Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Terbongkar 2


__ADS_3

Masih di flashback one.


Viki dan beberapa orang suruhannya mengayunkan langkah kaki berjalan menuju ruangan cctv, Viki ingin melihat sendiri cctv yang di dapatkan oleh orang kepercayaannya.


Entah langkah yang keberapa Viki kembali menghentikan langkahnya diikuti dengan kening yang berkerut dalam saat kedua manik-manik matanya berhasil menangkap sosok wanita yang sangat ia kenali sedang berjalan menelusuri lorong hotel.


"Seli..." ucapnya sembari sedikit memundurkan langkahnya berbalik arah. Menghindar agar Seli tidak melihatnya.


"Apa yang dia lakukan disini...??" guma Viki. Sesekali melirik dari sela-sela lorong hotel.


"Apa mereka tau kalau kamu mengambil buktinya...??" tanya Viki kepada orang kepercayaannya.


"Tidak Tuan. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana, tidak satupun dari mereka yang tau kalau kita yang mengambil buktinya." jawab orang kepercayaan Viki. Ya, karena orang kepercayaan keluarga Viki selalu menjalankan perintah dengan sangat hati-hati. Mereka mematikan cctv tak kala mereka hendak beraksi, mereka juga melacak setiap sudut ruangan agar tidak terjadi bahaya nantinya.


"Bagus..." Viki tersenyum kecil. Dia langsung melanjutkan langkahnya ketika melihat Seli sudah berlalu dari lorong hotel. Namun baru dua langkah Viki melanjutkan langkahnya lagi-lagi dia dan orang kepercayaannya kembali mengehentikan langkahnya.


"Varrel..." Viki sedikit terkejut saat melihat sahabatnya sedang berjalan bersama wanita paruh baya yang belum Viki lihat sebelumnya.


Keningnya semakin berkerut dalam tak kala Viki memperhantinkan Varrel dan Bi Jumi dari arah kejauhan. Apalagi saat kedua biji bola Viki melihat Bi Jumi sengaja menabrak Seli dan mengajaknya adu mulut.


Hati Viki bertanya-tanya akan hal itu, dia benar-benar tidak tau siapa wanita paruh baya yang sudah dengan sangat berani menabrak Seli. Namun beberapa detik kemudian Viki tidak menghiraukannya lagi. Dia lebih memilih mengikuti Varrel dan mengajaknya berbicara.


*Mungkin ini saatnya bagi ku untuk membuktikan semua kebusukan Seli. Selagi dia masih berurusan dengan wanita tua itu. Ini adalah kesempatan emas. Olif, aku memang tidak bisa memilikimu. kita tidak di takdir kan untuk bersama tapi, aku tidak bisa melihat kamu difitnah seperti ini apalagi sampai melibatkan ku.


Varrel akan menyesal karena telah merendahkan mu seperti itu*.


batin Viki kembali melanjutkan langkahnya. Namun sebelum itu dia sempat memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencari tau siapa wanita tuan yang besar nyali itu.


****


"Varrel tunggu." ucap Viki dengan nada sedikit berteriak, karena di panggilan pertama dan kedua tidak membuat laki-laki itu berhenti.

__ADS_1


Varrel dengan sangat malas sekaligus geram menghentikan langkah kakinya. Memutarkan kedua kakinya agar bisa menatap Viki dengan jelas.


"Mau apalagi kau...??" Varrel bertanya dengan nada menantang.


"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." balas Viki kini dia berdiri tepat di depan sahabatnya, tapi Viki sempat menyisakan jarak satu meter dari Varrel. Guna untuk berjaga-jaga kalau Varrel akan memukulnya lagi nantinya.


"Ckkkk... Kau mau menunjukkan apa. Hah. Apa masih belum puas kau meniduri istriku dan sekarang mau menunjukkan apa ha." Varrel sudah mulai mengepal kedua tangannya.


"Kamu lihat ini, Ini adalah bukan bahwa aku dan istrimu difitnah oleh sahabat kita sendiri. Kamu tidak mempercayaiku bukan tapi setidaknya kamu harus lihat bukti ini. Setelah kamu melihat semua ini aku yakin hati ku akan jauh lebih hancur dari sebelumnya." Viki dengan gerak cepat menyerahkan botol kecil dan flash player kepada Varrel. melekat kedua bukti itu kedalam pangkuan tangan Varrel.


"Ayo coba lihat, kenapa kamu hanya diam saja. Apa yang kamu tunggu. Apa kamu sudah mulai merasa menyesal sekarang, Hem'em." sambung Viki lagi.


Untuk beberapa saat Varrel terdiam tidak menyahut apa-apa. Manik-manik matanya menatap tajam kearah bukti itu.


"Dari mana kau mendapatkan ini semua...??" tanya Varrel sembari memperhantinkan apa yang dikasih Viki.


"Dari mana aku mendapatkannya itu sama sekali tidak penting, tapi yang terpenting sekarang adalah kau harus segera membereskan Seli. Dia sudah mengkhianati kita dengan memanfaatkan istrimu sebagai alasan. Aku tidak tau apakah dia benar-benar mencintaimu atau tidak, tapi yang jelas kau harus membereskannya." jelas Viki.


Sorot mata Varrel seketika langsung berubah memanas buas tanpa ampun. Tangan sudah mengepal dengan sangat kasar.


"Apa kamu tidak ingin melihat cctv dulu. Apa kamu tidak ingin melihat bagaimana istri dimanfaatin oleh Seli." tawar Viki tersenyum kecil.


"Di mana dia." teriak Varrel sudah mulai kehabisan kesabaran.


Flashback off


Varrel menumpahkan semua kesedihan di sofa. Ingatan ketika dia menghina Olif kembali terbayang dengan begitu sangat jelas. Air matanya mengalir tanpa henti membasahi pipinya. Tubuhnya seakan lemah tak bertenaga. Isak tangis dan ingus yang ia keluarkan membuat Viki yang berada di sampingnya merasa iba.


Bagaimana tidak seburuk-buruknya Varrel dia tetap sahabat terbaik Viki. Apalagi hanya Varrel satu-satunya teman yang selalu berada disisinya selain Seli.


Viki ingin marah, dia juga ingin meluapkan semua kekesalannya terhadap Varrel yang terlalu bodoh tidak mempercayai istrinya sendiri. Dia ingin membalas dendam semua pukulan yang dilakukan Varrel terhadapnya waktu itu.

__ADS_1


Tapi rasanya Viki tidak tega melakukan hal itu. Saat ini bukan amarah ataupun kekesalan untuk menyelesaikan masalah tapi dengan ketenangan. Viki merapatkan tubuhnya agar bisa mendekati Sahabatnya itu. Melayangkan tangannya menggosok-gosokkan pelan punggung Varrel.


"Aku tau kamu merasa bersalah dan menyesal atas semua sikapmu terhadap kami. Tapi Rel, ini bukan saatnya untuk bersedih tapi ini saatnya meminta maaf kepada istrimu. Kamu harus segera menemuinya." tutur Viki.


"Hik... Aku tidak tau dimana dia Vik. Ponselnya sama sekali tidak aktif." Varrel semakin menumpahkan semua kesedihannya.


Di sisi lain sepasang mata sadari tadi terus saja melihat kejadian itu semua tanpa bergeming dari tempatnya sama sekali, dia menatap dengan perasaan puas dan juga sedih.


Siapa lagi kalau bukan Bi Jumi, ya, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Varrel dan Olif. Wanita yang hampir menjelang dua Minggu bekerja di rumah mereka telah ikut dalam membuktikan kalau majikan perempuannya tidak bersalah.


Air mata kebahagiaan pun keluar begitu saja dari pelipis mata Bi Jumi, ia tidak bisa menahan air mata itu. Rasanya begitu lega melihat kejadian itu semua.


Non, semuanya sudah terbukti sekarang Non. Non bisa kembali pulang, Bibi sangat merindukan Non.


Bi Jumi mengusap pelan air matanya.


"Lepaskan aku, lepaskan. Kalian tidak berhak menyentuhku sama sekali. Lepaskan." teriak Seli menjadi jadi di lorong hotel. Hingga teriak itu terdengar di telinga Bi Jumi.


"Wanita lakn** kau harus segera menemui ajalmu sekarang. Kalau Tuan muda tidak bisa menyakitimu karena kamu teman masa kecilnya tapi aku bisa. Kau bukan siapa-siapa bagiku." Bi Jumi merapatkan kedua giginya berjalan dengan tergesa-gesa menuju Seli.


Tak kala sudah sampai dia dengan sangat tidak sabar menarik rambut Seli dengan begitu kasarnya menghantam kearah dinding.


"Wanita sialan, pelakor kurang ajar. Kim** kau, Bags**, Anji**" Itu adalah kata-kata mutiara yang sama sekali tidak patut di contoh ya teman.


"Plakkk..."


"Plakkk..."


"Plakkk..."


"Ibu-ibu sudah Bu. Ibu bisa membunuhnya nanti." para orang suruhan Viki mulai panik, apalagi Bi Jumi tidak henti-hentinya menampar wajah Seli.

__ADS_1


"Pergilah kau ke neraka wanita lak***" teriak Bi Jumi.


please tolong, yang belum rate dan kasi bintang tolong di kasi 🤭. Itu sangat berharga buat author 🤗


__ADS_2