Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Bukankah Dia Bilang Setia?


__ADS_3

Setelah memilih beberapa desain gaun pengantin, Abel dan Mila melanjutkan kegiatan mereka dengan berkeliling mall untuk berbelanja, selain itu mereka berkeliling juga untuk sekedar cuci mata dengan melihat barang-barang yang terpajang indah di mall tersebut. Mereka membeli beberapa pakaian, aksesoris dan juga beberapa alat make up.


Ketika Abel sedang asyik melihat beberapa aksesoris, ia tiba-tiba bertanya pada Mila, pertanyaan yang membuat Mila semakin merasa terpojokan dengan keadaannya sendiri.


“kamu nggak mau beli sesuatu untuk Arya?”


‘membeli sesuatu untuk Arya, astaga Bel, andai saja kamu tahu seperti apa pernikahanku saat ini, kamu pasti tidak akan berbicara seperti ini dari tadi’


Mila menggeleng lesu untuk menjawab pertanyaan Abel, namun Abel yang melihatnya hanya tersenyum,


“kamu harus biasa memberikan hadiah untuk suamimu, itu mungkin bisa membuatnya tambah cinta kepadamu”


Abel kemudian memilih 2 buah gelang yang memiliki motif yang sama, ia kemudian memperlihatkan 2 gelang itu kepada Mila,


“apa menurutmu Tomy akan menyukai ini?”


“entah lah Bel, aku juga tidak paham selera laki-laki”


Setelah selesai berbelanja, Abel dan Mila ingin mengakhiri kegiatan mereka hari itu dengan makan siang di area foodcourt di lantai bawah mall tersebut, Mila sedang duduk dengan memainkan ponsel untuk melihat media sosialnya, sedangkan Abel tengah mengecek barang-barang belanjaannya satu persatu,


“Mil, boleh aku bertanya sesuatu”


Mila yang mendengarkan itu kemudian mengangguk pelan tanpa melihat ke arah Abel,


“kenapa kamu tidak memakai cincin pernikahanmu?”


deg,,,deg,,, jantung Mila berdetak kencang, ia benar-benar dibuat tersudut kali ini oleh pertanyaan Abel, wajahnya berubah pias dan matanya yang sedari tadi melihat layar ponsel beralih kepada Abel yang masih asyik mengecek satu persatu plastik belanjaannya.

__ADS_1


‘ya Tuhan, kenapa aku benar-benar menjadi istri durhaka mendengar semua pertanyaan Abel dari tadi’


Karena tidak mendengar jawaban Mila, Abel kemudian menghentikan kegiatannya dan melirik ke arah Mila, “kenapa Mil?”


Mila kemudian mengalihkan pandangannya dari Abel dengan sikap salah tingkahnya,


"itu,,,aku,,,,,” jawabnya terbata tak tahu harus mengatakan apa lagi.


“apa cincin pernikahanmu tidak pas di jarimu?, apa itu berarti aku harus menemani Tomy untuk memilih cincin pernikahan kami?, tapi Tomy nggak nyaman jika jalan berdua denganku, dia bilang dia mau berdua-duan denganku jika kami sudah menikah nanti, apa aku harus ngasih tahu Ari dulu ukuran cincin yang cocok untukku ya?”


Abel terus berbicara dengan polos, sedangkan Mila hanya diam mendengarnya sembari mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak cepat dari tadi.


“Mil, apa menurutmu Tomy akan lebih mencintaiku jika aku memakai jilbab atau cadar sepertimu, dia sepertinya orang yang fanatik juga dengan agama”


Abel terus melanjutkan kalimatnya, karena sejatinya ia adalah perempuan yang tidak suka diam, dan jika ia sudah mulai berbicara, segala sesuatu bisa saja lepas dari mulutnya tanpa bisa ia kendalikan, ia bahkan tidak suka melihat orang yang sedang duduk dengannya lebih senang bermain ponsel ketimbang berbicara dengannya seperti yang dilakukan Mila ketika mereka baru duduk di area foodcourt tersebut.


“Bel, jika kamu ingin menggunakan hijab atau cadar, lakukanlah itu karena niat menaati perintah Allah, jangan karena semata ingin menarik perhatian seorang laki-laki”


Mata Mila membelalak kaget mendengar ucapan Abel, hatinya begitu kalut, dirinya serasa menjadi manusia yang begitu munafik di dunia ini,


‘aku bahkan bisa berbicara sebijak ini pada Abel, padahal aku memakai cadar ini hanya sekedar untuk membatalkan pernikahanku saat itu, aku benar-benar manusia munafik’ Mila berkalut sedih dengan dirinya sendiri saat itu.


“maksudku, aku ingin tahu apa yang mendorongmu hingga kamu memutuskan memakai cadar seperti ini” lanjut Abel, ia merasa Mila tidak memahami kalimatnya sebelumnya karena Mila hanya diam tak menjawab.


Abel masih menatap Mila menunggu jawaban, sedangkan Mila masih berkutat dengan hatinya sendiri, hingga akhirnya ia terselamatkan setelah seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka, Pelayan tersebut meletakkan 2 buah nasi dengan potongan ayam dan kentang goreng serta 2 minuman dingin di meja itu, Mila pun segera bersuara untuk mengalihkan pembicaraan mereka sebelumnya,


“lebih baik kita makan dulu Bel, aku benar-benar lapar”

__ADS_1


Abel kemudian menarik makanan dengan wajah kecewa, ia benar-benar ingin mendengar jawaban dari Mila agar dirinya juga dapat berubah menjadi lebih baik seperti Mila, ia kemudian melihat Mila yang telah mulai mengambil makanan untuk segera ia makan.


Belum sempat Mila melahap makanannya seorang laki-laki langsung duduk di kursi di sebelahnya yang membuatnya kaget dan menjatuhkan makanan yang ada di tangannya,


“hai sayang” ucap Arnes dengan senyum manja pada Mila yang membuat Mila dan Abel kaget dengan apa yang Arnes bilang.


“bang,,bang,,,bang Arnes, kok abang ada disini?” Mila melihat Arnes dengan wajah gugup, bibirnya mulai memucat, perasaan takut merasuki hatinya karena sekarang ada Abel yang tengah duduk di depannya.


“ini kan mall milik papaku Mil, aku setiap hari kesini untuk mengecek laporan pengelolanya” Arnes dengan santai menjawab sembari menatap hangat ke arah Mila.


“ohh, Bel, ini bang Arnes, bang Arnes ini Abel temanku” Mila mencoba mengarahkan percakapan agar Abel tidak berpikir negatif tentang dirinya,


“Arnes, pacarnya Mila” suara Arnes tegas sembari mengangkat tangan untuk bersalaman dengan Abel.


Sementara Mila dan Abel hanya bisa terbelalak kaget mendengarkan ucapan Arnes, Mila benar-benar pias, ia juga tak bisa membantah perkataan Arnes karena takut Arnes akan marah kepadanya.


‘ya Tuhan, aku benar-benar manusia hina di depan Abel’


Abel ingin langsung berbicara tentang apa yang ia dengar, namun melihat Arnes yang tampak begitu akrab dengan Mila membuatnya mengurungkan niatnya, ia mengabaikan tangan Arnes seolah tidak peduli dengan laki-laki itu, ia sama sekali tidak ingin ikut campur dengan kehidupan pribadi Mila, ia hanya menggenggam tangannya dengan erat mencoba menahan emosi melihat pengkhianatan Mila di depan matanya kepada Arya.


‘bukankah tadi dia bilang tentang setia dan hanya mencintai suaminya, sekarang apa yang ia lakukan?’


Arnes kemudian tersenyum sinis melihat reaksi Abel, ‘lumayan juga nih anak, kayaknya masih perawan,’


“Mil, buka dong cadarnya” Arnes kemudian mengalihkan pandangannya pada Mila dan berbicara dengan nada menggoda, yang membuat Abel jijik mendengarnya,


Wajah Mila berubah putih pucat menahan perasaannya yang tak karuan, harga dirinya benar-benar terasa jatuh, ia bahkan serasa tidak memiliki harga diri lagi di depan Abel, ia dengan gugup menghadapi Arnes karena merasa malu pada Abel, ia juga tidak kuasa menolak permintaan Arnes, laki-laki yang masih sangat ia cintai.

__ADS_1


Arnes kemudian mengangkat tangannya untuk membuka cadar Mila, dan Mila akhirnya hanya pasrah menerima keadaan, sementara Abel melihatnya dengan tatapan tak percaya.


Ketika tangan Arnes hampir menyentuh cadar Mila, tiba-tiba ada tangan laki-laki yang menarik tangan Arnes dengan kasar yang membuatnya terjatuh dari kursinya,


__ADS_2