Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Merasa dijebak


__ADS_3

Motor bebek Arya memasuki pekarangan Rumah Mila. Jam baru menunjukkan pukul 2 siang, tapi Arya memilih pulang lebih cepat dari kantor karena tidak mau meladeni Ari lebih lama. Anak itu tidak pernah meninggalkan ruangan Arya dan selalu mengajak Arya bicara, sehingga Arya tak konsentrasi lagi untuk bekerja.


Ketika Arya memasuki pekarangan rumah itu, ia mendapati mobil Vanessa yang masih terpakir dengan setia di tempatnya.


‘kalau bukan karena rasa tanggung jawabku yang menjadi suaminya, aku takkan mau melangkahkan kakiku ke rumah ini lagi’ batin Arya.


Arya memasuki rumah itu dari pintu teras samping. Ia mendapati Vanessa yang sedang membersihkan dapur dan Mila yang sedang makan di meja makan.


Arya mengucapkan salam dan masuk yang membuat Vanessa dan Mila melihat serentak ke arahnya. Mata Arya dan Mila kemudian saling bertatap panjang ketika pandangan mereka bertemu.


Mila lalu mengalihkan pandangannya dengan raut wajah datar seolah tidak mempedulikan Arya, padahal jantungnya berdetak kencang ketika Arya muncul di depan pintu teras samping itu.


“masuklah Arya, kenapa kamu tidak pulang dari semalam padahal seharusnya kemarin menjadi malam pertama kaliankan?” Vanessa berusaha mencairkan suasana.


Arya lalu masuk dan duduk di meja makan, ia duduk dengan posisi yang agak jauh dari Mila. Mila dan Arya tampak canggung mendengarkan ucapan Vanessa.


"kemarin aku ketiduran kak, jadi nggak sempat balik kesini" Jawab Arya atas pertanyaan Vanessa.


“kamu mau makan?” tanya Vanessa yang dijawab Arya dengan anggukkan, Arya memang berkutat dengan kerjaannya dari siang hingga melewatkan makan siangnya.


“semalam kamu tidur dimana Rya?” tanya Vanessa sembari memberikan sebuah piring pada Arya.


“kontrakan kak, aku ketiduran” jawab Arya, ia kemudian melirik ke arah Mila yang sedang menikmati makanannya tanpa memperdulikan kehadiran Arya.


“kenapa kamu baru makan? apa kamu selalu melewatkan makan siangmu seperti ini?” tanya Arya, ia berharap Mila mau menjawab pertanyaan, namun sayangnya Arya hanya dianggap obat nyamuk oleh Mila.


“Mila baru pulang juga Rya, dia tadi ngajar di sekolah, udah 3 hari ini ia libur ngajar, jadi tadi banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan” jawab Vanessa karena melihat Mila mengabaikan pertanyaan Arya.


Arya mendengus kesal dengan keadaan, ia hanya bisa merutuki dirinya sendiri yang membuatnya hadir pada posisi yang sulit saat ini.


'ohh, jadi dia guru' batin Arya.


“apa kakak yang selalu masak di rumah ini?” tanya Arya, mendengar pertanyaan Arya membuat telinga Mila sedikit memanas.


Vanessa baru saja ingin membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Arya, namun Mila langsung bersuara.


“apa menurutmu aku tidak bisa masak?” tanya Mila memberikan tatapan tajam pada Arya,

__ADS_1


‘ha, kenapa dia marah?, padahal aku hanya bertanya pada kak Vanessa’ batin Arya bingung.


“kalau kamu bisa masak, buktikanlah”


“aku tidak pernah memasak untuk orang sepertimu” nada Mila dengan suara tajam dan penuh kebencian tertuju pada Arya.


'kenapa dia jadi sensitif gini sih?’


“berarti kau memang nggak bisa masak kan” jawab Arya simpel tanpa beban.


“kakek kemarin menyuruhku agar memberi tahumu untuk bekerja di perusahaan keluarga ini” ucap Vanessa yang langsung memotong perdebatan Mila dan Arya, ia merasa perdebatan Arya dan Mila akan memperburuk hubungan mereka.


Mila mendengus kesal pada Vanessa karena membuatnya merasa kalah dari Arya atas perdebatan kecil mereka.


“kerja di perusahaan keluarga?”


“iya, daripada kamu menganggur, lebih baik kamu kerja di perusahaan keluarga ini, kamu kan juga bagian keluarga ini” ucap Vanessa yang sudah selesai dengan pekerjaannya dan sekarang duduk di hadapan Arya


“apa kakak berpikir aku ini benar-benar pengangguran?”


“bukankah kamu sendiri yang bilang pada kakek kalau kamu itu pengangguran yang sejahtera”


“pergilah besok dengan suamiku ke kantor, dia akan kasih pekerjaan buat kamu”


“suami kakak mana, kenapa aku tidak melihatnya dari kemarin?”


Vanessa terdiam mendengar ucapan Arya, hatinya seperti tertusuk sembilu, karena memang beberapa hari ini Irman tidak pernah tidur di rumah tanpa bicara apapun padanya.


“besok pergilah ke kantor bersama suamiku, bekerjalah dengan baik disana, itu pesan kakek” ucap Vanessa meneruskan pesan pak Sarman sebelum pulang dari rumah sakit setelah akad pernikahan.


Vanessa lebih memilih mengabaikan pembahasan tentang Irman karena tidak ingin menunjukkan kegetiran hatinya di hadapan Mila dan Arya.


“tapi aku lebih senang jadi pengangguran yang hidup sejahterah kak” jawab Arya datar sembari melahap makananannya.


“benarkah, perusahaan keluarga ini didirikan dan dibesarkan kakek, atas usaha dan perjuangan kakek, perusahaan itu salah satu perusahaan terbesar di Negara ini, dan sekarang perusahaan itu dikelola suamiku, kamu yakin tidak berminat kerja disana? bahkan ketika aku menyebut nama perusahaannya saja, semua orang akan menginginkan untuk bekerja disana” ucap Vanessa membanggakan perusahaan yang dikelola suaminya.


“benarkah, apa nama perusahaan itu? mungkin aku akan tertarik jika mendengar namanya”

__ADS_1


“Cipta Rakarsa”


Arya langsung tersedak mendengar nama perusahaan yang disebut Vanessa,


"kamu kenapa Arya?” ucap Vanessa yang langsung mengambil air untuk Arya.


‘cipta rakarsa, bukankah itu musuh yang dibilang Ari, apa mereka benar-benar telah menjebakku, mereka mengikatku di keluarga ini untuk menghancurkan perusahaanku melalui diriku sendiri’ batin Arya penuh dugaan.


*


Arya tengah duduk di meja yang ada di kamar tamu yang telah menjadi kamarnya. Ia sedang membuka laptop dan kembali mempelajari konsep industri yang tepat untuk disayembarakan di Bian corp.


Di tengah keasyikannya bekerja, pikirannya melayang kepada Mila.


'seharusnya sekarang aku sedang bermesraan dengan istriku, tapi sekarang aku malah seperti laki-laki bujangan,’ ia menghembus nafas kasar meratapi dirinya sendiri.


‘tunggu, apa benar mereka ingin menghancurkan perusahaan ku melalui diriku sendiri?, apa mereka memang sengaja menjebakku?, mereka sengaja menjadikanku anggota keluarga Rakarsa dan kemudian perlahan menghancurkan aku dan perusahaanku. lalu, kenapa kakek menyuruhku bekerja di perusahaannya?. ke depan aku harus hati-hati melangkah, dan juga, Adinata group, apa aku harus maju juga sekarang?”


Pikiran Arya yang tengah menerawang tak jelas di kagetkan oleh ketukan pintu kamarnya. ia segera berdiri dari kursinya dan membuka pintu tersebut.


“ada apa kak?” tanya Arya yang melihat Vanessa berdiri di depan pintunya.


“ada tamu yang mencarimu, lihatlah ke ruang tamu” ucap Vanessa, ia kemudian meninggalkan Arya untuk bergabung bersama Mila di meja makan, sementara Arya segera berjalan menuju ruang tamu.


“Tomy” Arya kaget melihat Tomy tengah duduk di ruang tamu rumah itu, dadanya tersentak, nafas sejenak tercekat tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Sementara Tomy tersenyum melihat Arya yang tengah berdiri melihatnya.


“Ini rumah barumu Rya?, besar dan mewah ya, apa kamu sudah menjadi orang kaya sekarang?” tanya Tomy yang tidak henti-hentinya melihat rumah itu penuh kekaguman.


“bagaimana kamu bisa sampai ke rumah ini” tanya Arya yang heran kepada Tomy, ia bahkan tidak memberi tahu siapa pun tentang tempat tinggal barunya itu kepada orang lain, termasuk sahabatnya Ari dan Arbi.


“Dari kemarin aku menelfonmu, tapi kamu sama sekali tidak mengangkat telfonku, tadi aku juga ke kontrakanmu, dan kamu juga tidak ada, makanya aku kesini, kau benar-benar membuat ku lelah hanya untuk mencari keberadaanmu” kesah Tomy pada Arya.


Arya masih tetap berdiri kaku tak percaya Tomy bisa mengetahui keberadaannya di rumah itu.


“Kamu kenapa bisa tahu aku di rumah ini Tom?” tanya Arya yang tidak peduli dengan pembicaraan Tomy, ia benar-benar bingung tidak tahu caranya Tomy bisa menemukan keberadaannya.

__ADS_1


“apa kamu lupa kalau dengan motor bebek mu itu Rya?”


__ADS_2