Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Adik ipar Yuni


__ADS_3

Sebuah tamparan keras berhasil mengenai pipi Varrel dengan sangat kuat.


Kedua biji bola matanya menatap tak percaya atas apa yang dilakukan Mamanya. Orang yang selalu lemah lembut dan menyayanginya lebih dari apapun telah menamparnya dengan sangat keras. Ini adalah hal yang sangat menyakitkan dalam diri Varrel, apalagi melihat sorot mata Ibu Ratna terlihat sangat marah terhadapnya.


Begitupun juga dengan pak Edy dan Bi Jumi yang membulatkan kedua mata mereka. Menatap tak percaya apa yang dilakukan Ibu Ratna.


"Mama peringatan kepada mu, jangan pernah kamu berkata kasar terhadap Olivia. Dia adalah wanita baik-baik dan dari keluarga baik-baik. Sangat tidak mungkin kalau dia mengkhianatimu Varrel." tegas Ibu Ratna dengan emosi memucat.


"Dan satu lagi, kamu jangan melangkah satu langkah pun pergi ketempat wanita lain siapapun itu Mama tidak peduli sebelum kamu menemukan istrimu, Bawa dia kembali pulang ke rumah ini. Mama berikan kamu waktu satu Minggu untuk membawakan Olif kembali ke rumah ini. Kalau tidak, maka aku memutuskan semua hubungan denganmu, aku menganggap kalau aku tidak pernah melahirkan seorang anak ke dunia ini." sambung Ibu Susi lagi dengan nada setengah berteriak dan sorot mata memerah menahan amarah.


"Mama..." tegur pak Edy.


"Papa jangan membelanya terus menerus. Kenapa sih Papa selalu membelanya. Dia sangat keras kepala seperti ini itu karena Papa." Kini tangisan Ibu Ratna pecah, wanita tua itu menangis tersedu-sedu.


"Aku hanya berusaha mendidik anakku agar dia bisa bertanggung jawab dan menghargai wanita hik...hik..., apa salah bagi seorang Ibu menghukum anaknya jika anaknya melakukan kesalahan. Apa salah bagi seorang Ibu jika bertindak tegas terhadap anaknya jika anaknya saja tidak mau mendengarkan perkataan Ibunya. Hik... Hik... Apa itu salah Pah" Ibu Ratna menumpahkan seluruh ke-kesalannya dalam kesedihan. Menyadarkan kepalanya di pundak Bi Jumi wanita yang sudah dari tadi berada disampingnya.


Bik Jumi hanya bisa diam seribu bahasa sembari menggosok-gosok pelan punggung Ibu Ratna dengan sangat lembut.


Sementara dua laki yang berada di depan Bi Jumi hanya bisa menatap punggung Ibu Ratna. Keduanya juga ikut diam seribu bahasa dengan tatapan sedih, kecuali Varrel.


Laki-laki itu sudah mengeraskan rahangnya dengan sangat kuat diikuti dengan gumpalan tangan yang begitu kasar. Sorot matanya menurun menatap lantai dengan tatapan mematikan.


Kau sudah melakukan kesalahan besar Olif. kali ini aku tidak bisa memaafkan mu. Kau sudah membuat ibuku menangis, aku tidak bisa menerima ini semua.


*****


Di Australia, tepatnya di salah satu taman di ibu kota Canberra. Terlihat dua wanita cantik dan satu anak kecil yang sangat menggemaskan sedang duduk bersantai di bawah pohon beringin sembari menikmati kelezatan eskrim Walls. Ketiga wanita itu sedang menikmati keindahan dan sejuknya udara di siang hari.


Walau hari ini terlihat cerah dan panas karena awan tidak menutupi cahaya sinar matahari tapi hembusan angin yang berlalu lalang membuat mereka sejuk bagaikan di atas pengunungan.


"Mama mau yagi..." ucap Nabila merengek minta eskrim lagi. Anak kecil itu sudah menghabiskan tiga eskrim sekaligus dan sekarang malah minta lagi.


"Tidak, sudah cukup. Kamu sudah makan tiga eskrim sekaligus dan sekarang minta lagi. No... Tidak boleh, Nanti kamu bisa sakit sayang. Biarkan ini Mama simpan ya. Nanti sampai di rumah kamu bisa memakan lagi ok." ucap Yuni sembari menyembunyikan dua eskrim lagi yang masih tersisa.


"Aunty, mau eskrim lagi." Nabila berbalik meminta pada Olif dengan wajah lugunya.

__ADS_1


"Ahhhhh... Anak pintar, dia memanggilku dalam bahasa Inggris. Hemmmm... Gemesnya." Olif mencibir pipi Nabila pelan. Dia dengan segera menyerahkan eskrim yang sedang ia makan kepada Nabila. Rasanya ia tidak kuat menolak permintaan anak kecil itu.


"Olif..." Yuni menatap tak percaya.


"Hanya tinggal sedikit lagi. Tidak apa-apa setelah itu Nabila akan berhenti." Olif tersenyum menampakkan gigi putihnya.


"Kakak ipar... Kakak ipar.... hahhhh. Akhirnya aku menemukanmu." teriak seorang laki-laki masih sangat muda berlari sekuat tenaga menghampiri Yuni.


"Kakak Ipar..." laki-laki itu berbicara terengah engah menahan nafasnya yang berburu karena ngos-ngosan.


"Justin." ucap Yuni sedikit terkejut saat melihat adik iparnya tiba-tiba datang menghampirinya.


"Kakak ipar tolong aku kak, kali ini aja. Ini benar-benar sangat emergency." tutur Justin masih dengan nafas terengah-engah. Dia mengatupkan kedua tangannya memohon pada Yuni.


"Tidak, kali ini kakak tidak akan membantumu. Kakak sudah cepek menghadapi wanita mu yang tidak jelas itu. Kakak sudah lelah, lebih baik kamu minta tolong saja pada orang lain." tolong Yuni melipatkan kedua tangannya di belahan dada.


"Ini buka soal wanitaku kak, tapi ini masalah lain. Aku telah melukai seorang model di acara fashion show Grammy award nanti malam kak. Aku tidak sengaja menabraknya tadi pagi dan sekarang dia sedang koma di rumah sakit. Ku mohon kak bantulah aku." Justin memasang wajah sesedih mungkin, memperlihatkan manik-manik matanya yang imut.


"Jangan bilang kalau kamu meminta kakak untuk jadi model Grammy award nanti malam." tebak Yuni.


Sementara di sisi lain Olif sedikit menaikan alisnya ketika melihat apa yang dilakukan Justin. Sedangkan Nabila sudah tersenyum lebar anak kecil itu langsung berdiri menaiki punggung Justin.


"Uncle Justin ayo. Nabila mau main uda-uda." Nabila menarik kuat kuping Justin mempraktekkan cara menunggangi kuda.


"Nabila please bantulah Uncle Justin sayang, rayu Mama supaya membantu Uncle."


"Tidak bisa Justin, kalau kakak jadi modelnya nanti malam terus siapa yang akan menjaga Nabila. Tidak, tidak bisa. kakak tidak bisa membantumu."


"Kakak ipar, please. Justin janji kalau selesai nanti Justin akan mematuhi semua perintah kakak." tutur Justin menyakinkan.


"No..."


"Kakak ipar tega sama Justin. Kakak ingin melihat Justin masuk penjara gara-gara enggak sanggup membayar kerugiannya. Hikkk... Malangnya nasibku." Justin berpura-pura menangis.


"Aku bisa membantumu..." ucap Olif secara tiba-tiba. Membuat semua orang menoleh cepat kearahnya.

__ADS_1


"Olif..." guma Yuni.


"Aku memang belum berpengalaman menjadi model tapi aku sering menghadiri acara fashion show ternama sewaktu di Prancis." imbuh Olif lagi.


"Kamu siapa...??" tanya Justin memperhantinkan Olif dari lutut hingga kepala, ia baru pertama kali melihat wanita yang berada didepannya ini. Tapi wajahnya terasa sangat familiar.


"Dia adik kandung kakak. Namanya Olivia Wilde, panggil saja kak Olivia. Karena dia jauh lebih tua ketimbang dirimu." jelas Yuni sedikit menegaskan kata-katanya.


"Ooooo..." Justin manggut-manggut pertanda mengerti pantas saja terasa familiar teryata dia adik kakak ipar pikir Justin.


"Apa aku boleh membantunya...??" tanya Olif.


"Ohhh, tentu. Namaku Justin. Aku adik iparnya kak Yuni." Justin segera menjulurkan tangannya.


"Olivia." ucap Olif juga ikut memperkenalkan namanya sembari menjabat tangan Justin.


"Jangan menatapnya seperti itu." Yuni dengan buru-buru memisahkan tangan mereka berdua.


"Uncle, ayo main..." Nabila memanyunkan bibirnya sadari tadi tidak ada yang memperdulikannya.


"Nabila Maaf. Uncle tidak bisa bermain sekarang. Uncle sibuk, lain kali saja ya." Justin dengan hati-hati menurunkan Nabila dari punggungnya karena Nabila sempat menolak turun.


"Senang bisa berkenalan denganmu." sambung Justin basa basi terhadap Olif.


"Dia sudah punya suami, jangan coba-coba merayunya. Dia kesini hanya ingin berlibur. Jadi jangan berpikir macam-macam. Dasar anak bau kencur..." ketus Yuni.


"Kakak ipar berhentilah memanggilku dengan sebutan itu. aku sudah tamat sekolah sekarang." protes Justin. Ya, beberapa bulan yang lalu Justin dinyatakan lulus dari sekolah menengah atas. Dan sekarang dia lagi menempuh ilmu perguruan tinggi di salah satu universitas ternama di Sidney.


"Kamu yakin ingin membantu adik ipar songong ku ini...??" Yuni masih belum yakin dengan Olif, bukan tanpa alasan melainkan Yuni khawatir kalau Olif bekal sedih lagi nantinya. Apalagi di acara Grammy award nanti malam yang didatangi orang banyak.


"Iya, Olif rasa Olif bisa." sahut Olif menyakinkan.


Aku harus bisa melupakan kesedihanku ini, kalau aku terus-menerus dia diri maka semua kenangan dan kepahitan itu tidak bisa aku lupakan. Aku harus mencari kecerahan hidupku sendiri.


Bersambung....

__ADS_1


Maaf telat 🙏


__ADS_2