Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Pertemuan (2)


__ADS_3

Mila melihat jam yang ada di ponselnya, sudah pukul 17.23, dan azan magribh akan segera berkumandang, ‘benar,, laki-laki itu tidak akan datang’ batin Mila dengan perasaan senang yang sebenarnya masih bercampur bimbang.


Di tengah lamunan Mila yang merasa senang dengan keadaan terdengar suara ketukan pintu kamar, yang kemudian pintu tersebut terbuka.


Arya kemudian memasukkan kepalanya dan melihat situasi, Pak Tito, bu Saniah, Vanessa, Irman dan Mila menatap tajam ke arahnya. Pak Sarman memang menyuruh agar semua anggota keluarganya datang untuk memperkenalkan Arya, termasuk Tito ayahnya Mila yang tidak memiliki hubungan baik dengannya.


'apa dia orangnya?’ mungkin itulah yang ada di pikiran mereka ketika melihat wajah Arya. sementara pak Sarman tidak mengetahui siapa yang datang karena pintu kamar hanya terbuka sedikit.


‘apa-apaan ini, mereka semua menatap seperti ingin menerkamku, ok Arya tenang dan tunjukkan senyum manismu’ batin Arya menenangkan dirinya yang gugup dengan tatapan tajam orang-orang yang tidak dikenalnya itu.


Arya kemudian tersenyum simpel “misi,,apa ini ruangan pak Sarman” ucap Arya mencoba seramah mungkin.


Pak Sarman menghirup nafas lega, “masuklah Arya, aku sudah menunggumu dari tadi” ucap pak Sarman tegas.


Aryakemudian memasukkan seluruh tubuhnya dan mencari asal suara yang menyebut namanya. Ia melihat seorang laki-laki tua yang tengah duduk di atas ranjang rumah sakit, ‘apa ini pria yang menelfonku kemarin?, dimana aku pernah bertemu dengannya?’ batin Arya lagi untuk menghilangkan rasa gugupnya karena masih


dilirik tajam oleh orang-orang yang ada di ruangan itu.


Pak Tito dan Irman menatap Arya dengan perasaan penuh kebencian, termasuk


juga Mila, karena bagi mereka, kehadiran Arya adalah mesin penghancur bagi kebahagiaan Mila. Berbeda dengan Vanessa dan bu Saniah yang menangkap ada aura kebaikan yang terpancar dari wajah dan tatapan mata Arya.


'ayah memang tidak pernah salah pilih orang" batin bu Saniah, namun ia tetap tidak senang jika pak Sarman memaksakan keinginannya pada Mila.


'laki-laki ini sepertinya lembut dan baik, ia terlihat jauh lebih baik dari Arnes' batin Vanessa.


Jantung Arya berdetak cepat seiring langkahnya ke arah pak Sarman ‘sepertinya mereka semua benar-benar ingin membunuhku' batinnya lagi.


Jantung Mila tidak kalah berdetak cepat dengan jantung Arya ‘ya Allah, apa ini orangnya, apa masa depanku akan segera hancur’ hatinya teriris sakit melihat kedatangan Arya yang tidak diharapkannya.

__ADS_1


Laki-laki muda yang mengenakan kemeja kotak-kotak dengan warna dominan merah tua dengan kancing baju yang semuanya terbuka, sehingga terlihat jelas ia memakai baju kaos biru polos didalamnya, dengan menggunakan celana jeans hitam dan sepatu khas pendaki berwarna coklat.


Rambutnya sedikit panjang dengan disisir ke arah kanan, kulit kuning langsat, bibirnya tipis, hidungnya mancung dan sorot matanya lembut. Dialah Arya ramadana yang saat ini tengah berdiri tepat di depan pak Sarman


“kemana saja kau Arya, bukankah kau berjanji sore ke sini?” tanya pak Sarman tegas.


“bukankah sekarang masih sore pak?” ucap Arya yang melihat suasana di luar kamar masih terlihat sedikit cerah dari balim jendela ruangan itu.


Pak Sarman menghirup nafas panjang, “iya, tapi ini sudah mendekati maghrib, gimana slamet?, menyenangkan?” tanya pak Sarman yang dijawab Arya dengan anggukan.


“baguslah, berarti keadaanmu sudah cukup senang untuk memenuhi permintaanku” ucap pak Sarman yang mulai bicara dengan tatapan tajam ke arah Arya.


‘apa-apaan orang tua ini, apa semua orang disini benar-benar ingin membunuhku? apa orang tua ini telah menjebakku dan berniat membunuhku, tapi apa salahku?’ batin Arya yang benar-benar merasa takut dengan keadaan saat itu.


“oo pak, tunggu,, apa kita pernah bertemu sebelumnya?’ tanya Arya polos, ia hanya ingin mencairkan suasana dan memberi keyakinan pada dirinya sendiri bahwa orang tua di depannya benar-benar mengenalinya.


Semua orang disana memikirkan hal yang sama, apa Arya tidak mengenal pak Sarman?. Lalu kenapa pak Sarman menjodohkan Mila dengan orang yang tidak mengenalnya.


‘apa kakek menjodohkanku dengan pria yang sama sekali tidak mengenalnya?’ batin Mila bingung.


“ya tentu, lalu bagaimana mungkin aku mendapatkan nomormu dan memegang erat janjimu hingga sekarang” ucap pak Sarman dengan tegas


“baiklah pak, sepertinya saya yang mulai pikun sekarang” ucap Arya yang tidak ingin terlihat menyalahkan pak Sarman.


“3 tahun lalu kamu menolongku di Cilacap dan menjaga ku 5 hari di rumah sakit, bahkan kamu yang membayarkan rumah sakitku tanpa meminta ganti sedikitpun, dan beberapa bulan lalu kamu juga menolongku ketika aku kecelakaan, aku rasa aku cukup mengenalmu dari 2 pertemuan itu” urai Pak Sarman.


Semua orang yang di ruangan itu kembali menatap tajam ke arah Arya, seolah tak percaya bahwa Arya melakukan semua itu.


Wajar saja dengan penampilan Arya yang urakan karena ia merupakan tipe orang yang tidak suka memikirkan masalah penampilan. Semua orang tidak akan percaya jika orang yang berpenampilan seperti Arya akan melakukan kebaikan seperti itu.

__ADS_1


‘apa? apa aku benar-benar melakukan itu, apa aku juga membayar rumah sakitnya juga?, apa aku benar-benar pernah bertemu dengan orang tua ini sebelumnya?’ batin Arya yang mendengar uraian pak Sarman dengan bingung.


“baiklah pak, saya rasa saya tidak terlalu mengingatnya saya hanya ingat saya punya satu janji untuk memenuhi apapun permintaan anda, dan untuk itulah saya berdiri disini” ucap Arya setegas mungkin diantara rasa takut, bimbang dan bingungnya.


‘ayolah pak, jangan berlama-lama, aku benar-benar ingin segera pergi dari sini, apa kau tak melihat wajah mereka semua yang seperti ingin membunuhku’ batin Arya yang berharap semuanya segera selesai.


Sementara Mila menatap Arya dengan tangan gemetar merasa takut, ‘apa masa depanku benar-benar berakhir hari ini, tidak, dari tampilannya ia pasti tidak menginginkan perempuan bercadar. semua pasti akan sesuai rencana’ batin Mila yang coba menguatkan hatinya.


“OK, memenuhi apa pun permintaanku, itu lah janjimu, jangan ingkari itu dan segera penuhi keinginanku” ucap pak Sarman dengan suara yang benar-benar tegas.


‘tunggu, dia tidak akan meminta yang aneh-anehkan? atau dia benar-benar sedang menjebakku’ batin Arya yang mulai ragu dengan keberaniannya karena mendengar suara pak Sarman yang tegas dan seperti mengancamnya. seolah berkata ‘awas kalau kau tidak menepati janjimu,’


“tentu, apa pun permintaanmu, itu kan janjiku, aku bukan laki-laki pengingkar janji” jawab Arya tegas, ia tak mau tampak takut di hadapan semua orang di ruangan itu,


“ok, aku pegang kata-kata mu laki-laki yang tidak akan mengingkari janjinya” ucap pak Sarman senang,


‘astaga, benarkan dia tak akan meminta  yang aneh-aneh’ batin Arya yang benar-benar kalut dan takut.


“Arya, lihatlah perempuan bercadar yang duduk disana, dia cucuku” ucap Sarman tegas sembari menunjuk ke arah dimana Mila duduk.


Mila yang kaget dengan sikap kakeknya lalu, mengalihkan pandangannya dari Arya ke arah jendela kamar yang menghadap ke arah timur, terlihat langit yang mulai memerah disana.


Arya menoleh ke arah yang ditunjuk pak Sarman, ia melihat seorang gadis memakai gamis kuning, dengan warna jilbab dan cadar yang senada. Raut wajah manisnya terlihat kulit putih bersih yang ada di sekitar matanya, ditambah sorot matanya yang ayu. Arya dapat menilai gadis itu memiliki kecantikan luar biasa yang tersembunyi di balik cadarnya.


‘cantik sekali dia’ batin Arya yang sesaat terlena dengan apa yang ia lihat.


‘cucunya?,, apa dia pikir aku peduli dengan hal itu,, tunggu dia takkan minta macam-macamkan?’ batin Arya yang segera mengalihkan pandangannya dari Mila ke arah pak Sarman.


“Nikahi dia, itu permintaanku”

__ADS_1


__ADS_2