
Suara Adzan Shubuh yang berkumandang membangunkan Mila dari tidurnya, ia begitu lelah bertarung dengan perasaannya dari semalam, ia kemudian duduk dan mengusap wajahnya berkali-kali, ia kemudian melihat jam dan melepas nafas berat,
‘jika ada Arya, dia pasti akan membangunkanku sholat malam, tapi ya sudahlah, dia memang ingin semua ini berakhir, bang Arnes pasti jauh lebih baik darinya.’ batinnya, ia kemudian bangkit menuju kamar mandi.
Udara cukup hangat bersama mentari yang mulai menampakkan rupanya, Vanessa seperti biasa tengah asyik memasak di dapurnya, ia telah menghidangkan bubur kacang ijo untuk sarapan Mila serta susu yang menjadi minuman rutin Mila setiap pagi. Vanessa kemudian melirik ke arah kamar Mila,
‘biasanya Arya sudah keluar di jam segini, kenapa sekarang masih belum?, apa mereka ada masalah lagi?’ batin Vanessa cemas,
Dan kemudian ia melihat Mila keluar kamar seorang diri dengan wajah lesu, Vanessa menatap Mila dengan perasaan khawatir, hingga akhirnya Mila duduk di kursinya, barulah Vanessa bersuara,
“mana Arya Mil?”
“kak, sepertinya kami memang harus berpisah,” jawab Mila lesu,
deg,,deg,,, Vanessa mendengarnya seolah tak percaya,
‘ada apa lagi dengan Arya?, kenapa setelah Mila membuka hatinya, ia malah kayak gini’
“Dimana dia Mil?”
“dia sudah pergi dari semalam kak” jawab Mila sendu.
Rasa marah Vanessa langsung memuncak mendengar itu semua, entah mengapa ia merasa harga diri keluarga mereka direndahkan oleh sikap Arya,
'kakek, ibu, aku, sudah berbaik hati dari awal kedatangannya disini, dan bahkan sekarang juga bang Irman ku yakin telah menerimanya, kalau tidak, mana mungkin bang Irman melarang Mila menemui Arnes, bahkan Mila sudah mulai menerimanya, dan dia malah pergi, apa dia benar-benar ingin menghancurkan kami semua untuk melepas rasa sakit hatinya’
*
Setelah mengantar Mila, Vanessa langsung mengarahkan mobilnya ke kantor Arya, dia lebih memilih diam ketika melihat Mila dan Arya sebelumnya karena yakin mereka bisa menyelesaikan semuanya dengan baik,
Namun kenyataanya berbeda dari apa yang ia bayangkan, permasalahan Arya dan Mila malah menjadi rumit dan sekarang mereka telah memutuskan untuk berpisah rumah.
Ketika sampai di depan gedung bertuliskan 3A Sahabat itu, seperti sebelumnya, Vanessa harus menghadapi pertanyaan satpam di depan, ia mendengus kesal karena itu semua,
‘sepenting apa sih dia, untuk menemuinya di kantor ini saja begitu sulit seperti ini’,
Setelah menjelaskan maksud kedatangannya, satpam pun memberinya izin untuk masuk.
__ADS_1
Kemudian ia segera menuju lobi, dan kembali Vanessa harus mendengus kesal karena keadaan, ia kembali harus berhadapan dengan resepsionis yang merupakan orang berbeda dari yang ia temui sebelumnya bersama Mila,
‘Jika tidak disini, aku tidak tahu lagi menemuinya dimana, tapi kalau kesini, aku harus menghadapi mulut orang-orang ini,’ kesal Vanessa di dalam batinnya,
“Maaf buk, apa anda sudah punya janji dengan tuan Arya?” tanya resepsionis itu setelah Vanessa menyampaikan tujuan kedatangannya,
“saya kakak iparnya Arya, apa saya harus bikin janji dulu untuk bertemu dengannya?" ucap Vanessa dengan dingin, Ia benar-benar kesal dengan apa yang harus ia hadapi.
Resepsionis itu kemudian tersenyum seolah mengejeknya,
‘apa dia ini sudah gila, kakak ipar tuan Arya?, memang kapan tuan Arya menikah?,’
“kamu mengejekku?” ucap Vanessa yang merasa tersindir, ia sudah terbawa emosi dari pagi sejak mendengar Arya meninggalkan rumah dari semalam dari mulut Mila,
“maaf buk, tunggu sebentar, saya akan hubungi sekretaris tuan Arya dulu”
“tidak usah, hubungi saja Arya langsung” jawab Vanessa yang merasa risih jika Rita mengetahui kedatangannya,
“tapi buk, ini prosedur kami disini, hanya sekretaris tuan Arya yang bisa menghubungi tuan Arya” jawab resepsionis itu, Vanessa hanya menaruh wajah bingung dengan apa yang ia dengar,
‘kenapa tidak dia saja yang menghubungi tuan Arya langsung, ngakunya kakak ipar tuan Arya, dasar pembohong' keluh resepsionis itu dengan sikap Vanessa.
“pak Arya tidak punya jadwal dengan siapa pun hari ini, usir saja dia” jawab Rita dengan setengah emosi setelah mendengar ucapan resepsionis yang menghubunginya, ia langsung menutup telpon itu tanpa mendengar lagi jawaban dari resepsionis itu,
‘dasar perempuan tidak tahu malu, masih berani juga dia datang kemari setelah tahu ada aku disini' kesal Rita sembari melihat ke arah pintu ruangan Arya.
“maaf buk, sekretaris tuan Arya meminta saya mengusir anda” ucap resepsionis itu polos tanpa ada rasa takut,
Mata Vanessa membelalak kaget, harga dirinya benar-benar jatuh, matanya berkaca-kaca,
‘aku di usir? kenapa? kenapa aku selalu direndahkan seperti ini, di kantor suamiku, aku selalu dipandang dengan rasa iba karena mereka tahu kelakuan buruk suamiku dengan perempuan lain, walaupun mereka semua bersikap hormat padaku tapi tetap saja pandangan iba mereka merendahkanku seolah aku tidak punya harga diri, dan sekarang, di kantor Arya pun aku harus diperlakukan seperti ini, bahkan walaupun aku adalah kakak iparnya Arya, tetap saja aku diperlakukan seperti ini'
Vanessa dengan lemah lalu memutuskan untuk pergi, rasa marahnya telah luntur, yang ada hanyalah rasa sakit hati karena direndahkan oleh semua orang.
‘apa aku benar-benar hina, hingga semua orang merendahkanku seperti ini, hanya Arya, ibu, Mila dan kakek yang menghargaiku, bahkan keluargaku pun mengusirku seperti binatang’ sedihnya,
Vanessa memutar badan ke arah pintu keluar gedung itu, namun belum sempat ia berjalan, tubuh laki-laki yang berdiri tegap membuatnya tidak bisa melangkah. Laki-laki itu sekarang tepat berdiri di depan Vanessa yang menunduk menyembunyikan air matanya.
__ADS_1
“ada apa ini?” ucap laki-laki itu dengan suara dingin melihat ke arah 2 orang resepsionis yang tengah berjaga.
“maaf tuan, ibu ini ingin bertemu tuan Arya, tapi ibu Rita menyuruh kami mengusirnya” jawab resepsionis itu menunduk takut,
“kamu siapa Arya, ada perlu apa kamu menemui Arya?” tanya Ari sembari melihat Vanessa yang menunduk. Namun Vanessa hanya diam, ia tidak mau menjawab sama sekali, ia tidak mau harga dirinya kembali hancur. Ari kemudian melihat tajam ke arah resepsionis yang berjaga itu,
“ibu ini bilang, ia kakak iparnya tuan Arya tuan” jawab resepsionis itu dengan takut,
‘apa dia istrinya Irman?’ batin Ari melirik tajam ke arah Vanessa,
“berani sekali kalian mengusir keluarga Arya” nada Ari begitu dingin yang seolah menusuk jantung resepsionis itu,
“maaf tuan, kami hanya mengikuti perintah ibu Rita” jawab resepsionis dengan takut,
“jangan lakukan kesalahan lagi, atau kalian angkat kaki dari sini” ucap Ari, ia kemudian meraih tangan Vanessa dan menariknya dengan kasar ke arah pintu lift,
Vanessa yang kaget dengan tarikan Ari mencoba melawan, namun tenaganya kalah besar dengan Ari yang terus menariknya ke arah lift,
“lepaskan, kamu mau apa?” ucap Vanessa dengan nada takut,
“bukankah kamu ingin bertemu Arya, aku akan membawamu menemuinya” ucap Ari dingin, Vanessa tidak menjawab, ia masih berusaha melawan tenaga Ari, namun tetap saja tenaganya masih kalah jauh dari Ari,
Setelah mereka berada di dalam lift barulah Ari melepas tangan Vanessa, air mata Vanessa kembali jatuh disana,
'mengapa semua orang selalu bersikap seperti ini kepadaku, apa dosa-dosaku pada mereka’ batin Vanessa sedih dengan keadaannya saat itu, ia sama sekali tidak menyangka sebelumnya, ia datang hanya ingin mendengar penjelasan Arya kenapa ia meninggalkan Mila, namun ternyata ia malah mendapatkan perlakuan kasar dan penghinaan disana.
“apa kamu tidak tahu malu datang kesini?” ucap Ari dengan nada dingin,
Vanessa yang mendengar itu semakin dibuat takut, ia bahkan tidak tahu dosa apa yang ia perbuat hingga laki-laki di sebelahnya begitu terlihat sangat membencinya.
“kalau bukan karena Arya, aku akan membuangmu seperti sampah keluar dari kantor ini” lanjut Ari yang semakin membuat Vanessa kalut dengan perasaan begitu rendah dirinya.
“apa dosaku padamu? kenapa kamu memperlakukan ku seperti ini” ucap Vanessa dengan suara gemetar, ia mengusap tangannya yang sakit karena ditarik Ari dengan kasar.
“Apa kamu tidak tahu seberapa kotor suamimu itu?, perusahaan ini telah banyak menanggung kerugian karena permainan kotor suamimu” ucap Ari dengan nada dingin yang menusuk hati Vanessa,
Vanessa tidak tahu harus bicara apa, batinnya hanya bisa dibuat bingung, ia sama sekali tidak tahu maksud Ari, karena sejatinya ia tidak tahu apa-apa dengan bisnis yang dijalankan suaminya,
__ADS_1
“jangan menunduk, lihat wajahku,” ucap Ari dengan menarik kasar dagu Vanessa agar melihat ke wajahnya,
“ingat wajahku, agar kamu tahu pada siapa kamu harus membalas dendam nanti ketika suamimu hancur dan perusahaannya bangkrut dan hilang menjadi debu”.