
"Mas Varrel." Olif yang terkejut sekaligus sedikit terkesiap melihat keberadaan suaminya tiba-tiba berada didepannya. Matanya yang coklat masih tak berkedip berharap kalau apa yang ia lihat sekarang bukanlah mimpi. Ini benar-benar kamu mas, Hati Olif terasa sangat lega sekian saat, sosok laki-laki yang sangat ia rindukan kini berada tepat didepan matanya. Namun, beberapa detik kemudian ingatan kejadian masa itu kembali terlintas dibenaknya.
"Sayang aku sangat merindukanmu." ucap Varrel dengan nada pelan namun sangat jelas terdengar ditelinga Olif.
"Rel awas." teriak Viki memberitahu Varrel kalau salah satu bodyguard hendak melayangkan pukulannya tinju kepadanya. Varrel yang menyadari itu dengan secepat kilat mengelak, kakinya yang panjang menendang kuat paha bodyguard tersebut hingga membuat dia sedikit menjauh.
Varrel bergegas bangun, sekilas matanya menatap kearah istrinya yang terlihat masih terkejut, tersenyum kecil setelah itu dengan sekuat tenaga Varrel membantai para bodyguard itu dengan sangat mudah apalagi dirinya dibantu oleh sahabatnya, Viki. Yang membuat kemenangan berpihak kepadanya. Keahlian Varrel dan Viki dalam bertarung jangan ditanya lagi, karena memang mereka sudah mempelajari ilmu beladiri sejak mereka berumur 12 tahun.
"Kau baik-baik saja..." Tanya Viki ia sedikit khawatir tentang keadaan sahabatnya itu apalagi darah segar masih mengalir di hidung Varrel.
"Aku tidak apa-apa. Kau...??" jawab Varrel dengan nafas terengah-engah.
"Sama."
Ceklik... Ceklik... Ceklik... Semua wartawan dan fotografer tidak melewatkan apapun, sadari tadi mereka terus merekam dan memfoto apa saja yang sudah terjadi. Sebagai dari mereka bahkan menyiarkan langsung di stasiun televisi.
Mas, apa ini benar kamu. Kamu datang melindungi ku. Rasanya aku masih belum percaya apa yang telah aku lihat sekarang mas. Kamu berada didepan mataku. Hahhhh... Aku sangat bahagia Mas. Akhirnya kamu datang."
batin Olif dengan mata sudah berbinar. Ia mengusap pelan air matanya yang sempat terjatuh, lalu secara perlahan-lahan memundurkan langkah kaki hendak berbalik badan pergi berlari meninggalkan tempat itu.
"Anda tidak boleh kemana-mana Nona Olif." desis Leah yang sudan memegang pergelangan tangan Olif dengan sangat kuat, tidak membiarkan model pengantin itu kabur dengan mudah. "Anda harus bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi." tukasnya.
"Lepaskan tanganmu dari istriku atau aku akan mematahkan tanganmu sekarang juga." ucap Varrel dengan nada bergemuruh, menatap mematikan kearah Leah.
"Tidak bisa, Nona Olivia harus bertanggung jawab. Ini semua terjadi karena dia, dia yang telah mencoba kabur dari tanggung jawabnya. Kalau saja Nona Olivia tidak kabur makan kejadian ini pasti tidak akan terjadi." timpal Leah semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Aku bilang lepas lepas." Varrel yang memanas menarik rambut pirang Leah dengan sangat kuat lalu mendorong wanita itu hingga tergusur kebelakang. Leah memekik kesakitan.
"Mas Varrel."
"Ikut aku." tutur Varrel dengan sigap merangkul tangan Olif dan membawanya melewati kerumunan wartawan. Olif sedikit tersentak namun untuk beberapa saat ia pun berusaha mengimbangi langkah Varrel walaupun sedikit susah karena langkah kaki Varrel jauh lebih panjang daripadanya.
Para wartawan saling bisik membisik akan hal itu, seketika mereka langsung bertanya tanya siapakah sosok laki-laki yang telah menolong model pengantin Grammy. Mereka tidak berhenti menyiarkan langsung berita hingga kejadian semua ini diketahui oleh seluruh masyarakat Australia. Termasuk Justin laki-laki berwajah bule itu seketika saja berlari keluar kampus, dia sudah tidak peduli lagi dengan mata pelajaran yang sedang berlangsung di kelasnya. Setelah mendapatkan panggilan dari orang suruhannya yang memang sengaja ia suruh untuk menjaga Olif selama ia tidak berada disisi wanita itu, Justin seakan tidak sempat berpamitan kepada dosennya. Pikiran sudah tidak terfokus lagi akan pendidikan yang sekarang lagi ia tempuh, keselamatan Olif jauh lebih penting dari apapun.
"Mas lepas, lepaskan tanganku." desis Olif berusaha melepaskan genggaman tangan Varrel yang begitu erat. Dia sekarang sudah berada lorong-lorong sempit yang Olif saja tidak tau dia berada dimana sekarang. Ini pertama kalinya ia melihat tempat yang begitu aneh. Sunyi, sepi tidak ada satu manusia yang berada kecuali burung-burung yang berterbangan kesana kesini.
Varrel mengehentikan langkah kakinya ketika ia rasa ini sudah cukup jauh membawa wanita yang ia cintai menjauh dari kerumunan wartawan. Tanpa aba-aba Varrel langsung memeluk Olif begitu dalam melepaskan semua kerinduannya terjadi istri sudah beberapa hari belakangan ini membuat ia resah akan penyesalan teramat dalam.
"Mas lepas."
"Olif maafkan aku, aku benar-benar menyesal karena tidak mempercayaimu. Aku sungguh laki-laki yang bodoh sedunia karena tidak mempercayaimu." Varrel mengeratkan pelukan.
"Ya, aku sudah memaafkan Mas kok." sahut Olif.
"Apa?? Apa yang kamu katakan barusan, kamu memaafkan semua kesalahanku??.Katakan sekali lagi Olif...??" sembari merenggangkan pelukannya.
"Aku memaafkan semua kesalahan mas Varrel." teriak Olif diiringi dengan senyuman yang mengembang dan mata berbinar.
__ADS_1
"Terimakasih." Seketika air mata kebahagiaan Varrel terjatuh begitu saja tanpa diperintah. Ia kembali memeluk istrinya membenamkan wajahnya dileher jenjang Olif, menciuminya berulang kali.
"Tapi, sayang. Kalau kamu tidak marah kepadaku lalu kenapa kamu pergi meninggalkan rumah dan negera kita...??"
"Hem. Awalnya aku marah kepadamu mas, marah sangat marah. Karena kamu tidak mau mempercayaiku sama sekali, kamu tidak mau mendengarkan semua apa yang aku katakan. Kamu lebih memilih percaya apa yang kamu lihat yang jelas-jelas itu bukan kenyataan sebenarnya.
Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi hingga sampai aku memutuskan untuk pergi menjauh darimu. Aku ingin melupakan semua kenangan yang pernah kita lakukan. Aku merasa aku tidak pantas menjadi istrimu. Makannya aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah."
"Kamu tau mas, seseorang menyadarkan ku akan apa yang aku lakukan semua ini salah, dia menasehati ku agar memaafkan dan melupakan masa lalu, membuka lembaran baru." Jelas Olif panjang lebar.
"Siapa dia sayang.??"
"Bi adalah Jumi. Dia juga yang memberikan kabar kalau kamu akan kesini menjemput ku."
Flashback one.
"Bi Jumi, Varrel pamit dulu. Varrel harus segera pergi menjemput Olif kembali pulang ke rumah ini Bi. Varrel pamit Bi, tolong jaga rumah ini selama Varrel dan Olif pergi." pamit Varrel kepada Bi Jumi entah kenapa hatinya sudah merasa sangat nyaman dengan Bi Jumi seperti layaknya Ibu kandungnya sendiri.
"Iya Tuan, Pergilah. Bawa Non Olif kembali, jangan biarkan perempuan itu menang. Doa Bibi selalu menyertai Tuan dan Non Olif. Bibi berjanji kepada Tuan akan menjaga rumah ini sebaik mungkin sampai Tuan dan Non Olif kembali." ucap Bi Jumi.
"Terimakasih Bi, Varrel tidak akan pernah melupakan jasa Bibi."
"Sama-sama Tuan"
"Varrel dan Viki pamit dulu."
"Iya hati-hati."
Tuan muda, Anda harus bisa membawa Non Olif kembali pulang *Tuan. Jangan biarkan Non Olif sendirian sana, dia sangat sedih karena Tuan tidak mempercayainya. Bibi yakin hanya Tuan laki-laki yang pantas buat Non Olif. Hanya saja Tuan dihasut oleh wanita yang tidak punya rasa malu itu.
Bibi bahagia Tuan, akhirnya Tuan mengetahui semua kebenarannya, Bibi sangat-sangat bahagia akan hal itu. Bibi tidak rela jika Tuan berpisah dengan Non Olif*.
batin Bi Jumi rasanya sekarang sudah saatnya bagi Bi Jumi untuk bertindak agar masalah ini tidak berlarut-larut menjadi kepanjangan.
Bi Jumi mengusap pelan air mata kebahagiaan yang sempat keluar diujung pelipis matanya sebelum sesaat ia akan mengambil ponsel jadulnya dan menghubungi Olif.
"Halo."
"Non Olif ini Bi Jumi."
"Iya ada apa Bi...??"
"Bagaimana keadaan Non, apa baik-baik saja...??"
"Baik Bi, Olif baik-baik aja kok disini. Bibi jangan khawatir Olif akan menjaga kesempatan Olif sebaik-baiknya."
"Bibi senang mendengarnya."
__ADS_1
"Non Olif...??" sambung Bi Jumi lagi.
"Iya."
"Tuan muda sudah mengetahui dimana Non berada sekarang, Tuan lagi dalam perjalanan menjemputmu Non."
"Apa?? Mas Varrel mau kesini! Apa Bibi yang memberitahukan keberadaan Olif kenapa mas Varrel."
"Bukan Non, Bukan. Bukan Bibi yang memberitahukan keberadaan Non, baik Non Cinta maupun mertua Non. Tuan muda sendiri yang tau dimana keberadaan Non Olif sekarang. Tuan Viki juga membantu mencari dimana keberadaan Non Olif."
"Tidak, Olif tidak mau pulang dan tidak mau bertemu dengannya lagi. Olif sudah terlanjur sakit hati dengan mas Varrel pokoknya Olif tidak mau bertemu dengannya titik."
"Sampai kapan Non, satu Minggu dua Minggu tiga Minggu atau satu bulan, setahun dua tahu. Atau bahkan selamanya Non akan menghindari Tuan muda. Apa hati Non akan senang melakukan itu, tidak bukan. kalau begitu jangan lakukan itu Non. Bibi tau bagaimana perasaan Non ketika melihat suami kita sendiri lebih mempercayai orang lain ketimbang istrinya sendiri. Tapi hidup ini sekali Non kalau Non akan terus menerus menghindari Tuan muda Bibi yakin Non akan lebih menyesal suatu saat nanti."
"Tapi Bi, hati Olif sakit Bi, Olif masih sangat sakit hati dengan mas Varrel. Dia menghina dan bahkan memaki Olif didepan sahabat-sahabatnya Bi bagaimana mungkin Olif melupakan kejadian itu semua."
"Tuan muda sudah menyesal Non. Tuan muda sudah menyesali semua perbuatannya terhadap Non. Beliau sangat merindukan Non. Beberapa hari belakangan ini Tuan muda dan Tuan Viki mencari Non keseluruhan penjuru kota tapi tidak ada kabar tentang keberadaan Non, sampai sampai Tuan muda berhalusinasi melihat Non ada dirumah, Tuan muda juga jatuh sakit terbaring lemas di atas ranjang."
"Apa? M-Mas Varrel sakit?? seketika Olif terkesiap mendengar kabar kalau suaminya sakit.
"Iya, sudah tiga hari Tuan muda tidak memakan makanan apapun tanpa lelah dan tidur dengan teratur, Tuan muda terus mencari Non sampai-sampai dia lupa makan. Non, jangan seperti itu Non, berikan kesempatan kedua buat Tuan muda. Bibi yakin setelah kejadian ini Tuan muda akan menjadi sosok suami yang baik dan bertanggung jawab. Bibi jamin itu Non."
"Bagaimana keadaan mas Varrel Bi, apa mas Varrel baik-baik saja..??"
"Tuan muda sudah sembuh total saat mengetahui dimana keberadaan Non, dia sontak girang setengah mati. Tuan muda sangat merindukan Non. Non Olif, tolong berikanlah kesempatan kedua bagi tuan muda."
Olif tidak menjawab, dia hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan Bi Jumi. Sebenarnya dalam hati paling dalam Olif tidak ingin meninggalkan Varrel walaupun sedetik saja. Namun ketidak percayaan Varrel membuat ia harus melakukan ini semua.
"Non sebelum semuanya terlambat, tolong renungkan apa yang bibi katakan barusan. Setiap orang mempunyai kesempatan kedua untuk merubah sikapnya Non, Tuan muda berhak mendapatkan kesempatan itu. Bibi hanya bisa menasehati Non selaku wanita yang sudah pernah mengalaminya pernikahan dan perceraian. Semuanya tergantung pada diri Non sendiri pilihan ada di tangan Non Olif sendiri. Bibi hanya bisa berdoa. Jaga diri Non baik-baik. hati-hati disana sampai jumpa."
Tuttttt....
Air mata secara berangsur-angsur keluar dari pipi Olif membasahi wajah putihnya. Isak tangis yang ia tahan akhirnya tumpah dengan begitu dalam. Ia tidak bisa menahan tangisannya lagi, jujur sekarang Olif merasa menyesal karena telah meninggal rumah. Rasanya sekarang ia sangat ingin memeluk Varrel dengan begitu erat.
Tanpa disadari Olif sadari tadi sepasang mata terus saja menatapnya di ambang pintu dan mendengarkan semua pembicaraannya dengan Bi Jumi. Yuni yang melihat adik semata wayangnya menangis seperti itu menjadi sedih. Ia juga bisa merasakan bagaimana perasaan adiknya, sesama perempuan ikatan pasti akan sama.
"Olif." panggil Yuni dengan nada pelan berjalan melangkah memasuki kamar Olif. Sudah cukup bagi dirinya sadari tadi terus berdiri diambang pintu mendengar tangisan adiknya.
Yuni memeluk Olif, ia membiarkan adiknya menumpahkan kesedihannya dalam pangkuannya.
"Berikanlah kesempatan kedua untuk suamimu agar dia bisa memperbaiki semua kesalahannya. Memang Kakak tidak tau pasti apa permasalahan mu dengan suamimu tapi tidak salahnya kan memberikan dia kesempatan kedua. Dia pantas mendapatkannya, jangan biarkan emosi menguasai tubuhmu." Yuni mengelus lembut kepala adiknya sesekali ia menciuminya.
"Beginilah rumah tangga Olif, kadang kita bertengkar, salah paham, cemburu, marah. Itu semua hal yang wajar terjadi dalam rumah tangga. Tidak ada di dunia ini manusia yang sempurna, semua mempunyai kesalahan cuma kita saja bagaimana kita menyikapinya. Olif jangan biarkan amarah dan kebencian menguasai pikiran mu. Kamu harus berjuang akan itu. Berilah Suamimu kesempatan kedua."
"Kakak... Hik... Hik... Hik..."
"Kakak sangat sayang kepadamu."
__ADS_1
Flashback off.
Bersambung.....