
Di Australia.
Olivia duduk termenung di depan meja rias yang dilengkapi banyak lampu cahaya putih. Sorot matanya menurun menunduk menatap alat makeup yang tergeletak di atas meja. Tatapannya tak berkedip tak teralih dari apa yang ia lihat. Jemari lentiknya menggenggam erat sesuatu yang sudah sadari tadi ia genggam. 'Liontin'
Matanya menatap kearah meja, namun pikirannya terbayang entah kemana-mana. Hatinya kembali sakit tak kala ingatan yang sangat ingin ia lupakan kembali terlintas di benaknya.
Rasanya ingin sekali ia menumpahkan air mata yang sedikit demi sedikit berbendung melingkari pelipis matanya. Meluapkan kesedihan yang kesekian kalinya.
Mas...
Bagaikan keadaanmu di sana. Apa kamu baik-baik saja, Apa kamu merindukanku seperti aku yang sekarang sangat merindukanmu.
Aku sangat merindukanmu mas....
Rintikan air di ujung pelipis matanya akhirnya terjatuh dengan sendirinya karena sudah tak kuasa menahan air mata kian menumpuk.
Hingga beberapa saat kemudian seorang laki-laki muda yang berparas bule dan warna kulit kuning Langsat langsung saja dengan santainya menyebut nama Olivia. Laki-laki yang baru berapa jam ia kenal memasuki ruangan rias tanpa mengucapkan salam ataupun meminta izin terlebih dahulu. Dia langsung melayangkan langkah kakinya tanpa berhenti berjalan mendekati Olivia.
Hingga entah langkah yang ke berapa laki-laki yang berparas bule itu langsung saja menghentikan langkahnya seketika, tak kala kedua manik-manik matanya yang berwarna biru tak berkedip menatap sosok wanita yang juga baru ia ke kenal beberapa jam yang lalu.
" Kak Olivia..." Tatapan Justin masih tak berkedip memperhatikan Olif dari pantulan cermin meja rias. Dirinya begitu sangat terpukau sekaligus sangat terpesona dengan kecantikan Olif bak model papan atas dunia.
Olif dengan gerak cepat menghapus jejak rintikan air yang sempat terjatuh tadi. Dia tidak bisa memperlihatkan kesedihannya kepada orang lain apalagi pada orang belum lama ia kenal.
"Justin." ucap Olif dengan nada sedikit serak, juga ikut menatap Justin dari pantulan cermin didepannya.
"Wauuu.... Beautiful. Kak Olivia benar-benar sangat cantik bagaikan bidadari tanpa sayap." puji Justin masih terpesona dengan apa yang ia lihat.
"Aakkkhhhh..... Kamu bisa saja. Hem'em, bagaimana penampilan ku. Apa baju ini terlihat cocok..??" Olif beranjak bangkit dari kursi rias membolak-balikkan badannya didepan Justin. Meminta pendapat dari penampilannya sekarang.
"Hanya satu kata-kata yang bisa Justin ucapkan kak. Sempurna!!" Justin mengajukan jempol.
"Ckckck... Benarkah"
__ADS_1
"Hem'em."
*****
Grammy award fashion show.
Itu adalah nama acara yang akan dihadirkan Olif sebagai model pengganti di acara tersebut. Acara yang begitu megah dan mewah yang di adakan di ibukota Australia.
Seluruh kalangan bisnis ternama di dunia turun hadir menyaksikan acara tersebut. Acara yang di adakan setahun sekali itu menghabiskan puluhan miliar untuk menyiapkannya. Semua itu ditanggung sendiri oleh pihak perusahaan Modeling Grup. Perusahaan yang baru beberapa tahun ini berkembang sangat pesat di kota Canberra.
Semua para hadirin dan tamu undangan pun langsung saja di pandu oleh pihak petugas untuk duduk di bangku mereka masing-masing sesuai urutan nama yang telah di atur.
Pembawa acara pun langsung saja memulai kan acara yang sudah sangat dinanti-nantikan itu. Beberapa model menengah mulai memperlihatkan aksi mereka masing-masing.
Satu jam pun telah berlalu kini tibalah acara yang sangat dinanti-nantikan ataupun acara puncak pada Grammy award tahun ini, ya itu para model papan atas dunia akan memperlihatkan aksi mereka untuk merebut posisi model Grammy award terbaik tahun depan ini dan tahun depan.
"Marilah kita sambut kan inilah model finalis papan atas dunia yang telah terpilih sebagai Grammy award malam ini." ucap pembaca acara dengan sangat antusias.
"Prancis"
"Filipina"
"Jepang"
Secara berangsur-angsur pembawa acara menyebutkan nama urutan negara. Para model yang berasal dari negara yang di sebutkan pun dengan penuh elegan berjalan secara perlahan-lahan mengelilingi tempat yang telah di sediakan untuk memperlihatkan aksi mereka.
Disisi lain Olif menggigit bibir bawahnya tak kala dirinya merasa sangat gugup untuk melakukan aksi sebagai model. Ini adalah pertama kalinya bagi Olif melakukan hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
"Kak Olivia." panggil Justin mencoba memberikan semangat.
"Ya."
"Semangat, aku yakin kakak pasti bisa." sahut Justin memperlihatkan jotos tangannya pertanda semangat.
__ADS_1
Olif tersenyum melihat itu, setidaknya rasa gugupnya sedikit hilang.
"Marilah kita sambut finalis terakhir dalam penutupan acara malam ini sekaligus model utama Grammy award malam ini. Ini dia, Australia." ucap pembaca acara dengan penuh segala hormatnya.
Tepukan tangan meriah langsung terdengar menggelegar di seluruh penjuru ruangan. Para pengambil gambar sudah mempersiapkan diri untuk mengambil foto finalis model yang akan muncul. Begitupun juga dengan kalangan bisnis yang langsung memalingkan tatapan mereka menatap kearah sosok wanita yang sedang mengayunkan langkah kakinya secara perlahan-lahan berjalan diatas pentas.
Semua orang menatap penuh terpesona melihat apa yang memanjakan mata mereka, tak berpaling sampai sosok wanita yang berjalan menunjukkan aksinya sebagai model ternama di acara yang megah ini.
Para kalangan bisnis teratas langsung saling bisik membisik kepada asisten mereka masing-masing. Mereka tidak akan melewatkan kesempatan emas ini untuk mendapatkan model yang sedang berjalan mengelilingi pentas itu.
Olif berusaha sebaik mungkin menunjukkan bakatnya yang sama sekali belum pernah terbayangkan di kepalanya. Rasanya begitu aneh tak kala dirinya berjalan di hadapan semua orang dan di foto layaknya seorang aktris terbaik disebuah film.
Rasa gugupnya sedikit demi sedikit menghilang menyusut dengan sendirinya.
*****
"Kak Olivia selamat, kakak memenangkan" Justin dengan penuh semangat memeluk Olif dengan begitu dalam. Rasa senang yang di tunjukkan laki-laki berparas bule itu membuat Olif sulit bernapas karena Justin memeluk Olif dengan sangat erat.
"Khukkk... Khukkk..."
"Kak Olivia. Maaf, Maaf. Kakak enggak papa..??" Justin sontak meregangkan pelukannya.
"Aakkkhhhh... Enggak aku enggak papa."
"Hehehe maaf, habisnya Justin sangat senang melihat kakak memenangkan acara malam ini. Apa kakak tau?? Semua orang membicarakan kakak, mereka sepertinya sangat ingin bekerja sama dengan kakak. Kakak akan menjadi aktris..." tutur Justin bertambah semangat.
"Kamu bisa saja."
"Itu benar Nona Olivia." ucap seseorang laki-laki yang berpostur tubuh tinggi dan panjang yang dilengkapi jas hitam dan kemeja putih bersih mendekati mereka berdua.
"Tua Alek." Olif membulatkan kedua matanya.
Bersambung....
__ADS_1
Kemaren enggak bisa update soalnya author mau cuti sebentar.
insya Allah beberapa hari lgi crezy update 🥰