Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Aku Mencintainya


__ADS_3

Siang itu setelah pulang dari sekolah, Mila mendapatkan kejutan dengan kedatangan Arnes di rumahnya.


Baru saja ia turun dari mobil Vanessa, ia langsung berjalan ke arah Arnes yang sedari tadi telah menunggu kepulangannya di teras depan rumah.


Berbeda dengan Mila yang tampak merasa senang, Vanessa saat itu malah memasang wajah tidak suka,


'kenapa ini anak masih datang kemari sih? dia nggak sadar apa, Mila itu sudah menikah, masih aja dipepet’ kesal Vanessa,


Vanessa kemudian melirik jam tangannya,


‘semoga Arya pulang lama hari ini, jangan sampai ia melihat Arnes bersama Mila’,


Vanessa kemudian masuk ke dalam rumah melalui pintu teras samping rumahnya.


Mila telah duduk di kursi di samping Arnes dengan memasang wajah senangnya, ia kemudian segera melepas cadarnya, karena memang Arnes sama sekali tidak menyukainya memakai cadar itu.


“cieh, nambah cantik aja nih” goda Arnes pada Mila, Mila pun mencoba memasang wajah imutnya yang membuat Arnes semakin gemas kepadanya, mereka pun menghabiskan waktu sembari berpacaran di teras itu, bercanda dan bercerita banyak hal.


Hanya berbeda satu jam setelah kepulangan Mila, sebuah motor bebek memasuki pekarangan rumah itu, Arya baru saja kembali dari kantornya, ketika ia memasuki pekarangan rumah, ia melihat sebuah mobil terpakir di depan pagar rumah itu, mobil yang sebelumnya tidak pernah dilihatnya.


Ketika memasuki pekarangan rumah itu, Arya disuguhi pemandangan sepasang kekasih yang sedang asyik berpacaran di depan rumahnya, muncul perasaan takut dihatinya, perasaan jika si perempuan yang berduaan dengan laki-laki itu adalah istrinya Mila.


Ketika ia turun dari motor, ia sejenak menatap ke arah Arnes dan Mila, ia melihat wajah Mila yang tampak bersih dan cantik,


‘apa dia Mila,? tidak, mana mungkin Mila mau membuka cadarnya di depan pria lain, aku saja suaminya tidak pernah melihat wajahnya’


begitulah Arya berusaha mengusir pikiran negatif pada istrinya, tanpa berbicara apapun ia langsung masuk ke rumah melalui pintu teras samping.


“apa dia orangnya Mil?” tanya Arnes pada Mila,


“iya bang” ada sebuah perasaan takut dan juga bersalah yang muncul dari hati Mila, rasa takut akan membuat suaminya marah, dan juga rasa bersalah karena semakin menyakitkan hati suaminya itu,


‘tidak, ini memang rencananya, dia harus segera menceraikanku, biar saja dia menganggapku sebagai gadis yang tidak baik, yang penting dia segera pergi dari hidupku’ batin Mila yang berusaha memupus rasa takut dan bersalahnya,

__ADS_1


Arnes melirik dalam wajah Mila, hasratnya untuk segera memiliki gadis imut di depannya itu telah lama ia pendam, bibir tipis Mila selalu menggoda untuk ia sentuh, namun beberapa kali ia mencobanya, Mila selalu menolak dan ingin melakukannya setelah menikah, oleh karena itu juga ia tak ingin memintanya lagi dan lebih memilih menahannya, karena takut jika ia memaksa, Mila akan pergi meninggalkannya.


Arya telah masuk ke dalam rumah, ia langsung duduk di meja makan dan meminum air segelas air dengan cepat, ada rasa panas di dalam hatinya yang harus segera ia segarkan,


'bukan, dia bukan Mila, Mila bukan gadis seperti itu, ia takkan membuka wajahnya pada laki-laki lain selain suaminya’


Semakin ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa gadis yang ia lihat tadi bukan Mila, semakin kencang juga detak jantungnya untuk mengiringi rasa takut itu.


‘ya Allah, dia bukan Mila, dia bukan Mila’ batin Arya lagi.


Selang beberapa lama, Arnes telah pamit pergi dan Mila pun segera masuk ke dalam rumah, ia memakai cadarnya lagi dan berjalan santai ke arah meja makan dimana Arya sedang duduk menenangkan dirinya, karena ia merasa tergoncang dengan pemandangan yang ia lihat ketika pulang tadi.


Mila dengan santai menuju meja makan, ia kemudian mengambil satu gelas air dan segera meneguknya, Arya kemudian melirik ke arahnya,


deg, jantung Arya berdetak kencang, dadanya sesak, hidup terasa hancur, ia melihat wajah Mila yang menggunakan cadar, dan yang membuatnya benar-benar hancur adalah pakaian yang Mila gunakan sama dengan pakaian perempuan yang tidak bercadar yang ia lihat di teras depan tadi.


Arya kemudian berdiri, hatinya benar-benar hancur, pikiran kosong tak tahu harus bagaimana lagi,


‘ya Allah, kuatkan aku menerima ini semua’ batinnya.


“tidak”


“aku rasa kamu sudah seharusnya tahu, aku tak mau berbohong tentang perasaanku, hatiku hanya untuknya, jadi jangan berharap lebih pada pernikahan ini, jangan pernah berpikir pernikahan ini akan bertahan lama, aku harus mengejar orang yang aku cintai” ucap Mila dengan sedikit tersenyum sinis, ia merasa menang, dan tujuannya agar Arya menceraikannya akan segera tercapai,


“aku tidak akan ikut campur urusanmu, itu kesepakatannya," Arya menjeda kalimatnya sejenak, dan kemudian melanjutkannya,


"jika kamu tidak menginginkanku, lalu buat apa kamu menerima perjodohan ini?”


“jika aku bisa menolak, sudah pasti aku menolaknya,” jawab Mila ketus tanpa rasa bersalah,


“jika kamu menjenguk kakekmu, sampaikan rasa terima kasihku padanya, karena ia telah berhasil menghancurkanku” Arya kemudian meninggalkan Mila menuju kamarnya,


sementara Mila masih tetap bersikap santai seolah tidak peduli dan ia kembali meneguk segelas air.

__ADS_1


Tanpa ia sadari, Vanessa telah melihatnya dengan wajah penuh kekesalan mendengar pembicaraannya dengan Arya barusan.


Awalnya Vanessa akan ke dapur untuk melihat bahan makanan yang ada, namun belum sampai ia turun tangga, ia telah melihat Arya dan Mila berbicara dengan suara dingin, ia kemudian mengurungkan niatnya dan mendengar pembicaraan mereka, setelah Arya masuk kamar, Vanessa lebih memilih kembali ke kamarnya, ia takut akan lepas kontrol dan memarahi Mila atas sikap Mila pada Arya.


Arya duduk di tepi ranjangnya, ia masih meratapi nasibnya, hidupnya terasa hancur, ia telah memilih bersabar menghadapi Mila, sembari berharap perlahan hati Mila akan terbuka kepadanya. Namun apa yang ia lihat dan ia dengar tadi telah menghancurkan semua harapannya itu, rasa cemburu, kesal, marah bercampur aduk mengacak-ngacak hatinya.


'aku mengharapkan hatinya, tapi ternyata hatinya sudah diberikannya pada orang lain' hati Arya nerkalit sedih dengan nasibnya.


Ponsel yang ada di saku celananya berbunyi, ada sebuah notifikasi pesan masuk disana, ia kemudian mengeluarkan ponselnya, tanpa melihat lagi pesan apa yang masuk ia langsung melempar ponselnya ke sudut ruangan dengan sekuat tenaga, hingga benda pipih itu pun hancur berkeping-keping, Ia tak tahu lagi bagaimana meluapkan perasaannya yang begitu hancur, mau marah, dia pun tidak tahu harus marah sama siapa, Air mata Arya perlahan menetes dan pipinyanya mulai basah.


*


Malam telah menjelang, suasana rumah itu terasa sedikit berbeda, biasanya Arya setelah sholat magribh akan duduk di meja makan untuk menemani Vanessa yang tengah masak di dapur, suasana akan terasa sedikit ramai dengan sikap konyol Arya, tapi tidak malam itu, Vanessa bahkan telah selesai masak dan menghidangkannya, batang hidung Arya yang ia tunggu tidak juga muncul disana, padahal ia ingin bertanya banyak hal pada Arya.


Mila keluar dari kamar, ia melihat Vanessa yang sedang duduk di salah satu kursi di meja makan sembari melamun,


“kok melamun kak?”


“nggak apa-apa Mil” jawab Vanessa yang merasa kaget dengan suara Mila,


“kamu duduklah, kakak akan panggil Arya dulu, mungkin ia masih di kamar”


Vanessa lalu berjalan ke kamar Arya, ia beberapa kali mencoba mengetuk pintu kamar tersebut, namun tidak ada jawaban dari dalam, ia kemudian membuka pintu kamar itu dan mendapati kamar itu masih gelap.


Vanessa kemudian masuk dan menghidupkan lampu, kamar tersebut masih rapi, barang-barang Arya juga masih tersusun rapi di mejanya,


‘kemana Arya?’ batin Vanessa yang mulai cemas, ia kemudian melirik pecahan ponsel yang masih ada di sudut kamar itu, Vanessa menghirup nafas panjang,


‘aku tidak bisa menolongnya sedikit pun’ sesalnya.


Mila yang sedari tadi masih diam menatap makanan di meja makan mulai merasa risih karena Vanessa tidak kunjung kembali kesana, ia kemudian bangkit dan menyusul Vanessa ke kamar Arya.


Ketika Mila masuk ke kamar Arya, ia mendapati Vanessa yang tengah duduk di sisi ranjang dengan memasang wajah sedih,

__ADS_1


“kak” panggil Mila


__ADS_2