
“Rita, usir dia” ucap Ari yang membuat mata Mila berkaca-kaca menahan sedih, harga dirinya terasa disobek-sobek oleh perkataan Ari.
‘apa ini balasan untukku karena telah merendahkan harga diri suamiku di depan orang lain’
Anjani yang mendengar hanya diam seolah tidak mendengarnya, ia tidak mau ikut campur dengan urusan orang-orang yang baru dilihatnya itu.
Rita kemudian melihat sinis ke arah Mila setelah Ari dan Anjani pergi,
“kamu sudah dengar sendirikan, apa aku harus bersikap kasar untuk memenuhi keinginan pimpinan perusahaan ini kepadamu?” Mila kemudian mengambil tasnya di atas meja dan kemudian pergi meninggalkan Rita tanpa bersuara, dan Rita melihat kepergian Mila dengan senyuman sinisnya.
*
Mila berlari menuju kamarnya tanpa memperhatikan Vanessa yang melihatnya dengan tatapan bingung, ‘Mila kenapa?’
Vanessa segera berjalan menuju kamar Mila, ia kemudian mengetuk pintu dan segera masuk ke dalam kamar Mila. Disana ia mendapati Mila tengah menangis meringkuk di atas ranjangnya, Vanessa melepas nafas panjang melihat adik iparnya itu,
‘kenapa masalah nggak pernah berhenti merundung kamu Mil?, apa ini ujian cintamu dan Arya?, atau memang kamu dan Arya memang nggak berjodoh?, sehingga berbagai masalah ini datang untuk memisahkan kalian’
“dek, ada masalah lagi?” Vanessa mendekat pada Mila dan kemudian mengelus lembut bahu Mila untuk memberikan ketenangan kepadanya,
“aku melakukan kesalahan lagi kak, aku menyakitinya lagi” sedih Mila terisak, rasa takut kehilangan itu kembali datang, ia begitu menyesali dirinya sendiri, ia bahkan tidak habis pikir kenapa begitu percaya dirinya ia kemarin mengatakan Arnes adalah pacarnya di depan Ari, Abel dan Arya, dan sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah menyesali apa yang terjadi.
“dek, kakak dulu pernah bilang kalau kamu akan menyesal jika Arya pergi darimu, sekarang apa kakak salah dengan kata kakak itu?”
“kak, aku yang salah kak, aku yang berdosa pada suamiku sendiri kak, aku tak ingin kehilangannya”
“lalu bagaimana dengan Arnes?” selidik Vanessa, ia ingin mengetahui penilaian Mila tentang Arnes setelah apa yang disampaikan oleh Irman semalam. ‘apa dia masih menginginkan laki-laki itu?’
“ntahlah kak, aku belum bisa percaya jika bang Arnes seperti itu, aku harus harus tanya langsung pada dia”
“Mil, jika kamu tidak bisa melupakan laki-laki itu, maka lebih baik kamu meninggalkan Arya Mil, segera akhiri hubungan kalian, mungkin itu akan jauh lebih baik untukmu”
Mila melihat ke arah wajah Vanessa dengan wajah tak percaya dengan apa yang ia dengar, ia tidak menyangka kalimat tersebut akan keluar dari mulut Vanessa yang selama ini selalu menginginkan ia bersama Arya.
“maksud kakak apa?, selama ini kakak selalu menyuruhku untuk menerima Arya”
“Mil, pilihlah salah satu diantara mereka, jangan menggantung Arya lagi dengan harapan kosong, dia memberikanmu kesempatan karena berharap cintamu, tapi jika kamu terus memberi hati pada Arnes, yang ada kamu hanya akan terus menyakitinya” ucap Vanessa, karena sekarang ia memiliki ketakutan yang sama dengan Arya, ketakutan Mila tidak akan bisa menerima kenyataan bahwa perusahaan Arya lah yang tengah menghancurkan perusahaan keluarga Rakarsa.
__ADS_1
“Kak, apa kakak sekarang juga tidak bisa memahamiku, aku butuh waktu kak, aku butuh waktu melupakan bang Arnes dan aku butuh waktu untuk mencintai Arya”
Vanessa kemudian menarik wajah Mila dan melihat erat kedua matanya,
“kakak paham kamu, tapi Arya tidak, Arya hanya ingin kamu mencintainya, hanya itu Mil, jika kamu tetap berkeras hati Arya ingin memahamimu, sampai kapanpun yang kalian lakukan hanya akan saling menyakiti, pilihlah sekarang, abangmu sudah menunjukkan sisi gelap Arnes, dan kamu juga sudah tahu gimana Arya”
Mila memandang dalam mata Vanessa, ia seperti merasakan perasaan Vanessa di hatinya, perasaan menginginkan Arya untuk tetap ada di sisi mereka,
“Mil, pilih Arya, tumbuhkan lagi kepercayaan Arya yang telah hilang kepadamu, dan bersamalah untuk mencapai kebahagiaan kalian”
Air mata Mila menetes mendengarnya, mungkin itu adalah salah satu sisi Arya yang tidak pernah disadari oleh Mila, alasan Arya tidak bisa memahami dirinya, karena kepercayaan Arya yang telah memudar terhadapnya, Sehingga membuat Arya memaksa dirinya untuk berhenti mencintai Arnes,
‘apa ini alasan Arya memaksaku untuk memilih dia atau bang Arnes, karena dia tidak percaya lagi kepadaku, dia tak percaya kalau aku bisa mencintainya, dia menguji hatiku dengan bertanya tentang komitmenku dengan pernikahan ini dan dia hanya akan bertahan karena komitmen itu, dan jika aku tidak punya komitmen, maka dia akan pergi,
“laki-laki itu berpegang pada rasionalnya Mil, bukan perasaan, jika pikirannya telah berkata tidak, maka hatinya juga berkata tidak, berbeda dengan kita, kita berpegang pada perasaan, kamu mencintai Arnes dengan perasaanmu, dan pikiranmu mengangap benar semua kesalahanmu karena perasaan itu, kamu membela dirimu dengan berkata Arya tidak memahami hatimu, tapi bagaimana bisa Arya memahami hatimu jika pikirannya membenarkan cintamu pada Arnes”
Kepala Mila menggeleng, ia benar-benar tak paham dengan apa yang telah terjadi selama ini pada dirinya, egonya karena perasaannya sendirilah yang membuat keadaannya dan Arya seperti ini, tetapi ia selalu menyalahkan Arya yang ego atas setiap keputusan Arya.
“kak, kemarin aku melakukan kesalahan yang sama seperti hari itu, mungkin Arya benar-benar tidak akan memaafkan aku lagi” Mila mengalihkan pandangannya dari mata Vanessa, ia tak sanggup menatap Vanessa saat mengakui kesalahan yang telah ia lakukan.
“apa ini maksud Arya kemarin malam Mil?, kamu telah menginjak-nginjak kehormatannya”
“apa yang kamu lakukan?”
“aku mengatakan aku mencintai bang Arnes di depannya lagi, dan juga di depan temannya dan Abel” suara Mila terdengar lesu dengan nada bersalahnya, ia benar-benar malu dengan dirinya sendiri.
“itu jawabanmu atas pilihan yang telah Arya berikan, kamu telah memilih Arnes di depan Arya” Nada Vanessa terdengar sangat kecewa pada Mila.
Mila menggeleng mendengar suara Vanessa, ia merasa tidak terima jika Vanessa menganggap itu adalah pilihannya,
“nggak kak, aku hanya terbawa emosi kemarin,, tapi,,, apa yang aku katakan benar-benar membuat Arya marah”
“Mil, jika Arya mengatakan dia mencintai perempuan lain di depan kamu dan sahabat-sahabatmu apa kamu tidak akan marah padanya, padahal dia adalah suami”
Mila tertegun dengan ucapan Vanessa, ia salah, ia harus mengalah kali ini dengan keadaan,
‘Indra, apa aku salah jika aku egois menginginkanmu, pangeran masa kecilku yang selalu ku nanti kedatangannya’
__ADS_1
*
Hari demi hari berlalu, Mila menjalani harinya dengan penuh rasa takut dan bersalah, harapannya Arya akan kembali lagi dan mau bicara dengannya tidak pernah terwujud, kesehariannya hanya sekolah dan ketika pulang ke rumah ia tak banyak bicara selain hanya menghabiskan waktu di kamar.
Sudah lewat dari 2 minggu dari peristiwa itu, namun Arya tak kunjung datang menemuinya,
Mila ingin sekali mencari Arya ke kantornya, ia benar-benar ingin melihat wajah laki-laki yang telah ia sakiti hatinya berkali-kali itu,
Namun niat itu urung dilakukan, ia sadar jika Rita dan sahabat Arya, Ari tidak akan menerima kehadirannya, melainkan akan langsung mengusirnya jika ia datang ke kantor itu.
Mila juga telah berusaha menghubungi Tomy, namun chatnya tidak dibaca sama sekali, ‘apa Abel sudah cerita semuanya sama Tomy?, atau Arya sendiri yang cerita sama Tomy dan melarang Tomy untuk membalas chatku’
Perasaan gundah selalu dirasakan Mila, ia berharap dapat berbicara baik-baik dengan Arya, mencari jalan keluar untuk permasalahan rumah tangga mereka.
Namun yang ditunggu tak kunjung datang, berkali-kali juga Arnes memintanya untuk bertemu. Namun selalu ia tolak, ia teringat dengan ucapan Ari dan abangnya Irman yang mengatakan Arnes hanya menginginkan tubuhnya, yang membuatnya takut untuk bertatap muka dengan Arnes.
Entah mengapa ia dapat merasa seperti itu, padahal kalimat itu sebenarnya tidak ia percayai sama sekali. Namun tetap saja ia merasa takut bertemu dengan Arnes, takut jika Arnes benar-benar akan berlaku buruk padanya, dan takut jika Arya kembali memergokinya bertemu dengan Arnes, maka pernikahannya benar-benar hancur.
Selain itu ia masih berharap pada 2 foto Arya yang saat ini masih ia simpan, Arya adalah Indra, pangeran masa kecilnya yang selalu ia tunggu kepulangannya.
Mila menatap ponselnya, jam pulang sekolah akan segera datang, ia kemudian menutup kelasnya dan berjalan menuju ruang guru.
Syifa yang baru saja masuk ke ruang guru segera menuju ke kursi Mila untuk menemuinya, “Mil, kamu sibuk hari ini?”
“tidak kak, ada apa?”
“mau menemaniku?”
“kemana?” tanya Mila dengan semangat, ia akan merasa sangat senang jika bisa sedikit jalan-jalan, selama ini ia hanya di rumah menanti kepulangan Arya, mungkin dengan sejenak jalan-jalan Ia dapat mengusir beban di hatinya.
“aku mau cek ke dokter Mil, aku sudah terlambat datang bulan”
“benarkah, apa aku akan segera memiliki keponakan?” goda Mila pada Syifa,
“iih, kamu ini apaan sih?, aku kan Cuma mau cek aja, mana tahu ada masalahkan” jawab Syifa dengan malu-malu.
“cieeehh, nggak ditemenin suami nih”
__ADS_1
“nggak Mil, jika positif, aku mau jadiin kabarnya sebagai hadiah ulang tahun suamiku”.
Mila tersenyum menahan getir di hatinya, ia teringat pada ucapan kakeknya yang ingin segera menggendong anaknya, tapi ia malah membuat hubungannya dengan Arya berjalan ke arah kehancuran.