
"Yang ... minggu lalu kamu ke Dokter Tiwi, ya?!" Tentu Abid bertanya dengan sangat hati-hati. Usai dua kali percintaan panas, selepas mens seminggu lamanya, Abid memberanikan diri. Dokter Tiwi memberitahunya kemarin lusa dan bertanya apa Dinka belum tahu soal kontrasepsi itu.
Agak kaget bercampur takut sebenarnya sekarang, tapi yang menjadi alasan kenapa Abid tidak juga memberitahukan soal itu pada Dinka adalah kondisi Dinka pasca melahirkan. Lagipula, Abid agak lupa soal itu. Ingat kan, dia terlalu panik?
Dan tidak ada yang salah kan, dengan keputusan itu? Toh rata-rata wanita atau pasangan melakukannya demi menjaga jarak kelahiran anak.
Tapi Dinka kenapa diam saja sekarang? Tidak marah, tidak mencak-mencak, tidak mendiamkannya juga. Aneh kan?
"Din ...?"
Jelas Dinka belum tidur, hanya menyusui Arion yang barusan terbangun.
"Sayang ... kamu marah, ya?!" Abid mendekat dan memeluk Dinka dari belakang. "Maaf ya, Sayangku ... ini semua demi kebaikan kamu sama Arion. Dan aku pastinya."
Dinka tetap pada posisinya. Diam dan datar. Sudah menjadi kebiasaan, dan Abid paham, Dinka pasti marah kalau gesturnya begini. Jadi bukankah sekarang saatnya mencari alasan yang paling logis, paling masuk akal, dan paling aman.
Dia berpikir sejenak.
__ADS_1
"Aku belum puas pacaran sama kamu kalau udah ada anak lagi, Yang." Abid setengah merengek. Tidak peduli dia dianggap bayi besar tua, tapi memang secandu itu bercinta dengan Dinka. Menikah dengan Dinka itu seenak ini ternyata. Bahkan Abid sudah bucin parah. Mungkin, dia tidak akan bisa hidup tanpa Dinka.
Tengkuk Dinka menjadi sasaran bibir dan hidung Abid, biasanya Dinka geli jika di sana disentuh. Mengecupinya kecil dan basah dan ... berulang-ulang.
"Satu Arion saja, kita harus ngumpet-ngumpet begini, kok ... gimana kalau dua, atau tiga dan masih kecil-kecil?!" Itu terdengar menyeramkan. Haih, gimana kehidupan ranjangnya nanti.
"Mas ...."
"Hem?!" Abid menaikkan kepala hingga dia dapat melihat sisi wajah Dinka. Ia kelewat senang ketika Dinka menanggapinya.
Abid lesu seketika. "Maaf, Sayang, yaa ... maaf Mas nggak tau soal itu. Tapi Mas sebenarnya lupa. Dan pas aku setuju pasang KB kan kamu lagi dalam kondisi mengkhawatirkan. Ya gimana Mas nggak lupa?!"
Dinka melepas bibir Arion dari susunya, lalu kembali telentang agar bisa menatap wajah bersalah suaminya.
"Iya aku ngerti!" Dinka mengusap rahang yang sedikit berjambang itu dan tersenyum. "Makasih ya, udah mengkhawatirkan aku, udah mikirin gimana baiknya aku dan kita waktu itu."
Dinka mengecup sekilas bibir Abid dan merangkul leher suaminya tersebut. Ia mengerling lembut suaminya ini. Tulus sekali.
__ADS_1
"Nggak marah ini ceritanya?" Abid curiga, sedikit was-was. Mata licik itu seperti sedang memikirkan sesuatu.
Dinka menggeleng
"Tadi kok diem?" Waspada nih ....
"Arion masih melek merem, entar kalau aku ngomong dikit aja pasti dia bangun ... dan aku tuh capek banget." Dinka sedikit mengerutkan wajahnya dan membuang napas besar. "badan pegel-pegel seharian sama Arion dan ke pet shop."
Ia memicing seraya memijat tangan dan pundaknya, seolah dia habis selesai nguli di pasar.
"Utututu, kecian istrinya Mas ini," ucap Abid menutupi kesenangannya. Masalahnya selesai begitu saja, tanpa ada drama marah-marah atau saling mendiamkan. Ah, Dinka memang wanita yang berhati besar dan mulia. Dewasa dan tidka suka meributkan hal yang kecil juga sepele.
"Mas pijitin, ya!" Abid juga sebenarnya lelah, tapi mau bagaimana lagi, dia akan menebus semuanya dengan apa saja, yang penting tidak ada kemarahan atau omelan Dinka.
Dinka mengangguk manja saat Abid memijat pundak dan lengannya yang tidak begitu sakit. Bibir Dinka tersenyum manis, matanya menyiratkan bias kelicikan melirik Abid, dan hatinya membatin.
"Makasih sudah memikirkan yang terbaik buatku dulu, mas ... tapi keadaan dulu dan sekarang beda, jadi maaf kalau pasangnya diam-diam, lepasnya pun diam-diam pula!"
__ADS_1