Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Kebebasan yang hilang (3)


__ADS_3

“projek kita cukup banyak minggu ini Rya, jadi undur aja dulu semerunya” ucap Arbi dengan suara santai pada Arya.


“tenang aja, gue kerja sesuai deadline koq” ucap Arya tak kalah santai dengan sikap Arbi.


 “salah satu perusahaan besar asal inggris akan masuk ke Indonesia, mereka akan membangun kawasan industri terpadu di Kalimantan” ucap Arbi, kemudian ia terdiam sejenak, Arya menatap Arbi masih dengan santai sementara Ari sejenak menghirup rokok yang telah menyala di tangan kirinya.


“mereka mengadakan sayembara perancangan kawasan itu, dan kita akan ikut Rya, ini proyek besar, kita harus menang” ucap Arbi yang mulai menekankan nada suaranya.


Arya menatap sinis ke arah Arbi, “lo mau menekan gue untuk memenangkan proyek itu? kalau begitu lo pilih aja orang lain” ucap Arya dengan santai dan kemudian duduk di kursi kerjanya.


“come on bro, ini projek besar, ini bisa menaikkan nama perusahaan kita” ucap Ari yang sedikit kesal dengan respon Arya.


“di perusahaan ini banyak Arsitektur yang gue andalin, lo pilih salah aja satu dari mereka” ucap Arya masih dengan santai dan tidak peduli dengan ucapan teman kerja sekaligus sahabatnya itu.


“kenapa? lo tahu kan, kami ngandalin lo?” ucap Arbi dengan serius, Arbi adalah teman Arya yang bersikap profesional ketika bekerja. Ia memisahkan masalah pekerjaan dan kehidupan pribadi. Ketika membahas pekerjaan ia akan bersifat profesional dan serius. Namun ketika sudah membahas masalah di luar kerjaan, ia dapat bersikap lebih cair dengan teman-temannya.


“lo kan tahu gue nggak suka ditekan dengan target, otak gue buntu jika harus bekerja di bayang-bayangin target besar seperti itu.jadi jika lo ingin menang, pilih saja orang lain” ucap Arya yang mulai serius dengan nada bicaranya.


Ari lebih memilih diam jika kedua sahabatnya itu mulai serius membahas pekerjaan, ia kemudian kembali menghisap rokoknya dengan rautan wajah menghayati setiap asap yang masuk ke mulutnya dan kemudian melepas asap itu ke udara melalui hembusan mulutnya.


“ok, gue nggak akan minta lo menang, tapi gue minta lo lakuin yang terbaik” ucap Arbi melepas nafas panjang agar keluar dari situasi yang mulai mencekam.


“sip, kapan deadlinenya?” tanya Arya pada Arbi dengan nada yang mulai santai.


“2 Minggu lagi, rule sayembara akan gue kirim. lo lakuin yang terbaik” ucap Arbi yang berdiri dan kemudian meninggalkan ruangan Arya.


Arya sama sekali tak melirik Arbi yang keluar, ia lebih memilih fokus dengan laptopnya. Arya sedang memfinalisasi konsep hotel yang akan dikirim kepada sekretarisnya siang nanti.

__ADS_1


Ari yang melihat Arya serius dengan kerjaannya memilih keluar dari ruangan Arya, ia berjalan ke arah pintu yang telah tertutup setelah Arbi keluar tadi dengan kembali menghisap rokoknya.


“jangan lupa besok Semeru” ucap Arya santai dengan nada tanpa bersalah.


“gue capek bro,, baru kemarin naik, masa besok naik lagi” ucap Ari kesal sembari membalikkan badannya kepada Arya.


“siap-siap aja, besok gue jemput” ucap Arya tanpa menoleh kepada Ari yang membuat Ari semakin kesal.


“nggak,, lo naik sendiri” ucap Ari yang kemudian melanjutkan jalannya ke arah pintu ruangan Arya itu.


“gue jemput jam 9,” ucap Arya yang masih santai dan fokus dengan laptopnya.


Ari tak menjawabnya sama sekali karena rasa kesalnya semakin bertambah, ia membuka pintu dan keluar tanpa peduli dengan Arya.


Sementara Arya hanya tersenyum sinis dengan tingkah Ari, ia tahu bahwa Ari tidak akan membiarkannya naik sendirian ke puncak gunung, sekalipun Ari terkadang bersikap cuek, tak peduli dan sering kali menolak diajak mendaki oleh Arya, tetap saja Ari tak bisa membiarkan sahabatnya itu untuk mendaki sendirian. Karena Ari sadar betul akan sangat bahaya jika seseorang mendaki gunung hanya sendiri tanpa ada rekan sama-sama mendaki.


Mila meraih ponselnya yang ada di meja di dekat ranjangnya, sementara tubuhnya masih setia ia simpan meringkuk di bawah selimut di saat siang mulai menjelang.


Setelah pulang dari rumah sakit kemarin malam, Mila terus menangis hingga larut malam, bahkan setelah sholat shubuh, ia lebih memilih untuk menyimpan tubuhnya di bawah selimut. Ia hanya keluar sebentar ketika Irman pulang tadi pagi, namun kemudian masuk ke kamar lagi menyimpan tubuhnya di bawah selimut setelah sarapan.


Karena selain masalah perjodohannya, curhat Vanessa atas sikap Irman yang mulai merubah juga menambah beban hatinya.


Matanya sudah sembab memerah, air matanya seakan tak ingin berhenti untuk terus menerobos keluar dari pelupuk matanya.


Mila membuka ponsel, ia mencari aplikasi chatting untuk segera menghubungi Arnes. Berat sekali hatinya ketika harus memberi kabar buruk ini kepada Arnes.


Laki-laki yang telah ia pilih untuk menyerahkan seluruh hatinya. Laki-laki yang setia menemani sejak masa kuliah tanpa melanggar syariat agama di dalam hubungan mereka, dan itu mungkin hanya di mata mereka, karena agama tidak sedikit pun membenarkan hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram sampai harus melibatkan perasaan dan sentuhan fisik, namun di mata Mila Arnes tetaplah calon Imam yang sempurna sebagai pelengkap hidupnya.

__ADS_1


Mila melihat telah ada beberapa chat dari Arnes sejak malam yang tidak ia baca. Karena ia terlalu larut dalam kesedihan sehingga tidak membuka ponselnya sama sekali.


‘Mil, gimana?’ Arnes.


‘Mil, koq nggak dibaca?’ Arnes


‘Mila, kamu baik-baik saja kan sayang?’ Arnes


‘Mil, ku mohon, jangan buat aku khawatir’ Arnes


‘Sayang, balas dong, aku benar-benar khawatir sayang’ Arnes.


Membaca chat dari Arnes membuat hati Mila terasa perih, Laki-laki yang telah menjadi mimpinya terasa begitu jauh dari jangkauannya. Dan tanpa terasa air mata itu kembali tembus melewati pelupuk mata Mila.


Mila menghela nafas panjang menenangkan dirinya, Ia tahan getir dihatinya melawan perasaan yang seakan tidak ingin bersahabat dengannya.


‘ayo Mil, kamu harus kuat, walaupun hidupmu hancur seperti ini, tapi kamu masih berhak melihat masa depan’ batin Mila menguatkan dirinya.


Mila kemudian mengetik pesan untuk Arnes ‘maaf bang, besok aku akan menikah dengan laki-laki itu, aku gagal bang, maaf, maafkan aku’ Mila kemudian menutup ponselnya. Ia kemudian bangkit dan masuk ke kamar mandi. Ia harus segera bersiap untuk membeli keperluan akad nikahnya besok.


15 menit Mila di kamar mandi, ia sekarang telah duduk di meja riasnya dan menyisir rambut panjangnya yang sampai ke pinggangnya. Kemudian berdiri dan membuka lemari untuk memilih beberapa pakaian yang hendak ia pakai.  Tak sampai sepuluh menit, ia telah menggunakan gamis pink dengan jilbab dan cadar warna senada, ia duduk diam di meja rias dan menatap panjang wajahnya yang telah mengenakan cadar. Tanpa sadar satu tetes air mata meluncur dari pelupuk mata kanannya, ia menghirup nafas panjang. ‘kamu kuat Mila. kamu kuat’ batinnya.


Mila kemudian duduk, ia membereskan ranjangnya dan mengambil tas yang berwarna merah di meja di dekat ranjangnya dan juga mengambil ponsel yang ada di samping tasnya tersebut. Mila berjalan keluar kamar, ia melihat Vanessa yang lagi menghidangkan makan siang untuk  mereka.


Melihat Mila yang keluar kamar, Vanessa pun tersenyum. “buka dulu cadarmu Mil, ayo makan dulu” ucap Vanessa lembut pada Mila, Mila mengangguk “baik kak,”


Suara notifikasi terdengar dari ponsel Mila, ia refleks mengangkat ponselnya dan melihat telah ada beberapa pesan masuk dari Arnes.

__ADS_1


__ADS_2