Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Dengar ya


__ADS_3

Buat para pembaca terimakasih udah baca cerita receh ku ya, udah vote dan beri hadiah 🤗. Maaf yang update tadi malam kesalahan teknis.


*


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Di rumah Kak Yuni.


Olif dan Varrel saling melempar pandangan. Keduanya dalam situasi tatap menatap. Tidak berbicara atau menoleh kearah lain. Hanya hembusan nafas yang terdengar keluar dari hidung yang kembang kempis.


Sementara Yuni pergi ke dapur menyiapkan air kopi dan cemilan untuk suami dari adiknya.


"Sayang kamu kenapa..??" tanya Varrel diiringi tawa kecil, dia seketika tidak bisa menahan lagi tawanya lagi melihat ekspresi Olif begitu menggemaskan.


"Hahaha."


"Mas ini enggak lucu." tukas Olif.


"Habisnya kamu sih, kenapa kamu menatapku seperti itu, Hem. Apa kamu masih cemburu karena Kakak mu tadi terpesona melihat ketampanan suamimu ini."


"Siapa yang cemburu, eku enggak cemburu. Enak aja nuduh-nuduh orang." memanyunkan bibirnya sebisa mungkin diikuti dengan matanya yang sinis.


"Lalu kalau enggak cemburu kenapa coba kamu menatap aku sampai seperti itu. Hem...??"


"Mas mau tau, tapi janji ya enggak boleh bohong dan jawab dengan jujur." Olif begitu antusias menunjukkan jari kelingkingnya mengaitkan dengan kelingking Varrel.


"Iya sayangku. Aku janji enggan akan bohong apapun kepadamu."


"Baiklah, kalau begitu jawablah pertanyaan pertama ku ini Ok."


"Ok." tersenyum kecil.


"Kenapa mas tadi buru-buru pergi dari rumah sakit. Dan siapa wanita itu kenapa dia bisa mengetahui nama mas." mata Olif penuh penyelidik tak berkedip menatap dalam-dalam mata coklat suaminya. Kedua tangannya menggenggam erat tanga Varrel tak membiarkannya untuk bergerak walaupun hanya menggaruk.

__ADS_1


Hembusan angin AC yang keluar membuat keduanya terasa sejuk. Rambut poni yang turun ikut menganyun kedepan.


"Kamu cemburu??" Varrel kembali tertawa renyah.


"Massss jangan membalikkan pembicaraan. Ayo jawab dengan jujur, siapa dia??"


"Dia itu hanya masa lalu terburuk yang pernah aku temui, sayang."


"Masa lalu, bohong. Yang jelas kalau enggak aku ngambek ni." Tukas Olif sembari melipatkan kedua tangannya di belahan dada.


"Sayang dia hanya masa lalu, dulu memang aku dekat sama dia itu hanya sebatas teman tidak lebih."


"Lalu kalau mas berteman dengan dia kenapa coba mas pakek kabur segala. Kan seorang teman enggak boleh kabur apalagi mengetahui sahabatnya terbaring sakit di rumah sakit. Mas bohong, pasti mas punya apa-apa sama dia kan."


"Ok, sayang dengar ya. Dulu aku sama dia---" Varrel mulai menceritakan semuanya, tak terlewatkan apapun. Awalnya Olif merasakan resah ketika mendengar cerita suaminya ini.


Teryata Nona cantik yang tidur di ranjang rumah sakit itu adalah wanita yang pernah singgah di hati Varrel. Untuk sesaat hati Olif berdenyut kencang. Namun dia berusaha menguatkan dirinya.


Olif terdiam tidak berkata sepatah apapun lagi penjelasan Varrel membuat dia benar membisu seribu bahasa.


"Sayang. Kamu harus percaya sama aku. Kalau aku tidak menyukainya lagi sama sekali walau hanya setetes debu. Yang ada di hatiku sekarang adalah kamu, kamu satu satunya wanita yang sudah memenuhi ruangan kosong di hatiku. Aku bersyukur bisa memiliki istri secantik dan sepintar kamu jadi untuk apa aku mencari wanita lain, membayangkannya saja sudah membuat aku geli." tutur Varrel mencoba menyakinkan. Dia tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau dia akan bertemu dengan Liora lagi.


Wanita yang sudah menolak cintanya hanya demi memilih laki-laki lain. Dan sekarang merasa menyesal, Varrel merasa jiji mendengarnya.


Sebelah tangan kiri Varrel memegang punggung Olif menariknya agar semakin dekat sedangkan tangan sebelahnya lagi menyentuh dagu Olif.


Jari manisnya mengusap pelan bibir seksi Olif yang begitu menggoda iman. Secara perlahan-lahan namun pasti kedua bibir mereka menyatu dengan sempurna. Saling terbuai dalam kelezatan masing-masing.


Tangan perkasa Varrel secara hati-hati menurunkan tubuh Olif di sofa, menindihnya tanpa melepaskan ciuman panas mereka.


Secara hampir bersamaan Yuni memasuki ruang tamu, kedua matanya seketika membulat sempurna.


Astaga apa yang mereka lakukan. Mereka menodai mata polos ku.


Tanpa menunggu lagi Yuni membalikkan badannya cepat namun sebelum itu dia membisikkan sesuatu ke arah angin yang berhembus.


"Semoga cepat punya dede bayi." bisiknya tersenyum senang.


"Mas, kak Yuni." Olif yang tersadar mendorong tubuh Varrel kuat agar menjauh darinya.


"Maaf sayang aku khilaf." Varrel membenarkan duduknya seperti semula.


"Aku pergi ke dapur sebentar." pamit Olif sembari bergegas bangkit.


"Hemmm."


Dring.... Suara bunyi ponsel Varrel terdengar. Tanpa menunggu Varrel segera meraihnya melekatkan benda tipis itu di daun telinganya setelah sesaat ia menekankan tombol hijau.


"Halo Rel, gawat." ucap seseorang di seberang sana yang tak lain adalah Viki. ya, Viki yang telah menghubungi Varrel.

__ADS_1


"Gawat, gawat bagaimana maksudnya." Varrel mengerutkan keningnya. Perkataan Viki membuat ia sontak terperanjat dari sofa.


"Pihak perusahaan di mana Olif menjadi model, mereka melaporkan masalah ini ke kantor polisi. Kalau Olif tidak meneruskan menjadi model maka mereka akan memasukkannya kedalam jeruji besi." jelas Viki terdengar khawatir.


"Lo dimana sekarang??"


"Aku masih ada di rumah sakit."


"Ok, aku akan menjemputmu sekarang."


"Jangan, disini sudah penuh dengan wartawan dan polisi. Foto kita juga sudah dipajang seluruh kota. Mereka menganggap kita sebagai penculik model pengantin."


"Ckkkk, sial. Kalau begitu aku menunggu mu di taman xxx."


"Ok." Tuttttt.


Panggil terputus, kedua mata Varrel memerah seketika, dia tidak bisa membiarkan istrinya menjadi tontonan orang lagi ataupun masuk penjara.


Kedua tangan Varrel sudah merapat dengan sempurna, Mengepal. Nafasnya memburuk naik turun.


Sesaat ia terdiam menatap sembarang arah lalu setelah itu tangannya yang masih mengepal menyalahkan lagi ponsel yang sempat tertutup.


"Halo." ucap seseorang di seberang sana.


"Aku butuh bantuan."


"Baik"


Pembicaraan singkat itu segera diakhiri. Olif kembali memasuki ruangan tamu sembari memegang nampan berisi kopi yang di buat Yuni tadi.


Alisnya langsung naik saat manik-manik matanya menatap Varrel terlihat marah.


"Mas kamu kenapa...??" tanya sembari meletakkan gelas berisi kopi di atas meja.


"Sayang, kamu jangan kemana-mana Ok. Jangan keluar rumah sebelum aku kembali, kamu mengerti."


"Iya, tapi apa yang terjadi mas."


"Kita sudah dilaporkan polisi. Jadi aku mau kamu tetap di sini jangan kemana-mana. Biar aku dan Viki yang akan mengurus masalah ini ok."


"Hem'em." Olif mengangguk cepat.


"Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik. I love you." sekilas Varrel menciumi kening Olif begitu dalam lalu setelah itu melayangkan langkah kakinya begitu cepat keluar rumah.


"Hati-hati." ucap Olif sembari melambaikan tangan.


Bersambung....


Maksih udah baca 🤗.

__ADS_1


Maaf kemaren salah update.


__ADS_2