
“ikutlah Mil, aku tak ingin mengecewakan orang tua ku lagi” ucap Arya yang semakin menekan Mila untuk ikut pada kegiatan itu.
Mila sudah tahu betul maksud kalimat Arya, karena ia telah mendengar semua masalah Arya dengan kedua orang tuanya setelah mendengar pembicaraan Arya dan Tomy di malam sebelumnya.
Hati Mila berkecamuk, antara rasa ego yang ingin terus bersikap dingin pada Arya dengan rasa bersalah yang membuat Arya berada dalam posisi sulit di hadapan orang tuanya.
“ok, asal kak Vanessa juga ikut” Mila akhirnya bersedia ikut, namun ia juga menginginkan Vanessa ikut karena dengan demikian ia juga akan merasa aman.
Mendengar jawaban Mila, mata Tomy berbinar senang, ia melirik ke arah Vanessa dan Vanessa menganggukkan kepala tanda setuju.
“makasih banyak kak, Mil, kamu adik ipar yang baik Mil” ucap Tomy yang kembali memancing Arya bersuara.
“kan aku sudah bilang untuk bersikap sopan pada kakak iparmu” ketus Arya yang merasa kesal dengan Tomy,
“apa-apaan kamu ini, dia adik iparku kok”
“aku ini lebih tua darimu, mana mungkin Mila jadi adik iparmu”
Mila dan Vanessa kembai mengernyitkan dahi mendengar keributan dua laki-laki dewasa itu.
'astaga ini ada masalah apa sih, masa siapa yang tua dan yang muda saja mereka tidak tahu,'
*
Seperti biasanya, Arya tengah mandi ketika jam baru menunjukkan pukul 4 pagi, kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan ketika menjadi perantau. Ketika keluar kamar ia sudah mendapati Vanesssa tengah asyik di dapur. Hobi memasak Vanessa selalu membuatnya menjadi wanita periang di dapur.
“hai kak” sapa Arya ketika melalui dapur yang dibalas serupa oleh Vanessa, Arya kemudian melirik ke arah pintu teras samping, disana tampak terpakir mobil Irman.
“wah, pantesan senang sekali wajah kakak, rupanya ada yang baru dapat jatah tadi malam” ucap Arya yang ingin menggoda Vanessa.
__ADS_1
Namun Vanessa malah menyambut godaan itu dengan wajah sedih. ada sesuatu yang menyelinap masuk ke dalam hatinya yang membuat perasaannya terasa begitu sakit.
Perlahan matanya berkaca-kaca. Ia memang sudah lama tidak mendapat nafkah batin dari Irman, karena biasanya Irman jarang tidur di rumah, dan ketika pulang pun Irman sudah lelah dan memilih untuk segera tidur.
Arya menangkap kesedihan Vanessa, jika selama ini ia hanya bisa menduga-duga bahwa ada masalah didalam pernikahan kakak iparnya itu, namun sekarang ia sudah mendapat jawabannya. Namun ia mencoba bersikap tenang agar bisa mencari tahu apa masalah tersebut.
“kenapa kak?”
“nggak apa-pa Rya”
“boleh aku tanya sesuatu?”
“apa?”
“kenapa kakak dan bang Irman belum punya anak? sepertinya rumah ini akan lebih ramai jika sudah ada tangisan anak-anak”
Vanessa diam, tangannya yang dari tadi memegang pisau kini telah ia lepaskan, jantungnya berdetak kencang, ada sesuatu disana yang harus segera ia lepaskan, sesuatu yang telah lama ia pendam dan membuatnya hidup menderita dalam tekanan.
“Semua salah kakak Arya, seharusnya kakak tidak memaksakan hubungan ini, kakak melakukan kesalahan yang sama dengan yang ibu lakukan, kami sama-sama memaksakan kehendak kami dan akhirnya kamilah yang menderita seperti ini,” mata Vanessa mulai berkaca-kaca.
“Bang Irman sudah dijodohkan oleh kakek dengan seseorang, tapi kami tetap memaksakan perasaan cinta kami untuk hubungan yang serius, jujur saja waktu itu kakak merasa itu adalah keputusan yang tepat, dan kakak bersama bang Irman tak akan menyesalinya. Tapi ternyata takdir berkata lain, kakak tidak bisa memberikan keturunan untuk bang Irman, sejak itu semuanya berubah, kakak sudah minta bang Irman menikah lagi agar bisa punya anak, kakak juga bilang siap pisah dan memberikan kesempatan bang Irman mendapatkan wanita yang sempurna, tapi dia bilang ia sangat mencintai kakak dan tidak akan pernah menceraikan kakak, saat itu kakak merasa senang dan begitu sangat mencintainya, bahkan sampai sekarang cinta kakak untuknya tidak berkurang sama sekali, tapi beberapa tahun ini bang Irman mulai berubah, seperti yang kamu lihat, jarang pulang dan terkadang bersikap dingin, kakak nggak tahu lagi gimana, kakak juga nggak tahu sampai kapan kakak bisa bertahan seperti ini.” cerita Vanessa pada Arya.
Arya mengernyitkan dahinya mendengar cerita Vanessa, terbersit rasa simpatinya disana untuk Vanessa, namun ada hal lain yang membuat Arya merasa aneh dengan Irman dari cerita yang disampaikan Vanessa.
‘apa benar dia mencintai kak Vanessa, bagaimana mungkin dia mencintai kak Vanessa namun bersikap seperti itu padanya, apa itu cinta? apa cinta menyakiti seperti ini?’.
Arya kemudian kembali mengambil segelas air lagi untuk Vanessa yang terlihat matanya basah setelah bercerita.
“aku nggak bisa ngasih saran buat kakak, karena jujur, aku pun belum pernah menjalin hubungan apa pun dengan perempuan, Mila yang pertama, dan kakak tahu sendiri seperti apa dia sama aku, tapi jika kakak ingin bercerita, aku siap menjadi pendengar yang baik buat kakak, kalau kakak butuh bantuan, aku siap membantu kakak, jadi jangan ragu-ragu jika ingin berbagi cerita denganku” ucap Arya yang penuh perhatian pada Vanessa, dan Vanessa pun menyambutnya dengan senyuman.
__ADS_1
'Arya, kamu laki-laki baik, Mila pasti akan menyesal karena menyia-nyiakanmu' batin Vanessa
*
Ritual sarapan tengah berlangsung di ruang makan, ada Mila, Irman dan Vanessa disana, dan seperti biasa suasana disana terlihat tegang tanpa ada suara. Mila dan Vanessa cukup merasakan banyak perubahan pada diri Irman, Irman yang dulu selalu berbicara terbuka, sekarang menjadi pendiam, mudah emosi dan tidak mau peduli dengan keadaan di rumah itu.
Sementara Arya masih di kamar asyik dengan laptopnya, ia malas untuk ikut bergabung ke meja makan karena kehadiran Irman, biasanya ia akan ikut gabung dengan Mila dan Vanessa untuk minum teh hangat buatan Vanessa, tapi jika Irman pulang, ia lebih memilih untuk langsung ke kantor, ada perasaan sakit hati dengan Irman yang masih ia rasakan karena pukulan waktu itu. Selain itu juga ada perasaan tak senang ketika mengingat bagaimana cara kotor Irman dalam menjalankan bisnis.
Pada hari itu Arya memang tidak ke kantor, ada agenda khusus hari itu yang mulai ia lakukan setelah datang ke Jakarta, sehinga setiap hari itu datang, ia lebih memilih tidak bekerja.
Di tengah sarapan yang menegangkan itu berlangsung, datanglah Tomy yang telah berdiri di balik pintu kaca teras samping rumah, biasanya Tomy datang melalui pintu depan, namun setelah semalam ia berkunjung, ia tahu untuk langsung saja menuju pintu teras samping rumah itu.
Melihat kedatangan Tomy, Vanessa langsung bangkit dan menghampirinya, Mila dan Vanessa melirik bingung ke arah Tomy yang membawa 4 ikat bunga di tangannya.
‘bunga untuk apa? bukannya dia pergi melamar nanti malam? buat apa bawa bunga sekarang?, kenapa bawa bunga segala? kenapa juga bawa bunga sebanyak itu?’ batin Mila yang penasaran pada Tomy.
Tomy berbincang sebentar dengan Vanessa, dan kemudian Vanessa berjalan ke kamar Arya untuk menemuinya.
Arya keluar dan menemui Tomy, ia melewati ruang makan tanpa melirik sedikitpun pada Mila dan Irman, yang mana mereka pun juga tampak tidak peduli dengannya.
*
Suasana pagi itu cukup mendung, tapi hujan juga terlihat enggan untuk turun, suasana cukup sejuk, terasa angin menyapa kulit dengan lembut, suasana yang jarang sekali terasa di ibukota, disebuah area pemakaman, disana mereka sekarang, Arya dan Tomy sedang khusyuk memanjatkan doa untuk dua makam yang ada di depan mereka.
Selain berdoa, mereka juga menyempatkan diri untuk membersihkan makam tersebut.
“makasih ya Tom, kamu benar-benar saudaraku, aku benar-benar beruntung mengenalmu, kau bahkan selalu mengingat hari yang penting ini bagiku,”
“santai aja Rya, memang ini yang harus dilakukan untuk saudara kita kan, tapi kamu juga harus ingat, kamu berhutang penjelasan kepadaku tentang apa yang terjadi dengan mereka”
__ADS_1
“jika sudah saatnya nanti, aku juga pasti akan cerita, tapi aku tak tahu itu kapan, aku hanya ingin menyimpan ini sendiri, untuk selamanya seperti ini, biarlah diriku yang dulu terkubur bersama mereka, dan mereka juga pasti bahagia melihat diriku yang sekarang”