
Heri menjelang petang dimana matahari bersinar penuh menerangi sebahagia bumi, sebab sebagian lagi telah memasuki cakrawala malam.
Mobil sport berwarna silver telah keluar dari parkiran apartemennya Justin, laki-laki yang sudah dianggap adik oleh Olif.
Dirinya kini duduk bersebelahan dengan Varrel selaku pengemudi. Sedangkan Justin sang pemilik mobil dan Viki yang merupakan sahabat karib Varrel. Di tinggal pergi begitu saja.
Kedua laki-laki yang sama-sama memiliki mata biru itu hanya bisa berdecak kesal, memandangi mobil yang di kemudikan Varrel berlalu pergi menembus padanya jalan raya.
Mereka berdua harus terpaksa menaikkan taksi untuk pergi ke rumah sakit, karena mobil sport Justin tentunya tidak muat untuk empat orang.
Cuaca semakin terik tak ada awan apapun yang menutupi celah sinarnya matahari yang panas.
Lampu merah yang menyala dan lampu hijau yang mati membuat jalan raya semakin padat.
Kini mobil yang ditumpangi Olif tiba-tiba saja berhenti disalah satu taman kota itu. Sekilas matanya yang lentik menatap kearah air mancur yang berada di tengah-tengah taman.
Namun di persekian detik kemudian pandangannya langsung teralih kearah Varrel yang sudah terlebih dahulu menatap dirinya.
"Bukanya kita mau ke rumah sakit??" tanyanya diikuti dengan keningnya berkerut.
"Hem'em. Tapi itu nanti, setelah kita mampir disini sebentar." sahut Varrel dengan seulas senyuman mengembang lalu bergegas turun dari dalam mobil.
Berlari kecil memutar mobil sport itu dan membukakan pintu mobil yang di samping Olif sedang segala hormatnya.
Seolah-olah seperti menyambut Ratu Elizabeth.
Olif cekikikan melihat Varrel seperti itu, Rasanya ia seperti Ratu saja.
"Saya persilahkan yang mulia Ratu turun dengan segala hormat." ucap Varrel sembari mengulurkan tangannya diikuti dengan badan sedikit membungkuk.
"Mas apa yang kamu lakukan??" Olif serasa sudah tidak tahan lagi untuk ketawa ingin sekali ia tertawa terbahak-bahak menertawakan apa yang dilakukan Varrel.
Namun untuk beberapa saat ia teringat kalau dia sekarang di tempat keramaian orang.
Dengan penuh elegan Olif menyambut uluran tangan suaminya setelah itu merangkul tangannya dan langsung berjalan kearah mana Varrel menuntut.
Teryata Varrel membawa Olif ke salah satu kursi kosong yang terbuat dari besi putih. Kursi itu terletak tepat di bawah pohon Hagu besar.
Varrel mempersilahkan Olif untuk duduk terlebih dahulu, dengan sangat talenta ia mengisyaratkan Olif untuk duduk diam, tanpa berkata apapun ataupun pergi.
Olif mengangguk pertanda sudah mengerti. Lalu bola matanya melirik kearah Varrel melangkah.
Dari arah kejauhan Olif memperhatikan Varrel yang sepertinya sedang membelikan sesuatu. Tidak terlalu jelas karena terhalang dengan banyaknya orang yang berlalu lalang.
Dan tiba-tiba saja kedua manik-manik matanya tidak lagi menangkap sosok laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu. Olif memalingkan wajahnya melirik ke kanan dan ke kiri tapi kedua biji bola matanya tidak juga menemukan sosok laki-laki yang ia cari.
__ADS_1
Rasa kegelisahan pun melanda hati Olif, tanpa sabar dia beranjak bangkit guna supaya lebih leluasa mencari suaminya.
Tanpa disadari Olif dua telapak tanga dengan gaya sangat lembut menutupi kelopak mata Olif. Hingga membuat wanita itu sedikit terkejut sekali tidak bisa melihatnya apa-apa lagi.
"Maaassss" terka Olif, ia bisa merasakan dari sentuhan kalau yang menutupi wajahnya adalah suaminya.
"Ayo tebak apa yang sedang aku bawakan untukmu...??" ucap orang itu yang tak lain adalah Varrel sendiri.
"Masss, lepas. Enggak bisa lihat." rengek Olif memanyunkan bibirnya.
"Tebak dulu apa yang sudah aku bawakan untukmu??"
"Enggak tau, kan mata Olif ditutup mana bisa lihat." tukasnya.
"Yakin ni enggak mau tebak, nyerah ya."
"Hem'em."
Secara perlahan-lahan Varrel pun memindahkan tangannya.
"Taraaa" Varrel memperlihatkan apa yang sudah dia belikan.
"Es krim." mata Olif membulat sempurna, saat melihat satu buah es krim wall dengan variasi yang paling disukainya, coklat.
Sementara Varrel tersenyum senang melihatnya. Wajah Olif kini sudah belepotan karena Olif eskrim Wall tersebut dengan begitu cepat. Membuat Varrel gemes sendiri melihatnya.
"Sayang tunggu." cegah Varrel menghentikan Olif menjilati eskrim itu, tangannya yang kekar memegang kepala Olif bagian belakang.
Lalu tanpa aba-aba Varrel mencium bibir ranum Olif dengan begitu lembut, menghisap semua bekas eskrim yang menempel di area bibir manja istrinya.
Bibir yang seakan candu bagi Varrel hanya untuk menikmatinya, rasanya kenikmatan itu tiada tara. Tidak peduli sudah berada banyak pasang mata menatap kearah mereka berdua.
Varrel menghentikan ciumannya saat ia rasa Olif sudah kewalahan menahan nafas. Nafasnya yang terengah-engah membuat Varrel seakan meminta lebih dari pada hanya sebuah ciuman.
"Mas hentikan, kita lagi di taman." cegah Olif yang tau maksud dari tatapan nafsu suaminya itu.
"Ckkkk sial."
"Mas aku rasa kita harus segera ke rumah sakit, Viki dan Justin pasti sudah sampai di sana." timpal Olif lagi berhasil membuat Varrel mengangguk.
Keduanya pun langsung kembali ke mobil mereka yang sudah di parkir-kan.
*****
Tepat pukul sebelas siang mobil sport berwarna silver itu akhirnya tiba di basemen hospital.
__ADS_1
Varrel memarkirkan mobil sport itu terlebih dahulu baru setelah itu dia dan juga Olif melangkah masuk kedalam rumah sakit.
Disisi lain Justin mengumpat kekesalannya terhadap dua suami istri tersebut. Nafasnya yang memburu membuat ia begitu kesal.
"Lihatlah kak Viki, mereka berdua selalu saja terlambat. Apa mereka selalu seperti itu, tidak konsisten." gerutu Justin serasa sudah habis kesabaran menunggu dua makhluk ciptaan Tuhan itu.
"Mereka berdua sepertinya memang segaja mengerjai kita." timpal Viki.
"Awas saja kalau mereka berdua datang aku pasti akan mengetok kepala Varrel itu, jadi laki-laki tidak disiplin." ketus Justin lagi, yang tanpa dia sadari kalau Varrel dan juga Olif sudah berada di belakangnya.
"Apa yang kau katakan barusan, ulangi lagi." ucap Varrel dengan nada penuh penekanan.
"K-Kak V-Varrel." Viki dan Justin membulatkan mata mereka selebar mungkin sesaat setelah memalingkan wajah. Dan mendapati Varrel dan juga Olif sudah berada di belakangnya.
"Aku ingin mendengar lagi apa yang kamu katakan barusan, ayo cepat ulangi lagi." desis Varrel yang langsung melayangkan tatapan mematikan.
"Eehhhh... Canda kak, jangan di ambil hati." Justin menampakkan gigi putihnya yang berjejer rapi sembari kedua tangannya mengatup. Sontak ia merubah kan wajahnya se-imut mungkin.
"Kauuuuu"
"Sudah mas, ini rumah sakit tidak baik membuat keributan." potong Olif yang langsung menarik tangan suaminya itu agar menjauh dari Justin.
"Kenapa kak Viki tidak bilang kalau kak Varrel sudah datang." bisik Justin menatap tajam kearah Viki.
"Mana aku tau, emang aku dukun." ketus Viki lalu melayangkan langkah menyusul Olif dan juga Varrel.
****
"Dimana ruangannya...??" tanya Varrel.
Pasalnya sudah lorong demi lorong dia dan lainnya lewati tapi tidak menemukan raungan model utama Grammy award yang mereka cari.
"Itu, ruangan itu." tunjuk Justin kearah ruangan paling ujung.
Ruangan yang memang di khususkan untuk pasien VVIP koma. Mereka pun mempercepatnya langkah kaki, hingga terdengar sedikit kasar menghantam lantai.
Tiba di pintu yang mereka tuju secara perlahan-lahan Justin membukakan pintu yang sudah di cat putih keseluruhan. Pintu yang menjadi pembatas antara satu ruangan ke ruangan lainnya.
Secara bersamaan mereka melayangkan langkah kaki masuk kedalam ruangan.
"Liora."
"Varrel."
Bersambung.
__ADS_1