
seperti biasa Arya bangun menjelang pukul 4 pagi, ia segera mandi dan menunaikan ibadah malamnya, tempat dimana ia berkeluh kesah menumpahkan semua beban dihatinya, setelahnya ia membangunkan Mila untuk segera mandi dan juga sholat,
suasana pagi itu terasa sunyi di kamar Mila, padahal disana terdapat 2 insan yang saling menyayangi satu dengan yang lain, Arya sibuk dengan dokumen-dokumen kerjanya, sementara Mila lebih memilih memainkan ponselnya.
Suasana tak jauh berbeda juga ada di meja makan, terasa begitu sunyi, hanya Vanessa yang pagi itu ikut sarapan karena semalam ia memang tidak makan, sementara Arya seperti biasa menghisap teh hangat yang selalu disediakan oleh Vanessa,
‘apa aku harus memberikan kesempatan untuk Mila memperbaiki semuanya, tapi jika aku beri kesempatan lagi, semuanya akan jauh lebih sakit lagi jika dia tidak bisa mencintaiku’ batin Arya penuh kebimbangan,
“Mil, apa yang kamu inginkan dari pernikahan ini?” tanya Arya dengan nada ragunya,
Mila diam dan berfikir, ia tidak tahu harus menjawab apa, yang ia inginkan hanya memperbaiki semua kesalahannya selama ini.
“Mil, jika tidak ada yang kamu inginkan lagi dari hubungan kita, bukankah lebih baik kita mengakhirinya?, sebelum kita melangkah lebih jauh, lebih baik kita berhenti dari awal ini” lanjut Arya dengan nada datar.
Mila terdiam, sesak dadanya tak kunjung hilang sejak malam,
“Mil, aku tunggu di mobil, biar aku yang antar kamu sekolah” ucap Arya lagi, ia kemudian bangkit dan duduk di teras sembari memanaskan mobil Ari yang ia pinjam kemarin.
Sementara Mila langsung bangkit dan menuju ke kamar untuk mengambil tas tanpa menghabiskan sarapannya. Ia kemudian pamit pada Vanessa dan langsung menuju ke mobil Arya,
Vanessa melihat pemandangan itu dengan wajah sendunya,
‘semoga semua baik-baik saja’ batinnya penuh harap.
Sunyi, hanya itu keadaan di dalam mobil itu, tak ada yang berani bersuara diantara mereka, Mila hanya melihat jalan di sisinya dengan tatapan kosong, begitu pun dengan Arya ia hanya fokus menyetir dengan wajah datarnya, Ketika sampai di sekolahnya, Mila pun membuka pintu mobil dan segera turun, namun gerakannya terhenti ketika Arya mulai bersuara,
“hubungi aku jika kamu sudah pulang, aku akan menjemputmu,” ucap Arya tanpa melirik ke arah Mila,
“baik” jawab Mila dengan nada lemah
*
Mila menghubungi Arya seperti apa yang di ucapkan Arya tadi pagi, ia menunggu Arya di depan sekolahnya, ketika sedang menunggu, Syifa datang menghampirinya,
“kak Vanessa terlambat lagi menjemputmu Mil?” tanyanya dengan nada akrab,
“nggak kak, aku nggak dijemput kak Vanessa” jawab Mila dengan kikuk,
“ooh, pacarmu, kalian kapan sih rencananya mau nikah?” tanya Syifa dengan nada penasaran,
__ADS_1
Mila terdiam, batinnya bingung,
‘aduh,, jangan sampai kak Syifa melihat Arya, bisa kacau nanti jika ia nyebut-nyebut nama bang Arnes di depan Arya’ batinnya cemas,,
Mila lalu tersenyum melihat ke arah Syifa seolah membenarkan ucapan Syifa kalau ia akan dijemput pacarnya.
“ciee, jangan lama-lama pacarannya, ntar setan ikut nyisip lo” goda Syifa, Mila hanya cengegesan merespon ucapan Syifa.
“ayo Mil” suara seorang laki-laki mengagetkan mereka berdua, Mila yang mendengar suara itu langsung pias, sementara Syifa melirik dengan wajah bingung,
‘dia siapa?' batin Syifa bingung melihat kehadiran Arya disana.
“kamu sudah sampai, mana mobilnya?” tanya Mila kikuk karena berada di posisi yang sebenarnya sangat tidak ingin hadapi.
'tuh kan, aku harus gimana menjelaskannya sama kak Syifa nanti'
Arya lalu memberikan sebuah helm kepada Mila,
“aku bawa motor”
“huh, motor?” Mila menjawabnya dengan nada tak percaya,
“aku belum pernah naik motor sebelum ini”
“duduk saja dibelakangku, yang bawa aku bukan kamu” jawab Arya santai,
“Siapa Mil?” tanya Syifa bingung, ia tidak pernah melihat Mila dengan laki-laki manapun kecuali Arnes, dan kali itu ia melihat seorang laki-laki yang belum pernah ia lihat sebelumnya bersama Mila.
‘ya Allah, aku harus jawab apa sekarang?, jika aku jawab suami, nanti kak Syifa malah ngegosipin aku lagi, tapi kalau aku jawab yang lain, nanti hubungan aku dan Arya malah nambah hancur’
Situasi sejenak hening karena Arya dan Syifa sama-sama menunggu jawaban Mila,
“ini,,ini” Mila benar-benar gugup untuk menjawab, lalu ia mengenggam tangan Arya, dan seketika keberanian itu pun datang,
“ini suamiku kak, namanya Arya” jawaban yang membuat Syifa membelalak kaget tak percaya,
“suami?, kamu sudah menikah?,, lalu Arnes?” ucap Syifa tak percaya.
deg,,deg,, kata yang ditakutkan Mila akhirnya muncul, ia lalu melihat ke arah Arya karena takut Arya akan marah mendengar nama itu, ia lalu mengenggam erat tangan Arya seolah takut tangan itu akan melepasnya dan pergi jauh dari jangkauannya,
__ADS_1
“nanti aku ceritakan ya kak, aku dan suamiku ada keperluan lain, jadi kami harus pamit dulu” ucap Mila mencoba menghindar,
Syifa hanya diam, ia kemudian melirik ke arah Arya dengan wajah bingungnya.
‘Mila menikah dengan orang ini?, kok bisa?, dia kan selalu cerita kalau dia sangat mencintai Arnes?’ batin Syifa yang masih tidak percaya dengan ucapan Mila.
Arya dan Mila lalu berjalan ke arah motor Arya dengan Mila yang masih mengenggam tangan Arya dengan erat,
“apa kamu masih mau terus memegang tanganku?, aku tidak bisa bawa motor jika begini?” ucap Arya datar,
“aku tidak ingin kamu marah dan pergi” jawab Mila dengan wajah tertunduk, ia kemudian melepaskan tangan Arya, Arya lalu memasangkan helm yang Mila pegang ke kepala Mila, Syifa yang melihat itu kemudian menampakkan wajah bingung,
‘apa yang terjadi dengan Mila’
“naiklah” ucap Arya sembari menghidupkan motornya,
“aku kan udah bilang aku tidak pernah naik motor” jawab Mila pelan,
“kamu hanya perlu duduk seperti itu” ucap Arya sembari menunjuk seorang perempuan yang duduk menyamping diatas sebuah motor yang sedang berjalan,
Mila lalu menurut, ia mencoba menirukan apa yang ia lihat, ia duduk di jok motor Arya,
“peluk aku” pinta Arya datar, wajah Mila langsung memerah,
'apa? peluk?’
“ayo peluk, kalau nggak, nanti kamu bisa jatuh”
Mila menurut, ia kemudian memeluk Arya dengan mengenggam kedua tangannya di depan perut Arya,
‘ya Tuhan, ini kali pertamanya aku memeluk laki-laki selain abang, ayah dan kakek’
Arya tersenyum melihat tangan Mila di perutnya, ia kemudian melajukan motornya ke tempat yang hendak ia tuju, ia dapat merasakan gemetar tangan Mila ketika memeluknya,
Sementara Mila yang ada dibelakangnya menahan rasa takut naik motor itu, karena itu adalah pengalaman pertamanya naik motor, membuat Mila di hantui rasa was-was jika ia terjatuh, apalagi ia juga sedikit memberi jarak tubuhnya dengan tubuh Arya.
“Arya jangan kencang-kencang, aku takut” ucap Mila sembari mengeratkan genggaman tangannya di perut Arya ketika Arya mulai menambah kecepatan motornya, sementara Arya hanya tersenyum mendengar ucapan Mila.
ketika sampai di tempat itu, mata Mila membelalak tak percaya dengan apa yang ia lihat,
__ADS_1
“Aryaa, ini indah sekali’