
Laki-laki itu lalu memutar badan dan melihat ke arah Rita, ia mendapati Rita dalam kondisi yang berantakan, rambut panjang tidak beraturan, bajunya kusut dan wajah muram,
“maaf, saya tidak sengaja” ucap Rita dengan suara gemetar, laki-laki itu kemudian berlutut dan mensejajarkan wajahnya pada Rita,
‘apa dia orang gila, penampilannya sudah mirip orang gila karena seberantakan ini, tapi apa mungkin orang gila minta maaf?' batin laki-laki itu.
“its ok, apa kamu lagi ada masalah?, penampilanmu berantakan sekali” ucap laki-laki itu,
Rita lalu melihat laki-laki di depannya, penampilannya sederhana, ia bahkan terlihat mirip dengan orang yang tidak beruang sama sekali,
'jika ia orang kaya, akan ku jual diriku padanya untuk menolong ibu’ batin Rita menahan getir di hatinya,
“Sepertinya kamu memiliki masalah yang berat, jika kamu mau cerita mungkin aku bisa membantumu” ucap laki-laki itu lembut pada Rita,
Rita melepas nafas panjang, ia ingin sekali melepas beban di pundaknya yang terasa begitu berat, ketika mendengar laki-laki memintanya untuk bercerita, ia kemudian melepaskan semua bebannya dengan mencurahkan keadaannya pada laki-laki itu,
‘ia sepertinya orang baik, aku hanya butuh teman bicara, sakit sekali rasanya untuk memendam ini seorang diri’
“ibuku mengalami kebocoran jantung, dan ia harus segera dioperasi, jika tidak, ia tidak bisa lagi diselamantkan, tapi aku sama sekali tidak memiliki uang” lirih Rita pilu menceritakan masalahnya pada laki-laki di depannya.
“berat sekali hidupmu, ikutlah denganku, mungkin aku bisa sedikit membantumu” ucap laki-laki itu dan Rita memandang heran ke arahnya,
‘memang dia bisa bantu apa?’
Rita kemudian mengikuti langkah laki-laki itu, dan laki-laki itu kemudian memintanya untuk menunjukkan ruang dimana ibunya di rawat, ketika berada di depan IGD tempat ibunya di rawat, seorang suster keluar dari ruangan itu dan laki-laki itu langsung menemui suster itu, kemudian laki-laki itu mengikuti langkah suster itu meninggalkan Rita dengan heran di depan ruang rawat ibunya,
Rita masih melamun heran dengan laki-laki itu, 'dia kemana?, katanya mau membantuku’ batinnya,
Rita kemudian melihat ibunya dari balik jendela pintu, perih hatinya kembali terasa, air matanya menetes dan hidup begitu terasa tidak adil untuknya.
Selang beberapa lama, beberapa suster datang dan masuk ke dalam ruangan ibunya, melihat itu semua, perasaan khawatir muncul di hati Rita,
‘kenapa ini? kenapa mereka semua masuk, ada apa dengan ibu?’ batinnya cemas,
“sus,sus, kenapa dengan ibu saya” tanya Rita kepada seorang suster, namun suster itu tidak menjawab dan segera masuk ke ruangan ibunya Rita, ia melihat suster mulai membuka beberapa peralatan yang menempel pada ibunya, hati Rita kacau, jantungnya berdetak kencang,
‘ibu, ibu kenapa, apa mereka melepas semuanya karena aku belum membayar sepeserpun pada mereka' perlahan pipinya basah oleh Air mata.
“ibumu akan segera dioperasi, ia akan segera diselamatkan” suara seorang laki-laki mengejutkan Rita, ia segera mengusap air matanya, ia kemudian melihat ke arah laki-laki yang ia temui tadi, tanpa bisa bersuara,
'apa dia membiayai operasi ibu?’ batinnya lagi,
Ibunya Rita telah berada di ruang operasi, Rita duduk terdiam dengan perasaan cemas menunggu proses operasi ibunya, sementara laki-laki yang membiayai operasi ibunya duduk di sebelahnya sembari memainkan ponselnya, Rita melirik ke arah laki-laki itu, dan kemudian ia memberanikan dirinya untuk bertanya,
__ADS_1
“Kenapa anda membantu saya?” ucapnya dengan suara gemetar,
“karena kamu sedang membutuhkan bantuan” jawab laki-laki itu simpel.
Rita mengernyitkan dahinya mendengar jawaban itu,
‘kenapa sesimpel itu jawabannya?’
“aku rasa aku tidak punya alasan lain untuk membantumu selain itu” ucap laki-laki itu lagi karena melihat wajah heran Rita.
“terima kasih telah membantu saya, saya tidak tahu harus membalasnya gimana, saya hanya orang miskin yang tidak punya apa-apa” jawab Rita pasrah, ia benar-benar tidak tahu harus gimana lagi membalas kebaikan laki-laki di sebelahnya itu,
“aku tidak minta balasan apa-apa” jawab laki-laki itu ketus yang kembali memainkan ponselnya,
“saya masih perawan, jika anda menginginkannya, saya kan berikan untuk anda” ucap Rita polos, karena dalam pikirannya hanya itu harta paling berharga yang masih ia miliki,
Laki-laki itu melirik sinis kepada Rita, ‘apa perempuan semudah itu memberikan keperawanannya pada laki-laki?’ batinnya bingung,
“anda telah menyelamatkan nyawa ibu saya, jadi saya juga harus siap memberikan apa pun yang saya miliki untuk anda” jawabnya mantap,
‘aku harus ikhlas, tak ada yang gratis di dunia ini,’ batin Rita menguatkan dirinya dengan apa yang diucapkannya,
‘aku ikhlas membantunya, tapi kalau dia menawarkan, aku juga tidak akan menolak, apalagi ia masih muda, kelihatannya juga pintar, penampilannya juga lumayan menarik, mungkin aku bisa memanfaatkannya’ batin laki-laki itu
Nafas Rita terasa tercekat di tenggorokannya, dadanya terasa sesak
'apa dia ingin aku jadi budaknya seumur hidupku, kenapa dia tidak ambil saja keperawananku, setidaknya, jika kehilangan itu, aku masih bisa memulai kehidupan baru yang lebih baik’ batin Rita,
*
Suasana siang itu cukup terik, Rita sedang berada di lift menuju lantai 3, perasaannya saat itu cukup lega, karena operasi ibunya berjalan lancar, dan ibunya juga sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dan saat ini ia tengah menunggu proses pemulihan ibunya,
Namun demikian, di hatinya saat ini juga memiliki rasa takut, entah apa yang diinginkan laki-laki itu dari dirinya,
Saat ia berada di depan ruangan yang dimaksud laki-laki itu, ia segera masuk, dan mendapati laki-laki itu tengah berbicara dengan seorang dokter, dan juga ia melihat seorang laki-laki lainnya tengah tertidur di ranjang rumah sakit,
Melihat kedatangan Rita, laki-laki itu tertawa sinis, ‘berani juga dia’ batinnya,
“jadi Arya, kamu harus jaga kondisi Tomy agar selalu stabil, sepertinya dia terlalu memaksa diri untuk bekerja, hingga ia kelelahan, tapi kamu tenang saja, tipus seperti ini memang sering melanda anak muda yang tidak mampu mengatur pola makan, waktu kerja dan waktu istirahatnya, kamu hanya perlu membimbing Tomy agar lebih peduli dengan kesehatannya” ucap Dokter itu pada Arya,
“ok, Karina, terima kasih atas bantuannya,” jawab Arya, Dokter Karina kemudian pamit pergi,
Sejenak Dokter Karina melihat ke arah Rita ketika berpapadan dengannya di dekat pintu kamar itu, Rita kemudian menunduk melihat dokter Karina.
__ADS_1
Setelah dokter Karina pergi, Arya kemudian memanggil Rita agar mendekat ke arahnya,
“sebenarnya aku ikhlas membantumu, tapi sepertinya kamu ingin sekali membalas bantuanku kemarin” ucap Arya datar,
“anda telah mengeluarkan banyak uang untuk ibu saya, sudah seharusnya saya menggantinya dengan apa yang saya miliki” jawab Rita yang mulai ada rasa takut dihatinya,
“ok, sepertinya kamu cukup serius, apa kamu yakin memberikan hidupmu untukku?” tanya Arya dengan nada menekan,
Rita menjawab iya dengan matap, ia tidak boleh menunjukkan keraguan pada orang yang ada di depannya itu,
“apa kamu sanggup melayani 3 laki-laki sekaligus?” tanya Arya simpel, Mata Rita membelalak kaget mendengarnya.
‘apa dia ingin menjadikanku budak nafsunya, dia bahkan memintaku melakukannya dengan 3 laki-laki sekaligus, aku tidak mau melakukan itu, apalagi melakukannya seumur hidupku, Tuhan, bantu aku'
“sepertinya kamu ragu, bagaimana jika melayani 2 laki-laki sekaligus,” tanya Arya lagi,
Rita masih diam, jiwanya masih shock mendengar permintaan Arya,
‘aku tidak ingin menjadi budak nafsu orang, sungguh aku tidak ingin,’ Batinnya menjerit dengan keadaan yang ada,
“jadi kamu tidak bisa ya, baiklah kalau begitu kamu hanya perlu melayaniku seorang diri” ucap Arya,
Rita menghembuskan nafas berat, itu jauh lebih baik menurutnya, daripada harus melayani nafsu 3 atau 2 laki-laki, ia akan jauh lebih memilih untuk melayani nafsu satu orang laki-laki saja, walau pun sebenarnya ia tetap tidak ingin menjadi budak nafsu laki-laki,
Arya kemudian mengeluarkan dompetnya, ia mengeluarkan 2 kartu dari dompet itu, Kemudian memberikan keduanya pada Rita,
‘apa ini? apa dia ingin aku berdandan cantik untuk melayani hasratnya’ batin Rita bingung,
‘itu kartu namaku, besok datanglah ke alamat kantor di kartu itu, mulai besok kamu bekerja sebagai sekretarisku, masalah pekerjaan dan gajimu besok akan kita bahas di kantor, dan yang satu lagi itu kartu kredit untukmu, belilah pakaian kerja yang bagus, dan segera lunasi biaya perawatan ibumu, masuk kerja jam 8, dan jangan sampai terlambat, tidak ada toleransi bagi orang yang tidak disiplin di kantorku” ucap Arya,
Rita melepas nafas panjang 'huh , syukurlah, aku tidak akan menjadi budak nafsu laki-laki, aku terlalu berpikiran negatif, dia baik sekali memberiku pekerjaan, padahal aku tidak punya pengalaman apa-apa dalam bekerja' batinnya
“baik,” jawab Rita, kemudian ia mendekat dan memberikan tangan pada Arya,
“kenapa?” tanya Arya bingung melihat tangan Rita,
“salaman, sekaligus ucapan terima kasih yang tak terhingga dariku untukmu” jawab Rita lembut,
“tak usah, aku tak mau menyentuh kulit perempuan” jawab Arya simpel dan kemudian duduk di kursi di sebelah ranjangnya Tomy,
Rita kemudian menarik tangannya dan menghembuskan nafas lega, ia terlalu berpikir negatif pada laki-laki yang ada di depannya, sejak saat itulah Rita menjadi sekretaris pribadi Arya, dan ia juga berjanji pada dirinya sendiri akan bekerja pada Arya selama Arya masih membutuhkannya, itu tak lain karena ia ingin membalas kebaikan Arya yang dianggapnya telah menyelamtkan nyawa ibunya,
Dan akhirnya ia juga sadar, maksud Arya melayani 3 laki-laki sekaligus adalah untuk menjadi sekretaris bagi Arbi, Ari dan Arya sendiri, karena memang mereka bertiga belum memiliki sekretaris karena perusahaan 3A Sahabat memang baru berdiri saat itu. Namun karena ia malah berpikiran negatif di awal, akhirnya ia hanya menjadi sekretaris pribadi bagi Arya.
__ADS_1
FB end