulu aku inginkan, mengingatkan ku untuk ibadah dan mengajakku untuk sholat malam berjamaah’
Mila lalu kembali duduk, ia kemudian menatap dalam wajah Arya, sedangkan orang yang dipandang itu sedang asyik membaca dokumen sembari mencoret beberapa bagian dokumen itu dengan pena,
“kamu nggak sholat juga?” tanya Mila gugup, jantungnya tiba-tiba saja berdetak kencang tak beraturan,
“sudah, aku sudah sholat waktu kamu mandi, kamu mandinya lama sekali tadi” jawab Arya tanpa memandang Mila,
Mila memang mandi memakan waktu cukup lama tadi, Ia begitu menikmati air hangat yang merembes ke dalam pori-pori kulitnya yang memberi kenyaman di tengah dinginnya udara.
Mila kemudian sholat 2 rakaat, setelah selesai sholat, ia mengurungkan niatnya yang tadi ingin tidur kembali setelah mandi, ia kemudian membersihkan ranjangnya, hatinya begitu senang saat itu, ia benar-benar tak mengira jika sosok suami yang ia inginkan selama ini telah menjadi suaminya,
‘dia benar-benar imam yang baik, bang Arnes belum tentu seperti ini, membangunkanku untuk sholat malam, walaupun ia dulu ketua organisasi islam di kampus, tetap saja itu tidak menjamin bahwa ia bisa bersikap seperti Arya sekarang’
Mila benar-benar bahagia saat itu mendapati sosok Arya yang memiliki sikap seperti suami yang ia inginkan, Namun perasaan bahagianya itu hanya sebentar, karena kalimat Arya berikutnya membuatnya seketika menahan sesak di dadanya.
Sesaat Arya kembali melirik ke arah Mila melalui cermin meja rias, ia menatap dalam wajah Mila,
__ADS_1
‘mungkin ini kali terakhir aku melihat wajah cantiknya’ batinnya mencoba menahan pilu.
“Mil, pakailah cadarmu”