Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Model Grammy award


__ADS_3

"Apa kau tidak punya mata." Seli menundukkan kepalanya mencoba melihat apa bajunya terlihat kusut gara-gara tabrakan tadi, lalu setelah memeriksa dia langsung mendongkrak kembali kepalanya diiringi dengan keterkejutan. Terlihat dari manik-manik matanya yang coklat memperhatikan sosok wanita tuan yang berada tepat didepannya dengan seulas senyum sinis.


"Kau.." Seli menatap tak percaya apa yang dia lihat sekarang. Seorang asisten rumah tangga berada di hotel kelas atas bahkan di lantai VVIP, wauuu... Seli tersungging kecil.


"Senang bisa bertemu lagi dengan anda Nona! uppp salah pelakor..." Bi Jumi menekan kata-katanya yang diiringi dengan sorot mata mulai menajam.


"Pergi dari sini..." tinta Seli memerintahkan kepada orang yang berbicara dengannya tadi untuk segera pergi.


Bi Jumi dengan sangat baik memperhantinkan orang itu seluruh bentuk tubuhnya ditatap dengan sangat baik oleh Bik Jumi hingga beberapa saat lenyap dari pandangannya tak kala orang itu telah memasuki lorong hotel.


"Apa yang kau lakukan disini wanita tua...??"


"Apa yang aku lakukan disini itu sama sekali bukan urusan anda." balas cepat Bi Jumi tak lupa dengan seulas senyum sinis nya.


"Aku tau kamu kesini pasti bersama majikan mu yang penggoda laki-laki itu kan. Kalian mau mencari bukti Ahahahah.... Sampai matipun tidak akan dapat karena aku sudah berhasil melenyapkan bukti itu." Tawa Seli.


"Oooooo... Jadi anda menghilangkan buktinya, apa anda segitu takutnya ketahuan Hem...??"


Ayo wanita pelakor ceritakan semuanya, cerita semua apa yang telah kamu lakukan kepada Non Olif. Kau menjebaknya bukan.


"Siapa yang kamu bilang takut? Aku.... Hahahaha. Aku jelaskan ya, dalam kamus ku tidak ada yang namanya takut. Aku tidak takut kepada siapapun termasuk Varrel. Kalaupun dia tau aku yang menjebak istrinya aku yakin dia tidak akan marah kepadaku. Karena aku adalah sahabat masa kecilnya, sudah pasti dia lebih membela ku ketimbang majikan penggoda mu itu." ketus Seli menyombongkan dirinya.


"Benarkah, saya rasa tidak. Kamu tidak tau kan bagaimana perhatikan tuan Varrel terhadap Non Olif saat mereka di rumah. Hem, apa aku perlu menjelaskannya." balas Bi Jumi.


"Sudah-sudah tidak perlu repot-repot. Karena aku sudah tau semuanya, aku bisa menebak kalau mereka tidak pernah melakukan hubungan suami istri hahahaha.... Mereka di rumah seperti anjing dan tikus Hahahaha."


"Cihhhh... Itu adalah kesalahan terbesar anda, anda terlalu percaya diri. Tuan Varrel dan Non Olif. Saat mereka di rumah, mereka bagaikan sepasang kekasih yang sangat romantis. Tuan Varrel tidak henti-hentinya mencium bibir Non Olif, dia tidak kenal tempat. Bahkan di depanku Tuan Varrel mencumbu mesra Non Olif. Hingga membuat Non Olif mendesah nikmat. Anda tau lagi apa yang mereka lakukan, mereka berdua bergulat tiap malam di atas ranjang Ahhhh... Aku tidak bisa membayangkan kejadian itu kepolosan mata ku ternodai oleh apa yang dilakukan Tuan Varrel. Mereka---"


"Cukup hentikan." teriak Seli. "Kamu tidak perlu mengarang cerita disini. Aku yakin kalau Varrel tidak pernah menyentuh Olif sedikitpun. Dia tidak tertarik dengan wanita penggoda seperti Olif. Dan juga dia sama sekali tidak pantas. Hanya aku, Seli. Wanita yang pantas bersama Varrel sehidup semati."


"Apa kamu pikir hubungan mereka akan bertahan lama Ckkkk. Tidak, selama aku masih belum mendapatkan Varrel aku akan terus menghancurkan hubungan mereka. Varrel adalah milikku, milikku..." teriak Seli mulai termakan dengan omongan Bi Jumi.

__ADS_1


"Dapat." Bi Jumi menjertikkan jarinya, senyumnya yang mengembang memperlihatkan kalau dia telah menang.


"Terimakasih, Aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan." sambung Bi Jumi lagi sembari mengeluarkan ponselnya yang berada didalam tas. Teryata sebelum menabrak Seli Bik Jumi sempat mengaktifkan rekaman ponselnya. Walau ponsel Bi Jumi terbilang jadul karena ponselnya hanya memiliki satu camera tapi suara Seli masih terdengar sangat jelas dalam rekaman itu.


"Kau..." Seli begitu terkejut bukan main saat melihat apa yang di tunjukkan Bi Jumi.


"Hahhhh... Aku tidak yakin apa Tuan Varrel akan mengampunimu setelah mendengar rekaman ini." Bi Jumi membolak-balikkan ponselnya di hadapan Seli.


"Wanita licik. Kau memanfaatkan ku."


"Kalau saya wanita licik berarti anda wanita munafik."


"Kurang ajar berikan itu kepadaku." Seli mengerakkan tangannya cepat, mencoba mengambil ponsel Bi Jumi tapi sayangnya tidak bisa, karena Bi Jumi sudah lebih dulu menyembunyikan ponsel itu.


"Berikan... Aaaaa..." jemari tangan Bi Jumi berhasil menjambak rambut Seli dengan sangat kasar. Menghantamkan wanita itu kelantai dengan sangat kasar.


"Kau ingin menghancurkan hubungan majikan ku Hem, sebelum itu kau harus melangkahi mayat ku terlebih dahulu wanita lakn**. Selamat aku masih bisa bernafas aku tidak akan membiarkan debu sepertimu menyakiti majikan ku. Camkan itu." tegas Bi Jumi dengan penuh penekanan lalu mengayunkan langkah kakinya pergi meninggalkan Seli.


"Wanita sialan." teriak Seli masih tergeletak dilantai, ia berusaha mencoba bangkit tapi tidak bisa, rasanya kaki sebelah kiri terkelilir gara-gara dorongan Bi Jumi terbilang sangat kuat tadi.


"V-Varrel..." suara bibir Seli bergetar hebat saat menyebut nama sahabatnya.


*****


Di Australia.


Olif dan Justin baru saja memasuki area gedung putih pencakar langit. Gedung yang berada tepat di tengah-tengah kota Canberra itu kerap kali di bilang gedung bintang. Karena hanya gedung itulah sering di adakan acara fashion show ternama di seluruh dunia. Seluruh penjabat penting di belahan dunia turun hadir di acara itu.


Seluruh finalis model papa atas dari penjuru dunia juga akan hadir di acara Grammy award malam ini. Malam yang akan menentukan siapakah model Grammy award terbaik untuk tahun depan.


Para tamu undangan sudah berlalu lalang masuk kedalam gedung itu secara bergiliran, mereka masuk dengan pakaian performance mereka.

__ADS_1


Berjalan di atas karpet merah yang diliputi puluhan bahkan ratusan wartawan yang memotret mereka.


Olif yang melihat itu menggigit bibir bawahnya dengan kasar. Rasa nyalinya menciut begitu saja saat melihat acara begitu megah dan wartawan yang mondar-mandir memotret siapa saja yang datang.


"Kak Olivia. Sebentar lagi giliran kakak. Tadi aku sudah menghubungi pihak manager yang akan mengurus kakak nantinya selama acara ini berlangsung." tutur Justin.


"Justin..."


"Hem'em..."


"A-aku rasa a-aku tidak bisa melakukan ini." ucap Olif melirik kearah Justin dengan tatapan nanar.


"Apa...??"


"Iya, ini terlalu ramai tidak seperti apa yang aku bayangkan sebelumnya Justin."


"Kak Olif jangan bercanda. Nasib Justin tergantung pada kakak, kalau kakak tidak melakukan ini makan Justin akan dipenjara selama 15 tahun." sahut Justin mengatupkan kedua tangannya memohon kepada Olif. Justin tidak bisa membayangkan kalau dirinya akan dipenjara nantinya, tidak bisa menyentuh wanita. Aaaaaa itu adalah hal yang Justin takuti.


"Tapi kakak takut Justin."


"Kak, percayalah setelah kakak berada di sana semuanya pasti akan baik-baik saja. Justin yakin itu. Rasa keraguan kakak pasti akan hilang dengan sendirinya." rayu Justin.


"Hem'em."


Dan beberapa saat kemudian tibalah waktunya bagi Olivia untuk turun dari mobil yang ia tumpangi berjalan masuk kedalam gedung pencakar itu.


Justin dengan sangat perlahan-lahan menjalankan mobilnya, menghentikan ketika ban mobilnya sudah berada di samping karpet merah yang panjang kira-kira 40 meter tembus kedalam gedung.


Para pengawal yang memakai baju dan celana serba hitam langsung saja membukakan pintu belakang mobil Justin dengan hati-hati sedangkan beberapa pengawal lainnya berdiri siap siaga menjadi model berbintang yang akan mengisi acar Grammy award malam ini.


Olif yang menyadari kalau pintu mobil sudah terbuka lebar pun dengan sangat lembut mengeluarkan kaki putih mulus itu dari dalam mobil. Ia turun dengan penuh gaya elegan.

__ADS_1


Para karyawan yang melihat itupun segera memotret Olif berulang kali tanpa berhenti sedikit pun.


Bersambung....


__ADS_2