Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Tentang Hati Yang Murni


__ADS_3

“eeh Arya, ayo ikut sarapan, kamu mau minum apa?, biar kakak bikinin”


“nggak usah kak, aku harus langsung pergi, ada keperluan pagi ini, aku kesini Cuma mau pamit” ucap Arya santai, kemudian ia melangkah ke arah pintu teras samping.


“hei, tunggu” ucap Irman yang kemudian melangkah ke arah Arya, refleks Arya memutar badannya ke arah sumber suara itu. dan satu pukulan mendarat mulus di pipinya.


bugh,, “itu hadiah pernikahanmu dariku,” ucap Irman tertawa sinis melihat Arya yang tersungkur ke lantai meringis memegang pipinya.


'hadiah macam apa ini?’ batin Arya heran dengan kakak iparnya itu, ia memegang pipinya sembari menahan sakit.


“bang Irman” Vanessa berteriak yang berlari memegang tangan suaminya yang masih terlihat emosi, sementara Mila hanya terdiam berdiri kaku melihat apa yang terjadi.


“aku tak bisa meluapkan sakit hatiku pada kakek yang telah menghancurkan masa depan adekku, dan kau adalah laki-laki hina yang telah merusak masa depan Mila” ucap Irman penuh emosional.


“bang, sudah bang” ucap Vanessa mencoba meredakan emosi suaminya, namun dengan sebuah dorongan, Irman membuat Vanessa terjerembab jatuh ke lantai yang membuat istrinya itu meringis kesakitan.


Irman kemudian melangkah keluar dan pergi dengan senyum sinisnya.


‘ini baru awal, selanjutnya akan ku hancurkan kau brengsek” gumam Irman dengan wajah sinisnya.


Irman telah memendam sakit hati pada kakeknya sejak lama, sejak ia mengetahui kakeknya itu mengusir ibu kandungnya, hingga kakeknya ingin menjodohkannya dengan wanita pilihan kakeknya itu, namun ditentang oleh Irman dan ia memaksa menikah dengan Vanessa, hingga terakhir saat Mila dijodohkan dengan Arya.


Sakit hati Irman semakin bertambah melihat sikap kesewenangan kakeknya itu, namun ia hanya bisa diam, karena ia pun sadar kalau ia tidak bisa melawan kakeknya yang masih berkuasa walaupun terbaring lemah di rumah sakit.


Arya kemudian bangkit dan membantu Vanessa berdiri dan kemudian membimbing Vanessa untuk duduk di salah satu kursi di meja makan. Arya melirik kesal pada Mila yang hanya berdiri kaku melihat apa yang terjadi.


'ini anak nggak ada respon sama sekali melihat kelakuan abangnya’


Arya mengambil segelas air putih dan membantu Vanessa untuk minum.

__ADS_1


“kakak nggak apa-apa kak, ada yang sakit?" Arya menanyai Vanessa dengan nada cemas yang membuat Mila merasakan sesuatu yang aneh di hatinya melihat sikap Arya yang lembut pada Vanessa.


“nggak Arya, kakak nggak apa-apa” memang fisik Vanessa tidak ada yang terluka karena dorongan Irman, namun yang membuatnya meringis adalah rasa di hatinya yang tidak menerima kelakukan suaminya itu, apalagi suaminya melakukan itu dihadapan Mila dan Arya yang membuat derajatnya sebagai istri seperti di injak-injak oleh Irman.


‘kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini dihadapan adik dan ipar mu sendiri bang?’ batin Vanessa dengan dada sesak.


“kakak yakin tidak ada yang sakit” ucap Arya dengan nada yang penuh perhatian yang membuat hati Mila semakin tidak karuan mendengarnya.


'kenapa aku seperti iri mendengarnya?, tidak, tidak, aku tidak boleh begini’ batin Mila.


“kamu kenapa diam? tidakkah kamu peduli dengan kak Vanessa? atau kamu dan semua keluargamu itu memang suka membuat orang seperti kami ini tersiksa dengan kesewenangan kalian” suara Arya yang sedikit emosi melihat Mila yang hanya diam berdiri dari tadi.


Mendengar ucapan Arya itu Mila tersentak kaget, ia mendekat ke arah Vanessa dengan perasaan kacau, antara sakit hati, iri, dan kaget dengan apa yang terjadi .


Mila mengelus lembut bahu Vanessa “maaf kak, maafkan abangku” ucap Mila menyesali sikap Irman yang kasar kepada Vanesa.


“nggak apa-apa Mil, kamu berangkat ke sekolah sama Arya ya, sepertinya kakak tidak bisa mengantarmu,” ucap Vanessa dengan menahan sesak dihatinya.


*


Jadi lebih baik Vanessa istirahat untuk menenangkan diri dulu dari pada harus mengantarnya ke sekolah.


Suasana mobil itu hening, hanya Mila yang sesekali bersuara untuk menunjukkan jalan ke arah sekolah tempatnya mengajar.


Secara tidak sengaja Arya melirik tangan kiri Mila yang memeluk tas dipangkuannya. Tak ada lagi cincin pernikahan dan gelang mahar pernikahan mereka. Melihat kenyataan itu, ada sesuatu yang seperti menyelip masuk ke hati Arya dan menggoreskan sedikit luka.


'bahkan dia sama sekali tak mau mengakui pernikahan ini,'


“maaf” ucap Arya dengan nada menyesal memecah keheningan di dalam mobil itu.

__ADS_1


Mila dengan wajah datarnya diam dan tidak peduli dengan ucapan Arya.


“maaf, kata-kata ku tadi tidak seharusnya ku ucapkan”


Mila masih diam, ia memang sakit hati dengan ucapan Arya tadi, namun hatinya juga tidak menyalahkan Arya, karena apa yang diucapkan Arya memang itu adanya. Ia yang secara sewenangnya merenggut hak Arya sebagai suaminya atas dirinya, Irman yang sewenangnya bersikap kasar pada Vanessa dan Kakeknya yang sewenangnya menikahkan ia dan Arya. Hatinya kecilnya yang bersih membenarkan ucapan Arya itu.


“Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu, aku hanya kesal karena kamu hanya diam melihat kelakukan kasar abangmu pada kak Vanessa” Arya menjeda sejenak kalimatnya, ia berharap Mila akan bersuara menjawab kalimatnya itu, Tapi Mila hanya diam dengan wajah datar.


“aku tidak masalah jika abangmu itu memukul ku, tapi aku tidak bisa terima jika dia menyakiti perempuan sebaik kak Vanessa, dan,,”


“sekolah ku di situ” tunjuk Mila ke sebuah gedung sekolah dengan memotong kalimat Arya yang membuat Arya mendengus kesal karena Mila sama sekali tidak peduli dengan apa yang ia katakan.


Mobil yang dibawa Arya telah pergi meninggalkan Mila di sekolah tempatnya mengajar, Mila yang masih berdiri didepan sekolah itu melihat kepergian Arya dengan wajah bersalah,


'maaf, dari sikapmu aku tahu kamu orang baik, tapi hatiku hanya untuk bang Arnes, dan aku harus bersikap seperti ini agar kamu benci sama aku dan segera menceraikanku’ batin Mila dengan matanya yang sendu.


*


Arya memasuki area perkantoran PT. 3A Sahabat, Ia terlambat hampir satu setengah jam dari jam kantornya, ia bahkan juga harus menunda rapatnya pagi itu. Selain mengantar Mila, ia juga harus pulang ke kontrakannya untuk berganti pakaiannya dengan pakaian kerja, yang membuat waktu paginya banyak habis di jalanan.


Semua orang yang ada di ruangan rapat melihat kesal dengan kedatangan Arya yang terlambat hampir 30 menit dari jadwal rapat. Padahal Arya sendiri juga sudah menunda rapatnya 1 jam dari jadwal seharusnya, namun tetap saja ia terlambat hampir 30 menit.


“lo ada masalah?” tanya Arbi yang melihat Arya akan duduk di sebelahnya.


“Maaf, tadi ada sedikit masalah, jadi gue telat”


“lo udah pending rapat 1 jam, dan masih terlambat lagi setengah jam, baru kali ini lo kayak gini,”


“udah lah Bi, mulai aja rapatnya, gue sudah siap presentasi koq” Arya tidak mau membahas lebih panjang lagi masalahnya dengan Arbi.

__ADS_1


“eeh tunggu, bibir lo kenapa?” Arbi melirik bibir Arya yang sedikit luka karena pukulan Irman.


__ADS_2